
Pukulan meja makan terdengar keras, hingga mengejutkan semua orang yang ada di meja makan itu.
"Mama dengar ya! Jangan pernah Mama menghina istriku. Harusnya Mama mengerti bagaimana keadaan Raka? Bagaimana putra Mama!" Raka berucap dengan intonasi tinggi.
Ruangan itu seketika menjadi hening, tidak ada yang berani bersuara termasuk Papa Bambang, Papa Raka sendiri.
"Aira adalah wanita yang sempurna, dan perlu mama tahu! Bahwa Raka lah yang tidak sem-" ucapan Raka terputus.
"Apa? Apa Raka?" teriak mama Rina.
Raka hendak melanjutkan ucapannya, namun di larang oleh Aira.
Aira menggenggam erat tangan yang dingin seperti mayat itu. Ia menggeleng pelan kepada Raka.
"Biar Aira, biar mereka tahu. Bahwa disini aku lah yang gak sempurna bukan kamu!" kata Raka.
"Raka sudah," lirih Aira dengan cairan kristal yang mulai berjatuhan. "Ku mohon," pinta Aira lagi.
Papa Bambang penasaran dengan apa yang akan di ucapkan oleh Raka.
Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Kita pergi dari sini Aira, tidak ada gunanya berkumpul dengan orang yang tidak bisa menghargai orang lain. Menganggap nya sebagai ibu, membuat ku sangat-sangat malu," kata Raka.
Dengan perasaan marah, Raka menarik Aira pergi dari Apartemen Dion.
Mereka semua mengejar kepergian Raka dan Aira, kecuali Mama Rina.
"Raka, Aira. Tunggu nak, Papa ingin bicara!" teriak Papa Bambang.
Raka menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah suara sang Papa.
"Raka, tolong maafkan Mama mu Nak," kata Papa Bambang.
"Sudahlah Pa, tidak ada yang perlu di bicarakan. Raka dan Aira mau pulang." timbal Raka.
"Kila, maafin aku ya," kata Aira sesegukan "Gara-gara aku acara kamu berantakan," sambung Aira.
"Gak papa Aira, maaf juga ya. Kalian berdua jadi gak nyaman," kata Syakila.
"Aira.. Tolong maafkan Mama mu ya Nak. Papa akan menasehati Mama mu nanti," kata Papa Bambang menatap sendu pada Aira.
"Aira udah maafin Mama kok Pa, lagian Mama gak sepenuh nya salah. Yang salah Aira, karena udah setahun lebih belum bisa kasih kalian cucu." timbal Aira dengan suara parau.
"Sudah cukup Aira! Berhenti menyalahkan diri kamu, lebih baik kita pergi sekarang," kata Raka sambil menggenggam tangan Aira dengan erat.
"Pa, Om, Tante, Kila dan kak Dion. Kami pamit ya," ucap Aira sambil berjalan karena tangannya di tarik oleh Raka.
"Hati-hati," ucap mereka semua bersamaan.
Aira dan Raka memasuki mobil, setelah itu Raka langsung menancap gas.
"Raka, pelan-pelan. Aku takut," kata Aira dengan wajah paniknya. Karena Raka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Raka, aku takut,"
Raka yang sedang emosi tidak mendengarkan perkataan istrinya. Ia melajukan mobil itu dengan sangat kencang.
Hingga akhirnya Raka sadar, karena teriakan Aira.
"Raka! Aku takut..!" teriakan Aira berhasil membuat Raka menghentikan aksi ugal-ugalannya.
Raka menginjak pedal mobil itu, dan mobil berhenti mendadak.
Ia menoleh pada istrinya yang tampak pucat dengan keringat yang membasahi pori-pori istrinya.
"Sayang, maafkan aku," kata Raka sambil mengusap bulir Air mata Aira yang kenetes.
Aira memegang tangan Raka yang mengusap pipinya. Lalu di cium nya tangan Raka dengan lembut.
"Apapun yang terjadi, aku tetap mencintaimu Raka," kata Aira.
Raka menarik Aira ke dalam pelukannya.
Lama mereka terdiam di dalam mobil itu, dan tiba-tiba.
Krukk,,!!
__ADS_1
Perut Aira berbunyi.
"Kamu lapar, yuk kita cari makan," kata Raka. "Kamu mau makan di mana?" tanya Raka.
"Di mana aja," kata Aira.
Setelah itu, Raka kembali melajukan mobilnya. Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil Raka kembali berhenti di dekat gerobak penjual nasi goreng yang ada di pinggir jalan.
"Kamu mau makan nasi goreng itu?" tanya Raka dan di angguki oleh Aira.
"Kita makan di rumah apa di sini?" tanya nya lagi.
"Di sini aja ya," kata Aira.
Mereka berdua pun turun dari mobil itu, dan duduk di bangku yang berada tak jauh dari gerobak nasi goreng itu.
"Bang, nasi goreng nya dua ya. Pedes," kata Raka.
"Iya, di tunggu ya Mas," kata Abang penjual nasi goreng itu dengan ramah.
Tak lama, nasi goreng pesanan Raka dan Aira jadi.
Namun, saat Aira dan Raka baru ingin meyantapnya. Datanglah seseorang yang ikut gabung bersama mereka.
"Aira, Raka!" orang itu menyapa Raka dan Aira.
Mendengar suara orang itu, Aira langsung memepet tempat duduk Suaminya.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya orang itu.
"Aira, kenapa sih setiap bertemu dengan ku, kamu seperti melihat hantu," kata orang itu sambil mendekat dan hendak meyentuh tangan Aira.
"Jangan dekat-dekat dengan istri ku Briyan!" bentak Raka.
"Aku hanya ingin menyapanya saja," kata Briyan dengan santai.
"Bang, nasi goreng satu," kata Briyan kemudian pada Abang penjual nasi goreng.
Briyan terus memperhatikan Aira yang memakan nasi goreng dengan wajah menunduk.
Mendengar ucapan Briyan, Aira menghentikan makanya. Lalu berpindah duduk ke belakang Suaminya.
"Jangan buat takut istri ku, Briyan!" Raka meletakan piringnya, lalu menarik Aira ke dalam pelukannya.
"Apa sih sebenarnya mau mu?" tanya Raka.
"Aku ingin istri mu." timbal Briyan.
"Raka, ayo kita pulang!" ajak Aira, Raka mengaguk.
Setelah itu, ia membayar nasi gorengnya dan Aira. Lalu mereka pergi meninggalkan Briyan yang menatap nanar kepada mereka.
Briyan membayar nasi gorengnya, setelah itu ia juga pulang.
"Besok kita pasti ketemu lagi, dan ku pastikan tidak ada Raka bersama mu Aira," kata Briyan.
Hari-hari berganti begitu cepat, akhir-akhir ini Aira sering murung. Dan tanpa sepengetahuan Raka, Ia sering menemui Dokter saat Raka sedang ke kantor.
Rencananya siang ini, Aira akan menemui Dokter Jonsh.
"Sayang, kamu kok belum siap-siap?" tanya Aira yang melihat suaminya bersantai-santai.
"Nanti, aku capek. Agak siangan aja ke kantornya." timbal Raka. "Sayang, aku kok ngerasa kalo kamu akhir-akhir ini jadi semakin pendiam ya," kata Raka tiba-tiba.
"Perasaan kamu aja, aku biasa-biasa aja kok. Lagian kok kamu mikirnya kayak gitu sih!" Aira mencubit hidung suaminya.
"Auuh.. Sakit! Tapi emang bener kok, kamu berubah semenjak kejadian di Apartemen Kila," celetuk Raka.
Deg.. Wajah Aira memanas dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Maaf," ucapnya sembari menundukkan wajahnya.
"Maaf untuk apa?" tanya Raka.
"Sebenarnya aku ingin seperti Kila," lirih Aira yang juga membuat mata Raka ikut berkaca-kaca.
"Maafkan suami mu yang tidak sempurna ini sayang, maaf karena aku, hidup kamu harus tersiksa. Tapi aku udah usaha kok," kata Raka lalu pergi menuju anak tangga dan memasuki ruang kerja nya.
__ADS_1
Tak lama Raka turun lagi, dengan beberapa lembar kertas hasil pemeriksaan Dokter.
"Sayang, kamu lihat! Lihat ini. Aku udah usaha, usaha buat kamu dan masa depan kita, bahkan bukan sekali dua kali. Aku udah sering jalani pemeriksaan dan terapi, tapi kata Dokter mungkin belum saat nya. Walaupun entah kapan saat itu," kata Raka dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan, kadang tersenyum kadang menangis dan kadang marah-marah.
Aira hanya mematung di tempatnya, dengan air mata yang terus mengalir.
"Raka, udah. Ku mohon udah, semua salah ku. Maaf udah buat kamu semakin rapuh," kata Aira "Kita bakal jalani pengobatan sama-sama, aku bakal nemenin kamu," imbuh Aira.
Tubuh Raka lunglai, ia menyandarkan tubuhnya di tubuh istrinya.
"Sekarang kamu mandi ya, nanti siang kita temuin dokter Jhons," kata Aira, Raka pun hanya mengaguk pasrah.
Siang harinya, Raka dan Aira pergi menuju rumah sakit tempat dokter Jhons bertugas.
"Bagaimana Dokter? Apakah saya bisa di sembuhkan?" tanya Raka.
"Sebelum nya saya minta maaf pak Raka, karena penyakit yang bapak derita ke mungkinan untuk sembuh hanya 25% persen saja. Hal itu di karena kan Bapak mengalaminya di usia Bapak yang terbilang sangat muda. Jika saat itu Pak Raka langsung mengambil tindakan, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Biasa nya penyakit Impoten ini rentan menyerang Pria yang sudah berumur 40 tahun ke atas, namun untuk usia seperti Pak Raka. Hal itu sangat jarang terjadi." Jelas Dokter Jhons.
Raka dan Aira terlihat serius menyimak ucapan Dokter itu.
"Penjelasan yang sama dengan semua Dokter yang saya temui," ucap Raka pelan.
"Kami permisi dulu Dokter, terimakasih," kata Aira sambil mengangkat tubuh Raka.
"Ibu Aira, Anda bisa mencoba apa yang pernah saya katakan waktu itu," ucap dokter Jhons.
Aira menganguk sembari tersenyum.
Raka keheranan melihat istrinya tersenyum pada dokter Jhond, bahkan di otaknya muncul lah fikirin-fikiran kotor.
"*Apa mungkin, sikap diam Aira akhir-akhir ini karena dia berhubungan dengan dokter J*hons?" kata Raka dalam hati.
"Kalau memang seperti itu, aku akan melepaskan Aira. Demi kebahagian nya aku rela," kata Raka lagi.
Raka dan Aira langsung pulang, se sampainya di Rumah.
"Aira, aku berangkat ke kantor ya. Mungkin bakal lembur kayak biasanya," kata Raka sambil mengganti pakaiannya.
"Akhir-akhir ini kamu lembur terus, memangnya kapan kak Dion balik ke kantor?" tanya Aira.
"Mungkin menghabiskan Trimester pertama kandungan Syakila, kata Dokter kandungan morning skicness yang di alami Dion bakal berkurang setelah Trimester pertama ini," jelas Raka, dan Aira nampak manggut-manggut.
"Aku berangkat dulu ya, kamu jangan nakal di rumah," kata Raka sambil mengacak-acak rambut istrinya.
Setelah itu, Raka segera berangkat ke kantor.
Kini tugasnya harus ia kerjakan sendiri tanpa bantuan Dion, karena semenjak Syakila mengandung. Raka memberikan cuti panjang untuk Dion, karena Dion mengalami ngidam dari kehamilan Syakila.
Walaupun Dion cuti, terkadang ia masih kekantor di saat keadaannya agak lebih baik untuk membatu sedikit pekerjaan Raka.
Jam delapan malam, Raka pulang ke kediamannya. Biasanya ia pulang sekitar jam sepuluh malam, namun hari ini. Pekerjaannya tidak begitu banyak.
Ia memasuki rumah itu dengan sengaja tidak memanggil istrinya, karena ia tahu bahwa Aira juga lelah seharian mengerjakan pekerjaan Rumah. Mulai dari membersihkan lantai atas dan seluruh lantai bawah, luar dan juga dalam.
Mereka tidak menyewa jasa ART, karena Aira tidak mau. Ia marasa masih mampu membersihkan rumah sendirian tanpa bantuan siapapun.
Walaupun Raka selalu membujuknya tapi Aira tetep kekeuh pada pendiriannya. Alasannya adalah, jika ada ART di rumah maka ia akan bosan karena tidak ada yang bisa di kerjakan.
Dengan perlahan Raka menaiki anak tangga. Sesampainya di dalam kamar, ia tidak menemukan Aira. Tiba-tiba matanya tertuju pada pintu kamar mandi yang di tutup tidak terlalu rapat.
Ia tersenyum miring saat mendengar desahan dan erangan Aira yang memenuhi ruangan kamar mandi itu.
"Rasanya sakit, tapi di sisi hati ku yang lain. Aku bahagia Aira, karena kamu mau membuka hati mu untuk orang lain," lirih Raka yang berdiri di luar kamar mandi itu.
***Bersambung..!!
Happy reading๐ค๐ค๐ค
Mungkin beberapa episode lagi ya, Raka bakal kita sembuhkan. Habis ini kita bakal lihat aksi gila Briyan..!!!
Maafkan author yang membuat alur cerita ini menjadi lambat, karena alur yang ada di dalam otak othor memang seperti ini. Ini aja alurnya agak sedikit othor potong karena takut kalian lelah menunggu.
Author udah coba nulis langsung lompat ke bab di mana Raka othor sembuhkan, tapi ternyata alurnya jadi berantakan..!!
Jadi maaf kan othor ya๐๐๐
See you next up***..!!
__ADS_1