
Malam hari setelah makan malam keluarga pak Bambang selesai. Raka sengaja mengatakan pada pak Bambang, bahwa dia ingin semua orang yang ada di rumah itu termasuk para penjaga dan juga Art yang bekerja di rumah itu.
"Pa, ada sesuatu yang ingin Raka beritahukan pada semua," ucap Raka sambil melirik mamanya yang sedang berbincang dengan Intan.
Pak Bambang mengeryitkan dahinya, pak Bambang bingung dengan putranya yang nampak sangat serius. "Ada apa Raka? Sepertinya ada hal yang sangat penting, sehingga harus mengumpulkan semua penghuni rumah ini." kata pak Bambang.
"Nanti juga papa akan tahu." timbal Raka "
"Ya sudah kalau begitu, papa mau istirahat sebentar," ucap pak Bambang lalu beranjak duduknya dan berjalan menuju ruang tengah.
Setelah kepergian pak Bambang, Raka memanggil mbok Ani.
"Mbok," panggil Raka.
"Iya den, ada apa?" tanya mbok Ani.
"Tolong mbok bilang sama mang Jajang dan kang Parmin. Nanti jam delapan tolong berkumpul sebentar di ruang tengah." kata Raka.
"Iya den, mbok akan bilang sama mereka. Oiya den, bagaimana keadaan non Aira?" tanya mbok Ani
.
"Sudah mbok, tapi saya belum izinkan dia bertemu dengan orang lain dulu." timbal Raka.
"Oh syukurlah, mbok pamit dulu untuk memberitahu mang Jajang dan kang Parmin ya den," ucap mbok Ani.
Raka pun menganguk, setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk menemui istrinya.
Sesampainya di kamar, "Sayang," panggil Raka dengan lembut pada Aira.
"Ada apa Raka?" tanya Aira sambil mendongakkan wajahnya.
"Besok akan ada seseorang yang akan mengobati ketakutan mu, " ucap Raka "Ku mohon kau jangan takut saat bertemu orang itu." sambungnya.
"Akan akan mencoba menghilangkan rasa takut yang ada dalam diriku ini Raka, aku akan berusaha," ucap Aira dengan lirih
"Ya sudah, sekarang kau istirahatlah." kata Raka lalu mencium kening Aira dengan lembut.
Aira mengangguk, lalu membaringkan kembali tubuhnya di ranjang itu. Raka pun menyelimuti tubuh Aira hingga sampai keleher dan hanya kepala Aira yang terlihat.
"Tidur ya istriku yang cantik," ucap Raka sambil mengacak-acak rambut Aira dengan gemas.
"Raka, temani aku. Aku ingin di peluk," ucap Aira dengan manja.
Raka melihat jam di pergelangan tangannya. Jam menunjukan pukul tujuh, Iya pun menemani Aira terlebih dahulu sebelum membicarakan hal penting itu kepada semua penghuni rumah.
Di peluknya tubuh Aira dengan erat, hanya butuh waktu lima belas menit. Aira sudah tidur dengan nafas teraturnya.
Di pandanginya wajah Aira dengan intens, lalu iya tersenyum.
__ADS_1
"Kau adalah bidadari ku Aira, aku tidak tahu apa jadinya hidupku yang hampa ini tanpa kehadiran mu," lirih Raka sambil membelai wajah Aira yang sudah damai menyelami alam mimpi. "Kau adalah mahluk terindah yang tuhan kirimkan untuk ku, untuk melengkapi kekurangan yang aku miliki." sambungnya.
Tak terasa hampir satu jam Raka memandangi wajah istrinya.
Hingga kini jam sudah menunjukan pukul delapan malam, Iya pun memutuskan untuk turun dan menemui seluruh penghuni rumah itu di ruang tengah.
"Raka, apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan sayang?" tanya mama Rina.
"Iya Raka, jangan bilang kamu mau menceraikan istrimu yang sakit jiwa itu." kata Intan.
"Jaga ucapan mu Intan!" bentak Raka, intan pun langsung terdiam. "Asal kalian tahu, aku sudah tahu semua yang telah kalian lakukan terhadap istriku!" sambung Raka dengan geram.
"Apa maksudnya ini semua Raka?" tanya pak Bambang yang tidak mengetahui apa-apa.
"Asal papa dan semua penghuni rumah ini tahu! Yang sudah menyebabkan Aira menjadi histeris seperti itu adalah mama dan Intan." kata Raka dengan wajah memerah karena menahan gejolak emosi yang ada di dalam dadanya. "Mama dan Intan membayar preman untuk menakut-nakuti Aira, karena mereka tahu bahwa Aira mengalami trauma." sambung Raka dengan menatap tajam pada mamanya dan juga Intan.
Mama Rina dan Intan yang mendengar ucapan Raka langsung gelagapan.
"Maksud kamu apa Raka?" tanya mama Rina pura-pura tidak mengerti.
"Jangan pura-pura lagi mah, Raka tahu semua," ucap Raka
"Intan, Mama! Apa benar yang dikatakan oleh Raka?" tanya pak Bambang dengan Intonasi tinggi.
"Bohong om, Intan dan tante Rina gak pernah bayar preman buat nakut-nakutin Aira. Kami gak tahu apa-apa." timbal Intan berbohong.
"Oo, jadi mama dan Intan gak mau ngaku! Oke gak masalah," ucap Raka lalu iya mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo," ucap Raka
"Iya!" sahut orang di sebrang telpon.
"Bawa ketiga preman itu kemari," ucap Raka lagi.
"Oke, tunggu sebentar." setelah itu sambungan telpon itu terputus.
Lima menit kemudian, masuk lah Dion dan tiga orang pria berbadan besar kedalam rumah itu.
Mama Rina dan Intan yang melihat ketiga preman yang di bayar oleh mereka sudah bersama dengan Dion, menjadi semakin takut.
"Kalian katakan siapa yang telah membayar kalian untuk menakut-nakuti istri saya?" bentak Raka
Ketiga preman itu menunjuk Intan dan mama Rina bersamaan.
Pak Bambang yang mengetahui hal buruk yang di lakukan oleh istrinya langsung naik pitam.
Iya mendekat pada Istrinya dan Intan, dan langsung saja.
Plak,, Plak,,
__ADS_1
"Kalian berdua keterlaluan!" bentak pak Bambang.
"Yang keterlaluan itu perempuan kampung itu pa," ucap mama Rina dengan intonasi yang sama tingginya dengan pak Bambang sambil memegangi pipinya
"Apanya yang keterlaluan? Bahkan dia tidak pernah menggangu mama," ucap pak Bambang.
"Dengan datangnya dia di kehidupan Raka, itu berarti menggangu pa. Dia itu gak selevel sama kita, keluarganya aja kita gak tahu dimana dan siapa." timbal mama Rina.
"Mama harus minta maaf pada Aira sekarang juga," ucap pak Bambang lagi.
"Mama gak mau." timbal mama Rina.
Kini pak Bambang beralih pada Intan yang diam mematung di tempatnya. "Dan kamu Intan! Kamu tinggalkan rumah ini sekarang juga!" tegas pak Bambang.
"Tapi om," ucap Intan terpotong.
"Tidak ada tapi-tapian." kata pak Bambang. "Saya tidak ingin ada keributan lagi di rumah ini." sambungnya dengan mimik wajah datar.
"Kalau Intan pergi dari rumah ini, mama juga akan ikut pergi!" ancam mama Rina.
"Oo silahkan, tiga langkah mama keluar dari rumah ini jangan harap mama bisa kembali." kata pak Bambang "Ingat! Mama tidak boleh membawa apa-apa." sambung pak Bambang dengan serius.
Mama Rina menghentikan langkahnya. Badannya melemas seketika. Lalu kesadarannya hilang dan tubuhnya ambruk begitu saja dan tergeletak di lantai.
"Pa, mama pingsan," ucap Raka pada pak Bambang.
Pak Bambang pun membalikan badannya menghadap pada istrinya.
Bukannya mendekat pak Bambang malah melangkah menuju anak tangga. Dan sebelum benar-benar pergi dari ruang tengah itu, dia mengatakan pada Raka dan semua orang yang ada disana.
"Jangan sentuh mama mu Raka, biarkan mbok Ani, mang Jajang dan kang Parmin yang nengurusnya!" tegas pak Bambang.
Setelah itu pak Bambang pergi menuju kamarnya, Dia benar-benar tidak meyangka atas tindakan buruk yang di lakukan oleh istrinya.
***Bersambung..!!
Sekedar bocoran ya.
Raka menderita penyakit Impoten atau dengan kata lain adalah impotensi yaitu penurunan gairah atau juga bisa di sebut lemah syah'wan.
Orang yang menderita impotensi biasanya akan sulit untuk mempertahankan ereksi.
Nah! segitu dulu ya, untuk penyebab penyakit itu bisa di derita oleh Raka. Othor akan bongkar di episode-episode berikutnya.
Jadi simak terus ya cerita othor dan jangan lupa tinggalkan jejak agar menjadi pembaca yang baik..!!
Buat hari ini othor up dua bab ini dulu ya..!!
Bye-bye 😘😘😘***
__ADS_1