Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Bayi Gorila


__ADS_3

Jam Setengah sembilan pagi, Aira mengerjapkan matanya. Ia terkejut saat melihat hari sudah terang benderang.


Perlahan ia menggoyangkan tubuh suaminya yang masih terlelap.


"Sayang bangun, udah siang," ucap Aira.


"Hmm.. Kenapa? Ayo tidur lagi, mas capek," kata Raka sambil menarik Aira kedalam pelukannya.


"Bangun! Aku lapar," rajuk Aira "Ayo bangun, udah siang nih!" Aira dengan iseng mencubit p*t*ng susu suaminya.


"Ouh.." Raka terkejut dan langsung melepaskan peluk kan nya dari Aira. "Kenapa sayang?" tanya Raka saat ia sudah bangun.


"Ayo bangun, ambilin aku makan," pinta Aira.


"Kita mandi dulu ya," kata Raka sambil membuka selimut yang menutupi tubuh mereka.


"Enggak," kata Aira sambil menggeleng cepat. Lalu di tariknya lagi selimut itu agar menutupi tubuhnya kembali.


"Terus! Mau nya apa?" tanya Raka dengan lembut.


"Ambilin makan, aku malu mau turun kalo belum mandi," kata Aira sambil memajukan bibirnya.


"Ya udah, kamu tunggu sini! Biar mas turun kebawah sebentar.


Setelah itu, Raka segera memakai celana piyama dan atasan kaos putih oblong. Dan ia segera turun kelantai bawah dan menuju dapur.


Saat sampai di dapur, Ternyata di sana ada mama Rina dan Syakila yang sedang beres-beres.


"Bayi gorila bangun nih!" ejek mama Rina.


"Bayi gorila apa ma? Siapa?" tanya Raka yang memang tidak paham dengan kata-kata yang di ucapkan mamanya.


"Enggak, bukan apa-apa!" timbal mama Rina. "Itu tadi pagi, mama lihat dua bayi gorila yang tertidur pulas," sambungnya.


"Oh, bayi gorila!" Raka manggut-manggut.


Syakila yang menyimak pembicaraan mama Rina dan Raka menjadi terbahak-bahak.


"Hahahaa.. Kak Raka, kak Raka. Bayi gorila yang di bilang tante Rina itu, kak Raka sama Aira loh!" Syakila menutup mulut dengan kedua tangannya, ia tak kuasa menahan tawa.


Mata Raka membulat saat mendengar ucapan Syakila. Lalu ia beralih fokus pada mama Rina.


"Mama ngintip ya!" tuding Raka.


"Enak aja! Sudi amat mama ngintip begituan," kata mama Rina. "Harusnya mama minta ganti rugi sama kamu, gara-gara kamu tempur gak ngunci kamar. Mata mama jadi ternoda, bahkan hampir buta," sambung mama Rina.

__ADS_1


"Buahahahaa.." Tawa Syakila kembali pecah.


"Udah ah.. Raka mau ambilin Aira makan. Ngomong sama mama gak guna, mending Raka ke atas lagi. Biar bayi gorila nya cepat berkembang biak," seloroh Raka sambil berjalan ke lemari makanan.


"Berkembang biak, kayak peternak ayam aja," Syakila tetawa sampai mengeluarkan air mata.


Lagi-lagi tingkah Raka mengundang tawa Syakila.


Dengan sengaja, Raka mengambil nampan besar. Lalu mengisinya nasi dan lauk pauk dengan porsi yang gila.


Tak lupa ia membawa sebotol air mineral dan juga sebotol kecil jus lemon.


"Hmm, nasi udah, sayur udah, minum udah, jus udah, sendok udah. Apa lagi yang belum?" Raka meletakan jari telunjuknya di dagu seperti orang berfikir keras.


"Baskom kalik kak yang belum," Kata Syakila sambil memegangi perutnya yang sakit karena terlalu sering tertawa.


"Oh.. Iya! Buat cuci tangan," kata Raka sambil berjalan ke rak piring.


"Gak usah aneh deh!" ketus mama Rina. "Kalo mau bawa baskom, kenapa gak sekalian rak nya aja yang di pindah ke kamar kamu," sambungnya dengan menahan tawa.


"Udah ahh.. Mending aku naik ke atas. Dari pada di sini, bikin bodoh ku bertambah 3x lipat dari biasa nya," Raka membawa nampan makanan beserta dua botol yang di kepitnya di bawah ketiak menuju tangga.


Mama Rina dan Syakila hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah Raka yang berubah 75°c.


Bagaimana tidak, Raka yang tadinya tidak banyak bicara kini berubah seperti burung Beo. Bahkan ia seperti tidak ada lelahnya untuk bicara dan berdebat dengan seseorang. Atau memang begitulah sifat asli dari Rakanda Wiryawan yang sesungguhnya?


"Nah! Biar aman," ucapnya.


"Kenapa sayang? Apanya yang biar aman?" tanya Aira yang bersandar di dinding ranjang.


"Biar aman dari cicak-cicak di dinding," kata Raka sambil berjalan mendekat pada Aira.


"Hmm.. Yok kita makan," Raka membawa nampan itu ke atas ranjang.


"Astagfirullah, kok pake nampan," Aira menatap heran pada suaminya.


"Biar isi nya banyak, kan kalo pake piring. Isinya gak bisa banyak." timbal Raka dengan santai. "Lagian habis ini, aku mau itu lagi!" tunjuk Raka pada bagian sensitive Aira yang tertutup selimut.


"Mesum!" Aira memukul lengan Suaminya.


Mereka berdua makan dengan sangat lahap, bahkan saling menyuapi.


Setelah makanan itu habis, Raka dan Aira bercanda ria di atas ranjang itu.


"Aahhkk," pekik Aira.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa sayang?" tanya Raka dengan panik.


"Sakit," rintih Aira sambil memegangi selangkangnya.


"Gak usah jalan-jalan dulu," kata Raka sambil mengelus pangkal paha istrinya.


"Emmhh, Raka jangan," keluar desahan dari bibir mungil Aira karena elusan suaminya.


Raka mendongakkan wajahnya, dan ia melihat istrinya memejamkan mata.


Dengan cepat Raka membopong tubuh istrinya menuju kamar mandi. Di dudukannya tubuh mungil Aira di dalam buthup.


Raka menghidupkan shower dengan mode hangat, setelah air shower keluar. Ia memeluk tubuh istrinya, ia mencium bahkan m*l*mat bibir istrinya dengan lembut.


Sejenak Raka bermain di area sensitive sang istri, hingga sang istri merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bahkan tubuhnya di buat menggelinjang hebat oleh permainan cantik nya.


"Ouh, Raka, ayo!" Aira menarik tubuh suaminya. Setelah suaminya bangkit dari bawah sana, ia segera melepas kaos oblong yang masih melekat di tubuh suaminya.


Dan akhirnya, mereka bermain lagi di dalam kamar mandi. Pertempuran pagi menjelang siang itu terjadi panas di bawah guyuran shower.


***


Di tempat lain.


"Tolong jangan ambil barang-barang kami! Saya mohon, saya akan melunasi hutang itu," kata seseorang dengan berurai air mata.


"Tolong.. Jangan! Itu barang-barang milik putri saya," kata nya lagi memohon-mohon pada dua orang bertubuh besar yang mengeluarkan barang-barang dari dalam rumahnya.


"Hutang ibu pada bos kami sudah sangat banyak! Bahkan barang-barang ini hanya mampu membayar separuhnya saja," kata salah seorang pria bertubuh besar itu.


"Loh! Mau di bawa kemana barang-barang kami?" tanya seseorang yang baru datang dengan menggunakan sepeda motornya.


"Ko, itu motor nya sikat juga!" kata pria bertubuh besar itu kepada rekannya.


"Berikan kunci dan surat menyurat motornya ini mbak!" kata pria bertubuh besar yang di ketahui namanya Kopret.


"Jangan, ini motor saya! Kenapa mau di bawa?" Orang itu tidak ingin memberikan kunci dan surat menyurat motornya.


Dengan kasar, pria yang bernama Kopret itu merampas tas orang itu dan mengambil kunci serta surat menyurat motor. Setelah itu, ia dan rekannya segera pergi dari tempat itu.


***Bersambung..!!


Hari senin ya🤭🤭 yang dapat vote mingguan, sedekahin sama othor ya🤗 kalo gak keguna buat dukung karya orang lain😂***


Dukungan seihkkasnya aja😌

__ADS_1


Happy reading😘😘


Tolong koreksi! Banyak typo🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️


__ADS_2