
Satu bulan kemudian.
Pukul 02:17 dini hari, Aira terbangun dari tidurnya.
"Raka.. Raka! Bangun!" Aira mengguncang-guncangkan tubuh suaminya.
"Emm, kenapa?" Raka mengucek-ucek matanya.
"Aku pengen makan pecel," kata Aira tiba-tiba.
"Ini udah malam loh! Di mana ada pecel? Semua yang jual pasti udah tutup," timbal Raka "Udah.. Sini kita tidur lagi, besok mas cariin," kata Raka sambil menarik tangan istrinya kedalam dekapannya.
"Gak mau! Aku mau makan pecel!" teriak Aira, dan tentu saja hal itu membuat Raka terkejut.
Raka langsung beranjak dari tidurnya dan duduk di ranjang itu.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu marah?" tanya Raka.
Bukannya menjawab, Aira malah menangis.
"Emang salah kalau aku minta pecel? Aku kan cuman minta pecel bukan mobil!" sahut Aira dengan menangis sedih.
"Bukan gak boleh sayang, tapi ini jam dua malam loh!" Raka menghapus air mata Aira dengan lembut.
"Kalo mas gak mau nyariin, biar aku cari sendiri!" Aira beranjak dari ranjang. Dan menuju lemari untuk mengambil uang cash yang ia simpan.
"Mau kemana?" panggil Raka.
"Aku mau beli pecel!" timbal Aira, lalu keluar dari kamar itu.
"Haduh, kenapa istri ku jadi aneh!" Raka ikut turun dari ranjang sambil mengacak-acak rambutnya.
Raka mencuci wajahnya terlebih dahulu ke kamar mandi, dan setelah itu, Ia segera mengambil dompet dan juga kunci mobilnya.
Saat ia sampai di lantai bawah, ia melihat Aira sudah tidak ada dan pintu rumah pun terbuka.
"Waduh! Ternyata dia benar-benar pergi!" Raka berlari dan langsung mengeluarkan mobilnya.
Ia segera menghidupkan mobilnya, dan menyusuri jalanan itu dengan perlahan.
"Kemana Aira? Apa dia lewat jalan sebelah sana?" Raka nampak gelisah karena tidak menemukan keberadaan istrinya.
"Harusnya aku tadi tidak lambat, dan tidak mencuci muka terlebih dahulu! Dasar bodoh!" maki Raka pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, ia melihat sosok istrinya sedang duduk di pinggir jalan sambil memeluk lututnya sendiri.
"Ya tuhan!" Raka segera menepikan mobilnya, lalu turun dan menghampiri istri tercintanya itu.
"Sayang..!" Raka menepuk pundak istrinya dengan pelan. Aira mendongakan kepalanya. "Kenapa di sini? Kan dingin!" sambung Raka.
"Aku mau makan pecel, dikit aja!" Aira menatap suaminya dalam gelap dengan penuh harap.
"Huuhh," Raka menghela nafas panjang. "Ya sudah, yuk kita cari!" Raka menarik tangan istrinya agar berdiri.
"Beneran!" Aira tersenyum manis sambil menghapus sisa air matanya.
__ADS_1
"Iya, yuk kita cari!" Aira pun mengikuti Raka kedalam mobil, mereka berdua segera berkeliling komplek itu. Dan menyusuri jalanan.
Jam sudah menujukan pukul setengah 4 subuh. Namun, mereka belum menemukan penjual pecel.
"Kita ke rumah mama aja ya! Mas ngantuk banget!" Raka sudah beberapa kali menguap.
Aira mengangguk namun dengan cemberut, menandakan bahwa dia tidak mau pulang.
"Kita minta bikinin pecel sama mbok Ani," kata Raka pada istrinya yang cemberut.
"Beneran?" tanya Aira kemudian.
Mereka berdua pun pergi menuju kediaman pak Bambang.
Setengah jam kemudian, Mereka sampai di depan rumah megah itu.
Raka mengajak Aira masuk melewati pintu belakang.
"Kok lewat belakang!" Heran Aira.
"Kalo lewat depan gak akan ada yang dengar. Kita bakal ganggu pekerjaan mbok Ani di belakang," kata Raka.
"O, iya! Mbok Ani kan di belakang, hee," ucap Aira sambil menyengir.
Raka segera menggendong istrinya menuju pintu belakang.
"Kok di gendong?" kata Aira yang melihat Raka berjongkok di depannya.
"Kamu pasti capek dan ngantuk! Cepet naik!" Raka menyuruh Aira naik ke punggungnya.
Raka menghela nafas pelan, ia keheranan dengan tingkah istrinya yang mendadak berubah. Dengan cepat ia segera membopong tubuh istrinya.
"Ya tuhan! Ada apa dengan istri ku? Kenapa dia menjadi aneh!" guman Raka dalam hati.
Mbok Ani terkejut, saat mendengar suara Raka di pintu belakang.
"Mbok, kang! Buka pintu nya, ini Raka!" teriak Raka di pintu belakang.
"Duh, kok ada suara den Raka? Apa aku salah denger ya! Jangan-jangan hantu!" Mbok Ani bergidik ngeri.
"Ada apa mbok?" kata mang Jajang yang baru datang.
"Ada suara den Raka, di sana!" tunjuk mbok Ani pada pintu belakang.
"Mbok, ayo buka! Ini Raka bukan hantu!" Teriak Raka, ia merasa kelelahan menggendong tubuh istrinya.
"Itu bukan hantu! Tapi bener-bener den Raka, dasar mbok Ani!" mang Jajang segera berjalan dan membuka pintu belakang itu.
"Ya tuhan den, kenapa lewat belakang?" kata mang Jajang yang terkejut.
"Cerita nya panjang, mang. Biarkan Raka masuk dulu, nanti Raka ceritakan," kata Raka yang langsung nyelonong masuk.
"Loh! Den Raka!" tunjuk mbok Ani.
Raka tidak menghiraukan mbok Ani yang terkejut sama seperti mang Jajang.
__ADS_1
"Haduh.. Baru juga di gendong, sudah tidur saja!" gerutu Raka sambil menaiki anak tangga.
Setelah sampai di kamar yang dulu ia tempati dengan Aira, ia segera membaringkan tubuh istrinya ke atas ranjang. Setelah itu, ia turun lagi kelantai bawah dan menuju dapur.
"Mbok! Ada sayuran hijau enggak?" tanya Raka tiba-tiba.
"Buat apa den?" tanya mbok Ani yang sedang mengulek bumbu.
"Buat bikin pecel, mbok! Tadi malam-malam sekali, Aira ribut minta pecel," jelas Raka "Udah lebih satu jam keliling, tapi gak nemu yang jual. Makanya Raka kesini!" sambungnya.
"Jangan-jangan non Aira hamil!" celetuk mbok Ani.
Mendengar kata hamil, Raka langsung jingkrak-jingkrak.
"Bener mbok! Hamil? Berarti Raka bakal dapat anak!" Raka memeluk tubuh mbok Ani dan membawa tubuh tua mbok Ani melompat-lompat.
"Den, mbok kan gak bilang non Aira hamil, tapi jangan-jangan!" mbok Ani berteriak di telinga Raka.
Raka langsung melepaskan pelukannya karena merasakan sakit di telinga kanan nya.
"Berarti belum tentu hamil ya, mbok?" Suara Raka mulai mengecil.
"Aihh, lebih baik sekarang den Raka ke Apotek. Kan Apotek udah buka jam segini!" saran mbok Ani.
"Ngapain ke Apotek, mbok?" tanya Raka dengan wajah polosnya.
"Beli roti!" celetuk mbok Ani dengan wajah kesalnya.
"Roti? Emang ada mbok?" tanya Raka lagi dan hal itu membuat mbok Ani semakin kesal.
"Beli tespack den RAKA..!" teriak mbok Ani. "Udah, sana! Den Raka beli taspack, dan mbok bikin pecelnya!" Mbok Ani mendorong tubuh Raka agar segera pergi dari hadapannya.
Sungguh! Kali ini Raka benar-benar membuat mbok Ani sangat kesal.
"Apa tadi namanya, mbok?" tanya Raka kemudian.
"Tespeck den tespeck! Enyah lah! Jangan balik lagi, kalau mbok masih liat Aden balik lagi! Jangan salahin mbok, kalau mbok pukul pake ini!" Mbok Ani mengarahkan spatula yang ia pegang pada Raka.
"Ampun! Mbok, iya Raka pergi sekarang," kata Raka sambil pergi meninggal kan mbok Ani yang sedang kesal.
Lagi-lagi Raka kembali.
"Mbok..!" panggil Raka.
"Apa lagi?" ketus mbok Ani.
"Itu, mbok!" tunjuk Raka pada kunci mobilnya yang tergeletak di kursi samping mbok Ani memasak.
"Nih!" mbok Ani melemparkan kunci mobil itu pada Raka.
Setelah itu, Raka benar-benar pergi dari sana. Dan segera menuju Apotek.
"Mudah-mudahan Aira benar-benar hamil," ucap Raka pada dirinya sendiri.
AWAS BANYAK TYPO🏃♀️🏃♀️🏃♀️
__ADS_1