
Setelah menyegarkan Tubuhnya, Aira membaringkan tubuhnya di samping Suaminya yang sedang bermain Ponsel.
"Sayang," ucap Aira
Raka menoleh pada Istrinya lalu meletakan Ponsel yang sedang ia mainkan.
"Kenapa?" tanya Raka
"Memangnya kenapa kok kak Dion kayaknya gak suka banget sama kak Briyan?" tanya Aira tiba-tiba.
"Kamu beneran mau tahu," ucap Raka "Kalo Aku cerita nanti kamu makin takut sama Briyan." sambungnya.
"Iya aku pengen tahu, lagian jujur aku gak suka sama kak Briyan yang se enaknya," ucap Aira sambil memeluk Raka dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Raka.
"Briyan itu sifatnya bisa di bilang buruk, dia akan melakukan apa aja bila menginginkan sesuatu termasuk merebut milik orang lain, tak pandang bulu baik sahabat ataupun juga saudaranya.
Awalnya persahabatan kami bertiga baik-baik saja karena aku dan Dion fikir dia tidak akan tega dan berani mengkhianati sahabatnya sendiri tapi ternyata dia malah merebut tunangan Dion. Yang parahnya lagi dia meninggalkan Cindy yaitu mantan tunangan Dion dalam keadaan tengah mengandung." Raka menceritakan semuanya tentang persahabatan mereka bertiga pada Aira.
Aira tak habis fikir dengan Briyan kenapa dia bisa setega itu, bahkan pada Sahabatnya sendiri.
"Lalu kenapa tadi dia datang ke Kantor?" tanya Aira sambil memainkan jari-jarinya di dada Raka.
"Untuk menanyakan alamat Rumah kita, dia fikir kita sudah tinggal di Rumah kita sendiri." jelas Raka.
"Lalu.." ucap Aira.
"Lalu dia ingin mendekati Kamu dan merebut kamu dari akuu," ucap Raka lalu mencium sekilas bibir Aira. "Kau jangan heran, kalo dia berani mencium tangan kamu bahkan mencium wajah kamu sekalipun. Karena hal itu biasa dia lakukan pada setiap Wanita yang dia temui." sambung Raka.
"Aku jadi takut bertemu Sama dia lagi," ucap Aira
"Kamu jangan takut, karena aku gak akan membiarkan hal itu terjadi," ucap Raka "Kecuali kalo kamu juga mau itu darinya." sambung Raka dengan lirih.
"Maksud kamu?" tanya Aira yang tak mengerti ucapan Raka.
"Maksud aku kalo kamu juga mau disentuh sama Briyan," ucap Raka lagi.
"Itu gak akan terjadi Raka, aku mencintai kamu. Tolong jangan ulangi lagi hal kayak gitu." ucap Aira dengan mata berkaca-kaca.
Raka menjadi bersalah telah mengatakan hal itu pada Aira, Raka pun bangkit dari tidurnya lalu beralih menindih tubuh Aira.
"Raka, mau apa?' tanya Aira.
"Aku mau coba ngelakuinnya lagi." timbal Raka
__ADS_1
Lalu ia menciumi tubuh Aira dengan lembut.
Raka melepaskan baju tidur yang di kenakan oleh Aira dan bermain-main di bukit kembar itu.
Aira juga membantu Raka melepaskan pakaian yang Raka kenakan.
Berkali-kali Raka mencoba menuntaskan Hasrat yang telah di bendung oleh istrinya. Namun berkali-kali ia harus mengalami kegagalan.
Setelah merasa lelah Raka pun menghentikan aksinya. Ia menutupi tubuh polos Istrinya dengan selimut.
Dengan kesal ia memakai celananya kembali. Setelah itu dia menjauh dari Istrinya.
Dengan perasaan marah, kesal dan kecewa pada dirinya sendiri ia menuju kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Belum selesai sampai di situ Raka membentur-benturkan Kepalanya ke Tembok hingga membiru.
"Aku tidak berguna.. Tidak berguna aku hanya bisa menyakiti Aira," ucap Raka merutuki dirinya sendiri.
Khawatir pada Suaminya, Aira pun memakai pakaiannya kembali dan menyusul Raka di dalam Kamar mandi.
Saat ia melihat keadaan suaminya. Ia pun menangis dan di peluknya tubuh Pria yang sudah kedinginan itu dengan erat.
"Raka, apa yang kamu lakukan?" ucapnya lirih
"Aku tidak berguna Aira, aku tidak berguna," ucap Raka lirih di pelukan Aira dengan tubuh bergetar.
"Aku lemah, aku tidak bisa memberi mu Nafkah batin seperti Pria pada Umum nya," ucap Raka lagi.
"Sudahlah Raka, kita bisa mencobanya lagi dan lagi bukan. Aku yakin suatu saat kamu akan sembuh." ucap Aira dengan keyakinan di hatinya.
Setelah Raka tenang, Aira menuntun nya keluar dari Kamar mandi, lalu mengganti pakain Raka yang basah kuyup karena guyuran air. Dan setelah itu Aira mengobati luka yang ada di kening Raka dengan telaten dan hati-hati.
"Sekarang kita tidur dan jangan berfikir yang macam-macam lagi Raka, aku sungguh mencintai kamu apa adanya. Dengan keadaan kamu yang kayak ini aku gak apa-apa!" tegas Aira.
Walaupun dalam hati kecilnya ia juga mengingkan belaian hangat dari Seorang Lelaki.
Dua hari kemudian.
Datang Seorang kurir ke kediaman Papa Bambang.
"Permisi, ada Paket untuk Mbak Aira," ucap Kurir itu dengan Ramah.
"Oo.. Buat Non Aira. Sebentar Saya panggilkan Orangnya." kata mang Jajang.
Tak lama mang Jajang datang lagi dengan Aira di belakangnya.
__ADS_1
"Paket dari siapa Mas?" tanya Aira pada Kurir itu.
"Gak tahu ni Mbak, gak ada nama Pwngirimnya," ucap Kurir itu "Tanda tangan disini ya Mbak." sambungnya.
"Iya, makasih ya Mas." kata Aira
Setelah itu Aira masuk lagi kedalam Rumah dengan bungkusan Paket di tangannya.
Mama Rina dan Intan yang melihat Aira membawa Paket ditangannya pun tersenyum girang. Mereka fikir Aira akan kaget dan marah melihat isi dari Paket itu.
Sampai di Kamarnya, Aira segera membuka dan melihat isi Paket itu, seketika dia tersenyum geli melihat Suaminya sedang berpelukan dengan Seorang Wanita.
"Pasti ini kerjaan Mama dan Intan. Dasar wanita bodoh, mengelabuhi Ku dengan cara seperti ini." kata Aira sembari tersenyum. "Kalian tidak cukup mengenal Suamiku, apa lagi Mama seharusnya sebagai orang tua yang telah melahirkan Raka dia tahu bagaimana dengan kondisi dan keadaan Raka, bukan seperti ini selalu memaksakan kemauannya terus menerus tanpa mengetahui beban berat yang sedang di pikul sendiri oleh Raka." sambung Aira.
Setelah melihat-lihat foto itu, Aira mengemasnya kembali lalu membuangnya ke tempat sampah yang ada di pojok Kamarnya.
Karena merasa haus, Aira pun turun dari Kamarnya menuju dapur.
Di dalam Kamar Mama Rina.
"Tante, aku yakin sekarang Perempuan kampung sedang menangis sejadi-jadinya setelah melihat foto itu," ucap Intan dengan tertawa renyah.
"Benar kamu.. Tante yakin. Setelah Raka pulang nanti dia akan marah-marah sama Raka." timbal Mama Rina.
"Aku jadi gak sabar, nunggu Raka pulang tante," ucap Intan lagi.
"Iya tante juga, pingin cepet-cepet liat perang dunia ketiga." kata mama Rina sambil membayangkan Aira menangis tersedu-sedu.
"Yuk Tante.. Kita keluar cari Angin." ajak Intan
Dua wanita Iblis itu keluar dari Kamar menuju halaman belakang, namun saat mereka menuruni anak tangga mereka berdua melihat Aira yang sedang menikmati Es jeruk dengan tenang.
"Ehh.. Tante Tante. Lihat deh, kok Perempuan kampung itu masih minum dengan tenang di sana ya," ucap Intan sambil menunjuk ke Meja makan.
"Mungkin Paket tadi belum dia buka." timbal Mama Rina.
"Iya juga ya tante, ya udah deh yuk kita ke Belakang," ucap Intan
Lalu mereka ke halaman belakang dan duduk-duduk di bangku panjang yang ada di halaman itu.
***Bersambung..!!
Jadi lah pembaca yang bijak..!!
__ADS_1
Tinggalkan jejak, Like coment hadiah dan vote juga boleh..!! 😂😂😂***