Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Episode 33


__ADS_3

Syakila memakan makanannya dengan sangat lahap. Dan hal tersebut tak lepas dari pandangan Seseorang yang tak jauh dari mereka.


Orang itu tersenyum simpul melihat kebersamaan sepasang manusia yang tak lepas dari pandangannya.


Disaat Dion dan Syakila baru memulai untuk meyantap makanan mereka.


Tiba-tiba saja ada tiga anak kecil yang berlari dan menabrak meja Dion dan Syakila.


Dubrak..!


"Aduh, sakit," rintih salah seorang anak laki-laki yang berlari dan menabrak meja itu.


"Haduh! Kalian bertiga ini, kan udah di bilangin jangan lari-lari," kata seorang wanita yang mengikuti tiga anak laki-laki itu. "Maaf ya, makan mbak dan mas nya jadi terganggu," sambung wanita itu.


"Gak papa mbak," ucap Syakila sembari tersenyum lalu mengangkat anak kecil yang merintih itu sambil memegangi sikutnya. "Mbak momong apa gimana? Kok bawa anak tiga orang kedalam cafe yang ramai seperti ini?" sambung Syakila bertanya pada wanita itu.


"Maaf sekali lagi ya mbak, saya mau ngatar anak teman saya yang kerja di sini. Dan yang kembar ini anak saya," ucap wanita itu.


Orang yang sedang memperhatikan Dion dan Syakila pun berlari mendekat.


"Ya allah Bian, kamu ngapain kesini," ucap wanita yang menghampiri anak kecil yang sedang di pegang oleh Syakila.


"Maafin Bian bu, Bian pengen sama ibu," ucap anak itu yang tak lain adalah anak Cindy.


"Cindy," ucap Dion angkat bicara setelah melihat bahwa ibu anak itu adalah Cindy orang yang di kenalnya.


"Dion, maafin anak ku ya. Udah ganggu ketenangan kalian berdua," kata Cindy sambil menatap Dion dan Syakila bergantian.


"Gak papa kok, lagian kan dia masih kecil," ucap Dion sambil memegang kepala Bian.


"Pak tua! Dia siapa?" tanya Syakila


"Oh, kenalin mbak, saya teman lamanya Dion!" sahut Cindy sambil mengulurkan tangannya pada Syakila. Iya tak mau Syakila jadi salah paham dengan dirinya.


"Syakila," ucap Syakila sambil membalas uluran tangan itu.


"Pacar kamu ya Yon?" tanya Cindy dengan senyum manisnya.


"Iya, dia calon istri ku. Sepupunya istri Raka." timbal Dion.


Syakila yang mendengar ucapan Dion, membulatkan matanya.


"Oiya, kenalin ini mbak Yana. Tetangga aku, dia juga yang sering jagain Bian kalo aku kerja," kata Cindy memperkenalkan mbak Yana pada Dion dan Syakila.


"Mbak kerja, lah suami mbak kemana?" tanya Syakila tiba-tiba hingga membuat raut wajah Cindy berubah seketika.


"Suami saya kerja di luar negeri mbak." timbal Cindy berbohong.


"Oo gitu," kata Syakila. "Oiya, aku boleh bawa anak kamu enggak? Nanti sore aku antar kesini lagi," sambung Syakila.

__ADS_1


"Tapi mbak," ucap Cindy dan langsung di potong oleh Bian, anaknya sendiri.


"Bian mau ikut tante sama om," kata Bian


Dan Cindy pun menatap Dion, namun Dion diam saja tidak berekspresi apapun.


"Sayang, gak usah ikut om sama tante ya," bujuk Cindy "Besok kalau Ibu libur kerja, kita jalan-jalan ke taman," sambung Cindy lagi.


"Ahh, Ibu mah bohong. Dari kemarin katanya mau jalan-jalan kalau libur, tapi sampe sekarang gak pernah lagi ajak Bian main," ucap Bian sambil memonyongkan bibirnya.


"Ya udah, biar Bian ikut sama aku dan Syakila. Entar sore kami antar lagi kesini," kata Dion dengan wajah dingin.


Jujur, sebenarnya Dion tidak ingin dekat dengan Cindy apa lagi anaknya. Karena hal itu membuat dia ingat kembali dengan masa lalunya.


Mungkin untuk menyapa Cindy itu masih bisa iya lakukan. Tapi untuk mengajak anaknya main atau jalan-jalan hal itu sama sekali tidak pernah terfikir oleh Dion.


"Ya udah, Bian jangan nakal ya kalau ikut om Dion dan tante Syakila," ucap Cindy pada anaknya.


"Iya, Bian janji gak akan nakal." timbal Bian.


Setelah itu, Dion dan Syakila pun pergi meninggalkan cafe itu dengan membawa Bian bersama mereka.


Selepas kepergian Dion, Syakila dan Bian. Cindy berterimakasih kepada mbak Yana.


"Makasih ya mbak, udah repot-repot nurutin maunya Bian," ucap Cindy.


"Kamu ini selalu ngomong gitu! Kayak sama siapa aja sih," kata mbak Yana "Oiya, laki-laki itu tadi siapa? Apa ayahnya Bian?" sambung mbak Yana.


"Hee, kirain," ucap mbak Yana "Ya udah, mbak sama si kembar pulang dulu ya." sambung mbak Yana, setelah itu dia pun mengajak anak kembarnya pulang.


***


Dret dret dret. Getar ponsel seseorang.


"Hallo mom," ucap Intan.


"Gimana? Apa kamu udah mulai Rencana kita kemarin?" tanya mommy Susi yang ada di seberang telpon.


"Belum mom, waktunya gak tepat. Ini si nenek peyot malah sakit," kata Intan.


"Mommy gak mau dengar alasan apa pun dari kamu lagi ya, mommy mau kamu laksanain tugas yang mommy kasih ke kamu," tegas mommy Susi.


"Iya iya mom, bakak Intan laksanain." timbal Intan.


"Mommy tunggu kabar baik dari kamu, jangan pernah pulang sebelum kamu berhasil meyingkirkan salah satu dari mereka," kata mommy Susi.


"Iya mom, udah dulu entar ada yanf denger malah bahaya." timbal Intan lalu mematikan sambungan telpon itu.


"Dasar, semua orang tua suka seenaknya. Nyuruh-nyuruh semau mereka," gerutu Intan pada ponselnya.

__ADS_1


"Siapa yang harus aku singkirkan terlebih dahulu!" Intan nampak berfikir.


***


Dion mengajak Syakila dan Bian jalan-jalan ke pantai yang tidak jauh dari daerah itu.


Syakila dan Bian nampak sangat senang sekali bermain pasir di pinggir pantai itu, namun tidak dengan Dion. Wajah Dion sangat lesu. Apa lagi saat dia melihat Bian tertawa, tawa itu mengingatkannya pada Briyan yang memuakan.


"Pak tua, sini!" teriak Syakila.


"Malas." timbalnya.


"Ayo sini, kita main pasir. Seru tauk!" teriak Syakila lagi.


Bukannya mendekat, Dion malah pergi meninggalkan Syakila dan Bian.


"Bian, udahan ya mainnya. Kita susul om Dion," ucap Syakila pada Bian.


"Iya tante," timbal Bian


Mereka berdua pun mengejar Dion yang menuju mobil.


"Pak tua, tunggu," kata Syakila


Dion pun menoleh "Mau apa lagi?" tanya Dion


"Pak tua kenapa sih? Dari tadi kok kayak kesel bener?" tanya Syakila.


"Aku gak papa, ya udah mending kita antar anak itu je ibunya." timbal Dion lalu masuk kedalam mobilnya.


Syakila juga masuk kedalam mobil itu bersama dengan Bian.


Dion segera melakukan mobilnya, karena lelah Bian pun tertidur di pangkuan Syakila.


"Pak tua! Jujur deh sama aku, pak tua kenapa sih?" tanya Syakila sambil menatap wajah Dion yang dingin tidak seperti sebelum bertemu Bian dan Ibunya.


Tiba-tiba Dion menghentikan mobilnya lalu menatap wajah Syakila dengan tatapan sulit di artikan.


"Kamu mau tahu kenapa?" ketus Dion "Itu karena kamu ajak anak itu ikut sama kita." bentak Dion.


Deg, Syakila terkejut dengan ucapan Dion yang menurutnya sangat kasar.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Syakila


"Kamu gak perlu tahu! Kamu siapa? Kita baru kenal semalam tapi kamu udah belagak kenal lama sama aku. Sok deket sok paham seperti apa aku!" lagi-lagi Dion berbicara dengan nada tinggi.


Mata Syakila berkaca-kaca mendengar ucapan yang keluar dari mulut Dion.


***Bersambung..!!

__ADS_1


Maaf kalau alurnya makin gak jelas..!!


Othor gesrek lagi gabut😂😂😂***


__ADS_2