
Sore harinya saat Raka pulang dari Kantor.
Aira segera menghampiri Suaminya di ikuti Intan dan mama Rina yang ada di belakangnya.
Mama Rina dan Intan sudah tidak sabar ingin menonton keributan yang telah di perkiraan mereka.
"Sayang, kamu udah pulang," ucap Aira menyambut Raka di depan pintu Rumah megah itu.
"Iya, aku capek banget. Kamu buatkan aku teh hangat kayak biasanya ya." kata Raka pada Aira setelah itu ia mencium kening Aira di depan Intan dan mamanya. Lalu bergegas menaiki anak tangga hendak menuju Kamar.
"Kok perempuan kampung itu gak marah ya sama Raka?" tanya Intan pada mama Rina dengan keheranan.
"Mungkin belum." timbal mama Rina
"Sebentar lagi kalik ya Tan, nunggu Raka agak tenangan dikit baru tu perempuan kampung beraksi," ucap Intan.
"Kalik.. Atau mungkin paket itu belum di buka-buka sama perempuan itu." kata mama Rina sambil meletakan jari telunjuk di dagunya.
Saat makan malam.
"Ini Raka, aku ambilin makan buat kamu," ucap Intan menyerahkan piring yang sudah di isi makanan olehnya.
"Maaf.. Kamu makan aja sendiri. Aku mau makan sepiring berdua sama Aira." ketus Raka.
"Ayo sayang kita makan,' ucap Raka pada Aira "Oiya aku mau sama sayur itu." sambung Raka sambil menunjuk sayur capcay yang ada di hadapan Papa Bambang.
"Tante, om, lihat tu Raka gak ngehargain aku," ucap Intan mengadu pada mama Rina dan Papa Bambang.
"Sabar ya sayang," ucap mama Rina sambil mengelus punggung Intan.
"Kalau mau di hargain kamu harus bisa ngehargain orang lain!" sahut Papa Bambang yang membuat Intan dan mama Rina bungkam seketika.
Tak ada lagi yang bersuara di meja makan itu, mereka semua pun makan dengan tenang.
Setelah makan malam itu usai, Intan angkat bicara lagi.
"Eh, Aira kamu gak buka paketan yang datang tadi siang?" tanya Intan pada Aira.
"Kok kamu tahu tentang paket yang datang tadi siang?" pancing Aira.
"Ya taulah, orang isinya fo-" ucapan Intan terhenti karena mulutnya di bekap oleh mama Rina.
"Apa Aira? Paket apa yang datang?" tanya Papa Bambang.
"Bukan paket apa-apa kok Pa, cuman paket gak penting." timbal Aira.
"Oo, kirain ada paket apaan," ucap Papa Bambang.
"Udah kamu buka belum Aira?" tanya Intan lagi.
"Udah, isinya juga udah aku buang." timbal Aira dengan santai.
"Paket apa sih sayang?" tanya Raka yang juga ikut penasaran.
__ADS_1
"Biasa, paket sampah," ucap Aira sambil melirik ke arah mama Rina dan Intan yang keheranan melihatnya.
Keesokan harinya.
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Kamu hati-hati di Rmah, ingat! Kalau mama dan Intan bikin ulah kamu gak boleh bales mereka berlebihan," ucap Raka mengingatkan Aira.
"Asiyap.. Pak bos," ucap Aira sambil mengacungkan jempolnya.
Raka tertawa melihat kelucuan istrinya, dengan gemas ia mengacak-acak rambut Aira.
"Tuh kan.. Berantakan lagi! Aku jadi gak cantik lagi ni." omel Aira
"Ya udah aku berangkat dulu, emuah," ucap Raka sambil mencium kening Aira setelah itu ia segera berangkat.
Saat mobil Raka sudah menjauh dan tak nampak lagi tiba-tiba sebuah mobil sedan memasuki perkarangan Rumah mewah itu.
Aira yang sudah masuk kedalam Rumah, membalikan tubuhnya kembali dan keluar melihat mobil yang mengklakson. Ia fikir Suaminya kembali lagi karena ada yang tertinggal.
Namun saat sampai di pintu yang ia lihat bukan suaminya melainkan Briyan.
"Hay nona manis," sapa Briyan saat Aira sudah ada di depan pintu.
"Kak Briyan ngapain kesini? Kak Raka enggak ada, orangnya udah berangkat ke kantor." kata Aira dengan wajah pias karena takut pada Briyan.
"Aku bukan ingin bertemu dengan Raka, tapi dengan mu," ucap Briyan to the point dengan tersenyum pada Aira.
Mendengar ucapan Briyan, Aira menjadi semakin takut.
Belum sempat Aira berbicara, Briyan sudah nyelonong masuk dan mendudukan bokongnya di Sofa ruang tamu Rumah itu.
Mama Rina dan Intan melihat Aira dan Briyan dari lantai atas Rumah itu, mereka memperhatikan gerak gerik dan cara Briyan memandang Aira.
"Tante, cowok itu siapa? Kok pagi-pagi udah kesini aja." tanya Intan yang tidak mengenal Briyan.
"Dia itu Briyan, teman Raka tapi setahu dan seingat tante. Udah lama banget dia gak kesini kayaknya dia kesini sengaja deh pengen ketemu Perempuan kampung itu," ucap mama Rina.
"Ide bagus ni kalau dia suka sama Aira, " ucap Intan "Kita bisa ajak dia kerja sama supaya Raka dan Aira pisah." sambungnya.
Sedangkan di ruang tamu itu.
Aira duduk di Sofa hadapan Briyan. Aira terus meremas jemarinya karena takut.
Aira terkejut, karena Briyan pindah duduk di sampingnya dengan tiba-tiba.
"Kak Briyan mau ngapain?" tanya Aira sembari menggeser duduknya.
Semakin Aira bergeser namun Briyan semakin mendekat pada Aira, hingga akhirnya Aira sudah duduk di ujung Sofa.
Tanpa Aira sadari ada orang yang mengambil gambarnya lalu mengirimkannya pada Raka, orang itu adalah Intan dan mama Rina.
Mereka berharap setelah menerima foto itu, Raka akan murka pada Aira.
"Kak Briyan, aku mau bikin minum dulu ya," ucap Aira lalu bangkit dari duduknya. Saat ia hendak pergi Briyan mencekal tangannya.
__ADS_1
"Kamu temenin aku disini," ucap Briyan "Oiya, mama nya Raka kemana?" tanya Briyan
"Aku mau bikin minum sebentar kak, lagian aku juga haus," ucap Aira yang sudah berkeringat dingin. "Mama ada di kamar atas." sambung Aira. Ia mencoba melepaskan tangan Briyan dari tangan nya.
Namun tiba-tiba Intan dan mama Rina datang dari arah tangga.
"Aira, ngapain kamu?" tanya mama Rina pura-pura.
"Wah, berani ya kamu Aira. Nyuruh laki-laki datang kerumah ini saat suami kamu lagi kerja, dasar wanita murahan!" tuduh Intan.
Karena ia yakin sebentar lagi Raka pulang.
Di kantor, Raka yang baru saja sampai di depan life. Tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu melihat notifikasi yang masuk ke ponselnya.
"Intan, gambar apa yang dia kirimkan," ucap Raka "Astaufiraullah.. Aira! Berani sekali Briyan menemui Aira." sambungnya.
Raka pun segera berlari dari dalam kantor menuju parkiran mobil dengan kebetulan dia perpapasan dengan Dion.
"Mau kemana Ka?" tanya Dion yang melihat Raka tergesa-gesa.
"Aku mau pulang, Briyan ada di Rumah dan sedang mencoba untuk mendekati Aira," ucap Raka lalu segera menancap gas mobilnya. "Kalau nanti aku gak balik, tolong kamu urus kerjaan hari ini!" sambung Raka dengan berteriak.
"Sial.. Berani sekali bajingan itu. Aku akan beri pelajaran kalau sampai terjadi sesuatu pada Raka dan Aira." guman Dion.
Sedangkan di Rumah.
"Ma.. Ini gak seperti yang mama kira. Aku gak ngapa-ngapain sama kak Briyan," ucap Aira jujur "Iyakan kak!" sambung Aira pada Briyan.
Namun Briyan hanya tersenyum
"Ahh.. Kalau saja dua nenek lampir ini tidak datang. Mungkin aku sedang memeluk tubuh Aira saat ini, kau sungguh membuat ku gila Aira." ucap Briyan dalam hati.
"Mau ngeles kamu ya.. Sebentar lagi Raka pulang. Aku udah aduin kelakuan kamu sama Raka," ucap Intan dengan seringai liciknya.
Karena Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, akhirnya setelah lima belas menit ia sampai di depan Rumah megah itu.
Langsung saja ia turun dari mobilnya dan berlari masuk.
"Aira.. Briyan.." teriak Raka dengan wajah merah padam menahan Emosi.
Aira terkejut melihat raut wajah Raka yang tidak seperti biasanya. "Apa yang di adukan oleh Intan dan mama pada Raka?" ucap Aira dalam hati. Ia menjadi semakin ketakutan melihat expresi Raka.
"Mampus kamu perempuan kampung! Setelah ini Raka pasti akan meluapkan emosinya sama kamu." kata mama Rina dalam hati
"Emang enak.. Setelah ini Raka akan mulai membenci kamu. Dan akan berpindah ke hati ku," ucap Intan kegirangan di dalam hati.
"Menyenangkan.. Kalau begini peluang ku untuk masuk kedalam hidup Aira akan semakin besar," Briyan menyeringai.
***Bersambung..!!
Budayakan tinggal jejak ya.
Happy readingš¤
__ADS_1