
"Sayang, maafkan aku ya!" pinta Raka. "Aku gak bermaksud buat cuek sama kamu," sambungnya.
"Aku ngerti kok, aku sayang kamu," kata Aira.
"Aku akan berusaha buat nyingkirin rasa jijik dan mual yang ada sama aku," ucap Raka sambil mengelus-elus perut rata istrinya.
"Iya, aku seneng kamu mau usaha," kata Aira dengan senyum manisnya.
"Sekarang, kamu pengen apa? Biar aku carikan atau buat kan!" tawar Raka.
"Emm, aku gak pengen apa-apa. Aku maunya Syakila di sini temenin aku," pinta Aira.
"Ya udah, aku telpon dia dulu ya," ucap Raka.
Raka segera meraih ponselnya yang ada di atas nakas, ia segera mengscroll layar ponsel dan menekan nama Syakila.
Lama panggilan itu tersambung, namun tak ada jawaban.
"Sayang, gak di angkat," ucap Raka sambil memperlihatkan layar ponselnya kepada Aira.
"Udah lah, mungkin Syakila lagi sibuk atau istirahat," kata Aira.
"Tapi anak ku gak akan ngences kan?" tanya Raka pada Aira.
"Enggak lah, aku bukan ngidam tapi pengen aja. Kalau ada Syakila kan, aku punya temen ngobrol," jelas Aira.
Aira terkekeh kecil, ia gemas dengan ke khawatiran suaminya.
***
Malam harinya, Dion kembali ke apartemen nya.
Ia memasuki apartemen itu dengan langkah gontai.
"Dari mana?" tanya Syakila dengan wajah sembahnya.
"Dari luar!" timbal Dion dengan cuek.
"Kamu habis berantem sama siapa?" tanya Syakila lagi, ia memperhatikan wajah suaminya yang lebam.
"Aku gak berantem, dan aku gak papa!" Dion meninggalkan Syakila yang diam mematung di depan pintu.
"Maafkan aku, sayang! Jika ku jelaskan saat ini, aku pasti tidak akan mengerti." ucap Dion dalam hati.
Setelah kepergian Dion, Syakila menghirup napas dalam-dalam dan meng hembuskannya perlahan. Dadanya terasa sesak.
"Tega kamu, mas! Kamu anggap aku apa? Kenapa kamu mau nikahin aku, kalau kamu mencintai adik sepupu ku," lirih Syakila.
Di dalam kamar, Dion segera membersihkan diri. Ia mengambil handuknya dan menuju kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan segera berganti pakaian.
__ADS_1
Setelah itu, ia keluar dan menuju meja dapur. Di atas meja, sudah tersaji hidangan makan malam.
"Ayo makan," ajak Dion pada Syakila. Syakila mengaguk, dan mereka berdua ehh maksudnya bertiga, Dion, Syakila dan juga bayi yang di kandung Syakila makan dalam diam.
Tak lama kemudian, Dion lebih dulu selesai. Tanpa berkata apa pun, ia pergi menuju kamar meninggalkan Syakila di meja makan itu sendirian.
Syakila hanya diam, ingin menanyakan perihal hubungan suami nya dengan Aira, namun tidak berani karena sikap Dion yang berubah menjadi pendiam dan nampak murung.
Ia segera membereskan bekas makannya dan Dion, setelah itu. Ia menyusul Dion ke dalam kamar.
"Huhh, dia sudah tidur! Cepet banget," guman Syakila saat melihat suami nya yang tidur tengkurap.
Karena hari memang sudah sangat malam, Syakila pun ikut memejamkan matanya di dalam kegundahan.
"Tha, Thata! Jangan tinggalkan kakak! Bangun, kakak mohon!" racau Dion.
"Mas, mas, bangun!" teriak Syakila sambil mengguncang-guncangkan tubuh suaminya.
Dion terbangun, baju nya basah kuyup karena keringat yang keluar dari tubuhnya.
"Thata, Thata kamu dimana?" Dion memanggil nama Thata.
Syakila menjadi bingung, ia takut melihat suami nya yang seperti orang kurang ingat. Dalam hatinya bertanya, ada apa sebenarnya?
"Mas, kamu kenapa? Siapa Thata?" tanya Syakila.
Bukannya menjawab, Dion malah menangis.
"Kenapa gak di angkat! Aku harus gimana?" tanya Syakila pada dirinya sendiri.
Jam menunjukan pukul setengah 12 malam, pantas saja tidak di angkat.
Ia pun memilih untuk menghubungi Raka.
Lima menit menunggu, akhirnya panggilan itu di angkat.
"Kenapa?" tanya Raka di panggilan telpon.
"Tolong suami ku, dia mengamuk seperti orang gila!" jelas Syakila.
"Sudah ku duga! Kau pasti memarahinya!" ketus Raka, setelah itu Raka mematikan sambungan telponnya.
"Sudah ku duga! Maksud Raka apa?" Syakila mencoba untuk menelaah ucapan Raka.
Di tempat lain.
"Sayang, bangun! Aku mau ke apartemen Dion dan Syakila," kata Raka membangun kan istrinya.
"Hmm, kenapa kesana?" tanya Aira sambil mengucek matanya.
"Dion mengamuk!" timbal Raka "Besok pagi, kamu nyusul kesana! Dion pasti butuh kamu," sambung Raka.
__ADS_1
"Kenapa butuh aku? Kan ada Syakila," heran Aira.
"Udah, besok kamu bakal tau. Yang penting sekarang, kamu tidur lagi! Jangan mikir yang macam-macam," jelas Raka. "Oiya, besok pagi sebelum ke apartemen Dion dan Syakila, tolong hubungi mama dan papa dulu. Agar mereka kesana juga," sambungnya.
Aira hanya menganguk, dan tak bertanya apa pun lagi.
Setelah itu, Raka pergi meninggalkan Aira dan menuju apartemen Dion dan Syakila.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam, akhirnya Raka sampai. Ia segera masuk kedalam apartemen yang pintunya memang sudah di buka oleh Syakila.
Ia segera menuju kamar di mana Dion sedang mengamuk.
"Yon!" panggil Raka.
Dion mendongak kan wajahnya kepada asal suara Raka.
"Raka! Thata masih hidup," kata Dion.
Kini keadaannya persis seperti orang gila, sama seperti saat Thata baru meninggal.
"Raka, siapa Thata?" tanya Syakila yang begitu penasaran.
"Kalau kamu mau tahu siapa Thata dan seperti apa dia! Kamu bisa lihat Aira!" sahut Dion.
Syakila mendelik, "Bagaimana bisa? Aira itu adik ku, gimana mungkin Thata itu Aira?" heran Syakila. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar dari mulut Raka.
"Itu kata Dion!" timbal Raka.
Tak terasa hari sudah pagi, Dion pun sudah tertidur.
Syakila mencoba bertanya namun Raka tak pernah mau menyahuti.
Sampai pada Akhirnya Aira datang bersama mama Rina dan pak Bambang.
"Asalamualaikum," Ucap Aira saat memasuki apartemen Dion dan Syakila.
"Waalaikum salam," timbal Raka "Kamu sama mama dan papa, sayang?" tanya Raka kemudian.
"Iya, mana kak Dion dan Syakila?" tanya Aira.
"Ada di kamar, kasian Syakila! Dia mikir yang aneh-aneh tentang Dion," ucap Raka.
"Aku mau liat!" Aira berjalan menuju kamar Dion dan Syakila.
Sampai di dalam kamar, ternyata Dion sudah bangun.
"Kila, gimana keadaan kak Dion?" tanya Aira pada Syakila yang duduk di pojokan kamar itu.
Baru saja Syakila baru mau menjawab pertanyaan Aira, namun tiba-tiba Dion lebih dulu bangkit dan langsung memeluk tubuh Aira.
Mata Syakila berkaca-kaca menyaksikan kejadian itu.
__ADS_1
Mama Rina, pak Bambang dan Raka menghela nafas dengan kasar melihat hal itu.