
Hari-hari pun di lalui begitu cepat, kini Raka dan Aira pun menjadi semakin dekat.
Raka pun mulai merasakan ada sesuatu getaran di dalam dadanya. Rasa ingin selalu berada di dekat Aira pun semakin besar.
Pagi-pagi sekali ia sudah berpakaian rapi, rencananya pagi ini ia akan menemui Aira terlebih dalu dan setelah itu baru pergi ke kantor.
Saat ia hendak berangkat, tiba-tiba saja mama Rina memanggilnya.
"Sayang, kamu kok akhir-akhir ini berangkatnya awal terus sih?" tanya mama Rina yaitu mama dari Raka.
"Raka banyak kerjaan mah!" timbal Raka "Ya udah Raka berangkat dulu ya," sambungnya lalu mencium pipi mamanya.
Setelah berpamitan pada sang mama, Raka beralih pada papanya yang masih berada di meja makan. "Raka berangkat ya pah," ucap Raka lalu mencium punggung tangan sang ayah. Setelah itu iyaa pun segera berangkat bekerja, ehh bukan bekerja melainkan menemui Aira di kontrakan.
Setelah kepergian Raka, mama Rina membicarakan perihal perubahan Raka pada suaminya.
"Pah, coba lihat putra mu! Sepertinya ada yang aneh, udah beberapa bulan ini dia jarang ada di rumah," ucap mama Rina pada pak Bambang, suaminya. Yaitu papa dari Raka.
"Sudahlah mah! Putra kita sudah dewasa dan sudah bisa menentukan pilihannya sendiri. Tidak usah di kekang terus untuk mengikuti kemauan mama." timbal pak Bambang sambil menyeruput kopi hangatnya.
"Umur Raka itu sudah menginjak 32 tahun pa, tapi dia tidak pernah mau mama jodohkan. Kapan lagi dia akan menikah? kita sudah tua dan mamah ingin segera menimang cucu." kata mama Rina.
"Papa tahu itu, tapi mau bagaimana lagi? Dia sendiri belum siap untuk berumah tangga," ucap pak Bambang.
***
Kini Raka sudah sampai di depan rumah kontrakan Aira, kedatangannya langsung di sambut hangat oleh Aira.
"Raka, ayo masuk." ajak Aira
Raka pun masuk dan duduk di kursi yang terbuat dari rotan di ruang tamu yang terbilang cukup sempit itu.
"Aku buat teh dulu ya," ucap Aira.
Lalu ia segera menuju dapur meninggalkan Raka seorang diri di ruang tengah itu. Dan tak lama kemudian, ia kembali lagi dengan membawa nampan berisi kue dan juga teh hangat untuk Raka.
"Aira, ada yang mau aku bicarain sama kamu," ucap Raka sambil menatap serius pada Aira.
"Apa, mau bicara apa?" tanya Aira sambil mendudukkan bokongnya di samping Raka.
"Apakah kamu ada rasa sama aku?" tanya Raka tiba-tiba.
"Maksud kamu? Rasa seperti apa?" tanya Aira yang tidak mengerti maksud pertanyaan Raka.
"Rasa suka, kayak pasangan gitu!" jelas Raka.
__ADS_1
"A-nu, Raka. Emm itu," ucap Aira dengan kikuk. "Sebenernya, aku suka sama kamu, tapi aku sadar aku siapa," sambung Aira sambil menundukan kelapanya.
"Aku juga suka sama kamu Aira, aku senang bahwa perasaan ku terbalaskan," kata Raka dengan wajah berninar. "Tapi ada suatu hal yang mengganjal di hati ku," Sambung Raka, wajah yang tadinya berbinar kini berubah menjadi murung.
"Ada apa lagi, Raka? Aku mencintai kamu apa adanya, jadi kita berdua harus sama-sama terbuka," kata Aira sambil meraih tangan Raka.
"Aku takut, jika kamu tahu yang sebenarnya, kamu bakal meninggalkan aku," ucap Raka, ia ragu dengan dirinya sendiri.
"Ayo lah, aku akan menerima semuanya. Percayalah!" Aira menggenggam tangan Raka untuk meyakinkan diri Raka.
"Aku a-ku sebenarnya tidak normal seperti pria pada umumnya," lirih Raka namun terdengar jelas di telinga Aira.
Bukannya terkejut, Aira malah memeluk Raka dengan erat. Seolah memberi pria itu kekuatan.
"Kamu enggak jijik sama aku? Kamu masih mau sama aku setelah mengetahui semuanya," ucap Raka tak percaya.
"Sudah aku katakan, bahwa aku mencintaimu tulus dari hati ku. Aku akan menerima kekurangan mu, begitu sebaliknya aku mau kamu nerima kekurangan ku ini. Kita akan berjuang sama-sama." timbal Aira sambil memeluk erat tubuh Raka.
"Terimakasih Aira, terimakasih! Aku sangat beruntung memiliki kamu," ucap Raka sambil membalas pelukan Aira "Besok kita akan menemui papa dan mama ku," sambungnya.
Wajah yang sebelumnya murung, kini berubah menjadi berseri-seri.
Setengah jam kemudian, Raka berpamitan pada Aira untuk pergi kekantor.
Aira hanya mengantuk dengan senyuman manis di bibirnya.
Setelah itu, Raka segera berangkat ke kantor.
Sekitar setengah jam menempuh perjalanan. Akhirnya Raka pun sampai di parkiran Anak canang perusahaan WIRYAWAN GRUP.
Semua karyawan menunduk hormat melihat saat melihat kedatanganya.
"Selamat pagi tuan Raka," sapa seorang karyawan yang bernama Yuni dengan gaya centilnya.
Raka pun hanya menganguk tetap dengan berjalan menuju life khusus petinggi perusahaan itu.
Ia pun masuk kedalam ruangan dan duduk di kursi kebesarannya. Lalu membuka laptop dan memulai pekerjaannya.
Tak terasa, Tibalah jam makan siang. Ia pun segera membereskan berkas-berkas yang ada di mejanya.
Namun tiba-tiba datanglah gadis cantik dan sexi masuk kedalam ruangannya begitu saja tanpa permisi dan tanpa izin.
"Hay Raka ku sayang, apa kabar?" sapa gadis itu lalu memeluk Raka.
"Ngapain kamu kesini? pasti mama ya yang nyuruh kamu," ucap Raka dengan ketus.
__ADS_1
"Kamu kok gitu sih! Aku kan kesini karena kangen sama kamu," ucap wanita itu lagi.
"Udah deh, mendingan kamu pulang. Aku gak punya waktu buat ngeladenin kamu!" sahut Raka.
"Aku kurang apa sih Raka? sampe-sampe kamu gak mau deket-deket sama aku!" wanita itu berteriak dan membanting tasnya.
"Cukup Intan, kamu jangan bikin kekacauan disini. Lebih baik kamu pergi sebelum aku ngelakuin kekerasan sama kamu!' bentak Raka pada wanita yang bernama Intan itu.
"Aku bakal bilang sama tante Rina, kalau kamu udah berbuat kasar sama aku!" Intan pun pergi meninggalkan kantor Raka dengan perasaan kesal.
Setelah kepergian Intan, Raka pun segera menghubungi OB untuk membelikannya makanan.
Tak lama makanan pun datang, lalu ia segera menyatap makanan itu dengan lahap.
Setelah seharian bekerja, Raka pun pulang kerumah orang tuanya dengan wajah lesu.
Namun baru saja ia sampai, mama nya sudah mengomeli dirinya karena Intan mengadu kepada mamanya, jika ia tidak memperlakukan Intan dengan baik.
"Raka, kamu ini gimana sih? kok Intan datang malah di marahin dan kamu usir lagi!" kata mama Rina.
"Udah deh mah. Raka capek mau istirahat!" timbal Raka.
"Kamu keterlaluan Raka, dia itu calon istri kamu!" bentak mama Rina.
"Raka gak mau sama dia, kalau mama suka sama dia kenapa gak mama aja yang nikah sama dia. Kenapa harus Raka, dan perlu mama tau Raka sudah punya calon istri dan minggu depan Raka akan menikah sama dia." kata Raka dan pergi meninggalkan mama Rina sendirian.
Setelah kepergian Raka mama Rina pun berfikir seperti apa kekasih Raka? benarkah yang di ucapkan Raka atau berbohong karena ingin menghindar saja dari keinginan mamanya.
"Siapa pacar Raka? dia serius atau cuman pura-pura punya pacar? kalau gitu aku harus selidiki," ucap mama Rina pada dirinya sendiri.
***
Di kontrakan Aira, banyak sekali ibu-ibu yang berkerumun di depan rumah kontrakannya hanya untuk sekedar membeli kue buatanya.
"Mbak Aira saya pesen ya, 200 biji. Buat acara syukuran besok lusa," ucap seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya.
"Saya pesen kue yang ini! Ya mbak Aira, 50 biji aja. Suami saya suka sekali dengan kue buatan, mbak Aira," ucap Ibu-ibu muda yang umurnya tak jauh dari Aira.
Dan begitu juga dengan ibu-ibu lainnya.
"Iya bu, biar saya catet semua ya pesanan ibu-ibu sekalian. Biar tidak lupa." kata Aira sambil mencatat pesanan ibu-ibu di buku kecil yang ia pegang.
"Iya mbak Aira, kalau begitu kami pamit dulu ya!"kata Ibu-ibu itu lalu mereka pun pergi meninggalkan rumah kontrakan Aira.
Bersambung..!!
__ADS_1