Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Episode 30


__ADS_3

Sedangkan di dalam kamar orang tua Dion, bu Yanti dan pak Budi sedang tertawa senang. Karena sebentar lagi anaknya akan segera menikah.


"Mudah-mudahan Dion beneran nikah sama gadis itu ya yah," ucap Ibunya Dion dengan girang.


"Ya mudah-mudahan saja bu, Ayah juga yakin kalau gadis itu gadis yang baik," pak Budi


"Umur kira sudah gak muda lagi ya yah, Dion juga udah matang buat berumah tangga. Dan ibu pengen sekali gendong cucu sebelum ibu meninggal," ucap Bu Yanti yang wajah berubah layu tidak seperti sebelumnya.


***


Keesokan harinya.


Mam Rina sudah boleh di bawa pulang, dan pak Bambang dan juga Raka membawa mama Rina pulang. Di rumah sudah ada Aira dan mbok Ani yang menyiapkan keperluan mama Rina.


Setelah menempuh perjalanan dua puluh menitan dari rumah sakit. Akhirnya mereka sampai di rumah.


Saat mereka hendak turun dari mobil, tiba-tiba mobil Intan juga sampai di kediaman rumah pak Bambang.


"Loh! Tante kok di tuntun dan di tangannya ada selang infus sih?" tanya Intan yang baru turun dari mobilnya.


"Tante sakit Intan," ucap mama Rina dengan lemah.


"Ya ampun tan, maafin Intan ya. Intan gak tahu kalau tante sakit," ucap Intan pura-pura mengiba pada mama Rina.


Pak Bambang memperhatikan seluruh tubuh Intan, mulai dari kaki hingga ke atas. Dan tatapan pak Bambang berhenti pada leher Intan.


"Kenapa leher kamu merah-merah kehitaman seperti itu Intan?" tanya pak Bambang tiba-tiba.


Dan pertanyaan itu berhasil membuat sang empu gelagapan.


"Ini di gigit serangga om, kemarin Intan bantu mama bersih-bersih gudang." timbal Intan dengan kikuk.


Raka tersenyum simpul melihat kegugupan dan ketakutan Intan.


"Du gigit serangga atau di gigit ikan ******!" ketus Raka sambil berjalan meninggalkan mama Rina yang di papah oleh pak Bambang.


Mata Intan mendelik mendengar ucapan Raka.


"Apa sudah kamu beri obat?" tanya mama Rina sambil tersenyum kepada Intan.


"Udah tante, udah di kasih mama salep tadi di rumah," ucap Intan berbohong.


"Ya udah ayo kita masuk," ajak mama Rina

__ADS_1


Perlahan pak Bambang memapah istrinya masuk kedalam rumah itu dengan di ikuti Intan di belakang mereka.


Sesampainya di dalam, Aira langsung menyambut mama mertuanya itu dengan senyum manisnya.


"Mama sudah pulang," ucap Aira sambil mendekati mama mertuanya yang di papah oleh papa mertuanya.


"Stop! Jangan dekati saya." ketus mama Rina.


Diam-diam Intan tersenyum di belakang mama Intan dan pak Bambang.


"Tapikan, Aira cuman mau bantuin mama," ucap Aira


"Saya gak butuh bantuan kamu." timbal mama Rina "Ayo Intan, kamu ikut tante ke dalam." sambung mama Rina pada Intan.


Intan pun membantu pak Bambang memapah mama Rina menaiki anak tangga.


Setelah kepergian mama Rina, Raka pun mendekat dan mengusap punggung Aira.


"Yang sabar ya sayang, suatu saat nanti. Mama pasti akan berubah," ucap Raka.


"Iya, aku tahu kok sebenarnya mama orang yang baik," kata Aira "Ya udah, aku mau bikinin mama bubur ayam dulu." sambung Aira.


"Aku bantuin ya," ucap Raka, setelah itu mereka berdua berlari ke dapur.


Dengan sangat telaten Raka membantu Aira membuat bubur untuk sang mama.


"Iya-iya aku pergi!" Raka pun pergi dari dapur itu.


Tak lama kemudian, bubur itu jadi dan wanginya yang harum membuat semua penghuni rumah itu menelan ludah dan ingin menyantapnya.


Aira menata bubur itu di dalam sebuah mangkuk, Iya akan memberikan bubur itu untuk mama mertuanya. Setelah selesai menatanya di dalam mangkuk dan terlihat sangat menggoda akhirnya Aira pergi mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum memasuki kamar mama mertuanya itu.


Saat dia kembali dari cuci tangan, bubur itu sudah tidak ada lagi di atas meja.


"Kemana bubur itu? Siapa yang mengambilnya," ucap Aira pada dirinya sebdiri, iya celingak celinguk mencari seseorang yang ada di sekitar dapur itu.


Iya pun tersenyum saat Matanya menangkap sosok kucing besar yang sedang menyantap bubur itu dengan sangat lahap di pinggiran kolam renang.


Iya pun mendekati kucing besar itu.


"Oo, jadi bubur buat mama di makan sama kucing garong," ucap Aira sambil menarik telinga Raka.


"Ahh, ampun sayang," ucap Raka sambil meringis kesakitan. "Bukan mama aja yang mau makan bubur tapi aku juga," sambungnya sambil kepalanya mengikuti arah telinganya yang di jewer oleh Aira.

__ADS_1


"Yang lain kan masih banyak! Kenapa harus ambil bubur yang udah aku siapin untuk mama," kata Aira masih dengan menjewer telinga suaminya.


"Aku mau cepat, aku udah gak tahan!" timbal Raka "Udah dong sayang, jangan tarik lagi nanti telinga ku putus. Memangnya kamu mau punya suami yang impoten terus gak punya telinga lagi." sambung Raka.


Mendengar ucapan Raka, akhirnya Aira melepaskan jeweran itu. Iya pun memeluk suaminya dan menangis.


"Maaf Raka," lirihnya.


"Hey sayang, kenapa malah menangis," ucap Raka lalu iya meletakan mangkuk bubur yang iya pegang itu dengan perlahan.


"Maafin aku udah jewer kuping kamu," ucap Aira "Aku yakin kamu bakal sembuh dati Impoten yang kamu derita," sambungnya.


"Aku yang harusnya minta maaf ke kamu, udah bikin kamu sedih pagi-pagi kayak gini." kata Raka lalu mengangkat wajah Aira dari dadanya, iya menghapus lembut Air mata yang mengalir di pipi Aira lalu iya mencium kedua mata Aira.


"Jangan nangis lagi, I love You," lirih Raka


Aira menganguk dan membalas ucapan Raka "I Love You too."


***


"Cepet dikit! Dasar keong," ucap Dion pada Syakila.


"Sabar kenapa," kata Syakila sambil berlari lagi kemar tempatnya tidur semalam.


"Keong kan emang ngapa-ngpain aja lambat. Sabar dan gak bisa cepat," kata Dion


"Ihh, jangan salah ya. Gini-gini aku keong Emas, nanti kamu jatuh cinta lagi sama keong emas kayak aku." timbal Syakila.


Ayah dan ibu Dion tertawa melihat tingkah kedua manusia yang sudah sama-sama dewasa yang seperti kucing dan anjing di hadapan mereka berdua.


"Amit-amit ya kalau aku bakalan jatuh cinta sama keong kayak kamu," ucap Dion sambil menutuk-nutuk kepalanya pelan.


"Lihat aja nanti, suatu saat kamu akan bucin sama aku!" timbal Syakila.


"Sudah-sudah, gak usah ribut lebih baik kalian cepat, nanti Raka nya pergi dari rumah," kata bu Yanti menengahi keributan itu.


"Huuhhh, ya udah deh bu, yah. Dion dan keong sawah ini pergi dulu," ucap Dion sambil menarik tangan Syakila meninggalkan meja makan itu.


Setelah kepergian Dion dan Syakila.


"Sudah lama kita gak lihat Dion banyak bicara seperti itu ya bu," ucap pak Budi.


"Iya yah, ibu senang sekali," kata bu Yanti "Mudah-mudahan dia bisa cepat membuka hatinya untuk syakila." sambung bu Yanti.

__ADS_1


***Bersambung..!!


Happy reading***..!!


__ADS_2