Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Pelecehan 2


__ADS_3

Aira terus berjalan menuju kamarnya dengan kaki pincang yang terlihat memar.


Sedangkan Briyan yang mengejar menjadi agak lambat karena merasakan pening, pusing di kepalanya dan penglihatan nya berkunang-kunang.


Aira segera masuk kedalam kamarnya, ia segera mengunci pintu. Setelah pintu terkunci, ia segera meraih ponselnya dan menghubungi Raka. Namun nomer Raka tidak aktif.


Aira menjadi bertambah panik saat mendengar suara teriakan Briyan yang memanggil-manggil namanya.


"Aira.. Buka pintunya! Atau akan ku dobrak!" teriak Briyan.


Aira semakin takut, berkali-kali ia menghubungi nomer Raka namun jawaban nya masih sama. "Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service arya, cobalah beberapa saat lagi!"


Tangis Aira semakin menjadi, dengan buru-buru ia mencari kontak Dion.


"Kak Dion.. Ayo angkat! Tolong aku," ucapnya dengan wajah takut dan gelisah.


Ketakutan nya semakin menjadi saat mendengar Briyan menggedor pintu kamar itu semakin kuat.


***


"Aku janji Mas, gak akan marah-marah lagi! Aku sayang sama mas dan anak kita," kata Syakila sambil mengelus dada Dion.


"Mas juga akan berusaha buat gak ngerepotin kamu lagi sayang." timbal Dion sambil membelai pucuk kepala Syakila.


Cukup lama mereka berpelukan, tiba-tiba mata Dion beralih pada ponselnya.


"Sayang, tolong ambilkan ponsel ku. Kok kayaknya layarnya nyala," ucap Dion sambil menujuk ponselnya yang ada di atas nakas.


"Aira.. 12 panggilan tak terjawab," ucap Syakila saat melihat ponsel itu.


"Ada apa dia nelpon ya," kata Dion "Atau jangan-jangan terjadi sesuatu!" Dion pun menelpon balik nomer Aira.


"Hallo Aira, ada apa?" tanya Dion.


"Kak Dion tolong aku," ucap Aira di selingi dengan suara teriakan dan keributan lainnya.


Dion mengernyitkan dahi saat mendengar suara keributan itu.


Dubrak.. Briyan berhasil mendobrak pintu kamar itu.


"Aira..!" teriak Briyan.


Sedangkan Dion masih menyimak kegaduhan yang ia dengar melalui sambungan telpon.


"Briyan!" pekik Dion, saat mendengar suara yang sangat ia kenal.


"Hallo Aira, Aira hallo!" telpon masih tersambung namun Aira tak lagi berbicara apapun, hanya terdengar suara barang-barang yang berhamburan.


"Sayang, kamu jangan kemana-mana! Kunci rumah, aku mau kerumah Raka buat nolongain Aira." Kata Dion sambil mencium kening Syakila lalu setelah itu ia segera pergi menuju rumah Raka.


Sedangkan di kamar Aira.


Melihat Briyan yang berhasil masuk kedalam kamar itu, membuat Aira semakin ke takutan. Bahkan ponsel yang Aira pegang terjatuh begitu saja.

__ADS_1


"Aira.. Ayolah! Jangan seperti ini, aku hanya ingin memiliki mu," ucap Briyan sambil mendekat ke arah Aira.


Aira melemparkan barang-barang yang ada di sekitar nya.


Namun Briyan tetap mendekat, tak di rasakan nya barang-barang lemparan Aira yang terkena tubuhnya.


Hingga barang terakhir yang di raih Aira adalah Gunting.


"Jangan mendekat!" Aira mengarahkan gunting itu pada Briyan.


"Tenang Aira! Tenang! Jangan seperti ini," ucap Briyan sambil memperlambat langkah nya.


"Aku bilang jangan mendekat! Kalo kamu gak mau lihat aku mati di sini!" ancam Aira dengan air mata yang berlinang dengan penampilan yang sudah acak-acakan tidak karuan.


"Aira sabar! Jangan konyol, kalau kamu mati. Bagaimana dengan Raka? Pria lemah dan gak berguna itu pasti bakal gila," ucap Briyan dengan seringainya. Ia mencoba mengecoh Aira, ia tahu! Jika Aira sangat perduli dengan hal yang berhubungan dengan Raka.


Aira nampak berfikir, ia menghapus air mata yang ada di wajahnya menggunakan tangan kirinya dengan kasar. "Benar! Jika aku mati, Raka pasti akan semakin rapuh! Tapi aku tidak bisa membiarkan pria laknat ini merampas makhota ku, tuhan! Aku harus bagaimana? Tolong aku kak Dion, segera lah datang," Aira berteriak dalam hati.


Melihat Aira yang lengah, Briyan mengambil kesempatan. Dengan cepat ia merampas gunting yang ada di tangan Aira lalu membuangnya ke sembarang arah.


Aira tersadar dari lamunannya. Dan mundur perlahan hingga tubuhnya sudah mepet pada tembok kamar itu.


"Ku mohon jangan lakukan!" pekiknya.


Briyan yang sudah tidak dapat lagi menahan hasratnya segera menarik tubuh Aira. Ia menggendong paksa tubuh itu dan menghempaskan nya ke atas ranjang.


"Kita akan main-main, aku janji tidak akan lama," ucapnya sambil menindih tubuh Aira.


"Jangan!" Aira menggeleng lemah.


"Berhentilah menangis sayang, aku akan memberimu kenikmatan," kata Briyan.


"Kak Briyan, tolong sadarlah! Aku istri teman mu, Raka adalah sabahatmu," lirih Aira dengan lemah karena kehabisan tenaga akibat memberontak.


"Aku tidak peduli!" bentak Briyan. Lalu ia mulai melakukan kegiatannya dari wajah, leher hingga kancing baju piyama yang di pakai oleh Aira.


"Jangan kak, jangan! Aira mohon!" Aira mencoba mendorong tubuh Briyan. Ia menggeleng lemah, "Tolong hentikan! Ku mohon," sambungnya dengan suara parau.


Tubuh Aira semakin memanas, hatinya menolak namun tubuhnya merasakan kenikmatan yang di berikan oleh Briyan.


Yaa..! Aira munafik jika ia bilang tidak ikut menikmati permainan Briyan.


Sungguh! Sudah lama ia mengingkan sentuhan itu dari suaminya, sekarang ia merasakan! Merasakan sentuhan gairah namun bukan dari suaminya melainkan dari orang lain yang selama ini ia takuti.


Suara erangan dan tangisan yang menjadi satu terdengar di kamar itu.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang penuh amarah dari luar kamar itu.


"Briyan.. Biadap kau! Akan ku bunuh kau bin4t4ng!" Dion meneriaki Briyan yang sedang asyik dengan kegiatannya di atas tubuh Aira.


"Kak Dion," lirih Aira dengan lemah masih dengan Briyan yang menindih tubuhnya. Walaupun masih dengan pakaian lengkap, namun yang si lakukan Briyan sudah sangat intim untuk pasangan suami istri.


"Ku bunuh kau laknat!" Dion mendekat dan menarik baju bagian belakang Briyan.

__ADS_1


Dengan membabi buta Dion memukuli wajah Briyan.


Setelah Briyan tergeletak di lantai, Dion beralih mendekati Aira.


"Kak Dion," lirih Aira sambil beringsut dari ranjang itu. Ia segera memeluk Dion dengan erat.


Dion tersenyum, lalu tangannya membenahkan baju Aira yang sudah sangat terbuka. "Minggirlah! Aku akan bereskan 4nj!ng ini." Dion memerintah kan Aira untuk menjauh.


Aira mengaguk, dan berjalan mundur dengan terseok-seok.


"Urusan kita belum selesai!" teriak Dion sambil berjalan mendekati Briyan yang sedang mengelap sudut bibirnya yang berdarah.


***


Raka tergesa-gesa pulang, setelah acara temu client di sebuah lestoran usai. Bahkan saat membicarakan hal penting dengan client itu tadi pun ia tidak fokus sama sekali.


Fikiran nya gusar, ia selalu kepikiran Aira.


Tak butuh waktu lama, ia sampai di depan kediaman nya. Mata nya melotot saat melihat mobil Dion dan juga Briyan ada di sana malam-malam begini.


"Apa yang terjadi?" tanya nya pada dirinya sendiri. "Apakah Aira!" ia segera berlari masuk kedalam rumah.


Ia sangat terkejut melihat keadaan rumah yang berantakan.


Dengan cepat ia berlari menaiki anak tangga. Matanya melolot dan tubuhnya menegang melihat Dion dan Briyan berkelahi. Terlebih lagi saat melihat keadaan istrinya.


Briyan sudah tidak berdaya di lantai kamar itu, sedangkan Dion mendapat dua pukulan di wajahnya.


Saat Dion melihat Raka masuk, Ia meneriaki Raka.


"Jangan masuk! Jangan dekati Aira!" bentak nya.


"Dia istri ku, Dion!" Raka tetap berjalan masuk.


"Berhenti! Aku akan membunuh mu juga jika kau masuk, Rakanda Wiryawan!" bentak Dion lagi.


Raka masuk dan mendekati Dion. Refleks Dion membogem wajah Raka bertubi-tubi.


Raka ikut terjatuh dan terkapar di dekat Briyan.


"Itu balasan untuk suami yang tidak berguna!" Dion menatap tajam kearah Raka.


"Dan kau! Jangan pernah tunjukan lagi batang hidung mu di sekitar orang-orang ku!" tunjuknya pada Briyan.


"Aku akan membawa Aira bersama ku! Dan aku pinta, kau berfikir yang benar Raka. Jika perlu cuci otak mu dengan kembang tujuh rupa, agar bodoh yang ada pada dirimu hilang!"


Setelah berkata kasar kepada dua orang yang terkapar itu, Dion segera menarik Aira keluar dari kamar itu.


"Ayo Aira, ikut aku! Biarkan dua pecundang ini menyelesaikan urusan mereka. Yang satu banci dan yang satu lagi iblis berujud manusia," ucap Dion. "Aku muak dengan kalian!" tambah Dion sambil meludahi dua pria itu.


Bersambung..!!


Happy reading 😘

__ADS_1


AWAS ADA TYPO🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️***


__ADS_2