
Raka keluar dari ruangan rawat Aira.
"Raka bagaimana keadaan Aira?" tanya mama Rina.
"Dia gak papa ma, cuman kena luka bakar aja." timbal Raka "Oiya! Sebenarnya Aira kena apa ma? Kok bisa tangannya kayak gitu!" sambung Raka.
"Mama gak tahu Raka, tadi sih kayaknya dia ketumpahan teh yang di bawa Intan buat mama," jelas mama Rina. Iya takut bahwa Raka akan menuduhnya yang mencelakai Aira.
"Ketumpahan teh?" tanya Raka sambil mengerutkan dahinya.
"Iya, tadi Intan bikinin mama teh hangat. Dan gak panas kok, tiba-tiba Aira lari kearah mama dan gak sengaja nabrak Intan. Dia bilang ada yang mau di omongin sama mama, tapi setelah tangan ya ketumpahan teh. Dia langsung pergi sambil menangis." jelas mama Rina panjang lebar.
"Teh! Gak mungkin kalau kena teh yang gak panas tangan Aira bisa melepuh seperti itu," guman Raka.
"Kenapa Raka? Apa yang kamu omongin," ucap mama Rina.
"Ehh, enggak ma. Raka gak ngomong apa-apa," ucap Raka "Ya udah, kalau mama mau pulang, ya udah pulang duluan aja. Raka mau ngurus biaya berobat Aira dulu," sambung Raka dan di angguki oleh mama Rina.
Mama Rina pun segera pamit keluar rumah sakit itu untuk mencari taxi.
Setelah kepergian mama Rina.
"Aku harus cari tahu! Ada apa sebenarnya," guman Raka lalu masuk kedalam ruangan Aira.
"Mana tante Rina?" tanya Dion pada Raka yang tidak melihat mama Rina masuk kedalam ruangan itu.
"Mama udah aku suruh pulang," kata Raka. "Aira! Kamu jujur sama aku, kenapa tangan kamu bisa kayak gitu," kata Raka sambil menatap tajam pada Aira dan Syakila yang duduk di tepian ranjang pasien.
"Kan aku udah bilang Raka, kok kamu gak percaya sih!" timbal Aira.
Raka menghela nafas kasar mendengar jawaban istrinya yang seakan-akan menutupi sesuatu darinya.
"Syakila! Kamu pasti tahu penyebab Aira kayak gitu?" tanya Dion.
"Aa-ku gak tahu! Tadi waktu aku datang, tangan Aira udah kayak gitu. Dan waktu aku tanya katanya ketumpahan teh," kata Syakila dengan wajah pias.
"Dion! Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan kan?" Raka beralih menatap Dion.
__ADS_1
Dion pun menganguk.
Sore harinya, Aira di bawa pulang kerumah.
Setelah menempuh berjalan tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di kediaman pak Bambang.
Setelah Dion dan Syakila membantu Raka membawa Aira kedalam rumah.
Mereka berdua pamit pulang, karena hari sudah semakin sore dan mereka ada janji akan bertemu Ayah dan ibu Dion malam ini.
Di dalam mobil Dion.
"Pak tua! Emang ibu sama ayah bapak mau ngomong apa sih sama aku?" tanya Syakila.
"Entah lah, aku juga gak tahu." timbal Dion "Suruh datang kita datang, suruh pergi kita pergi," sambungnya dengan menyengir.
Tak lama, mereka sampai di depan kontrakan Syakila.
Syakila turun dari mobil Dion dan langsung meninggalkan Dion du dalam mobil itu.
"Udah sana pulang! Nanti jemput aku lagi," ucap Syakila sambil mengibas-ngibas kan tangannya seperti mengusir ayam.
Bukannya pergi, Dion malah turun dari mobilnya. Setelah pintu kontrakan itu terbuka, langsung saya dia meberobos masuk tanpa izin dari sang pemilik rumah.
"Kok kamu masuk sih!" ketus Syakila sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aku mau nungguin kamu, lagian udah sore juga. Aku capek tahu harus bolak-balik, aku kan bukan setrika," kata Dion sambil mendaratkan bokong nya di kursi rotan.
"Ya udah, kamu tunggu sini. Aku mau mandi bentar," ucap Syakila lalu berjalan memasuki kamarnya.
Karena kamar mandi ada di luar kamar, akhirnya Syakila hanya mengambil handuknya lalu pergi menuju kamar mandi dengan pakaian lengkap yang masih melekat di tubuhnya.
Setelah Syakila menuju kamar mandi, Dion pun merungkukkan tubuhnya di kursi rotan itu. Mengantuk namun matanya enggan terpejam, yang iya rasakan nyeri dan linu-linu di tubuhnya karena kerasnya kursi rotan itu.
Sangking mengantuknya, akhirnya tanpa izin sang pemilik kamar. Dion nyelonong masuk dan mengempaskan tubuhnya di ranjang Syakila.
Tak sampai lima menit, matanya pun terpejam. Dan setelah itu hanya ada suara b*b* yang terdengar.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, Syakila kembali dengan hanya menggunakan balutan handuk yang melilit di tubuhnya.
Iya menoleh kesana kemari mencari keberadaan Dion.
"Kemana dia? Apa udah pulang?" tanya Syakila pada dirinya sendiri. "Bagus deh kalau dia udah pulang," sambungnya lalu masuk kedalam kamar.
Saat sampai di dalam kamar, iya pun segera menutup pintu kamar lalu membuka handuknya.
Dengan bersenandung merdu dia mengganti pakaiannya. Saat iya selesai berganti pakaian, iya kembalikan badannya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat Dion yang tidur tak beraturan di ranjangnya.
Wajah Syakila bersemu merah. "Sejak kapan dia di sana? Apa dia melihat tubuhku? Apakah dia sudah tidur sejak tadi," guman Syakila sambil menggaruk kepalanya.
"Kalau dia lihat, ah malu lah aku dan tubuhku jadi tidak polos lagi," ucap Syakila pada dirinya sendiri "Tapi bukan kah aku tadi memang masih polos tanpa sehelai benang," sambungnya
Perlahan dia mendekati Dion. "Bangunin enggak ya?" ucapnya "Kalau di bangunin kasian, dia kan pasti capek. Ah biarin aja deh, nanti aku bangunin pas mau magrib aja." sambung Syakila.
Tanpa ragu dia membuka sepatu yang masih melekat di kaki Dion, dan membenarkan posisi tidur Dion yang tidak beraturan. Setelah itu dia memandangi wajah tampan Dion.
"Tampan," lirih Syakila "Kenapa jantung ku seakan mau melompat saat dekat denganmu, apakah aku jatuh cinta?" sambung Syakila dan entah keberanian dari mana yang di dapat Syakila, dengan cepat dia mencium bibir Dion sekilas. "Hehee, memang bapak tua saja yanh berani mencuri ciuman dari ku, aku juga berani." kekeh Syakila dengan pelan.
Diam-diam Dion sudah terbangun dari tidurnya sedari tadi. Saat Syakila melepaskan sepatunya.
Dalam hatinya terkikik geli, mendapati kelakuan Syakila menurutnya sangat menggemaskan.
Sekarang iya tahu, bahwa dia tidak salah membuka hatinya juga mulai mencintai dan menyukai Syakila yang sudah menemaninya selama beberapa saat belakangan ini. Walaupun terkesan tidak akur, namun iya yakin bahwa ketidak akuran itu lah yang akan meyantukannya dengan Syakila.
"Jantung ku juga terasa aneh saat dekat denganmu Syakila keongku. Aku berharap kelak kita akan bersama selamanya tanpa ada orang ketiga maupun penghalang lainnya," ucap Dion dalam hati.
Setelah puas memandangi wajah Dion yang pura-pura terlelap. Syakila menuju dapur dan hendak memasak untuknya makan bersama dengan Dion.
Karena memang dari siang mereka belum makan apa pun.
***Bersambung..!!
Happy reading..!!😘😘😘
Kasih like coment dan juga dukungan sebanyak-banyaknya ya biar othor makin semangat upnya🤗🤗🤗***
__ADS_1