Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Hilang kesadaran


__ADS_3

Ia tersenyum miring saat mendengar desahan dan erangan Aira yang memenuhi Ruangan kamar mandi itu.


"Rasanya sakit, tapi di sisi hati ku yang lain. Aku bahagia Aira, karena kamu mau membuka hati mu untuk orang lain," lirih Raka yang berdiri di luar Kamar mandi itu.


Lama Raka menunggu di luar Kamar mandi, hingga ia tak tahan lagi dengan rasa penasaran yang ada di dalam hatinya. Dan akhirnya Raka memberanikan diri untuk mengintip dari celah pintu Kamar mandi yang tidak di tutup rapat oleh Aira.


Deg..! Jantungnya seakan berhenti berdetak, sesaat ia menahan nafasnya. Cairan kristal jatuh begitu saja. Menetes di wajah tampan yang terlihat lelah.


"Aira.. Maaf maaf kan aku yang tidak berguna," lirih Raka sambil merapatkan pintu kamar mandi itu dengan perlahan dan hati-hati agar Aira tidak mendengarnya.


Sedangkan Aira yang sedang menuntaskan Gairah nya di dalam kamar mandi itu, tidak menyadari kehadiran Raka. Ia memang sering melakukan hal itu saat Raka tidak ada di Rumah alias lembur di Kantor.


Bukan karena tidak ingin Raka tahu, namun Aira tidak ingin suaminya mengalami mimpi buruk setelah membantunya menuntaskan Hasrat yang ia bendung.


Raka membawa koper kerja dan memakai sepatunya kembali. Ia keluar dari dalam kamar dan menuruni anak tangga lalu menuju meja dapur.


"Aku harus membicarakan ini pada Aira besok," lirih Raka "Aku tidak bisa membiarkan dia selalu menderita seperti ini," sambungnya.


Lalu Raka meraih gelas lalu dan mengisinya dengan air putih.


Satu jam lamanya Ia duduk di kursi ruang makan itu. Dan akhirnya ia melihat Aira yang sudah menggunakan piyama hendak menuruni anak tangga dengan rambut basahnya.


"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Aira.


"Iya, kamu baru mandi?" tanya Raka basa-basi.


Raut wajah Aira berubah mendengar pertanyaan Raka.


"Emm.. Anu Raka. Aku tadi terkena tumpahan sup, makanya aku mandi lagi, tadi sore aku sudah mandi kok," kata Aira berbohong. Ia takut jika Raka mengetahui yang ia lakukan akan membuat beban fikiran Raka bertambah.


"Oo.. Lain kali jangan mandi malam lagi. Tidak baik untuk kesehatan, kalau tulang mu jadi keropos bagaimana?" kata Raka dengan senyuman di bibirnya.


"Kamu udah lama pulangnya? Terus kok mata kamu merah sih?" tanya Aira tiba-tiba


"Baru aja.. Itu ta-di waktu di jalan mata ku perih. Kena debu" timbal Raka dengan gugup.


Keesokan paginya, Raka dan Aira sedang sarapan.


"Sayang, aku mau ngomong serius sama kamu!" Tiba-tiba Raka membuka suara.


"Ngomong apa?" Aira meletakan sendoknya lalu beralih menatap Raka.

__ADS_1


Raka menghirup oksigen sebanyak-banyak nya lalu membuangnya.


Ia memberanikan diri berbicara seperti itu pada Aira.


"Kamu mau gak kalau aku carikan suami Kontrak untuk memenuhi nafkah batin yang selama ini membelenggu kamu!" kata Raka sambil menunduk.


Aira terkejut mendengar ucapan suaminya.


"Apa Raka? Coba ulangi!" Aira mencoba bertanya, mungkin ia salah dengar.


"Aku carikan suami Kontrak untuk kamu." Raka mengulangi ucapan nya.


Aira bangkit dari duduknya, perlahan ia mendekati Raka dengan tubuh bergetar. Raka ikut berdiri dan menghadap pada Aira yang menatapnya dengan tajam.


"Maksudnya apa?" tanya Aira yang sedang menahan tangisnya. "Kamu mau cerain aku!" sambung Aira.


"Aku gak akan cerain kamu, aku cuman mau ada seseorang yang bisa muasin kamu di atas ranjang. Aku pengen ngasih melalui orang lain apa yang gak bisa aku kasih ke kamu!" jelas Raka.


"Kamu jahat Raka! Aku benci situasi kayak gini! Dengan mudah nya kamu nyuruh aku buat khianatin pernikahan kita, pernikahan yang udah setahun lebih kita bina," kata Aira dengan suara parau.


"Maafin aku, aku cuman mencoba buat kasih yang terbaik untuk kamu. Aku sayang sama kamu, aku gak tega lihat kamu selalu kayak gini," kata Raka "Aku lelah harus lihat senyuman Palsu kamu setiap pulang kerja, aku sakit dan kamu juga pasti merasakan sakit yang lebih dari yang aku rasain!" sambung Raka.


Sepasang anak manusia itu sama-sama menangis.


"Lalu aku harus gimana Aira? Lama kita nunggu, setahun lebih tapi gak ada hasil sama sekali. Dan kamu harus terima kenyataan kalo aku ini enggak Normal, aku enggak Normal dan gak pernah Normal Aira," Raka menangis tak kalah pilunya dengan Aira.


"Jangan ngomong kayak gitu lagi, percaya sama tuhan. Kalau suatu saat nanti dia bakal kasih kita mujizat nya," kata Aira.


Lama mereka berdebat, dan kini tidak ada lagi yang berbicara. Hanya ada suara isakan tangis dari keduanya.


Tak terasa, hari semakin siang. Dan dua anak manusia itu masih saling berdiaman di tempat yang sama.


"Aira.. Udah lohor. Kita makan ya! Kamu pasti lapar tadi pagi kan kamu makannya sedikit," ucap Raka tiba-tiba memecah keheningan itu.


Aira hanya diam dengan tatapan kosong. Tanpa mendengar persetujuan Aira, Raka segera bangkit dan mengisi piring kosong dengan nasi dan juga lauknya.


"Ayo makan!" Raka menyodorkan sendok berisi penuh.


Aira tidak membuka mulutnya, Raka menghela nafas. Dengan sabar ia menunggu Aira membuka mulutnya.


"Aku janji, gak akan kayak gitu lagi. Tolong kamu maka ya," kata Raka sambil menyodorkan sesendok makanan lagi.

__ADS_1


Perlahan Aira membuka mulutnya lalu menerima suapan itu.


Keadaan yang semula membeku, kini mulai mencair kembali.


"Kamu makan juga," kata Aira, lalu mengambil alih sendok yang ada di tangan Raka.


Kini Aira yang menyuapi Raka.


"Habis, kita nambah ya!" Raka berdiri dari lantai itu. Lalu mengisi piring yang sudah kosong itu kembali.


Malam harinya.


"Mungkin ini solusi yang tepat," kata Raka, lalu meneguk sebotol Obat sekaligus.


Setelah meneguk Obat itu, ia mendekati Aira yang sudah berbaring terlebih dahulu di atas ranjang.


"Sayang, kita coba ya!" Raka menggerayangi tubuh Aira. Sejenak Aira memejamkan matanya, pertanda ia menikmati setiap sentuhan suaminya.


"Emm.. Sayang!" Lenguh Aira.


Namun tiba-tiba, Raka memegangi kepalanya.


"Raka.. Kenapa?" tanya Aira sambil beringsut dari ranjang.


"Ahhkk.. Skit Aira," rintih Raka dengan tangan kanan memegangi dadanya dan tangan kiri di Kepala.


Dan tiba-tiba, tubuh Raka ambruk dan tak sadarkan diri.


"Raka kamu kenapa? Bangun Raka?" teriak Aira histeris.


"Raka, Bangun! Jangan bikin aku takut," Aira menangis sambil mengguncang-guncangkan tubuh Raka yang tergeletak di lantai.


Melihat Raka yang tidak bergerak sedikit pun, Aira berdiri hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi Dion dan Syakila, namun matanya membulat sempurna saat melihat sebuah botol Obat yang tergeletak di lantai Kamar mandi.


"Kenapa kamu lakuin ini Raka?" lirih Aira.


***Bersambung..!!


Happy reading๐Ÿค—


Sedekah kan othor dukungan kalian ya..!! Agar othor makin semangat up nya๐Ÿ™‚

__ADS_1


See you next up..!! ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜***


__ADS_2