Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Episode 19


__ADS_3

Sore harinya, Raka dan Aira pulang ke rumah.


"Sayang, aku naik keatas duluan ya. Tolong kamu bikinin aku teh hangat ya," pinta Raka pada Aira.


"Iya, sana kamu mandi duluan. Setelah itu turun atau kamu mau tehnya aku bawa ke atas aja." kata Aira.


"Enggak deh, biar ntar aku turun aja," ucap Raka lalu iya segera naik ke lantai atas dan melaksanan aktivitas mandinya.


Aira membuatkan teh untuk Raka, yang kebetulan di meja dapur sedang ada mama Rina dan Intan yang sedang makan cake buatan Aira tadi pagi.


Aira tersenyum kecil saat melihat mama mertuanya makan cake itu dengan sangat lahap.


Mama Rina yang di perhatian Aira menjadi risih.


"Ngapain kamu ngeliatin saya kayak gitu Aira?" tanya mama Rina dengan mata melotot.


"Enggak ma," timbal Aira lalu menundukkan wajahnya.


"Udah sana pergi!" usir Intan.


"Udah Intan, biarin aja nanti dia ngadu terus kita dapat masalah lagi." kata mama Rina lalu memasukan lagi potongan kue itu kedalam mulutnya.


Tak lama kemudian Raka turun dari lantai atas dan menuju meja dapur.


"Sayang mana tehnya?" tanya Raka pada Aira yang sedang ingin memasak untuk makan malam dirinya Raka dan papa mertuanya.


"Itu, aku tarok di dekat kemari." timbal Aira tanpa menoleh pada Raka.


"Kue yang kamu bikin tadi pagi habis ya?" tanya Raka lagi.


Mendengar kue yang di buat Aira tadi pagi. Sontak mama Rina membulatkan matanya dan tersedak.


"Uhuk, uhuk,"


"Kenapa mah?" tanya Raka lalu mata Raka beralih pada piring kue yang tinggal tersisa dua potong lagi di hadapan mamanya. "Oo, jadi mama ya ngabisin kue ku," ucap Raka.


"Mana mama tahu kalau kue itu buatan istri kamu, kalau mama tahu juga mama gak akan makan." timbal mama Rina dengan gengsi. "Iya kan Intan!" kata mama Rina pada Intan.


"Lagian kuenya juga gak enak," ucap mama Intan berbohong.


"Gak enak sih gak enak, tapi jangan di habisin dong!" seloroh Raka yang membuat Aira menghentikan aktivitasnya.


"Kenapa Raka?" tanya Aira pura-pura tidak mengerti dengan apa yang di ributkan mama dan anak itu.


"Itu tu, mama makan semua kue yang kamu buat tadi pagi." ketus Raka sambil menunjuk piring kue itu.


"Udah deh, besok aku bikinin lagi yang banyak," ucap Aira. "Mendingan kamu duduk disini, tunggu masakan aku jadi. Udah itu kita makan." sambungnya.


Dengan kesal Raka mendudukkan bokongnya di kursi yang paling pojok jauh dengan mama Rina dan Intan.


"Bilang gak enak tapi di embat semua," omel Raka seperti anak kecil


"Kalau tante tahu itu buatan gadis kampung itu, gak mungkin deh tante makan," bisik mama Rina pada Intan.


"Tante sih! Makannya juga kayak orang rakus," ucap Intan.


"Lagian sumpah, tu kue enak banget lo Intan. Rasanya pas di lidah tante." timbal mama Rina.

__ADS_1


Tak lama kemudian, masakan Aira selesai iya masak makanan sederhana yaitu capcai dan ayam rica-rica kesukaan suaminya.


"Bentar ya, aku panggil papa sebentar. Kalian duluan aja," ucap Aira, lalu iya berjalan menuju ruang kerja papa mertuanya.


Tak lama Aira datang lagi bersama pak Bambang.


Mereka pun memulai sarapan mereka.


Sesekali mama Rina melirik masakan Aira. Namun dia tidak mengambilnya karena gengsi.


"Masakannya sungguh mengguga selera, aku ingin memakannya tapi nanti dia jadi besar kepala," ucap mama Rina dalam hati.


"Ayo ma, makam masakan Aira," tawar Aira. Iya tahu bahwa mertuanya itu sebenarnya pingin.


"Enggak, saya makan masakan mbok Ani aja." tolak mama Rina.


"Ini asli enak banget lo ma," ucap Raka mengiming-imingi mamanya.


Sedangkan pak Bambang diam saja, iya masih enggan mengajak istrinya berbicara.


Keesokan harinya.


Diam-diam Intan ingin mencelakai Aira menggunakan Racun. Tapi tanpa di sengaja mbok Ani melihatnya saat Intan memasukan sesuatu kedalam susu coklat yang baru saja di buat oleh Aira lalu di tinggalkan Aira memanggil Raka.


"Astaufiraullah, mau ngapain itu perempuan gila," ucap mbok Ani.


Mbok Ani menguping ucapan Intan.


"Haha, bentar lagi kamu akan pergi selamanya perempuan kampung," ucap Intan dengan tertawa-tawa sendiri.


Setelah memasukan racun itu, segera di aduknya menggunakan sendok lalu pergi meninggalkan dapur.


Lima menit kemudian Raka dan Aira turun dan langsung menuju meja dapur.


Aira merasa heran, saat iya hendak meminum susunya.


"Kok masih panas ya," gumannya.


"Kenapa sayang?" tanya Raka yang mendengar ucapan Aira.


"Enggak, enggak papa kok. Ya udah di makan sandwichnya terus minum teh kamu, setelah itu berangakat," ucap Aira "Nanti siang aku antar makan siang ya." sambungnya.


Raka menganguk lalu memakan sandwich dan meminum tehnya.


Intan mengintip hal itu, dia tertawa puas saat melihat Aira meneguk susu itu.


"Akhirnya, sebentar lagi kamu bakalan mati." kata Intan


Namun tiba-tiba ada yang menepuk bahunya, Intan pun terperanjat kaget.


"Ngapain kamu Intan? Kok kayaknya kaget banget," ucap mama Rina yang ada di belakang Intan.


"Ehh, tante kirain siapa," ucap Intan sambil mengelus dadanya.


"Kamu ngapain ngintipin Aira sama Raka lagi berduaan?" tanya mama Rina.


"Ehh, anu tante itu," ucap Intan dengan gugup "Intan cuman mikir aja, seandainya Intan yang ada di posisi perempuan kampung itu. Pasti Intan bakal bahagia banget." sambung Intan dengan wajah yang di buat sedendu mungkin.

__ADS_1


"Kamu yang sabar ya, suatu saat pasti Raka akan jadi milik kamu." kata mama Rina.


Tidak lama kemudian Raka pamit berangkat ke kantor.


"Sayang, kamu hati-hati ya. Aku berangkat dulu," ucap Raka lalu mencium kening Aira.


"Iya, nanti siang aku kesana bawain kamu makanan." kata Aira lalu mencium punggung tangan suaminya.


Sudah satu jam waktu dari saat Aira meminum susunya, namun sampai saat ini belum menunjukan reaksi apa-apa.


"Kenapa racun itu belum bereaksi sama sekali," guman Intan.


"Apanya yang belum bereaksi Intan?" tanya mama Rina.


"Gak ada kok tante," ucap Intan.


"Oo, kirain ada sesuatu yang lagi kamu sembunyiin dari tante." kata mama Rina "Ya udah, kita nonton tv aja yuk dari pada gak ada kerjaan. Kita lihat sinetron." ajak mama Rina.


Dengan berat hati Intan pun mengikuti mama Rina menonton televisi yang berlogo ikan terbang itu.


Selepas kepergian Intan, mbok Ani segera menemui Aira dan mengatakan untuk berhati-hati.


"Non Aira harus hati-hati, tadi pagi mbok yang mengganti susu non. Karena mbok melihat Intan memasukan bubuk putih kedalam susu non dan mbok dengar dia berbicara sendiri kalau itu adalah racun untuk menghabisi non." jelas mbok Ani.


Aira pun terkejut mendengar ucapan mbok Ani.


"Beneran mbok?" tanya Aira.


"Iyo non, dan sekarang Intan lagi nungguin racun itu bereaksi pada tubuh non." jelas mbok Ani lagi.


"Ya udah mbok, kita kerjain balik si wanita iblis itu," ucap Aira "Apa semua ini rencana mama ya mbok?" tanya Aira.


"Kalau menurut mbok sih enggak non, karena nyonya besar sepertinya tenang-tenang aja. Dan tadi Intan sempet di pergokin sama nyonya, Intan jadi panik dan gugup." jelas mbok Ani lagi.


"Ya udah mbok, sekarang kita mulai ngerjain Intan." kata Aira dan di angguki oleh mbok Ani.


Aira menuruni anak tangga, tiba-tiba saja Iya menjatuhkan dirinya dan tergulung kebawah.


"Ya allah non Aira," teriak mbok Ani.


Mama Rina dan Intan yang mendengar teriakan mbok Ani langsung berlari ke arah suara itu.


"Aira kenapa mbok?" tanya mama Rina panik.


"Gak tau nyonya, tadi non Aira manggil-manggil mbok tapu suaranya seperti kesakitan. Pas waktu mbok datang, non Aira sudah tergeletak disini dan kepalanya berdarah." jelas mbok Ani dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Intan sangat senang mendengar penjelasan mbok Ani. Iya fikir pengaruh racun yang iya berikan Mukai bereaksi.


"Cepet hubungi Raka mbok, saya takut dia akan mengira bahwa saya yang sudah mencelakai Aira," ucap mama Rina.


"Berarti nyonya besar emang gak ikut campur dalam rencananya Intan kutu kupret ini," ucap mbok Ani dalam hati.


***Bersambung..!!


Hey hey hey..!!


Jangan lupa ya jejak nya, kasih hadiah yang banyak pulaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Happy reading 😘😘😘***


__ADS_2