Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Pelecehan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Raka berangkat ke kantor tanpa menyapa Aira seperti beberapa hari sebelumnya.


Walaupun begitu, tidak membuat Aira marah ataupun kesal. Ia tahu alasan di balik diam suaminya.


Setelah Raka berangkat, Aira segera membereskan rumah. Mulai dari bagian atas hingga bagian bawah.


Setelah semua nya beres, ia mendaratkan bokongnya di sofa yang ada di ruang tamu.


"Ya tuhan, kenapa mata ku selalu berkedut? Ada apa ini?" tanya Aira pada dirinya sendiri.


Ia merasa gelisah, hatinya tidak tenang.


Berulang kali ia beristifar dan menyebut nama tuhannya.


"Asraufiraullah, kenapa dengan mata ku ini? Semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi," ucapnya.


"Lebih baik aku mandi, hari sudah siang. Mata hari pun sudah meninggi." Ia beranjak dari duduknya, dan naik ke lantai atas.


Setengah jam kemudian, Ia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat sangat segar.


Di luar rumah itu, ada seseorang yang sedang mengawasi Aira.


"Sial! Kenapa dia berganti pakaian tanpa menutup jendelanya, aku semakin terpesona oleh nya," ucap seseorang yang sedang mengawasinya. Orang itu tak lain adalah Briyan.


Ya.. Sudah beberapa hari ini. Briyan selalu mengawasi Aira, dan dia akan melakukan aksinya malam ini Karena ia tahu. bahwa Raka selalu kerja lembur.


***


Di kantor, perusahaan yang di urus Raka atau tepatnya Wiryawan grup.


"Ka, kamu masih mengacuh kan Aira?" tanya Dion.


"Hmm, karena begitu lebih baik." timbal Raka.


"Tidak ada yang lebih baik disini! Dia tersakiti dan begitu juga dirimu, kau juga sakit kan?" Dion berkata sembari menatap lekat wajah sahabatnya itu.


"Jadi aku harus bagaimana? Hanya ini yang bisa aku lakukan, berobat pun percuma! Bahkan aku sudah sampai Singapura tanpa sepengetahuan Aira, namun hasilnya apa? Apa? Nol, nol besar Dion!" Raka berucap keras pada Dion.


"Lalu apa rencana mu setelah ini?" tanya Dion.


"Tidak ada, hanya jika ada pria yang baik yang dapat menggantikan posisi ku di hati Aira. Aku akan sangat senang dan bahagia," kata Raka dengan pelan.


"Siapapun itu! Termasuk Briyan?" tanya Dion dengan senyum mengejek.


"Tidak! Tidak! Briyan tidak termasuk, jika itu diri mu. Aku akan setuju dia menjadi madu Syakila," kata Raka dengan wajah serius.


"Kau memang gila Raka!" maki Dion. "Sudahlah, aku tidak ingin lagi berbicara dengan mu!" ketus Dion lalu pergi meninggalkan Raka yang diam mematung.


Saat Dion sampai di ambang pintu, Tiba-tiba ia membalikan badannya.


"Kau ingat! Kau akan menyesal nanti!" Dion menujuk wajah Raka.


"Dasar tidak punya akal, kemana otak cerdasnya selama ini! Ia hanya mendatangi Singapura. Tidak dapat hasil dan langsung putus asa. Bukankah banyak negara hebat di dunia ini! Kenapa hanya Singapura yang ia datangi? Dasar bodoh!" maki Dion dari jauh.

__ADS_1


***


Malam harinya.


Aira sedang menonton Tv di ruang tengah.


Tiba-tiba terdengar suara bel.


Ting nong ting nong..!!


"Siapa? Apakah Raka sudah pulang?" tanya nya sambil beranjak dari duduknya.


Ia berjalan dan membuka pintu, alangkah terkejutnya dia saat melihat Briyan berdiri di depan pintu itu.


Mata Briyan memandangi tubuh Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Ia langsung menelan ludah dengan kasar, bagaimana tidak! Aira hanya memakai piyama yang hanya sebatas lutut dengan tali di pinggangnya. Bahkan rambutnya hanya di sanggul asal dan memperlihatkan lehernya putih bersih. Lelaki normal pasti akan tergoda dengan tubuh yang indah itu.


"Hay Aira!" sapa Briyan dengan mengeluarkan senyum manisnya.


"Keee-kak Briyan! Ko-kok tau rumah ini? Ra-raka enggak ada di rumah," ucap Aira gugup dan terbata-bata.


"Boleh aku masuk?" Briyan menaik turun kan alisnya.


Aira menggeser tubuhnya, memberi peluang agar tubuh Briyan dapat masuk.


"Kak, gak ada orang di sini. Kakak pulang dulu ya, nanti kalo Raka pulang, kak Bry kesini lagi," ucap Aira pelan sambil meremas jemarinya.


"Aku tunggu di sini aja ya, lagian aku capek!" Briyan mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu.


Tanpa Aira tahu, Briyan mengikutinya hingga dapur. Saat Aira sedang mengaduk kopi, tiba-tiba tangan kekar memeluknya dari belakang.


Aira terkejut, jantungnya langsung berdegub kencang. Dengan takut ia mendongak kan wajahnya kepada wajah orang yang bersandar di bahunya.


"Kak, jangan kayak gini!" lirih Aira.


"Kenapa? Bukankah kamu juga menginginkan seperti ini!" Ucap Briyan berbisik di telinga Aira.


Aira memejamkan matanya saat hembusan hangat menyentuh kulitnya.


Melihat Aira yang diam dan memejamkan matanya, Briyan mulai berani mencium leher Aira dan mengeratkan pelukannya.


Sesaat Aira terbuai dengan sentuhan manis Briyan, Ia mulai menggeliat saat bibir dan juga lid4h Briyan bemain-main di leher jenjangnya.


Namun Aira cepat tersadar, dengan sekuat tenaga ia melepaskan pelukan Briyan.


"Jangan kak, ini gak boleh!" Aira memberontak.


"Kenapa Aira?" tanya Briyan dengan nafas memburu sambil melepaskan pelukannya.


"A-aku.." Aira nampak menjadi ketakutan.


"Ayo lah Aira, aku mencintaimu sejak pertama aku melihatmu di acara pernikahan kalian. Lagian pula, kita akan menikah. Segera lah urus perceraian mu dengan Raka," kata Briyan.


"Cukup kak, aku hanya mencintai Raka bukan kak Bry," ucap Aira dengan takut, namun ia mencoba untuk tegar dan berani.

__ADS_1


"Apa yang kau harapkan dari pria impoten seperti dia Aira?" tanya Briyan.


Aira terkejut mendengar perkataan Briyan.


"Ayolah sayang, aku akan memberikan sentuhan yang gak bisa di berikan Raka untuk mu," Briyan kembali mendekat dan memeluk tubuh mungil Aira.


Ia mulai menciumi wajah Aira dengan penuh Gairah.


"Kak Bry, jangan!" Aira mulai menangis sambil memberontak dari dekapan Briyan.


"Sebentar saja sayang, setelah itu kita pergi dari sini. Aku janji akan membahagiankan mu," ucap Briyan dengan nafas berat.


Aira mendorong tubuh Briyan dengan sekuat tenaga, dan pelukan Briyan terlepas. Dengan cepat Aira berlari kearah tangga.


"Aira, ayo lah! Jangan seperti ini, kau akan merasakan kenikmatan yang tidak pernah kau dapatkan dari suami mu yang tidak berguna itu," kata Briyan sambil bangkit. Dan segera berlari mengejar Aira.


"Auhh," pekik Aira saat tiba-tiba kakinya terpeleset.


"Sudah ku bilang kan, dan sekarang kau malah terjatuh," Briyan ikut duduk di samping Aira. Dengan lembut Briyan memegang kaki Aira yang terkilir dan sakit.


"Pergi kak, tolong pergi!" usir Aira.


"Aku mengingkan mu Aira, kau sudah membuat ku gila dan menghilangkan nafsu ku pada semua wanita ku," kata Briyan dan tangannya beralih pada wajah Aira.


Dengan paksa Ia menarik cengkuk Aira, dan mencium paksa juga bibir Aira.


"Emm," tangan Aira memukul-mukul belakang Briyan dengan keras agar melepaskan ciuman itu.


Namun Briyan sama sekali tidak merasakan sakit, justru ia malah memperdalam ciuman nya.


Ia m3lum4t bibir merah Aira dengan kasar namun Aira tidak sedikit pun membuka mulutnya.


Merasa kehabisan nafas, Briyan melepaskan ciuman itu. "Ayo sayang, aku tahu kau juga menginginkannya bukan?" Briyan membelai wajah Aira yang sudah berlinang Air mata.


Jujur, Aira juga merasakan kenikmatan saat Briyan meyentuh tubuhnya dengan penuh nafsu seperti itu, gairah Aira pun mulai membuncah. Namun ia sadar, bahwa semua adalah perbuatan dosa dan tidak ingin mengkhianati cintanya kepada Raka.


Aira mendorong lagi tubuh Briyan, Briyan yang hanya duduk tanpa ada keseimbangan itu pun terjatuh dua tingkat tangga.


Melihat Briyan yang terjatuh agak jauh, Aira berlari dengan kaki yang pincang. Barang-barang yang ada di lantai atas berserakan tidak karuan, karena Aira menabrak apapun yang ia lewati.


"Aira, jangan lari!" teriak Briyan sambil berlari mengejar Aira dengan memegangi kepalanya yang terbentur anak tangga.


Aira terus berjalan menuju kamarnya dengan kaki yang terlihat memar.


**Bersambung..!!


Tung tung gantung..!! 🀭🀭🀭


Othor udah bayar hutang ya..!!


Nanti siang othor janjut lagi, kalo perut othor tidak bergejolak seperti ayang DionπŸ€—πŸ€—πŸ€—


Kasih dukungan, biar othor bisa cepat up🀭🀭🀭


Happy reading..!! 😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2