Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Episode 34


__ADS_3

Mata Syakila berkaca-kaca mendengar ucapan yang keluar dari mulut Dion.


Sepanjang perjalan menuju cafe tempat Cindy bekerja.


Tidak ada lagi suara di dalam mobil itu. Sesekali hanya terdengar suara Syakila menghisap hidungnya, karena tak tahan dengan sesak di dadanya.


Tak lama kemudian, sampailah mereka di depan cafe itu.


Syakila pun menghapus sisa Air matanya lalu membangunkan Bian.


"Sayang, bangun. Kita udah sampe ni," ucap Syakila lembut.


Dion yang melihat ketulusan Syakila menjadi merasa bersalah, dan tidak seharusnya dia memarahi Syakila seperti itu.


"Bian, ayo bangun," ucap Syakila lagi. Dan akhirnya Bian membuka matanya perlahan.


"Udah sampe ya tante," kata Bian sambil mengucek matanya.


"Iya, yuk kita susulin Ibunya Bian," kata Syakila lalu iya keluar dari mobil itu bersama Bian tanpa mengucap sepatah kata pun pada Dion.


Tadinya Dion ingin ikut turun dari mobil itu, namun niatnya dia hentikan karena Syakila tidak berbicara apapun dengannya.


Sesampainya di dalam cafe, Cindy memang sudah menunggu. Karena memang sudah waktunya iya pulang bekerja.


"Mbak, makasih ya udah bolehin Bian ikut sama aku," ucap Syakila pada Cindy.


"Aku yang harusnya makasih sama kamu dan Dion udah mau ngajakin Bian," kata Cindy "Oiya, Dion nya mana?" sambung Cindy sambil memperhatikan wajah Syakila yang merah seperti habis menangis.


"Dion nunggu di mobil mbak." timbal Syakila


"Kamu sama Dion habis ribut ya?" selidik Cindy.


"Enggak kok mbak." timbal Syakila cepat.


"Tapi kok kayaknya kamu habis nangis, apa ini gara-gara Bian," kata Cindy.


"Enggak mbak, beneran deh! Tadi aku main pasir di pantai sama Bian, terus kemasukan pasir. Ini juga masih rada perih," bohong Syakila sambil mengucek-ucek matanya.


"Oo, kirain kamu ribut sama Dion gara-gara Bian ikut sama kalian," kata Cindy.


"Aku pamit dulu ya mbak," ucap Syakila "Kapan-kapan kita main lagi jagoan," sambung Syakila pada Bian.


"Iya tante, kita main kepantai lagi terus bikin istana yang besar." timbal Bian dengan wajah yang sangat gembira.


"Ya udah, tante pulang dulu ya. Bye-bye," ucap Syakila lalu pergi dari cafe itu.


Syakila kembali memasuki mobil Dion, di bagian jok belakang.


Namun sebelum dia mendudukan bokongnya. Dion meneriakinya dengan nada yang membuat kesal seperti biasanya.


"Keong sawah, aku bukan supir mu. Jadi jangan duduk di belakang," kata Dion dengan nada menyebalkan.


Namun Syakila tidak memberi respon apa-apa. Dia pindah ke kursi samping kemudi dan langsung mendaratkan bokongnya tanpa berbicara sepatah katapun.


"Keong, kamu marah sama aku ya?" tanya Dion

__ADS_1


"Aku minta maaf ya," ucapnya lagi "Aku gak bermaksud ngomong kasar sama kamu.' sambungnya.


Namun lagi-lagi Syakila tidak merespon ucapan Dion.


Hal itu tentu membuat Dion kesal karena maaf nya tak kunjung di terima.


Tanpa Aba-aba Dion menarik tengkuk leher Syakila lalu mel**at bibir Syakila. Syakila memberontak dan mendorong tubuh Dion.


Namun Dion masih terus melakukan Aksinya tanpa menghiraukan penolakan dari Syakila, hingga akhirnya kegiatan Dion di hentikan oleh security yang berjaga di luar cafe itu.


Tok tok tok


Suara ketukan kaca mobil.


"Yang di dalam mobil, buka kacanya!" teriak security itu.


"Kurang ajar," umpat Dion "Ada apa pak?" tanya Dion setelah menurunkan kaca mobil itu.


"Kalau mau berbuat mesum jangan disini mas, di sini tempat umum. Siapa saja bisa melihat apa yang mbak dan mas lakukan tadi." jelas security itu.


"Maaf pak, saya punya alasan melakukan itu. Istri saya lagi hamil muda, dan dia ingin saya menciumnya di sini. Dari tadi juga udah saya bilangin tapi dia malah menangis, lihat tuh!" alasan yang di buat Dion membuat mata Syakila mendelik. "Mungkin orang hamil memang sensitive seperti itu ya pak?" sambung Dion seperti orang tak berdosa.


"Oo, istrinya lagi hamil muda," ucap security itu "Lain kali jangan seperti itu lagi ya, tolong kondisikan tempatnya." sambung security itu lagi.


"Iya pak, kalau gitu kami permisi dulu," kata Dion lalu menaikan kaca mobilnya setelah itu dia melajukan mobilnya.


Walaupun hatinya kesal dan ingin marah-marah pada Dion, namun Syakila menahannya. Iya tetap diam saja walaupun Dion mengganggunya, hatinya masih sangat sakit karena ucapan Dion yang menurutnya keterlaluan.


"Keong, ayo dong ngomong! Jangan diem terus," kata Dion yang pandangannya lurus kedepan.


"Keong, keong sawah!" panggil Dion "Kalau masih gak mau ngomong. Ini mobil aku lajuin kearah jurang yang ada di depan!" ucap Dion.


"Terserah!" timbal Syakila dengan sepatah kata.


"Oke! Kita bakal mati bareng-bareng, biar kisah kita yang baru di mulai ini jadi kayak kisah mickey mouse!" kata Dion.


"Loh! Loh! Kenapa kayak mickey mouse!" timbal Syakila namun tidak merubah expresinya.


"Yah kan kalau kayak Romeo dan Juliet udah biasa, tapi kalau mickey mouse kan bakalan luar biasa," ucap Dion


Syakila pun mengulum senyum mendengar celotehan yang keluar dari mulut Dion.


"Kamu jangan marah lagi ya!" pinta Dion "Aku gak bermaksud ngomong gitu tadi, tapi wajah anak itu gak ada bedanya sama bapaknya, orang yang jadi biang keladi di setiap masalah." jelas Dion.


"Yang salah bapaknya kenapa anak nya kamu ikut-ikutin?" ketus Syakila.


"Karena mukanya kayak Briyan!" timbal Dion


"Briyan, Briyan siapa?" tanya Syakila.


"Udah lupain aja,"


***


Keesokan harinya.

__ADS_1


"Sayang!" panggil Raka


"Hmm,"


"Itu makanan buat siapa?" tanya Raka "Kok di bawa keatas, buat mama ya." sambung Raka


"Iya, kenapa?" tanya Aira


"Kamu ikut aku sebentar ya, ada penting!" kata Raka dan kebetulan Intan hendak kelantai atas.


"Sana, kalau Raka mau ngomong sama kamu. Biar aku yang bawa makanan ini ke atas," ucap Intan "Buat tante Rina kan?" sambung Intan.


"Iya, tapi emang gak papa," kata Aira yang merasa heran dengan sikap Intan.


"Iya gak papa." timbal Intan.


Aira pun memberikan nampan makanan itu pada Aira.


Intan segera membawa makanan itu menuju kamar mama Rina.


Di dalam kamar mama Rina.


"Tante, yuk makan. Ni Intan udah masakin sop khusus buat tante," ucap Intan berbohong mengakui bahwa masakan Aira adalah hasil masakannya.


Mama Rina pun bangkit dan mencoba masakan yang di bawakan oleh Intan.


"Hmm, enak Intan. Ternyata kamu pintar masak." puji mama Rina dan memakan makanan itu dengan sangat lahap.


"Intan emang sering masak di rumah kok tante, mommy Intan yang ngajarin," ucap Intan berbohong.


Tiba-tiba saja Aira dan Raka masuk kedalam kamar mama Rina.


"Ehh, Raka! Sini kamu coba masakan Intan. Enak banget tahu," ucap mama Rina sambil menjajakan mangkuk sop yang iya pegang.


"Enak ya ma rasanya." kata Raka sambil melirik Intan yang nampak kikuk.


"Iya ini enak banget," kata mama Rina


"Siapa tadi yang masak ma?" tanya Raka dan Aira hanya diam saja di samping Raka.


"Intan yang masak, dia emang pinter masak. Menantu idaman setiap ibu-ibu," ucap mama Rina.


"Hahaha," tawa Raka pecah dan membuat mama Rina mengerutkan dahinya.


"Itu yang masak Aira lo mah!" kata Raka sambil menahan tawanya.


"Masakan Aira?" tanya mama Rina "Tapi kata kamu ini masakan kamu Intan." sambung mama Rina dan beralih menatap Intan yang berdiri di sampingnya dengan wajah merah.


"Maafin Intan ya tante, Intan gak bisa masak," ucap Intan dengan kikuk.


Aira menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Intan.


Sedangkan Raka, hanya geleng-geleng kepala melihat Intan yang tidak tahu malu.


***Bersambung..!!

__ADS_1


Happy reading..!! 😘😘😘***


__ADS_2