
Syakila segera mengisi piring untuk suaminya, dengan berbagai lauk dan pauk.
"Ini, habiskan!" perintah Syakila.
"Aku bukan mau makan, aku mau pakai sepatu!" protes Dion.
"Makan dulu, nanti baru pakai sepatu dan benerin baju. Makin hari aku makin pusing loh, Mas! Sama kelakuan kamu yang aneh," omel Syakila pada suaminya. "Kamu lihat ini! Makin hari perut ku makin buncit, tapi kamu malah semakin aneh dan bikin aku repot!" sambung Syakila dengan kesal.
"Iya-iya, aku makan nih! Aku habiskan semuanya!" Dion menambah isi piring nya dengan nasi dan lauk, hingga kini piring nya menjadi munjung.
Syakila menepuk jidat nya. "Pasti nih! Gak akan jadi ke kantor, pasti habis ini molor lagi!" ucap Syakila dalam hati.
Syakila pergi menjauh dan menghubungi Raka.
***
Raka mondar-mandir tak karuan, ia menunggu Dion yang belum juga datang.
"Haduh, kemana sih? Sudah jam segini kok belum datang!" Raka melihat Arloji yang melingkar di pergelangannya. Dan jam sudah menujukan pukul delapan pagi.
Tiba-tiba ponsel yang ada di dalam saku celananya berdering.
"Hallo!" ucap Raka setelah mengangkat sambungan telpon tersebut.
"Hallo kak Raka, ini, Kila mau ngasih tahu. Kalau kak Dion gak bisa berangkat ke kantor," kata Syakila.
"Emang kenapa?" tanya Raka, "Padahal hari ini, aku sama dia ada janji temu client dari bandung loh!" sambung Raka.
"Ini loh! Mas Dion kebiasaan, susah bangun dan kalo habis makan pasti tidur lagi!" jelas Syakila.
"Ya udah kalo gitu! Nanti aku minta temenin ama Tuti aja," kata Raka.
"Maaf bener ya, kak. Belakangan ini mas Dion sering banget gak masuk kerja," kata Syakila yang tidak enak hati.
"Gak papa kok. Jangan risau," ucap Raka sambil terkekeh kecil.
Setelah itu, Raka mematikan telpon itu.
"Huhh, dasar! Yang bunting siapa yang manja siapa?" Heran Raka.
"Apa nanti jika Aira hamil, aku akan ngidam seperti Dion ya!" Raka memikirkan kehamilan Aira yang entah kapan. "Mudah-mudahan jika Aira hamil nanti, aku yang ngidam! Agar Aira tidak kesulitan mengalami yang namanya ngidam." Raka senyum-senyum sendiri memikirkannya.
__ADS_1
Sedangkan dengan Syakila, setelah menelpon Raka. Ia kembali ke meja dapur.
"Tuh kan! Beneran!" Syakila mendekati suaminya yang sudah tertidur di meja makan.
"Mas bangun! Pindah ke kamar sana!" Syakila membangunkan suaminya yang tertidur.
"Hmm," Dion hanya ber hmm.
"Pindah!"
Dion mulai sadar, ia pun berjalan menuju kamar. Tanpa cuci atapun minum terlebih dahulu, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Sungguh..! Kebiasaan baru yang buruk, kita doakan bersama agar anak Dion dan Syakila kelak tidak jorok dan ceroboh seperti kebiasaan Dion saat iniπ
"Ya ampun mas! Kenapa sih sekarang kamu jadi aneh," ucap Syakila sambil mengelap wajah dan tangan suaminya menggunakan kain yang sudah di beri air.
"Huhh, kadang aku kesal sama kamu mas. Tapi kalo jamu terlelap seperti ini, kamu sungguh menggemaskan. Aku jadi makin cinta sama kamu," Syakila menatap wajah suaminya dengan lekat.
"Semoga nanti anak kita laki-laki ya mas, aku pengen dia tampan kayak kamu!" Syakila menyelimuti tubuh suaminya yang telah ia bersihkan itu.
Setelah menyelimuti suaminya, ia pergi keluar untuk berbelanja.
***
"Bu, ayo kita pergi!" Seseorang menarik paksa ibunya dari depan rumah yang sudah terjual.
"Tidak, ini rumah ku! Aku tidak mau pergi!" teriak ibunya.
Mereka berdua adalah Bu Wati dan Safira, ibu dan kakak dari Syakila.
Safira terpaksa menjual rumah peninggalan Alm ayah dari Aira. Karena harus melunasi hutang mereka pada rentenir tempat mereka meminjam uang.
Dan kini, Safira tengah memaksa ibunya untuk pergi dari rumah yang telah mereka jual. Namun bu Wati tidak ingin pergi dari rumah itu.
Bu Wati terus berteriak seperti orang gila. Safira yang menemani ibunya di depan rumah itu menjadi bersedih.
Ia menjadi iba dengan keadaan ibunya.
"Bu, ayo Pergi! Rumah ini sudah Fira jual untuk melunasi hutang-hutang yang makin menumpuk," kata Safira, kini ia merasa kesusahan.
"Tidak, ini rumah kita! Kenapa kamu menjualnya, Ibu tidak ingin pergi!" bu Wati tetap kekeuh. "Kamu jahat! Kamu serakah! Kamu menjual rumah ini hanya untuk kesenangan mu sendiri!" Bu Wati mengamuk sambil menujuk-nunjuk wajah Safira.
__ADS_1
"Maafkan Fira bu, Fira tidak punya pilihan lain. Jika Fira tidak menjual rumah untuk membayar hutang kita, maka tua bangka itu akan memenjarakan kita," kata Safira sambil menangis.
Karena terlalu lama mengamuk, bu Wati jatuh pingsan.
Tangis Safira semakin menjadi, ia mencoba minta tolong kesana kemari. Namun tidak ada yang mau membantu dan menolongnya. Para tetangga hanya memandang sinis pada Safira dan ibunya yang masih berada di luar rumah yang telah mereka jual itu.
Akhirnya, ada sebuah taxi yang lewat di depan mereka.
Safira pun membawa ibunya kerumah sakit di antarkan oleh taxi tersebut.
"Bu, bangun! Jangan tinggalkan Fira!" Safira menangis sambil meyentuh pipi ibunya.
Lima belas menit kemudian, mobil taxi tersebut berhenti di depan rumah sakit kota. Yaitu rumah sakit Abdoel muluk Bandar Lampung.
"Suster, tolong ibu saya!" Safira berlari masuk kedalam rumah sakit itu, sambil berteriak memanggil perawat.
Dua perawat pria pun datang dengan mendorong brankar.
Bu Wati yanh tak sadarkan diri langsung di bawa ke ruang rawat untuk di periksa.
Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan rawat bu Wati.
"Bagaimana keadaan ibu saya, dokter?" tanya Safira.
"Seperti nya ibu anda mengalami stres berat. Jadi sebaiknya ibu anda di bawa ke rumah sakit jiwa untuk menjalani rehabilitasi sebelum stres yang di alaminya semakin parah," kata Dokter itu.
"Maksud dokter, ibu saya mengalami gangguan jiwa?" tanya Safira, ia terkejut mendengar penjelasan dokter itu.
"Benar, namun jika langsung di tangani. Mungkin ibu anda, akan bisa pulih seperti biasa," kata Dokter itu. "Apakah akhir-akhir ini, ibu anda mengalami banyak masalah?" tanya dokter itu.
"Benar Dokter, keluarga kami sedang dalam masalah besar. Mungkin karena tak kuasa menanggung semua beban deritanya, ibu saya menjadi stres seperti ini," jelas Safira.
"Saran saya, kalau bisa! Segera lah bawa ibu Anda ke rumah sakit khusus untuk merehabilitasi penyakit yang sedang di derita oleh ibu, Anda!" Dokter itu menyarankan agar Safira segera membawa ibu nya ke RSJ.
"Tapi bagaimana mungkin Dokter? Biayanya pasti sangat mahal," ucap Safira dengan wajah kebingungan.
"Kalau untuk masalah itu, Anda bisa minta keringanan dengan menggunakan BPJS mungkin. Maaf saya tidak bisa membantu, Anda! Saya permisi dulu," kata Dokter itu, lalu pergi meninggalkan Safira sendirian.
Safira hanya bisa menangis, ia tidak tahu harus bagaimana? Mau bekerja, bekerja apa? Selama ini ia tidak pernah bekerja, bahkan untuk memasak saja. Ia selalu mengandalkan Aira saat masih tinggal bersamanya dulu. Saat Aira telah pergi, ia membeli makanan siap santap atau masakan bu Wati.
AWAS BANYAK TYPOπββοΈπββοΈπββοΈ
__ADS_1