
Saat isi piring nya sudah hampir habis, tiba-tiba suara seseorang menghentikan makannya.
"Kamu,,! Kenapa kamu kesini?!" teriak seseorang yang baru masuk kedalam rumah itu.
"Kila,,!" lirih Safira sambil meletakan sendok dan garpu yang ada di tangannya.
Sedangkan Raka dan Aira hanya diam saja.
Dengan perlahan, Syakila yang berjalan di papah oleh Dion mendekat ke arah meja makan.
"Saya tanya? Kenapa kamu kesini? Apa uang 300 juta yang kamu dan ibu kamu dapat, sudah habis?!" tanya Syakila berbondong-bondong.
"Kila, maafkan kakak," ucap Safira, melihat Syakila mendekati nya. Ia langsung bangkit dari duduknya.
"Maaf, apa maaf cukup untuk mengembalikan semuanya? Cukup untuk menebus luka di hati Aira? Mampu menebus semua kesalahan kamu dan ibu kamu pada mendiang paman INDRO DAN BIBI LISA," ucap Syakila panjang lebar dengan menekan nama alm kedua orang tua Aira.
Mendengar ucapan Syakila, Safira hanya bisa menangis. Begitupun Aira, mata Aira sudah mulai berkaca-kaca.
"Maaf, kakak menyesal. Kini kakak sudah mendapatkan karma yang pernah di ucpakan oleh dia," kata Safira sambil menunjuk Dion yang kini berada di belakang Syakila.
"Ya sudah, kalau kamu sudah mendapatkan karma nya. Nikmati saja, untuk apa kemari!" ketus Syakila.
"Saat ini, kakak sangat butuh bantuan mu, Kila. Tolong bantu kakak," ucap Safira dengan wajah memelas. "Saat ini ibu sedang di rawat di Rumah sakit jiwa," sambung Safira.
"Hahaha, trik apa pun tidak akan mau untuk menggoyahkan hati ku," ucap Syakila dengan tawa mengejek.
"Syakila, saat ini! Kakak mu sedang bersungguh-sungguh!" sahut Raka.
"Kak Raka, diam!" bentak Syakila pada Raka. "Ini urusan ku, biar aku yang selesaikan," sambungnya.
Raka langsung terdiam, begitupun dengan Dion. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Tolong lah, Kila! Hanya kamu harapan kakak satu-satunya," ucap Safira.
__ADS_1
"Enggak! Jangan berharap Saya akan bantu, kamu!" lagi-lagi Syakila berkata ketus kepada kakaknya.
"Demi ibu, Kila! Kakak tidak minta kamu membantu kakak, tapi tolong bantu ibu," Tiba-tiba Safira bersujud di kaki Syakila.
Syakila tetap cuek, lain dengan halnya Aira. Aira langsung mendekati Safira.
"Kak Fira, jangan seperti ini!" Aira mengangkat tubuh Safira yang bersimpuh di kaki Syakila.
"Jangan di bela dan di bantu, Aira!" teriak Syakila.
"Kamu keterlaluan, Kila!" bentak balik Aira. "Kak Fira manusia, gak sepantasnya kamu kayak gini," sambung Aira.
"Biar, Aira. Kakak akan lakukan apa pun, asal Syakila mau bantu biaya pengobatan ibu," kata Safira yang belum juga bangkit dari kaki Syakila.
"Sudahlah, kak Fira. Jangan seperti ini," ucap Aira yang ikut duduk di samping Safira.
"Kamu ini manusia bodoh! Mudah sekali di perdaya oleh manusia seperti dia," kata Syakila.
Raka dan Dion terkejut mendengar Aira berbicara keras, karena selama bersama. Aira tidak berbicara kasar ataupun keras.
"Kalau kamu gak mau bantu, kak Fira. Ya udah! Tapi jangan perlakukan dia seperti manusia hina, bagaimana jika seandainya kamu yang ada di posisi dia saat ini!" Aira bangkit sambil menarik tangan Safira. Dan kini Aira menunjuk-nunjuk wajah Syakila.
"Aku gak habis fikir sama kamu, hati kamu terbuat dari apa sih?" tanya Syakila dengan santai namun tatapannya seakan ingin menerkam mangsanya.
"Dia manusia, kamu manusia dan aku juga manusia! Kita semua manusia yang pernah buat kesalahan, dan disini, kak Fira yang bersalah. Tuhan udah kasih teguran dan hukuman, dan gak sepantasnya kita ikut ngehukum dia!" teriak Aira dengan suara bergetar.
"Sayang, sudah!" Raka mendekati dan menarik Aira kedalam pelukannya.
"Syakila, jahat!" Tiba-tiba Aira menangis di pelukan Suaminya.
Syakila menundukkan kepalanya, "Aira! Maafin aku," ucap Syakila "Tapi aku bener-bener gak bisa bantu Dia," sambung Syakila sambil menunjuk Safira yang diam mematung di tempatnya.
"Kila, udah cukup! Jangan seperti ini," ucap Dion dengan lembut.
__ADS_1
"Udah deh, mas! Gak usah ikut belain dia juga," kesal Syakila.
Dan kini, Raka yang membuka pembicaraan.
"Besok, aku dan Aira akan ikut ke Lampung. Kita akan membawa ibu kamu berobat kesini," ucap Raka.
Aira yang berada di pelukan suaminya itu langsung mendongakkan wajahnya. "Kamu serius sayang?" tanya Aira.
"Buat kamu dan anak kita, aku akan lakuin apa pun." timbal Raka sambil tersenyum.
"Terimakasih, tuan! Terimakasih!" Safira kembali bersujud, namun bukan pada Syakila, melainkan pada Raka.
"Ka, Besok Aira gak usah ikut. Biar aku yang nemenin kamu ke Lampung!" tiba-tiba Dion ikut berbicara.
"Kamu apa-apaan sih! Malah ikut bantuin dia!" Syakila semakin kesal, lantaran suaminya ikut membela Safira.
"Kita juga manusia, kita juga pernah bikin kesalahan. Dan sebagai manusia, kita harus saling tolong menolong," ucap Dion sambil menggenggam tangan Syakila.
"Terserah kalian deh! Yang pasti, aku gak akan maafin dia!" ketus Syakila.
Setelah itu, Syakila berjalan perlahan menuju lantai atas. Meninggalkan semua orang yang ada di ruangan makan itu.
"Kila, mau kemana?" tanya Dion.
"Mau ke atas lah! Tidur, aku kan capek," ucap Syakila tanpa menoleh.
"Gak punya malu ihh," ucap Dion.
"Kenapa malu? Di atas kan ada kamar ku!" timbal Syakila.
"Iya-iya, percaya yang punya kamar," ucap Dion sambil tersenyum manis.
"Sana, kamu pulang! Aku gak mau pulang!" Usir Syakila pada suaminya.
__ADS_1