Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Episode 37


__ADS_3

"Emang siapa orangnya?" "Mamanya Raka atau perempuan gatel itu?" ucap Syakila sambil menunjuk Intan yang sedang duduk di sofa Dengan ponsel di tangannya.


Mbok Ani dan Aira mengaguk bersamaan.


Sedangkan Intan yang tengah duduk itu, Iya mengirim pesan pada mommy Susi.


"Mom, aku gagal ngehabisin om Bambang, yang kena malah jongosnya," isi pesan Intan.


"Kamu coba lagi dong, habisin mereka satu persatu. Kalau perlu tante Rina sekalian," pesan balasan mommy Susi.


"Tapi Intan takut ketahuan mom, iya sih kata dokter kematian jongosnya om Bambang secara alami dan gak ada kaitan sama racun. Tapi kalau mereka ngelakuin outopsi gimana?" isi pesan Intan.


"Kamu tenang aja, mommy akan bantu kamu," balas mommy Susi.


Setelah membaca pesan balasan mommy Susi, Intan mematikan ponselnya lalu meyimpan di saku celananya.


Tak terasa, sudah 7 hari selepas kematian kang Parmin.


Kini keluarga pak Bambang sudah melakukan aktivitas seperti biasanya.


Begitu juga dengan Syakila, kini iya sudah pulang ke kontraknya dan kembali berjualan kue.


Pagi-pagi sekali Dion sudah ada di depan rumah kontrakan Syakila.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu.


"Siapa?" kata Syakila dari dalam rumah.


"Ini aku keong, cepat buka pintunya," ucap Dion


Cekrek..!!


Syakila membukakaan pintu untuk Dion, "Ngapain pagi buta kesini?" tanya Syakila.


"Ya aku pengen makan masakan buatan calon istri ku lah!" timbal Dion.


"Sudi amat jadi istri mu, dasar bapak-bapak tua," kata Syakila lalu pergi menuju dapur.


Dion terus saja mengintili kemana arah Syakila pergi.


"Ihh, ngapain sih ngikutin aku terus!" ketus Syakira yang kesal.


"Kan aku udah bilang! Aku mau makan masakan kamu." timbal Dion


"Tapi gak usah ngikutin aku juga kalik!" kesal Syakila "Kamu kan bisa duduk di sana," sambung Syakila sambil menunjuk kursi yang ada di dekat meja makan.


"Oke-oke! Aku duduk nih, disana kan?, ucap Dion sambil mundur perlahan.


Tak lama, masakan Syikala jadi. Iya pun segera menghidangkannya di meja makan.


Dion sangat lahap meyantap makanan itu, iya nambah hingga dua kali dan hal itu membuat Syakila tertawa.


"Ganteng-ganteng makannya rakus," gerutu Syakila


"Apa?" tanya Dion dengan mulut penuh.


"Enggak, aku gak ngomong apa-apa," ucap Syakila.


"Gak usah bohong! Aku dengar kok kalau kamu bilang aku ganteng," kata Dion lalu meminum segelas air yanf ada di hadapannya.

__ADS_1


"GR," ucap Syakila.


Tak lama kemudian, Dion selesai dengan acara makannya. Iya pun segera pamit pergi ke kantor dengan Syakila.


"Aku kekantor dulu ya, nanti sore aku kesini lagi buat jemput kamu," ucap Dion.


"Mau ngapain? Kemana?" tanya Syakila.


"Kerumah ayah, ayah sama ibu mau ngomong sama kamu. Katanya penting," timbal Dion.


"Ya udah sana berangkat!" usir Syakila.


"Salim dulu dong! Emang keong mau durhaka sama bapak tua," ucap Dion sambil menyodorkan punggung tangannya.


"Iya-iya," kata Syakila lalu mencium punggung tangan Dion.


Dion tergelak. "Kita jadi kayak suami istri yang ada di novel-novel ya, padahal belum menikah," ucap Dion setelah gelak tawa itu.


"Yee! Jangan kan nikah, pacaran juga kagak." timbal Syafira.


"Lebih baik pacaran setelah menikah, dari pada kayak Cindy. Nikah kagak kawin iya, dan jadi lah Bian korban keegoisan Cindy dan Briyan," kata Dion sambil berjalan menuju mobilnya.


"Maksud kamu apa pak tua?" teriak Syakila.


"Nanti aja aku cerita, aku mau kerja dulu," ucap Dion dengan suara agak keras. "Bye-bye calon istri ku," sambung Dion dengan kiss bye seperti anak kecil.


Syakila mengerutkan dahinya melihat tingkah Dion yang seperti orang idiot.


Setelah mobil Dion benar-benar hilang dari pandangannya. Iya pun masuk kedalam kontrakan dan menyiapkan orderan ibu-ibu sekitar kontrakan itu.


***


"Sayang, aku berangkat dulu ya. Kamu hati-hati di rumah, ingat harus hati-hati dan waspada," ucap Raka lalu mencium kening istrinya.


Raka pun segera berangkat ke kantor.


Saat Aira hendak menaiki anak tangga, Iya melihat Intan memasukan sesuatu kedalam secangkir teh.


Aira pun mengurungkan niatnya ke lantai atas.


"Nah! Sekarang giliran nenek peyot itu yang ke alam baka," guman Intan "Percuma juga aku baik terus sama dia, gak guna." sambungnya.


Lalu Intan membawa teh itu menuju teras belakang tempat mama Rina sedang duduk bersantai.


Saat Intan hendak memberikan teh itu, tiba-tiba Aira berlari dan menabrak teh yang Intan bawa.


"Maaf," lirih Aira dengan wajah pura-pura menyesal.


"Kamu kenapa sih? Kamu gak suka ya kalau aku dekat sama tante Rina!" ketus Intan dengan wajah kesal.


"Aku kan udah minta maaf, lagian aku gak sengaja. Aku ada perlu dikit sama mama," ucap Aira dengan mata berkaca-kaca.


"Ada perlu apa Aira?" tanya mama Rina dengan dingin.


"Gak jadi ma, maaf Aira udah ganggu," ucap Aira lagi sambil menghapus air matanya lalu pergi dari sana.


Setelah kepergian Aira.


"Yah tante, tehnya tumpah," ucap Intan dengan sewot.


"Gak papa Intan, lagian tante lagi gak pengen minum teh." timbal mama Rina.

__ADS_1


"Gara-gara perempuan kampung itu sih!" ketus Intan dengan wajah cemberut.


"Udah gak papa, lagian dia juga udah bilang gak sengaja," ucap mama Rina.


"Sialan perempuan kampung itu! Harusnya sekarang nenek peyot ini udah minum racun itu dan tinggal nunggu reaksinya aja," gerutu Intan dalam hati.


Di dalam kamar Aira.


"Aduh panas," ucap Aira sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang terkena tumpahan air teh hangat itu.


Dan tak lama kemudian, tangan Aira berubah menjadi merah dan kehitaman. Aira pun bingung harus apa, yang iya rasakan saat ini adalah perih, panas dan sakit.


Menelpon Raka pun tidak mungkin, Dion juga mungkin sedang bersama Raka saat ini. Iya pun memutuskan untuk menelpon Syakila.


Tut tut tut.


"Hallo Aira!" kata Syakila di sebrang telpon.


"Kila, tolong aku," lirih Aira. Wajahnya kini berubah mnjadi pucat pasi, mungkin karena terkena racun yang ada di dalam teh itu tadi.


"Hallo Aira! Kamu kenapa?" tanya Syakila.


"Tolong Kila, rasanya sakit sekali," ucap Aira "Aku di rumah, tolong kesini sekarang." sambung Aira lalu telpon itu terputus.


"Hallo, hallo Aira!" "Ahh sial, Kenapa dengan Aira," guman Syakila "Apa jangan-jangan! Ya tuhan, aku harus cepat kesana. Aira dalam bahaya."


Syakila segera mematikan kompornya dan segera bergegas bahkan iya tidak mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


Iya segera naik ojek, tak lupa iya juga memesan taxi online dengan alamat rumah pak Bambang.


Sekitar dua puluh menit, iya pun sampai di depan rumah megah itu. Tanpa pamit dan permisi iya langsung nyelonong masuk dan naik ke lantai atas tepatnya menuju kamar Aira dan Raka.


Mama Rina dan Intan melihat Syakila yang masuk dengan tergesa-gesa.


"Itu orang gak punya sopan santun banget ya tante, main masuk tanpa permisi. Dikira rumah nenek moyangnya kalik ya," kata Intan.


"Ada apa ya Intan? Apa terjadi sesuatu sama Aira?" tanya mama Rina.


"Gak tahu tante, lagian gak ada urusan sama kita." timbal Intan.


Syakila sampai si depan kamar Aira.


"Aira, Aira!" panggil Syakila.


Namun tidak ada jawaban.


"Aira," panggil Syakila sambil membuka handle pintu kamar itu.


"Aira!" pekik Syakila.


"Kila,tolong aku," lirih Aira sambil memperlihatkan tangannya yang sudah mulai melepuh dan berair.


"Aira kamu kenapa? Kok bisa kayak gini?" tanya Syakila namun Aira tak lagi menjawab. "Kita kerumah sakit sekarang!" kata Syakila lalu menuntun Aira perlahan.


Sampai di lantai bawah. Mama Rina yang melihat Aira di tuntun Syakila pun berlari mendekat dan bertanya.


"Hey, Aira kenapa?" tanya mama Rina dengan wajah bingung.


"Lihat ini!" tunjuk Syakila pada tangan Aira.


"Ya tuhan! Kamu kenapa Aira?" pekik mama Rina "Ayo kita bawa kerumah sakit," sambung mama Rina dengan panik.

__ADS_1


Sedangkan Intan mengerutkan dahinya melihat kepanikan mama Rina yang menurutnya berlebihan.


"Tante Rina kok sepanik itu sih! Jangan bilang kalau dia udah mulai menerima gadis kampung itu," ucap Intan dalam hati.


__ADS_2