
Dengan tubuhnya yang juga polos, ia pun ikut berbaring di samping istrinya. Lalu di peluknya tubuh istrinya dengan erat.
Jam 3 dini hari, Aira terbangun.
Aira menggeliatkan tubuhnya, namun saat ia ingin bergerak. Tubuhnya terasa berat, dan ia pun menyadari bahwa malam ini ia tidak tidur sendirian melainkan dengan pangeran kucing besarnya.
"Aku masih gak percaya kalau saat ini kamu bener-bener di samping aku sayang, setelah perpisahan jarak kita ini. Aku gak mau di tinggal lagi, aku akan ikut kemana pun kamu pergi." Aira membelai wajah lelah yang di tumbuhi jambang halus itu dengan lembut. "Ternyata benar kata Dillan, bahwa rindu itu berat," sambungnya.
Tiba-tiba Raka menggeliat seperti anak kecil, Aira merasa malu jika ketahuan sedang memandangi wajah suaminya. Jadi ia memutuskan untuk pura-pura tidur.
Raka tersenyum melihat kelakuan Aira, pasalnya! Ia sudah bangun lebih dulu dari istrinya. Namun ia memilih memejamkan matanya, dan saat ia ingin tidur kembali. Istrinya malah terbangun dan membuat ia merasa kegelian.
"Hmm, masih mau pura-pura tidur atau mau ku tidurin sekarang?" Raka membalikan tubuhnya, dan kini tubuhnya di atas tubuh Istrinya.
Aira membuka matanya, sembari tersenyum manis. "Mandi dulu bentar yuk!" ajak Aira saat Raka ingin menciumnya.
"Kenapa mandi?" tanya Raka, tangannya sibuk membenahkan anak rambut istrinya yang menutupi wajah cantik itu.
"Biar seger, lagian mas kan belum mandi dari kemarin," kata Aira.
"Kamu mau mandi sambil main kayak orang-orang yang ada di film dewasa?" goda Raka.
"Ihhh.. Gak mau! Ini kan pertama kali kita ngelakuin nya. Jadi aku mau di tempat yang semestinya, bukan di kamar mandi!" sungut Aira.
"Iya iya, ya udah. Yuk mandi sekarang, keburu siang kan gak seru!" Raka langsung menggendong tubuh Aira kedalam kamar mandi.
Setelah itu, mereka berdua pun mandi bersama. Dan lima belas menit kemudian, Raka menggendong tubuh istrinya yang berbalut handuk. Ia baringkan tubuh mungil itu di atas Ranjang, dan di tariknya handuk yang menutupi tubuh istrinya. Kini tubuh Aira sudah polos tanpa sehelai benang pun.
Raka naik ke atas ranjang, lalu menindih tubuh istrinya. Tanpa aba-aba ia langsung menyerang wajah dan bagian lain tubuh istrinya.
Mereka mengecap bibir satu sama lain bahkan bertukar air liur.
Raka melepaskan lum4t4n itu saat keduanya hampir kehabisan oksygen.
"Sayang," lirih Aira.
"Hmm, kenapa?" tanya Raka sambil menatap wajah istrinya yang sayu, terlihat jelas bahwa Aira sudah sangat mengingkan yang lebih.
Tangan Aira menarik kepala suaminya dan menenggelamkan kepala itu di belahan dadanya.
Dengan penuh sensasi, Raka mulai memainkan pu7ing p4yud4ra istrinya. Bibirnya mulai m3nj!l4ti dan menyapu habis area bukit kembar itu.
"Ouh, Ayo Raka!" desah Aira yang semakin menggila.
Karena ia merasa gerakan suaminya begitu lambat, ia pun bangkit. Dan mendorong tubuh suaminya, dan kini posisi mereka dipimpin oleh sang Ratu.
"Sayang," Raka yang berada di bawah Kungkungan istrinya, mer3m4s dua bukit indah itu dengan lembut.
__ADS_1
Sedangkan Aira, kini mulai menjelajahi leher dan dada bidang suaminya. Hingga Raka yang merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan itu pun ikut mengeluarkan desahan dan lenguhan dari mulutnya.
"Uhh, sayang," lenguh Raka.
Aira turun dari atas tubuh Raka, dan kini ia mulai menggerayangi pusaka suaminya yang sudah hidup dan berdiri kokoh tidak seperti malam-malam saat mereka mencoba melakukannya dulu.
Dengan tidak sabaran Aira memainkan benda itu, ia seperti mendapat mainan kesukaannya. Di j!l4t nya bahkan di k*l*m nya benda itu.
Raka semakin mengerang dengan keras, ia sangat-sangat merasakan keanehan yang nikmat dalam dirinya.
Aira yang berada di bawah sana mempercepat gerakan permainannya. Dan setelah puas, ia kembali naik ke atas tubuh suaminya, dan hendak memasukan tongkat pusaka mak lampir itu kedalam goa miliknya.
Namun dengan cepat Raka menarik tubuh istrinya dan menggulingkan tubuh Aira kebawah tubuhnya.
"Biar aku sayang," bisik Raka di telinga istrinya.
Aira tersenyum lalu memejamkan matanya.
Raka mulai mengg3s3k4n tongkat mak lampir itu pada mulut goa istrinya dengan perlahan.
Pertama mencoba ia gagal, kedua masih juga gagal dan hentakan ketiga, akhirnya tongkat pusaka mak lampir itu menerobos pertahan goa Aira.
"Raka.." jerit Aira sambil mencengkram kuat rambut suaminya.
"Ouhh, lenguh Raka saat Aira menarik rambutnya dengan keras.
Kan satu sama🤭
Setelah cukup lama mereka bermain, tiba-tiba Aira memanggil Raka dengan lirih.
"Sayang, aku mau pipis udah gak tahan lagi," ucap nya.
"Pipis aja sayang, ini juga udah mau tumpah kok," kata Raka dengan mempercepat gerakannya.
Dan, tubuh keduanya sama-sama menegang.
Raka menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Aira, nafas keduanya tersengal-sengal.
"Terimakasih sayang," ucap Aira sambil kembalikan tubuhnya menghadap Raka.
"Aku yang berterimakasih, sudah menjaganya hanya untuk pria seperti ku," kata Raka dan juga ikut menghadapkan tubuhnya kepada sang istri. Dan kini mereka berdua saling berhadapan.
Raka tersenyum manis kepada istrinya, begitu juga dengan Aira.
"Mau lagi," goda Raka, dan Aira menggeleng. Raka menciumi wajah lelah istrinya bertubi-tubi.
Setelah itu mereka berdua bukannya mandi dan melaksanakan shalat subuh, namun malah asik bergelung dengan selimut.
__ADS_1
Hingga jam tujuh pagi pun mereka belum keluar kamar, semua orang yang berada di meja makan pun masih setia menunggu.
Melihat Dion yang sudah gelisah, karena takut telat ke kantor. Akhirnya mama Rina naik kelantai atas untuk memanggil anak dan menantunya.
"Tan, om, Dion sarapan di kantor aja ya. Nunggu Raka turun, mungkin sampe besok gak turun-turun. Dia lagi betah di kamar," ucap Dion sambil terkekeh "Lagian dia juga masih butuh istirahat," sambungnya.
"Mama panggil sebentar deh, kalian sarapan aja dulu," kata mama Rina lalu beranjak dari kursinya.
Sampai di depan kamar Raka dan Aira, mama Rina langsung mengetuk pintu kamar itu ber-ulang kali namun tetap tak ada jawaban. Tanpa ragu mama Rina memutar handel pintu dan ternyata tidak terkunci.
"Raka, Aira," panggil mama Rina sambil berjalan masuk.
Mama Rina sangat terkejut dan mata nya membulat sempurna saat melihat sepasang anak manusia yang tidur tidak beraturan di atas ranjang yang berukuran king size itu. Namun bukan masalah tidur mereka yang membuat mama Rina terkejut, melain kan kedua bocah itu tidur dengan tubuh polos seperti bayi yang habis mandi. Hanya sebagian tubuh mereka saja yang tertutup oleh selimut.
"Ya tuhan, apa salah dan dosa ku! Kenapa aku harus melihat kedua bayi besar ini, ohh mata ku, apakah aku akan buta setelah ini!" Mama Rina menutup lagi pintu itu dengan pelan, dan segera berlari menuju lantai bawah.
"Tante kenapa?" tanya Syakila yang melihat wajah mama Rina memerah dan nafasnya ngos-ngosan.
"Mama lihat bayi gorila di lantai atas," ucap mama Rina.
"Bayi gorila!" pekik Syakila, Dion dan pak Bambang bersamaan.
"Ehh, bukan bayi gorila tapi Raka dan Aira masih itu," ucap mama Rina sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ooo, Aira dan Raka." lagi-lagi ketiga orang itu bicara bersamaan.
"Ehh.. Tunggu dulu, jadi mama lihat mereka lagi gituan!" pak Bambang menautkan kedua jari telunjuknya.
"Iya, berarti sebentar lagi kita akan dapat cucu lagi pa," mama Rina kegirangan.
"Cucu lagi! Siapa tante?" tanya Dion.
"Anak kamu! Kan cucu mama dan papa juga," kata mama Rina sambil memutar bola matanya dengan malas.
"Yuk ma, kita bikin adik untuk Raka," kata pak Bambang. "Papa gak jadi ke kantor kalau gitu, masa kita kalah sama pasangan Aira dan Raka," kata pak Bambang tanpa malu sedikitpun pada Dion dan Syakila yang ada di hadapannya.
"Ihh, tua tua kok masih mesum aja," ejek Dion.
Pak Bambang mendelik mendengar ucapan Dion. Sedangkan mama Rina dan Syakila tergelak.
"Jadi sarapan enggak nih!" ketus Dion.
"Jadi dong, nunggu mereka bangun. Mungkin zuhur nanti baru melek," kata mama Rina. Duduk di kursi sebelah suaminya.
***Bersambung..!!
Maaf 🙏 up makin lama, sumpah lagi sibuk banget ini.
__ADS_1
Awas ada typo🏃♀️🏃♀️🏃♀️