
Malam harinya. Aira di buat bingung oleh keadaan Raka yang meriang.
"Huhuhuhu.." rintih Raka di balik Selimut tebal.
"Sayang.. Minum Obat ya," tawar Aira pada Suaminya.
"Enggak usah, bentar lagi baik kan kok. Badan ku cuman sakit semua aja," kata Raka dengan menggigil.
"Maafin aku ya, gara-gara di pukul kak Bry. Kamu sampe demam begini," ucap Aira penuh dengan penyesalan.
"Gak papa Sayang, lagian bukan karena itu juga. Dasarnya badan ku lagi kurang enak," kata Raka. Ia takut istrinya malah jadi menangis jika ia mengatakan bahwa Rahang nya kiri dan kanan terasa ingin rontok.
Mungkin karena sakit di bagian rahangnya itu lah yang membuat Ia menjadi demam dan menggigil.
Bagaimana tidak? Kemarin siang Aira meminta Briyan memukul Suaminya dua kali, kiri dan kanan. Sebenarnya Briyan tidak ingin melakukan nya tapi karena Aira menangis, Semua Orang yang ada saat itu menjadi tidak tega. Terutama Suaminya.
"Ya Tuhan.. Jadi seperti ini rasanya sakit gigi, hiks hiks.. Ternyata lebih baik tidak di beri jatah Ranjang selama sebulan dari pada Sakit gigi seperti ini.." Jerit Raka dalam hati.
"Sayang.. Makan dulu ya," Aira mencoba membujuk Suaminya untuk makan.
"Nanti aja.. Lagi gak makan Sayang." timbal Raka. "Nanti kalau udah enakan, aku makan sendiri," tambahnya.
"Ya udah.. Aku tarok sini ya piring nya." kata Aira sambil meletakan piring yang berisi nasi dan lauk pauk itu ke atas Nakas.
"Sekarang kamu tidur.. Udah malam, kasian Bayi kita," ucap Raka masih dengan meringkuk di atas Ranjang dengan balutan Selimutnya.
Aira pun naik keatas Ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Suaminya. Di peluknya tubuh Suaminya yang menggigil dengan erat.
"I LOVE U.." ucap Aira.
"I LOVE YOU TOO.." balas Raka.
Setengah jam kemudian, Aira masih belum juga tidur. Ia masih saja tidak mau diam. Hingga membuat Raka semakin tidak tahan, ingin membentak istrinya. Ia pun tidak tega, alhasil ia pun meminta Istri nya diam dengan cara halus.
"Sayang.. Tidur lah, aku gak mau kamu ikutan sakit. Aku gak di temenin gak papa kok," kata Raka.
"Tapi aki belum ngantuk.." jawab Aira.
"Iya.. Kamu belum ngatuk, tapi Ke Cebong kita pasti ke cape'an," kata Raka dan akhirnya Aira diam dan mencoba memejamkan matanya.
__ADS_1
Detik berganti menit dan menit berganti jam. Raka semakin tidak tahan dengan Rasa sakit di dominan dengan Rasa lapar yang melanda perutnya.
Ia pun memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Dengan perlahan ia melepaskan tangan Istrinya yang melingkar di perutnya itu. Dan turun dari Ranjang.
"Huhuhuu.. Kenapa rasanya sakit sekali," ucap Raka sambil berjalan keluar dari Kamar.
Sesampainya di Dapur, Ia mencari makanan yang mudah masuk ke dalam Perutnya. Namun ia tak menemukan makanan ber Kuah di sana.
"Huwa.. Aku harus makan apa? Kalau aku masak mie Instan, Aira pasti akan mencium Aroma nya dan terbangun." kata Raka sambil membuka semua bagian Lemari makan.
"Nah.. Ini saja.." Raka mengambil sebungkus Reyko rasa Ayam.
Ia pun mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Setelah itu, ia menaburi sedikit Reyko lalu menuangkan setengah gelas air kedalam Piringnya.
"Hiks.. Haruskah seorang CEO tampan makan nasi dengan kuah Reyko," ucap nya. "Kalau bukan demi anak dan Istri ku. Mana mau CEO yang Tampan ini di sentuh wajahnya oleh Orang lain," sambungnya.
Ia pun segera memakan nasi nya tanpa di kunyah, melainkan Sendok, masuk lalu telan🤭
***
"Bagaimana keadaan Raka ya?" Briyan berucap demikian pada istrinya.
"Tapi aku gak enak, entar di kira aku punya niat buruk lagi sama keluarga nya," ucap Briyan dengan wajah murung.
"Gak akan.. Dari pada kak Bry gak bisa tidur kayak gini. Gak baik loh, apa lagi sekarang Kakak harus banyak Istirahat buat pemulihan kaki Kakak," kata Cindy.
Briyan pun mencoba menghubungi Raka melalui telpon Rumah. Karena ia tidak memiliki nomer Pribadi Raka ataupun Aira.
Dua kali Telpon berdering, namun tidak ada respon dari sang Pemilik.
Briyan pun mencoba menelpon sekali lagi, panggilan itu pun akhirnya di jawab.
"Hallo.. Siapa?" ucap Orang di seberang sana.
"Ini aku, Briyan." timbal Briyan.
"Mau apa nelpon malam-malam?" tanya Raka dengan suara lemah.
"Aku hanya ingin menanyakan keadaan mu." timbal Briyan lagi.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja.." jelas Raka.
"Syukurlah.. Aku bisa tidur nyenyak malam ini," Briyan merasa lega mendengarnya.
"Syukurlah mata mu keluar.." gerutu Raka.
"Hah.. Mata siapa yang keluar?" tanya Briyan yang mendengar gerutuan Raka.
"Ahh.. Enggak, kamu salah dengar," kilah Raka.
"Aku belum tuli! Sepertinya kau sedang tidak enak badan?" tebak Briyan.
"Huwa.. Hiks.. Hiks.. Aku sakit Gigi." timbal Raka.
"Hahaha.. Aku minta maaf, aku terpaksa melakukannya," ucap Briyan di sela tawanya.
"Sudah.. Jangan banyak bicara, Kepala dan Gigi ku menjadi semakin sakit mendengar suara mu," kata Raka lalu mematikan sambungan Telpon itu.
"Bagaimana keadaan Raka?" tanya Cindy pada Briyan.
"Dia sakit Gigi, mungkin saat aku membogem wajahnya mengenai Rahangnya." kata Briyan.
"Lalu..?"
"Lalu dia mematikan sambungan Telpon nya." jawab Briyan.
Sedangkan di kediaman Raka. Ia baru saja menghabiskan nasi ber kuahnya, dan tiba-tiba Telpon yang berada di Ruang tengah Rumah itu berdering terus menerus.
Akhirnya ia pun mengangkat telpon itu, yang ternyata telpon dari Briyan. Beberapa menit mereka mengobrol, akhirnya ia tidak tahan dan mematikan sambungan telpon itu secara sepihak.
"Dasar tidak punya ahlak dan fikiran.. Orang sakit Gigi malah di tertawakan," omel nya pada telpon yang sudah di matikan.
"Mudah-mudahan besok pagi sakitnya akan berkurang, Agar Aira tidak banyak tanya lagi dan menjadi semakin bersalah," ucap nya, setelah itu ia kembali ke lantai atas.
Bersambung..!
🧑 : Thour.. Kenapa kau aniyaya aku seperti ini?😒
👧 : Nikmati saja dulu.. Anggap sebagai bukti cinta mu pada Aira😁
__ADS_1