Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Episode 40


__ADS_3

Setelah puas memandangi wajah Dion yang pura-pura terlelap. Syakila menuju dapur dan hendak memasak untuknya makan bersama dengan Dion.


Karena memang dari siang mereka belum makan apa pun.


Setengah jam kemudian, masakan Syakila sudah selesai. Dia pun menghidangakannya di atas meja, setelah itu ia menuju kamar hendak membangunkan Dion.


Saat sampai di depan kamar ternyata Dion sudah bangun dan duduk di tepi ranjang.


"Oo, udah bangun," kata Syakila.


"Iya, maaf aku tidur di sini tanpa izin sama kamu," ucap Dion.


"Gak papa, ayo cuci muka udah itu kita makan," kata Syakila "Aku udah masak," sambungnya lalu berjalan kedapur meninggalkan Dion yang masih duduk di tepi ranjang itu.


Tak lama, Dion pun datang kemeja makan. Saat iya hendak mendaratkan bokong nya di salah satu kursi, tiba-tiba Syakila mencegahnya.


"Stop!" teriak Syakila.


"Kenapa?" tanya Dion dengan heran.


"Cuci muka dulu! Jangan jorok," kata Syakila sambil mendelikkan matanya.


"Haiss,,! Iya-iya aku cuci muka," kata Dion hendak berjalan menuju kamar mandi "Belum jadi istri aja cerewet dan galak apa lagi kalau udah jadi istri, bisa-bisa aku di cekik dan di gantung," gerutu Dion yang masih bisa di dengar oleh Syakila.


"Apa? Mau ku cekik terus ku gantung sekarang!" bentak Syakila.


"Enggak-enggak," kata Dion segera berlari ke kamar mandi.


Setelah itu, mereka berdua menikmati makan sore yang sudah hampir malam itu dengan tenang.


Tak lama setelah makan, Dion segera menyuruh Syakila bersiap untuk pergi kerumah Orang tua Dion.


"Keong, bersiaplah! Kita harus segera berangkat. Nanti malah kemalaman," kata Dion


"Tunggu bentar ya, aku mau ganti baju sebentar," ucap Syakila lalu setelah itu dia pergi menuju kamarnya.


Dion duduk manis di sebuah kursi yang terbuat dari rotan dengan memainkan ponselnya.


Tiba-tiba iya teringat dengan ucapan Raka untuk segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Aira.


"Oiya, aku lupa. Raka kan meminta ku untuk mencari tahu penyebab terlukanya tangan Aira," guman Dion "Kalau begitu! Aku harus bertanya pada Syakila." sambungnya.


Beberapa saat kemudian, Syakila keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi.


"Ayo pak tua!" ajak Syakila.


Dion dan Syakila pun segera berangkat menuju kediaman orang tua Dion.


Di dalam mobil.


"Keong! Aku ingin bertanya," ucap Dion memecah keheningan.

__ADS_1


"Tanya apa?" tanya Syakila.


"Tapi jawab jujur ya, karena jika kamu gak jujur. Hal ini bisa lebih membahayakan lagi untuk orang lain," kata Dion lalu menepikan mobilnya.


"Tanya apaan sih?" tanya Syakila yang penasaran.


"Kata dokter tadi pagi apa?" tanya Dion yang sukses membuat raut wajah Syakila berubah.


"Aku gak tahu! Dan dokter gak bilang apa-apa ke aku." timbal Syakila dengan gugup.


"Jangan bohong! Aku tahu semuanya," ucap Dion sambil menatap mata Syakila. "Kalau kamu gak mau bilang, aku dan Raka gak akan bisa nyelesaiin masalah ini." sambungnya.


Syakila nampak menimbang-nimbang ucapan Dion.


"Benar juga kata pak tua, aku dan Aira gak akan bisa ngatasin ini sendirian. Bukan cuman kang Parmin yang jadi korban, bisa jadi semua orang yang ada di rumah itu," ucap Syakila dalam hati.


"Syakila?" panggil Dion.


"Ehh iya,, Aku bakal cerita. Tapi jangan bilang ama Aira ya," ucap Syakila.


"Iya aku janji gak akan bilang," ucap Dion sambil mengarahkan jari kelingkingnya.


Syakila menceritakan semua yang di ucapkan dokter spesialis tadi pagi padanya kepada Dion.


Mata Dion membulat sempurna mendengar penjelasan Syakila.


Ia tidak menyangka jika Intan akan berbuat sekeji itu.


"Intan! Ternyata wanita itu sangat keji!" geram Dion. "Tapi apa tujuannya hingga dia ingin menghabisi keluarga Raka?" ucap Dion bertanya-tanya.


"Bisa jadi," ucap Dion.


"Ya udah! Kita jalan lagi, udah makin malem ni. Besok kan kita bisa bicara in ini sama Raka," kata Syakila "Tapi Aira jangan di kasih tahu ya, aku takut bakal bikin dia syok lagi kayak sebelum-sebelumnya." sambung Syakila dan di angguki oleh Dion.


Setelah itu, Dion kembali melajukan mobilnya.


Tak terasa, mereka berdua telah sampai di depan rumah orang tua Dion. Rumah sederhana yang sudah cukup tus. Namun cukup Asri, karena banyak pepohonan dan tumbuhan hijau lainnya di sekitar rumah itu.


Bukan karena tidak mampu membeli rumah mewah untuk di tempati keluarga Dion. Namun ayah dan ibunya tidak pernah mau di ajak pindah dari rumah sederhana itu oleh Dion. Alasan kedua orang tuanya adalah rasa nyaman mereka hanya ada di rumah tua itu dan tidak akan tergantikan oleh rumah mewah atau hal lainnya, di situlah pasangan paruh baya itu memulai kebersamaan mereka, hingga lahirlah Dion sampai Dion besar dan dewasa seperti saat ini.


Sampai di depan pintu.


Tok tok tok.


"Asalamualaikum bu, ayah," ucap Dion dengan Syakila di sampingnya.


"Waalaikum salam!" sahut bu Yanti dari dalam "Baru pulang? Ayo masuk nak," sambung bu Yanti ibunya Dion.


Syakila mengekori Dion.


"Keong, jangan ngikutin aku. Jalan sendiri gih," kata Dion.

__ADS_1


"Aku takut, sebenarnya ibu sama ayah kamu mau ngomong apa sih?" tanya Syakila.


"Udah tenang, paling juga dia nyuruh kita menikah," ucap Dion, mulut Syakila langsung menganga mendengar ucapan Dion.


"Me-menikah, kok cepat sekali ya," ucap Syakila dengan gugup.


"Kamu tinggal jawab sesuai yang ada di dalam hati kamu," kata Dion sambil menunjuk tepat di hati Syakila.


Diam-diam pak Budi ayahnya Dion memperhatikan mereka berdua dari jarak yang lumayan dekat.


Ia pun tersenyum kecil melihat kegugupan yang sedang melanda Syakila.


"Kalian belum makan kan?" tanya ibu Yanti.


"Sudah bu, tadi kak Dion dan Syakila udah makan di kontrakan." timbal Syakila dengan jujur.


"Oo, ya sudah kalau begitu, ibu bikin minum sebentar. Kalian berdua pergi lah ke ruang tengah, ayah sudah menunggu kalian," kata bu Yanti.


Dion dan Syakila kini tengah duduk bersebalahan di sofa ruang tengah dan berhadapan dengan pak Budi.


Tak lama bu Yanti datang dengan nampan berisi teh dan juga cemilan.


"Ini, minum dulu teh hangat nya. Biar badannya gak dingin," ucap bu Yanti sambil meletakan nampan itu di meja.


"Ia bu, Syakila jadi ngerepotin ibu," kata Syakila.


Setelah itu keheningan menyelinap di ruangan itu.


Tiba-tiba Pak Budi memulai pembicaraan.


"Dion, Syakila!" kata pak Budi.


"Iya ayah / Iya om," timbal Dion dan Syakila bersamaan.


Pak Budi tersenyum melihat kekompakan dua sejoli mickey mouse itu.


"Bagaimana hubungan kalian?" tanya pak Budi.


"Baik yah, sejauh ini malah semakin baik dan kami semakin dekat." timbal Dion jujur.


"Benar Syakila?" tanya pak Budi pada Syakila.


"Benar om." timbal Syakila.


"Kalau begitu! Kapan kalian akan menikah?" tanya pak Budi.


Dan benar saja, hal itu membuat Syakila melototkan matanya. Mungkin kalau bola matanya adalah bola mata pasangan atau buatan China dan jepang. Bola mata itu akan keluar dari tempatnya bersemayam.


***Bersambung..!!


Mohon maaf, jika cerita ini monoton menurut kalian. Sebenarnya othor sudah mau bikin Raka sembuh dari penyakitnya, tapi kayaknya waktunya gak tepat. Bulan ramadan masa othor bikin mereka Nganu. Nanti othor sebagai penulis jadi dosa dong, Iya kalau kalian bacanya malam. Lah kalau siang? Kan othor ikut nanggung dosa🤭🤭🤭

__ADS_1


Jadi mohon bersabar nunggu ya..!!


Happy reading..!! 😘😘😘***


__ADS_2