
Pukul 01:23 dini hari. Dion, Raka dan juga Safira yang membawa serta Bibi Wati dan di dampingi dua orang perawat, telah kembali ke Jakarta.
"Langsung bawa ke Rumah sakit B saja," ucap Raka pada Dion.
"Sipp.." Dion mengacungkan jempolnya.
Setelah mengantar bibi Wati ke Rumah sakit B, Raka dan Dion di ikuti oleh Safira kembali ke kediaman Raka.
Setengah jam kemudian, mereka sampai di depan rumah megah milik Raka dan Aira. Raka pun membuka pintu rumah itu dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa.
"Istirahatlah.." perintah Raka pada Safira.
"Baik Tuan, terimakasih," ucap Safira sambil menundukkan kepalanya.
"Aku duluan!" Dion dan Raka berebut menaiki anak tangga.
"Aku pemilik rumah, jadi aku yang harus lebih dulu!" sahut Raka.
"Tapi aku yang tadi lebih dulu menapak kan kaki ku di anak tangga ini." timbal Dion.
"Pokoknya aku duluan, atau ku usir kau dari sini!" ancam Raka.
"Ya sudah, kau duluan! Kau kan Raja nya," ucap Dion mengalah sambil memonyongkan bibir nya.
Akhirnya Raka dan Dion menaiki anak tangga itu dengan beriringan.
Sesampai nya mereka di kamar masing-masing, mereka tidak menemukan istri mereka.
Mereka berdua sama-sama keluar dari kamar mereka dengan panik.
"Aira tidak ada," ucap Raka dengan tubuh lunglai.
"Syakila pun hilang." timbal Dion.
"Mereka berdua kemana?" tanya Dion kemudian.
"Ahh.. Mungkin mereka ada di kamar ujung," ucap Raka sambil berjalan dengan tergesa.
Dan benar saja, Saat Raka membuka pintu kamar yang terletak paling ujung di lantai atas itu. Dua Wanita hamil itu tengah meringkuk di lantai yang sudah di sediakan kasur putih yang berukuran king size.
"Benarkan.. Mereka ada disini," ucap Raka.
"Kenapa mereka tidur di sini?" tanya Dion.
"Sepertinya mereka tidak berniat tidur di sini, tapi ketiduran." kata Raka.
Ruangan itu tampak sangat berantakan, bungkus snak ada di mana-mana. Bahkan barang barang dan alat karoke acak-acakan.
__ADS_1
"Ayo kita tidur.." Ajak Raka.
Mereka berdua pun ikut tidur di ruangan itu. Menemani istri mereka masing-masing.
***
"Kak, Ayo bangun! Hari sudah siang," seseorang wanita sedang berusaha membangunkan suaminya. "Ayo bangun kak, nanti telat..!"
"Lima menit lagi," tawar sang suami yang semakin mempererat selimutnya.
"Ayo dong, Kak! Bian udah nungguin dari tadi," ucap Wanita itu, yang tak lain adalah Cindy.
"Kakak kan udah janji, sebelum berangkat ke kantor kakak mau anter dia ke Mall dulu." sambung Cindy dengan nada kesalnya.
"Hah.. Aku lupa," kata Briyan yang langsung bangun dari tidurnya.
"Ayah.." panggil Bian. "Ayah bangun siang lagi ya," kata Bian sambil mendekati sang ayah yang baru bangun.
"Maafkan ayah ya," ucap Briyan sambil mengucek matanya.
"Ayah kebiasaan, gak bisa bangun pagi. Kalah sama Bian," omel Bian.
"Ini ayah bangun, ya udah ayah mandi sebentar." kata Briyan, dengan kesusahan ia bangkit dan meraih tongkatnya.
Bian memandangi ayah nya yang berjalan pincang dengan bantuan tongkatnya.
"Enggak kok, kaki ayah gak sakit lagi. Ni lihat!" kilah Briyan sambil berusaha menggerakkan kakinya.
"Ayah bohong," ucap Bian. "Iya kan, Bu. Kemarin Bian lihat ayah nangis," sambung Bian, namun ia tidak lagi berbicara pada sang ayah melainkan dengan sang Ibu.
Mendengar putra nya berbicara demikian, wajah Briyan menjadi murung. Cindy menjadi tak enak hati melihat nya.
"Bian, sekarang Bian tunggu di luar dulu ya! Biar ayah mandi sebentar," ucap Cindy pada putranya dengan lembut.
"Ya udah, Bian tunggu di luar." kata Bian "Bian yakin, ayah pasti bakal sembuh," sambung Bian sambil mengacungkan kedua jempol nya sambil berjalan keluar dari kamar Ibu dan Ayah nya.
Briyan tersenyum melihat putra nya, semangat dan keinginan yang tadinya hampir musnah. Kini tumbuh kembali dalam dirinya.
"Sayang, maaf kan Bian ya. Dia gak bermaksud ngomong kayak gitu," ucap Cindy sambil memegang tangan suaminya.
"Bian gak salah, Dia kan cuman nanya," kata Briyan.
"Tapi aku penasaran, kenapa Bian bilang kamu menangis?" tanya Cindy yang penasaran dan mulai curiga pada Briyan.
"Aku gak papa, mungkin Bian salah lihat! Mana mungkin aku yang cool ini menangis!" sangkal Briyan.
Flashback on
__ADS_1
Siang itu, Cindy sedang tidak di rumah. Namun Briyan yang baru saja tiba, tidak mengetahui bahwa di rumah itu. Ada putra kecil nya.
"Akhh.." rintih Briyan yang merasakan keram di kaki kirinya.
"Tuan, sebaiknya kita Chek up lagi. Saya takut kaki Tuan akan semakin parah," ucap Asisten Vino.
"Aku tidak apa-apa Vin, terimakasih sudah banyak membantu," ucap Briyan dengan wajah memerah menahan sakit.
"Tuan bisa membohongi istri dan anak Tuan, tapi Tuan tidak bisa membohongi saya," kata Asisten Vino dengan expresi datar.
"Sepertinya harapan ku pupus sudah, aku tidak akan bisa berjalan normal lagi," ucap Briyan dengan ke putus asaan nya.
"Semangat Tuan, semangat di iringi usaha dan do'a. Semoga tuhan mengabulkan dan memberikan yang terbaik," kata Asisten Vino mencoba memberi semangat.
"Aku cacat Vin, aku tidak berguna!" Briyan terduduk lemah di lantai sambil menangis.
"Tuan tidak boleh seperti ini! Tuan harus kuat, Tuan ku yang dulu tidak lemah seperti ini, di mana Tuan Briyan yang dulu. Yang kuat dan tangguh, tidak mudah putus asa dan menyerah." kata Asisten Vino penuh penekanan di setiap katanya.
Diam-diam Bian mendengarkan dan melihat semua yang terjadi, Ia pun ikut menangis setelah melihat kerapuhan ayah nya.
Ingin membantu, namun ia bisa apa? Hanya seorang anak kecil yang belum bisa apa-apa.
Flashback off
"Kak.. Kak, kenapa melamun!?" Cindy melambaikan tangan nya di depan wajah Briyan.
"Hah.. Apa?" kejut Briyan.
"Kak Briyan kenapa? Apa ada yang kakak sembunyikan dari aku dan Bian?" tanya Cindy delam herannya.
"Enggak ada Sayang, ya udah aku mandi dulu ya," kata Briyan hendak menghindar dari pertanyaan pertanyaan yang akan keluar dari mulut Cindy.
"Kak Bri.." panggil Cindy pada Briyan yang berjalan menuju kamar mandi.
"Tanya nya nanti aja, kasian Bian udah nunggu dari tadi." kata Briyan yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Huhh.. Ya sudah lah," Cindy geleng kepala. Tak mau ambil pusing, ia pun segera menyiapkan pakaian kerja suami nya.
Tak lama kemudian, Briyan sudah siap dan segera menghampiri putra nya yang sudah lama menunggu.
"Ayah, Bian gak jadi main ke Mall deh," ucap Bian tiba-tiba.
"Kenapa? Ayah udah siap loh! Ayah juga udah bilang sama Om Vino, kalau hari ini ayah gak masuk kerja," ucap Briyan sambil mendekati putra nya.
"Emm.. Bian gak mau ayah ke capekan kaya kemarin," kata Bian.
Hal itu tentu tidak luput dari pengawasan Cindy, Cindy menjadi semakin curiga dan semakin ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi antara anak dan suami nya itu!
__ADS_1
Awas banyak typo! 🏃♀️🏃♀️🏃♀️