Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Ular Cobra Dan Penjara!


__ADS_3

"Jangan bergerak Aira, jangan! Kalau kamu bergerak maka kamu akan mati. Dan jika kamu mati maka Raka akan terpuruk dan hancur," ucap Aira dalam hati.


Wajahnya pucat dan tubuhnya berkeringat dingin.


Di luar Kamar itu.


"Mampus.. Sebentar lagi kamu bakalan mati," ucap Intan dengan seringai liciknya.


"Diam, jangan maju. Cukup di situ aja," lagi lagi Aira berucap dalam hati.


Perlahan dengan takut-takut Ia meraih ponselnya di dekat meja rias itu.


Ia mengirimkan pesan pada Raka, Dion dan juga Syakila.


"Tolong aku, ada ular di sini. Aku takut," isi pesan yang di tulis Aira, lalu ia menekan tombol kirim di layar ponselnya.


Ular Cobra itu diam di tempatnya dengan menjulurkan lidahnya yang bercabang dua.


Di kantor perusahaan.


Ting, notifikasi masuk di ponsel Raka.


"Aira dalam bahaya," ucap Raka.


Dion juga berlari dari ruangannya menuju ruangan Raka.


"Ra-" ucapan Dion terputus kala melihat Raka yang sedang memeriksa laptopnya dengan tergesa-gesa.


"Lihatlah!" tunjuk Raka.


"Ayo pulang! Aku bisa mengatasi ular itu," ucap Dion meyakinkan Raka.


***


Dion dan Raka segera berlari masuk kedalam Rumah itu dengan tergesa-gesa.


Mereka melihat Intan yang sedang duduk tenang di kursi yang ada di dekat meja makan.


"Jika terjadi sesuatu pada istri ku! Maka aku akan menghabisi mu," tunjuk Raka sambil menatap tajam wajah Intan.


Intan mengertutkan dahinya.


"Apa mungkin Raka mengetahui semuanya? Ah tidak mungkin," ucap Intan setelah Raka dan Dion pergi menuju lantai atas.


Di depan kamar Aira, Dion membuka pintu itu perlahan.


Dion melihat wajah Aira yang semakin memucat.


Melihat Dion masuk kedalam kamar itu, Aira ingin berteriak. Namun Dion memberi isyarat agar Aira tetap diam.


Melihat Dion menggelengkan kepalanya dan meletakan jari telunjuknya di bibirnya, Aira pun mengerti maksud Dion.


"Cepat lakukan sesuatu, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada istriku," bisik Raka di telinga Dion dengan wajah pias.


"Kamu tenanglah, ular itu sedang menelisik mangsanya. Insyaallah Aira tidak akan apa-apa jika dia tidak banyak bergerak." jelas Dion.


Perlahan Dion memasuki kamar itu. Ia melangkah hati-hati tanpa bersuara.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Dion berhasil menaklukan ular Cobra itu.


Seketika Aira bernafas lega dan tubuhnya lunglai begitu saja. Dengan sigap Raka menangkap tubuh Aira yang nyaris roboh.


"Sayang, kamu gak papa?" tanya Raka.


"Aku gak papa," lirih Aira dan setelah itu ia kehilangan kesadaran.


"Dokter, panggilkan Dokter!" teriak Raka.


Setelah menyingkirkan ular Cobra itu, Dion segera menghubungi Dokter untuk memeriksa keadaan Aira.


Sedangkan Intan, ia masih tenang-tenang saja duduk di kursi yanga ada di ruang Makan.


Dua puluh menit kemudian, Dokter datang dan langsung menuju ke lantai atas seperti yang di instruksikan Dion sebelumnya.


Dokter itu memeriksa keadaan Aira.


"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" tanya Raka yang gelisah.


"Dia mengalami dehidrasi karena banyak kehilangan cairan pada tubuhnya." jelas Dokter.


Di lantai bawah.


Datanglah Syakila dengan beberapa Orang Polisi di belakangnya.


Mereka masuk kedalam Rumah itu.


"Itu dia orangnya Pak!" tunjuk Syakila pada Intan yang tengah duduk di ruang makan.


"Benar anda yang bernama Intan?" tanya salah seorang polisi.


"Benar Pak, ada apa?" timbal Intan gugup.


"Kami mendapat laporan bahwa Anda sudah berulang kali mencoba melakukan pembunuhan pada nona Aira kirana." jelas Polisi itu lagi.


"Kalian salah orang, saya tidak pernah melakukan tuduhan itu," Intan berontak kala para Polisi itu mencoba meringkusnya.


"Ada apa ini? Kenapa ada Polisi?" tanya Papa Bambang yang baru saja sampai dari luar kota.


"Maaf menggangu ketenangan keluarga anda Pak. Kami mendapat laporan bahwa wanita ini telah beberapa kali mencoba melakukan pembunuhan terhadap istri Rakanda wiryawan," jelas atasan para polisi itu.


"Kalau begitu, selesai kan tugas kalian," kata Papa Bambang.


Mama Rina menjatuhkan semua belanjaannya saat ia masuk dan melihat tangan Intan di bargol dan ada beberapa orang Polisi di belakangnya.


"Tante, tolong Intan. Intan gak bersalah, Intan gak pernah mencoba nyelakain Aira. Tante tolong," ucap Intan sambil menangis.


"Tolong lepaskan Dia Pak," ucap mama Rina. "Dia tidak mungkin mencelakakan menantu saya," sambung mama Rina.


"Biar kami selesai kan masalah ini di Kantor Bu," ucap Atasan Polisi itu.


Raka berjalan santai menuruni anak tangga di ikuti oleh Dion di belakangnya.


Mama Rina yang melihat keberadaan putra nya langsung berlari mendekat.


"Raka! Apa-apaan ini? Kenapa kamu suruh Polisi bawa Intan?" teriak mama Rina.

__ADS_1


"Dia wanita berbahaya Ma." timbal Raka.


"Kamu salah Raka, justru istri kamu itu yang salah. Dari dulu mama memang gak suka sama istri kamu, pasti dia udah jebak Intan.


"Jebak Intan, justru karena Aira. Mama masih hidup sampai saat ini," teriak Raka.


Papa Bambang dan semua orang yang ada di sana membelalakkan matanya, namun tidak dengan Syakila dan Mbok Ani.


"Apa buktinya Raka? Selama ini kamu memang gak pernah suka sama aku, tapi gak seharusnya kamu dengerin tuduhan yang Aira buat," kata Intan dengan mengeluarkan airmata buayanya.


"Kamu mau bukti? Iya.. Kamu mau bukti!" geram Raka. "Dion! Bawa laptop ku kemari!" teriak Raka pada Dion.


Dion mengaguk dan segera mengambil Laptop Raka yang berada di dalam Mobil.


Tak lama, Dion kembali dengan Laptop di tangannya.


"Nyalakan!" perintah Raka.


Dion menyalakan Laptop itu, dan memutar rekaman saat Intan mengeluarkan ular Cobra dari dalam karung di dalam kamar Aira.


"Ti-tidak mungkin! Rekaman itu pasti rekayasa," kilah Intan. "Pak polisi, semua ini palsu," sambung Intan sambil meronta dari bargol yang ada di tangannya.


"Dan perlu mama tahu! Saat tangan Aira melepuh dan juga mengalami lebam, itu juga karena Dia!" tunjuk Raka pada muka Intan "Ia sengaja memberikan mama secangkir teh yang sudah di beri racun yang berasal dari Korea. Dan dengan keberaniannya, Aira menggagalkan renacan busuk wanita ular ini," sambung Raka.


"Tante gak habis fikir sama kamu Intan, selama ini tante selalu sayang sama kamu dan berharap kamu bakal jadi menantu tante," ucap mama Rina sambil menatap wajah Intan dengan wajah kecewa.


"Kalau pun Intan harus di penjara, tante juga harus ikut. Karena otak dari pembunuhan Aira adalah tante!" Intan membuat wajah mama Rina pucat seketika.


"Raka, dulu memang mama gak suka sama Aira. Tapi sekarang mama gak pernah jahat sama dia lagi," jelas mama Rina dengan wajah takut.


"Sudah lah Ma," ucap Raka "Tolong bawa wanita ular ini pergi, Pak!" sambung Raka kemudian pada Polisi.


Para Polisi itu membawa Intan keluar dari Rumah megah itu.


"Lepas Pak, saya akan tuntut kalian semua!" teriak Intan dengan berontak.


"Kalian semua! Aku akan balas penghinaan ini!" Lagi-lagi Intan membuat Raka menjadi geram.


"Akan ku pastikan hidup mu menderita, dan kau akan berada di balik jeruji besi dalam jangka waktu yang lama!" geram Raka dengan penuh emosi.


Setelah itu, Polisi benar-benar membawa Intan pergi.


Dan setelah kepergian Intan.


"Pa, Ma, Mulai hari ini. Raka akan membawa Aira pindah ke Rumah yang sudah lama Raka siapkan untuknya," ucap Raka pada Mama dan Papanya.


"Tapi kenapa Raka? Apakah kamu takut jika Mama Kamu akan menyakiti istri kamu lagi?" tanya Papa Bambang sambil melirik Istrinya yang diam mematung.


***Bersambung..!!


Happy reading..!!


Buat readers, maaf udah bikin kecewa. Othor udah pernah bilang, walaupun Raka CEO tapi gak semua masalah bisa di selesaikan dengan uang dan kekuasaan. Negara kita punya hukum kan?


Kisah ini juga tentang CEO bukan MAFIA..!!


Jadi author minta maaf, jika alur tidak sesuai dengan yang kalian harapkan dan inginkan..!! 🙏

__ADS_1


__ADS_2