
"Loh..! Den Briyan belum tahu! Kalau mereka udah pindah rumah?" ucapan mbok Ani membuat Briyan lemas.
"Mereka pindah kemana Mbok?" tanya Briyan.
"Wah, mbok gak tahu Den. Soalnya den Raka ngajak Non Aira pindah setelah menjebloskan Intan ke dalam penjara." jelas mbok Ani, hal itu membuat Briyan melolotkan matanya.
"Penjara!" Briyan mengeryitkan keningnya.
"Iya Den, karena Intan udah beberapa kali nyoba ngehabisin non Aira," jelas Mbok Ani lagi.
"Ya udah Mbok, kalau gitu. Briyan pamit pulang ya," kata Briyan lalu pergi meninggalkan kediaman Papa Bambang.
Setelah Briyan pergi, Mbok Ani mencak-mencak.
"Dasar orang aneh, ganteng-ganteng kok doyan nya Istri orang. Untung Den Raka ama Non Aira udah pindah, lagian kok bisa sih Den Raka punya temen macam Den Briyan," gerutu Mbok Ani.
Sedangkan Briyan, ia pergi meninggalkan Rumah megah itu dengan perasaan kesal.
"Kemana? Kemana kamu Aira? Lama-lama seperti ini aku bisa gila." Briyan memukul setir kemudi dengan jengkel.
Setelah itu, ia menelusuri jalanan. Bahkan ia tak tahu harus kemana. Namun tiba-tiba, mata Briyan menangkap sosok yang sedang ia cari-cari. Yaitu Aira dan Raka yang baru saja keluar dari Supermarket.
"Itu Aira dan Raka! Mau kemana mereka?" Briyan mengucek matanya, apakah ia salah lihat atau tidak. "Tidak-tidak, aku tidak salah lihat! Aku harus mengikuti mereka." Briyan segera membuntuti mobil Raka yang sudah melaju.
Sudah agak jauh Briyan mengikuti mobil Raka. Namun ternyata Raka menyadari bahwa mobilnya sedang di ikuti.
"Sial.." umpat Raka.
"Kenapa Raka?" tanya Aira.
"Ada mobil Briyan di belakang," kata Raka.
"Mau apa dia? Kenapa membuntuti mobil kita," ucap Aira.
"Kurasa dia habis dari rumah untuk nemuin kamu, dan mungkin orang Rumah bilang kalau kita udah pindah Rumah, makanya dia nyariin kita." kata Raka.
"Terus kita harus gimana?" tanya Aira.
"Kamu tenang aja, dia gak akan bisa ngejar mobil atau ngikutin kita sampe Rumah," Raka tetap menyetir dengan tenang.
Sedangkan Briyan yang berada di belakang, terus mengejar mobil Raka. Namun tiba-tiba, mobil Briyan terhenti di depan lampu merah sedangkan mobil Raka sudah melaju lebih dulu sebelum lampu hijau berubah merah.
"Sialan! Kurang ajar.. Lagi-lagi aku kehilangan jejak Aira," umpat Briyan sambil memukul-mukul setir kemudi.
"Gimana Raka? Kak Briyan gak ngikutin kita lagi?" tanya Aira sambil menoleh ke belakang.
"Kamu tenang aja Sayang, kayak nya dia terjebak di lampu merah," kata Raka sembari tersenyum.
Setelah lepas dari kejaran Briyan, Raka dan Aira segera menuju Rumah mereka.
***
Hari-hari di lalui begitu cepat. Tak terasa sudah sebulan mereka menempati Rumah baru.
"Raka, tadi Kila telpon. Katanya kita di suruh ke Apartemen mereka nanti malam," kata Aira sambil memasang kan dasi di leher Suaminya.
"Hmm.." Raka hanya ber hm, sembari memainkan rambut Aira.
__ADS_1
"Nanti pulangnya jangan sore-sore ya, kita berangkat sebelum Magrib," kata Aira.
"Iya My wife, aku bakal pulang cepet. Kalo gak, aku gak usah ke kantor ya! Lagian aku capek banget." Raka mengeluarkan senyum manisnya, ia berharap Aira akan mengizinkan ia libur.
"Alasan aja.. Sekarang kerja entar kalo kerjaan kamu selesai baru boleh pulang," kata Aira "Nah! Udah.. Ayo turun, kita sarapan." sambungnya.
"Mau libur aja gak boleh!" Raka pura-pura merajuk.
Tak terasa, malam hari pun tiba.
Kini mereka sudah sampai di Apartemen milik Dion dan Syakila, namun mereka merasa heran. Karena di depan gedung Apartemen yang menjulang tinggi itu ada mobil Papa Bambang, orang tua Raka sendiri.
"Loh.. Kok ada mobil Papa juga ya," kata Raka keheranan.
"Gak tahu, emng ada pesta ya. Kok Kila gak bilang-bilang," Aira tak kalah herannya.
"Emang tadi pagi Syakila bilang apa ama kamu?" tanya Raka.
"Katanya sih cuman acara makan malam, tapi kok sampe ada Papa dan Mama," kata Aira.
"Ya udah, gak usah di fikirin. Mending sekarang kita masuk.
Dengan rasa penasaran nya, mereka berdua masuk dengan bergandengan ke dalam dan menuju Apartemen milik Dion dan Syakila.
Iya.. Dion dan Syakila pindah ke Apartemen setelah beberapa hari Raka dan Aira pindah Rumah.
Sesampai nya di dalam Apartemen.
"Aira, kamu datang!" Sambut Syakila dengan pelukan hangat.
"Itu.. Ibu dan Ayah yang ngundang mereka kesini," kata Syakila.
"Emang nya ada apan sih?" tanya Aira yang penasaran.
"Nanti juga kamu tahu." timbal Syakila dengan senyuman.
Waktu makan malam telah tiba, kini mereka semua sudah duduk di Ruang makan.
"Ayo Aira, makan yang banyak. Biar gendutan kayak Kila," kata bu Yanti.
Syakila mendelikkan matanya. "Kok Ibu bilang aku gendut sih?" protes Syakila dengan nada manja.
Aira hanya tersenyum mendengar ucapan Ibu mertua sepupunya itu.
Dion baru saja akan menyendokan nasi ke dalam mulutnya. Namun tiba-tiba ia merasa mual, dan langsung berlari ke kamar mandi yang ada di pojok dapur.
"Yang.. Mual lagi ya," kata Syakila sambil mengejar suaminya.
Raka dan Aira saling pandang.
"Semenjak Kila hamil, bawaan Dion selalu mual dan muntah-muntah," kata bu Yanti tiba-tiba.
Mendengar kata mengandung, Aira tersenyum kecut.
Aira ikut menyusul Syakila dan Dion, meninggalkan Mama Rina, Bu Yanti, Pak Budi dan juga Papa Bambang yang ada di meja makan.
Melihat istrinya yang tidak jadi makan, Raka ikut menyusul.
__ADS_1
"Sayang, tunggu!" teriak Raka.
"Kamu kok gak jadi makan?" tanya Aira yang menghentikan langkahnya.
"Aku nunggu kamu lah!" timbal Raka.
Sesampainya di kamar mandi.
"Kila, kak Dion nya di kasih minyak angin. Biar mendingan," kata Aira.
"Tambah mual Aira, mas Dion gak bisa nyium bau-bau yang menyengat," kata Syakila.
"Oo, gitu!"
"Sana, kalian lanjutin makannya," kata Syakila.
"Iya, kalian makan aja. Ini bentar lagi aku enakan kok," kata Dion sambil beranjak dari duduknya di lantai kamar mandi itu.
"Ayo sayang.. Biar Kila yang urus suaminya," kata Raka dan di angguki oleh Aira.
Mereka berdua kembali menuju ke meja makan.
Di tengah makan malam mereka, Aira bertanya.
"Udah berapa minggu Tan, usia kandungan Kila?" tanya Aira.
"Kata dokter, udah empat minggu Ai. Gimana kamu udah ada tanda-tanda isi?" tanya balik bu Yanti.
"Belum Tan, mungkin memang belum waktunya di kasih ama tuhan," kata Aira dengan tersenyum canggung.
"Sering-sering usaha, siapa tahu berhasil kayak Dion dan Syakila," kata pak Budi dan di susul tawa oleh bu Yanti dan Papa Bambang.
Raka dan Aira saling lempar pandang satu sama lain.
"Mungkin Aira itu mandul!" ketus mama Rina.
"Mama!" bentak Papa Bambang.
Tak lama, Dion dan Syakila kembali ke meja makan.
"Bahas apaan sih?" tanya Kila saat melihat wajah orang-orang yang ada di meja makan nampak tegang.
"Mama gak asal ngomong lo Pa, buktinya sudah lebih setahun mereka menikah. Tapi Aira belum hamil juga," kata mama Rina mengeluarkan unek-unek yang ia pendam tentang Aira.
Brak..!!
Pukulan meja makan terdengar keras, hingga mengejutkan semua orang yang ada di meja makan itu.
***Bersambung..!!
Happy reading..!!
Jangan lupa jejak nya ya, dan beri othor dukungan sebanyak-banyaknya..!!
Gak lama lagi, Raka bakal kita kirim ke luar negeri ya..!!
Harap sabar menunggu😂
__ADS_1