
Acara makan malam itu bun berlangsung lancar.
Dion, Syakila, pak Budi juga bu Yanti datang.
Meski awalnya Syakila tidak di perbolehkan Bu yanti ikut, akhirnya karena ke ngeyelan tingkat tinggi nya. Bu Yanti pun mengizinkan dia untuk ikut ke kediaman pak Bambang.
"Hmm, emang ada apaan sih? Kok kayaknya serius banget?" tanya Syakila dengan mulut penuh makanan.
"Makan dulu, Kila! Nanti juga kalian semua bakal tau!" sahut mama Rina.
"Iya ni anak, kalau tersedak bagaimana?" tambah bu Yanti.
"Kila gak akan tersedak!" timbal Syakila setelah ia menelan makanan yang memenuhi mulutnya, setelah itu ia segera meneguk segelas air putih yang ada di hadapannya.
"Jangan ngeyel, keong! Aku gak mau anak ku nanti rakus!" celetuk Dion.
Syakila merasa tersinggung dengan perkataan Dion, ia meletakan sendok dan garpu yang ia pegang.
"Kila, kamu kenapa?" tanya Aira berbasa-basi, ia tahu bahwa Syakila sedang tidak enak hati.
"Aku kenyang," kata Syakila menimbali pertanyaan Aira. "Aku mau kedepan," sambungnya.
"Sayang, mau kemana?" kata Dion pada istrinya.
Syakila tidak menjawab pertanyaan Dion, ia langsung saja pergi dari ruang makan itu. Ia berjalan pelan menuju ruang tamu.
Aira yang mengerti dengan perasaan Syakila, langsung saja menghentikan makannya dan segera menyusul.
"Dasar bodoh! Suami gak peka!" maki Aira dengan judes.
Semua orang yang ada di sekeliling meja makan itu terperangah tak percaya mendengar umpatan dari mulut Aira.
"Aira bilangan aku atau kamu!" Dion menujuk dirinya lalu beralih pada Raka.
"Mana mungkin aku! Aku gak bikin masalah kok di marah," kata Raka.
"Lalu! Aira marah ama siapa? Masa dia bilangan papa Bambang dan ayah?"
"Mending kamu susulin istri kamu," ucap bu Yanti.
"Makanan Dion belum habis." timbal Dion.
"Inget enggak? Kamu tadi ngomong apa saat dia masih makan?" tanya pak Bambang tiba-tiba.
Dion mengingat ucapan nya tadi, "Aku gak mau nanti anak ku rakus!" mata Dion mendelik saat mengulang kata itu.
"Oh, astaga! Keong pasti gak terima aku ngomong kayak gitu!" Dion segera berlari menjenguk istrinya, bahkan piring yang ia gunakan untuk makan pun, terlempar kelantai dan pecah berkeping-keping.
Dion mengelilingi rumah megah nan mewah itu, Namun ia tidak menemukan keberadaan istrinya dan juga Aira.
"Kemana mereka berdua?" tanya Dion pada dirinya sendiri.
Sedangkan di dalam sebuah ruangan yang beralaskan kasur lantai, dengan sebuah televisi kecil dan berbagai macam cemilan. Dua orang wanita terlihat tengah asik menonton serial kartun sambil bercanda ria.
"Kamu udh USG?" tanya Aira pada Syakila.
"Enggak, biarlah kelahirannya jadi kejutan." timbal Syakila. "Emm, apa yang kamu rasain di awal-awal kehamilan kamu?" tanya balik Syakila.
"Pusing, mual, kadang marah-marah gak jelas," kata Aira, ia mengingat bagaimana sikap nya beberapa minggu terakhir ini.
"Susah ya ngidam?" tanya Syakila lagi, pasalnya ia tidak mengalami muntah dan mual-mual seperti ibu hamil kebanyakan.
__ADS_1
"Jangan tanya deh! Tapi ya nikmati aja, minta sama yang kuasa. Semoga ibu dan bayi sehat terus," kata Aira dan di amini oleh Syakila.
Dion yang lelah mondar mandir mencari keberadaan istrinya, akhirnya memutuskan untuk menyusul semua orang yang sudah berkumpul dan mengobrol di ruang keluarga.
"Kenapa? Mana Syakila dan Aira?" tanya pak Budi saat melihat wajah putranya terlihat lelah letih dan lesu.
"Syakila dan Aira hilang." timbalnya.
"Apa? Hilang?" pekik semua orang yang ada di ruangan itu, kecuali Raka.
"Cepat cari, mungkin mereka berdua di culik!" teriak mama Rina.
"Telpon polisi!" perintah bu Yanti "Ya tuhan selamatkan lah anak menantu dan calon cucu ku," sambung bu Yanti.
"Bwahahahaa, wajah kalian lucu saat panik!" Raka terbahak saat melihat reaksi lucu dari keluarganya.
"Kenapa tertawa? Istri mu hilang! Dasar gila!" Maki Dion.
"Mereka ada di dalam," tunjuk Raka pada sebuah pintu yang ada di belakang pak Budi.
"Di sana? Kenapa gak bilang dari tadi monyet?" kesal Dion.
"Kan gak nanya ama aku!" sahut Raka dengan santai nya.
Mama Rina dan bu Yanti bernafas lega. Mereka pun berjalan bersama-sama dan membuka pintu ruangan itu bersamaan.
Mereka saling lempar senyum saat melihat dua anak manusia itu tertidur pulas di atas kasur lantai yang ada di ruangan tersebut.
"Mudah-mudahan ke hamilan Aira sehat seperti Syakila," kata mama Rina tiba-tiba.
" O, Aira hamil! Alhamdulilah," ucap bu Yanti.
"Yang hamil siapa? Yang heboh siapa?" tanya Dion sambil mengejek pada ibunya.
"Ini namanya bahagia!" sahut bu Yanti dengan cepat.
Lama mereka berbincang-bincang dan mengobrol ringan.
Akhirnya pak Budi dan bu Yanti pamit pulang, tapi tidak dengan Dion.
Dion menginap di kediaman pak Bambang, Karena hari sudah larut malam. Di tambah Syakila yang memang sudah tertidur sejak lama.
"Jeng, kami pamit dulu ya," kata bu Yanti pada mama Rina.
"Iya, hati-hati di jalan." timbal mama Rina.
"Titip menantu dan cucu-cucuku," kata bu Yanti lagi.
"Tenang aja, semua akan ku pantau!" sahut mama Rina.
Setelah itu, pak Budi dan bu Yanti segera pulang.
Selepas kepulangan pak Budi dan bu Yanti, mama Rina dan pak Bambang segera menuju lantai atas.
Dan kini tinggallah Raka dan Dion di ruangan keluarga itu.
"Kita ikut tidur yuk," ucap Raka tiba-tiba.
"Tidur di mana? Masa kita tinggal mereka di sana!" tunjuk Dion pada ruangan yang di tempati Aira dan Syakila.
"Siapa bilang kita tinggal!" sahut Raka.
__ADS_1
"Lalu?" Dion menaik turunkan alisnya.
"Kita tidur di sana juga," kata Raka.
Ia masuk Ke dalam ruangan itu, meninggalkan Dion seorang diri.
"Haih, kenapa pula aku di tinggal!" protes Dion. Ia segera menyusul Raka.
Raka segera berbaring di samping istrinya. Di peluknya tubuh sang istri dengan erat.
Sedangkan Dion, ia nampak takut mendekati istrinya.
Dengan perlahan ia merebahkan tubuhnya di samping Syakila yang tertidur lelap.
"Jangan bangun jangan bangun jangan bangun!" mulut Dion komat kamit seperti membaca mantra.
Ia sangat takut dengan kemurkaan Syakila, pasalnya Syakila akan sangat marah jika tidurnya terusik.
Dion pun memaklumi hal itu, karena perut istrinya yang buncit. Hal itu membuat Syakila sulit untuk tidur dan bergerak.
Tak lama kemudian, Dion sudah ikut menyelami alam mimpi seperti Raka.
Dua pasang anak manusia itu kini sudah sama-sama menyelami alam mimpi masing-masing.
Keesokan paginya, Raka, Dion dan Syakila di buat terkejut oleh Aira. Pasalnya Aira memuntahkan isi perutnya di ruangan itu.
"Huekk, huekk,"
"Sayang!" Raka terbangun karena kaget. Wajahnya langsung lemas saat merasakan basah di ujung kakinya.
"Maaf," lirih Aira dengan wajah takutnya.
"Ai, kamu gak papa?" tanya Syakila.
"Dasar keong bodoh! Udah tau orang mual dan pusing, malah nanya gak apa-apa!" sahut Dion.
Raka hanya geleng-geleng kepala istrinya. "Kenapa gak bangunin atau kamu bisa langsung ke kamar mandi," ucap Raka dengan lembut. Padahal di dalam hatinya menjerit histeris. "Ya tuhan! Bagaimana aku bisa makan pagi ini,"
"Aku minta maaf, aku udah gak tahan." timbal Aira
Raka menarik kakinya dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Melihat Raka yang seperti tidak perduli, Aira menjadi sedih. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.
Dengan sigap Dion membantu Aira, ia memeluk tubuh Aira di depan istrinya.
"Jangan nangis! Raka belum terbiasa, mungkin dia jijik melihatnya," ucap Dion. "Syakila juga seperti itu dulu, makanya aku berdoa siang malam agar saat hamil anak kedua mereka akan merasakan yang namanya ngidam seperti kita," sambung Dion yang juga lupa akan kehadiran istrinya di belakangnya.
Syakila yang tadinya ingin marah karena terbakar api cemburu, kini ia urungkan niatnya. Ia menjadi merasa bersalah, karena saat masa ngidam suaminya. Ia selalu marah-marah bahkan memaki suaminya.
"Mas, maafkan aku ya! Aku gak ngertiin kamu, seharusnya yang ngalamin ngidam itu aku. Bukan kamu," kata Syakila lalu ikut memeluk suami beserta adik sepupunya.
Tanpa mereka sadari, ternyata Raka berdiri di belakang mereka. Ia juga menjadi merasa bersalah karena telah bersikap acuh pada istrinya tadi.
***Gak nyambung😂
Suka bacain, gak suka tinggalin😣😣
Othor emang gesrek, mood hilang tiba-tiba dan datang juga tiba-tiba😅😅
AWAS BANYAK TYPO🏃♀️🏃♀️🏃♀️***
__ADS_1