Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Episode 22


__ADS_3

"Tidak usah gugup seperti itu, dan tidak usah putuskan sambungan telponnya, tunggu sebentar lagi. Aira tidak lama." jelas Raka.


"Baiklah," kata Syakila dengan cengir khasnya.


Dua menit kemudian, Aira keluar dari kamar mandi.


"Sayang, ini sepupu kamu nelpon," kata Raka sambil mengarahkan kamera ponsel itu ke wajah Aira.


"Syakila," panggil Aira.


"Aira," panggil Syakila.


Mata mereka berdua pun berkaca-kaca.


"Maafkan aku Kila, selama ini aku melupakan mu tidak pernah menghubungi ataupun memberi kabar," ucap Aira.


"Sudah lah, don't worry. Aku menelpon mu bukan untuk menangis seperti itu, aku ingin melihat keadaan mu. Lebih baik dari saat di sini atau malah semakin buruk dari kemarin." Kata Syakila sambil menghapus Air matanya yang juga menetes.


"Kau bilang jangan menangis, tapi kenapa paralon mu bocor juga." timbal Aira "Aku di sini jauh lebih baik, lihatlah aku memiliki suami yang tampan dan sangat mencintai ku." sambung Aira sambil memeluk lengan Raka.


"Dimana sekarang kau tinggal?" tanya Syakila.


"Aku tinggal di Jakarta tepatnya di kawasan perumahan X." timbal Aira.


"Apakah aku boleh kesana untuk menemui mu?" tanya Syakila kemudian.


"Tentu, aku juga akan senang jika kau mau menemani ku di sini," kata Aira.


Raka tersenyum melihat istrinya yang tampak sangat bahagia.


"Aku senang melihat mu tersenyum seperti itu Aira, seperti tak ada beban di hati mu," ucap Raka dalam hati "Tuhan, jangan pisahkan aku dengan Bidadari seperti Aira, aku tidak tahu apa jadinya aku tanpanya." sambungnya lagi.


Setelah lama berbincang, akhirnya Aira mematikan sambungan panggilan Video itu.


Aira memeluk erat tubuh Raka. Wajahnya di hiasi senyum yang berseri-seri.


"Kau bahagia sayang," ucap Raka sambil membelai rambut hitam dan panjang yang tergerai itu.


"Aku sangat bahagia Raka, jika suatu saat nanti malaikat menanyai aku di alam kubur Siapa orang yang berarti di dalam hidup, aku akan menjawab Kedua orang tua ku, suami ku dan juga Syakila ku." kata Aira sambil mendongakkan wajahnya pada wajah Raka.


"Lalu bagaimana dengan papa dan Dion?" tanya Raka sambil menyipitkan matanya.


"Kak Dion dan papa juga, tapi kan prioritas dan yang utama dalam hidup ku adalah kalian." timbal Aira.


"Hahaha, kau tidak sayang juga pada mbok Ani?" tanya Raka lagi dengan tertawa, karena ke isengannya di tanggapi ole Aira.


"Sayang dong," ucap Aira

__ADS_1


"Lalu mang Jajang dan kang Parmin?" tanya Raka lagi


"Sayang juga." timbal Aira


"Kalau Mama?" tanya Raka lagi dan lagi


"Sayang lah, walaupun mama tidak mau menyayangi ku. Aku tetap sayang dan ingin menghormatinya, aku yakin suatu saat nanti dia akan menerimaku sebagai menantunya." timbal Aira


"Kalau dengan Briyan?"


"Sa-," ucapan Aira terhenti, iya merasa bahwa Raka hanya mengerjainya. "RAKA,,!!" teriak Aira dengan kencang lalu menggelitiki perut Raka.


"Ah, ampun sayang jangan menggelitiki ku. Aku tidak tahan lagi, nanti aku pingsan bagaimana?" kata Raka dengan menggeliat kan badannya kesana kemari kerana geli.


"Tidak, biarkan saja kau pingsan. Kau nakal tega sekali mengerjai ku," ucap Aira masih dengan menggeliti perut Raka.


Sesaat kemudian Raka menangkap tubuh Aira. Raka kembalikan posisi, kini Iya yang menggelitiki perut Aira.


"Maafkan aku Raka, tolong jangan seperti itu, Hahaha," ucap Aira dengan tawa yang tak henti-hentinya.


Karena Raka tak henti-hentinya dan terus saja menggelitikinya. Akhirnya Aira menahan rasa geli itu dan pura-pura pingsan.


Melihat Aira yang tidak bergerak lagi, Raka pun menghentikan Aksinya.


"Aira, kau kenapa?" tanya Raka


"Aira, bangun sayang. Maafkan aku," ucap Raka lirih sambil menepuk-nepuk pipi Aira.


Karena Aira tidak memberi respon Apa-apa, Akhirnya dengan panik Raka beranjak dari ranjang hendak menghubungi dokter.


Saat Raka turun dari ranjang dan berdiri mengambil ponselnya, tiba-tiba Aira bangkit dan memeluk Raka dari belakang.


"Sayang," ucap Aira sambil menempelkan kepalanya di punggung Raka.


"Kau mengerjai ku sayang," ucap Raka sambil membalikkan tubuhnya ke arah Aira.


"Satu sama," ucap Aira. Lalu dengan lembut Aira mencium bibir Raka sekilas.


Raka menatap manik mata Aira, terpancar keinginan besar disana.


"Kau menginginkannya sayang?" tanya Raka


"Tidak." timbal Aira cepat


"Kau tidak pandai berbohong," ucap Raka


"Aku, a-ku," ucapan Aira terhenti, karena Raka tahu apa yang di inginkan Aira.

__ADS_1


Tanpa Aba-aba Raka langsung menarik cengkuk leher Aira. Lalu di ciuminya bibir Aira dengan lembut.


Perlahan Aira membalas ciuman itu, setelah lama berciuman. Raka segera membopong tubuh Aira ke atas ranjang.


Raka memulai menciumi leher Aira, Aira pun mendesah nikmat atas perlakuan lembut Raka.


Raka berbisik di telinga Aira "Maafkan aku sayang, karena ketidak sempurnaan ku ini kau harus melakukannya sendiri." lirih Raka


"Tidak apa-apa Raka, kau sudah mau membantu ku melangsungkan Ereksi ku saja aku sudah sangat bahagia." timbal Aira.


Setelah lima belas menit Aira melakukannya dengan bantuan jemari dan rangsangan dari adanya Raka, akhirnya Aira mencapai puncak klimaksnya.


Raka mencium pucuk kepala Aira, setelah itu Aira menduselkan kepalanya di dada Raka.


"Terimakasih sayang," ucap Aira sambil menulis asal di dada Raka menggunakan jari telunjuknya.


"Maafkan aku, membuat mu terbelenggu gairah seperti ini," ucap Raka dengan raut wajah kecewa.


Namun jelas bukan kecewa pada Aira, melainkan pada dirinya sendiri. Iya merasa sebagai seorang pria sangatlah tidak berguna karena untuk memberikan nafkah batin pada istrinya saja tidak mampu.


"Aira, aku mau bertanya?" kata Raka


"Tanya apa?" kata Aira sambil mendongakkan wajahnya.


"Apakah kau pernah punya kekasih?" tanya Raka dengan wajah serius


"Tidak pernah." timbal Aira "Aku tidak pernah berpacaran, waktu ku selalu tersita untuk belajar dan belajar, karena aku ingin membuat ayah dan ibu ku bangga. Namun saat aku sudah memasuki semester akhir di pendidikan SMA ku, ayah dan ibu mengalami kecelakaan dan meninggal. Setelah kematian ayah dan ibu, seluruh harta yang di miliki oleh ayah di ambil alih oleh Bibi ku yaitu ibunya Syakila, jadi aku tidak bisa melanjutkan pendidikan ku, hanya sampai aku lulus SMA saja." jelas Aira.


"Jahat sekali bibi mu itu, suatu saat dia akan mendapat kan karma sebagai balasan," ucap Raka dengan geram.


"Sudahkah, ayo kita mandi. Sebentar lagi papa pulang dan aku ingin memasak untuknya agar dia makan dengan banyak," kata Aira, lalu Aira menarik paksa Raka menuju kamar mandi.


***


Ibu Wati dan Safira mendengar pembicaraan Syakila dan Aira di telpon. Dan mereka juga sudah tahu di mana Aira tinggal. Rencananya mereka akan menjemput paksa Aira dan menikahkan Aira dengan Rentenir tua tempat mereka berhutang.


"Benarkan ibu bilang, Syakila senang seperti itu pasti ada hubungannya dengan Aira," ucap bu Wati pada Safira


"Iya bu, jadi gimana?" tanya Safira


"Kita susul dia ke jakarta esok lusa, dan kita bawa dia dengan paksa." timbal bu Wati


"Ide bagus tu bu, lagian sekalian kita jalan-jalan," ucap Safira dengan antusias


Setelah itu, dua macam betina itu pergi dari depan kamar Syakila.


***Bersambung..!!

__ADS_1


Happy reading๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜***


__ADS_2