
"Bagaimana keadaan pasien dokter?" tanya Raka, pak Bambang dan Aira serentak.
Dokter itu mengerutkan dahinya melihat kekompakan sekelompok orang yang ada di hadapannya.
"Kalian tenang dulu, salah satu dari kalian mari ikut saya," ucap Dokter itu.
Pak Bambang memandang Raka, Raka yang mengerti pun menganguk. Setelah mendapat persetujuan dari Raka, akhirnya pak Bambang masuk mengikuti dokter itu kedalam sebuah ruangan.
Di dalam ruangan itu, Dokter pun menjelaskan penyebab mama Rina pingsan secara tiba-tiba.
"Jadi bagaimana dokter? Apa yang terjadi pada istri saya?" tanya pak Bambang.
"Jadi begini pak, penyebab istri bapak pingsan adalah Aritmia dan juga hipertensi," ucap dokter itu
"Hipertensi bukan kah tegangan darah tinggi dokter?" kata pak Bambang "Lalu Aritmia itu apa?" sambung pak Bambang sambil mengerutkan dahinya.
"Aritmia adalah detak jantung yang tidak normal," jelas dokter itu. "Istri bapak harus di awasi dan di rawat dengan khusus." sambung dokter itu.
Pak Bambang manggut-manggut mendengarkan penjelasan dokter itu.
Setelah itu pak Bambang keluar daru ruangan itu lalu mendekati Aira dan Raka yang sedang duduk di kursi yang ada di depan ruangan rawat mama Rina.
"Bagaimana pa? Apa kata dokter?" tanya Raka
Pak Bambang menceritakan semuanya pada Raka san Aira.
"Aira akan mengurus dan selalu menjaga mama," ucap Aira.
"Kamu memang menantu yang baik Aira, kamu masih mau mengurus mama mu. Padahal dia sudah sangat jahat sama kamu selama ini," kata pak Bambang
Aira hanya tersenyum tulus mendengar ucapan papa mertuanya.
"Kamu memang tidak salah pilih Raka," ucap pak Bambang pada Raka.
Mereka bertiga pun masuk kedalam ruangan mama Rina, karena mama Rin sudah siuman.
"Mana Intan?" tanya mama Rina.
"Kamu kok nanyain Intan?" tanya pak Bambang balik.
"Mama mau di temenin sama Intan," ucap mama Rina
"Intan tidak ada!" bentak pak Bambang
"Ngapain kamu di sini Aira? Saya gak butuh kamu!" ketus mama Rina sambil menatap tajam Aira.
"Maaf ma, kalau mama gak suka sama Aira. Aira pergi sekarang," ucap Aira yang menundukan wajah lalu hendak keluar dari ruangan itu namun Raka menahan tangan Aira.
"Kalau bukan Aira yang bawa mama ke rumah sakit, mungkin mama sudah mati di rumah!" bentak pak Bambang lagi dengan wajah sangarnya.
"Aira yang bawa mama," ucap mama Rina pelan.
__ADS_1
"Iya, dan perlu mama tahu. Intan pergi dari tadi pagi dan belum juga kembali sampai saat ini," kata pak Bambang.
"Mungkin Intan ada keperluan di luar pa, nanti juga dia kesini jengukin mama dan ngerawat mama," kata mama Rina.
"Sudah lah, pusing bicara sama mama. Intan itu bukan gadis baik-baik ma," ucap pak Bambang
"Mama yang lebih tahu siapa Intan!" timbal mama Rina
***
Di sebuah rumah bordir.
Siang pun berganti malam, Intan pun tidak pulang ke kediaman pak Bambang, karena iya merasa sangat bosan berhari-hari selalu menemani mama Rina.
"Mom, Intan capek tahu. Cara apa lagi coba yang harus Intan pake," kata Intan
"Kamu harus sabar dong! Kalau gak bisa pake cara halus kita pake cara kasar," ucap Wanita paruh baya namun masih terlihat sangat cantik.
"Cara apaan mom?" tanya Intan.
"Kita singkirkan saja mereka satu persatu," ucap wanita itu dengan tersenyum licik.
"Maksud mom? Kita bunuh keluarga om Bambang gitu!" kata Intan
"Iya, apapun caranya kita harus mendapatkan kekayaan mereka," ucap wanita itu yang tak lain adalah mama Intan dan juga mama para pe**cur di rumah bordir itu.
Tiba-tiba suara ketukan pintu menghentikan obrolan mereka.
"Masuk, pintu tidak di kunci!" teriak mommy Susi dari dalam, ya nama wanita paruh baya itu adakah Susi.
"Mom, aku mau gadis yang bisa bikin aku puas dong," ucap seorang pria muda yang baru saja datang dan langsung mencium pipi mommy Susi.
"Ahh, kamu! Kalau sama anak mommy yang ini bagaimana," ucap mommy Susi sambil memegang pundak Intan.
Intan pun hanya tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya.
"Boleh deh mom, tapi beneran kan anak mommy yang satu ini bisa bikin aku puas," kata pria muda itu
"Kamu tenang aja!" sahut Intan sambil mendekati pria itu yang sedang duduk di depan mommy Susi.
Tanpa malu Intan pun memagut bibir pria muda itu di depan mommy Susi.
"Sudah sana pindah, jangan di depan mommy dong," ucap mommy Susi.
Intan pun menarik pria muda itu menuju kamar yang biasa iya tempati saat tinggal di rumah bordir itu.
Sesampainya di dalam kamar, Intan menghempaskan tubuh pria itu ke atas ranjang.
"Wow sayang, amazing," ucap pria muda itu.
Dengan segera Intan menindih tubuh pria itu, dan membuka jas serta kemeja yang di gunakan oleh pria itu.
__ADS_1
"Ayo baby," ucap Intan dengan nafas memburu.
Intan sangat menikmati malam itu, karena sudah cukup lama tidak merasakan belaian hangat yang penuh sensasi seperti yang tengah iya rasakan. Apa lagi pria yang bercinta dengannya saat ini adalah seorang pria muda yang cukup tampan, tidak seperti yang biasanya, pria tua dengan perut buncit.
Malam itu di habiskan Intan Nga-nu di rumah bordir dan tidak kembali ke kediaman pak Bambang.
***
Syakila sudah sampai di jakarta, namun iya bingung harus kemana. Sudah berkali-kali iya menghubungi nomer Aira namun tidak aktif.
"Aduh, Aira kemana sih? Kok nomernya gak bisa di hubungin," ucap Syakila "Kalau gitu, aku cari penginapan murah aja deh," sambungnya.
Lalu Syakila mencari penginapan di dekat daerah itu, karena tidak fokus pada jalanan dia hampir saja tertabrak mobil seseorang yang sedang melintas. Untung saja pengemudi mobil itu berhenti dalam keadaan yang tepat. Berapa senti meter lagi mobil itu tepat mengenai tubuh Syakila.
Karena terkejut, Syakila pun berteriak histeris.
"Aaaaa," teriak Syakila.
Dengan panik, pengemudi mobil itu turun lalu mendekati Syakika yang menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Hey mbak," ucap pengemudi mobil itu yang ternyata seorang pria. "Mbak, minggir dari sini mobil saya mau lewat," sambung Pria itu sambil menepuk bahu Syakila.
Dengan perlahan Syakila membuka matanya, dia meraba-raba tubuhnya. "Ah, ternyata aku masih hidup," ucap Syakila tanpa menghiraukan pria yang ada di sampingnya.
"Mbak, awas mobil saya mau lewat," ucap Pria itu lagi dengan nada sedikit tinggi.
Syakila pun terperanjat kaget mendengar suara pria itu.
"Eeh, ada orang," ucap Syakila. "Maaf ya pak, saya gak fokus sama jalan." sambungnya sambil menghadap pada pria itu.
Pria itu terkejut melihat wajah Syakila.
"Loh! Kok kamu kayak," pria itu menghentikan ucapannya.
"Kayak apa?" tanya Syakila sambil memajukan wajahnya pada pria itu.
"Enggak, muka kamu kayak orang yang saya kenal," ucap Pria itu lagi. "Kamu mau kemana malam-malam begini sendirian?" sambung pria itu.
"Saya mau kerumah sepupu saya, tapi saya telpon nomer nya gak aktif. Dan saya juga gak tahu alamatnya pak." jelas Syakila dengan jujur.
"Kamu kok aneh ya! Mau nemuin seseorang tapi gak tahu alamat tinggalnya," ucap pria itu
"Iya ya, kalau saya fikir-fikir saya memang aneh," kata Syakila dan kekonyolannya membuat pria itu tertawa.
"Kelakuannya sama seperti Aira, konyol!" Kata pria itu dalam hati.
Bersambung..!!
***Happy reading..!!
Jejaknya ya..!! Dan perbanyaklah sedekah hadiah untuk othor yang gemesin iniπππ***
__ADS_1