Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Gara-gara Raka


__ADS_3

Sore harinya, Raka, Dion dan Safira tiba di tanah Lampung.


"Di rumah sakit mana Bibi Wati di rawat?" tanya Raka kepada Safira.


"Di rumah sakit X, tidak jauh lagi dari sini!" timbal Safira sambil memandang lurus kedepan.


Setelah itu, tak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Hanya suara deruan mobil yang di tumpangi mereka menuju Rumah sakit X yang di maksud Safira.


Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan Rumah sakit X kota bandar Lampung.


"Suster, bagaimana keadaan Ibu saya?" tanya Safira pada seorang perawat yang mengurus Ibu nya.


"Dia baik-baik saja, walaupun semalam ia sempat mengamuk dan menyebut-nyebut nama Burhan." jelas Perawat itu.


"Burhan! Siapa Burhan?" tanya Raka.


"Paman, ayah nya Aira." timbal Safira.


"Ya sudah, terimakasih Suster. Saya ingin menemui ibu saya Dulu," setelah menjawab pertanyaan Raka, Safira beralih lagi pada Perawat itu.


Setelah itu, Raka dan Dion mengikuti Safira menuju ruangan di mana Bibi Wati di rawat.


Sesampainya di Ruang rawat Bibi Wati, Safira masuk lebih dulu.


"Bu, Fira kembali," ucap Safira dengan lembut kepada ibu nya.


"Fira.. Burhan datang! Dia menanyakan Aira kepada ibu.." teriak Bibi Wati ketakutan.


"Paman Burhan sudah meninggal, Bu. Dia tidak mungkin kembali, Itu semua hanya perasaan ibu saja," kata Safira mencoba untuk menenangkan ibu nya.


"Raka, kasian sekali wanita itu!" bisik Dion pada Raka.


"Wanita wanita.. Dia itu ibu mertua mu, dasar bodoh!" maki Raka namun dengan suara pelan.


"Aku tau, tapi aku harus bagaimana? Aku ingin membantu nya, tapi bagaimana cara nya?" bimbang Dion.


"Kau dekati, dan ajak bicara," ucap Raka.


"Mereka siapa? Kenapa mereka kemari?" tanya Bibi Wati tiba-tiba. Dan hal itu, tentu membuat Safira menoleh kebelakang.


"Mereka suami Aira dan Syakila, bu." timbal Safira.


"Benarkah?" mata Bibi Wati berbinar saat mendengar suami dari anak dan keponakan nya.


"Benar bu, bahkan tidak lama lagi Ibu akan memiliki dua cucu," ucap Safira lagi.


"Sini.. Kalian Sini!" Bibi Wati menepuk kasur nya yang berada di lantai ruangan itu, menyuruh Dion dan Raka ikut duduk di dekatnya.


Dion dan Raka saling pandang, dan kedua nya mengangguk bersamaan. Dengan perlahan mereka mendekat dan ikut duduk di kasur itu.


Safira tersenyum senang saat melihat ibu nya mau mengobrol dengan Raka dan Dion.


Namun ternyata kesenangan itu hanya sementara, Karena beberapa saat kemudian. Bibi Wati kembali mengamuk dan melempar barang-barang yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


Bahkan Dion pun terkena lemparan mangkuk bubur bekas Bibi Wati makan.


Prank.. Prank..


Suara barang-barang yang di lempar ke lantai.


Pletak..


"Aduh.. Astaga!" pekik Dion sambil memegangi kening nya yang berdarah.


"Perawat.." teriak Raka.


Dua orang perawat Pria datang dengan lari terbirit-birit.


"Pasien mengamuk lagi!" Jelas Raka.


Dua orang perawat itu segera masuk kedalam ruangan dan menyuntik bibi Wati dengan obat penenang.


Dan beberapa saat kemudian, bibi Wati pun tertidur.


"Tolong bawakan Kakak saya obat," pinta Raka kepada Dua orang perawat itu.


"Kakak, enak saja! Aku bukan kakak mu!" protes Dion.


"Diam lah!" kata Raka. "Memang tua kau dari aku," sambung Dion.


"Hey.. Sadarlah pak tua, umur kita selisih dua tahun." jelas Dion.


"Umur boleh tua, tapi wajah di mana-mana terlihat tampan aku berkali-kali dari kau!" timbal Raka tak mau kalah.


"Husstt.. Sudah diam, lihat lah darah nya semakin banyak," ucap Raka. "Kemana perawat itu! Kenapa lama sekali." omel Raka kemudian.


Perawat pun datang membawa obat dan juga perban.


Dion pun segera di obati.


"Maafkan ibu ku," ucap Safira yang tiba-tiba keluar dari ruangan rawat bibi Wati.


"Tidak apa-apa! Bibi Wati juga kan tidak sadar melakukannya," kata Dion sambil memegangi keningnya yang sudah di perban.


"Raka, di mana tempat makan yang enak," bisik Dion pada Raka yang ada di sebelahnya. "Aku lapar," sambungnya.


"Mau makan di tempat makan Khas Lampung?" tawar Safira, ia mendengar ucapan Dion karena ia sedang berada di depan Dion dan Raka.


"Boleh!" sahut Dion dengan cepat. "Ayo Raka.." ajak Dion pada Raka.


"Kalian duluan saja, nanti aku menyusul. Aku ingin beritahukan dulu pada Dokter perihal pemindahan Bibi Wati ke Jakarta." kata Raka.


"Ya sudah, kami duluan," ucap Dion.


"Di mana letak tempat makannya?" tanya Raka pada Safira.


"Di belakang Rumah sakit ini." timbal Safira.

__ADS_1


Setelah itu, Dion mengikuti Safira menuju tempat makan yanh di maksud. Sedangkan Raka, segera menemui Dokter yang menangani bibi Ratna.


Setelah selesai mengurus surat-surat dan biaya administrasi perawatan bibi Ratna, Raka segera menyusul Dion dan Safira.


Sepanjang perjalanan menuju tempat makan yang berada di belakang rumah sakit itu, semua mata tertuju pada Raka.


"Wow.. Tampan nya, siapa dia? Dokter baru kah?" tanya seorang gadis kepada temannya.


"Entah lah, kalau modelnya seperti itu! Di jadikan Selir pun aku mau," ucap teman gadis itu.



Visual Raka


Sesampainya Raka di tempat makan, ia melihat Dion yang sedang asik menikmati ikan bakar beserta sambal seruit khas makanan Lampung.


"Hey.. Kau baca do'a tidak saat mau makan tadi?" tiba-tiba Raka mengejutkan Dion.


"Uhuk.." Dion tersedak ikan bakar. "Sialan! Membuat tersedak," ucap Dion setelah menegak segelas air putih di hadapannya.


Tanpa memperdulikan ucapan Dion, Raka segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Aira.


"Hay sayang," ucap Raka sambil melambaikan tangannya ke arah layar ponselnya.


"Bagaimana? Sudah selesai, terus sudah makan belum?" tanya Aira bertubi-tubi.


"Ini baru mau makan." kata Raka. "Oiya, di mana Syakila? Dia pasti akan sangat syok saat melihat kelakuan suaminya," sambung Raka.


Syakila pun segera menampakan wujudnya di layar ponsel Aira, ehh maksud othor bukan wujud tapi wajahnya nya ya! Hahaa.


Raka tertawa, dan mengarahkan layar ponselnya pada Dion yang sedang makan dengan lahap dan sangat berantakan.


"Mas.." panggil Syakila dengan wajah memerah.


"Hah.." kejut Dion.


"Hahahaha," Raka dan Safira tertawa terbahak. Sedangkan orang-orang yang berada di tempat makan itu menjadi keheranan.


"Awas ya! Kalo pulang, ku sambal kamu! Makan si tempat orang bikin malu," ucap Syakila.


"Habisnya, ini enak dan aku lapar, Sayang." timbal Dion sambil mencelupkan tangannya kedalam mangkuk yang berisi air cucian.


"Tapi kan gak gitu cara makan nya," ucap Syakila dengan kesal.


"Iya deh, ini aku makannya pelan-pelan. Gak kayak tadi," kata Dion sambil menundukkan wajahnya.


"Lanjutin makannya, aku lagi ada kerjaan," ucap Syakila dan memberikan ponsel itu kepada Aira.


"Dasar sialan! Gara-gara kamu. Aku kena marah," kesal Dion pada Raka.


Raka tak menghiraukan ocehan Dion, Ia malah Asik sayang-sayangan dengan istrinya lewat panggilan Video itu.


"Tuan gak lapar?" tanya Safira setelah panggilan video itu di akhiri oleh Raka.

__ADS_1


"Lapar, tapi kalo melihat wajah istri ku. Lapar ku bisa hilang," timbal Raka sambil tersenyum kecil.


__ADS_2