Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Pengkhianatan Kekasih dan Sahabat


__ADS_3

"Raka, apa kamu masih tinggal di rumah orang tua kamu setelah menikah?" tanya Briyan tiba-tiba.


"Masih." timbal Raka.


"Apa sebenarnya tujuan Briyan menanyakan tempat tinggal ku saat ini? Apa dia ingin mendekati Aira, ah ini tidak bisa di biarkan," ucap Raka dalam hati.


"Oo.. Kirain kamu dan istri mu sudah pindah," ucap Briyan


"Memangnya kenapa kalau kami sudah pindah?" tanya Raka


"Gak papa, cuman nanya aja." kata Briyan "Ya udah aku pulang dulu ya." sambungnya.


Setelah itu Briyan pamit pulang pada Raka. Namun saat ia hendak keluar dari ruangan Raka, tiba-tiba Berpapasan dengan Dion.


"Kamu!" tunjuk Dion "Ngapain kamu kesini?" sambung Dion.


"Kenapa? Apa urusannya sama kamu, aku kesini cuman pengen nanya alamat rumah Raka dan ternyata dia masih tinggal di rumah orang tuanya," ucap Briyan santai dengan senyum mengejek.


"Untuk apa kamu nanya-nanya Alamat Rumah Raka?Apa tujuan kamu?" tanya Dion dengan geram.


"Untuk nemuin Aira, istrinya Raka tapi ternyata aku malah ketemu dia disini. Ahh mungkin aku dan Aira memang berjodoh," ucap Raka yang membuat Dion semakin geram.


"Jangan pernah sentuh Aira sedikitpun, dan jangan coba-coba merusak Rumah tangga mereka!" tunjuk Dion pada wajah Briyan.


"Apa peduli mu? Dan siapa kamu berani-beraninya ngancam aku," ucap Briyan lalu mendorong Dion dari hadapannya setelah itu dia pun pergi dari kantor Raka.


"Aku tidak akan membiarkan mu merusak kebahagian Raka," ucap Dion sambil memandang kepergian Briyan. "Dulu aku diam saja, saat kamu merebut calon istriku, tapi kini aku tidak akan membiarkan hal serupa terjadi pada Raka." sambungnya.


Flashback on.


Empat tahun yang lalu.


Tidak sengaja Dion melihat Briyan dan Tunangan nya masuk kedalam sebuah kamar Hotel, yang kebetulan Dion dan Raka sedang ada pekerjaan yang di lakukan di Hotel bintang lima tersebut.


Karena rasa penasaran yang ada di dalam hatinya. Dion pun memutuskan untuk menyusul dua insan yang masuk kedalam Kamar Hotel tersebut.


Belum lama Briyan dan tunangan Dion masuk kedalam kamar itu, tiba-tiba pintu di ketuk.


Tok tok tok


"Kak Briyan.. Ada orang di luar," ucap Cindy sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


"Ahh.. Menggangu saja." kata Briyan dengan kesal lalu bangkit dari ranjang itu.


Saat pintu kamar Hotel itu di buka.


Nampak lah Dion sedang berdiri di pintu itu, dan belum sempat Briyan bertanya mengapa Dion bisa kesana Dion malah lebih dulu menanyakan keberadaan Cindy pada Briyan.


"Di mana Cindy?" tanya Briyan dengan wajah merah padam. "Apa yang kau lakukan dengan Cindy di sini?" tanya Dion lagi sambil menerobos masuk.


Dan saat ia sampai di dalam kamar Hotel itu matanya membulat sempurna dan hatinya bagai tersayat-sayat.


Cindy yang tidak menyadari kehadiran Dion langsung memanggil nama Briyan.


"Kak Briyan, siapa yang mengetuk pintu tadi?" tanya Cindy tanpa mengalihkan pandangannya dari Ponsel yang ia pegang.


"Cindy.. Apa yang kamu lakukan dengan Briyan?" tanya Dion dengan suara lemah.


"Di-dion kok ka-kamu bi-sa a-da di- sini?" tanya Cindy.


Mendengar pertanyaan Cindy, tanpa sadar cairan bening keluar dari sudut mata Dion. Bukan karena ia pria yang lemah dan cengeng tapi karena memang ada saatnya seorang Pria menangis. Dengan rasa kecewa yang mendalam ia mendekat pada Cindy.


"Cindy, jika kau menginginkan bersama Briyan. Kenapa harus kau lakukan ini di belakang ku?" tanya Dion lirih namun mampu membuat Cindy bungkam dan menundukkan kepalanya. "Mulai hari ini kau bukan lagi tunangan ku ataupun kekasih ku, kulepaskan kau untuk Briyan. Dan nikmatilah malam ini," ucap Dion sambil melepaskan cincin yang ada di jari manisnya dan memberikan cincin itu pada Cindy.


"Briyan, mulai saat ini aku bukan teman mu lagi." kata Dion dan segera berjalan hendak keluar dari kamar hotel tersebut.


Saat ia sampai di dekat pintu kamar itu, tiba-tiba Cindy memanggilnya dengan berat hati Dion kembali membalikkan tubuhnya.


"Dion, perlu kau tahu! Aku melakukan semua ini karena kau tak lagi perduli pada ku, kau selalu sibuk dengan urusan mu sendiri. Kau tidak pernah ada lagi di saat aku butuh dan rindu padamu, Briyan Briyan lah yang selalu menemani ku di saat kau tidak ada untuk ku." teriak Cindy dengan mata berkaca-kaca.


Briyan yang melihat pertengkaran itu menyunggingkan senyumannya.


"Kau tahu Cindy? Aku bekerja siang malam untuk mu, untuk mu Cindy semua yang sudah aku dapat untuk mu! Kau ingin Apartement aku sudah mengurus surat pembeliannya, kau ingin mobil bukan? Aku sudah minta tolong pada Raka untuk mengurus berkas pembeliannya. Tapi semua sudah tidak ada Artinya. Cinta tulus yang ku berikan tidak pernah kau hargai dan sekarang berbahagialah dengan Briyan," ucap Dion dengan pilu sebelum ia benar-benar pergi dari tempat itu.


Setelah kepergian Dion, Cindy menangis tersedu-sedu di kamar itu. Merutuki kebodohannya sendiri.


"Sudah lah, jangan di fikirkan. Biarkan dia pergi dan kita nikmati malam ini," bujuk Briyan pada Cindy.


Sesaat kemudian Cindy menghapus air mata nya lalu tersenyum.


"Kau benar Kak Bry sekarang aku memiliki mu yang jauh lebih baik dari Dion." kata Cindy sambil memeluk erat Briyan.


Briyan tersenyum saat Cindy sudah benar-benar berada dalam genggamannya.

__ADS_1


Sepasang manusia laknat itu menghabiskan malam panjang mereka.


Sedangkan Dion kini ia meluapkan kesedihannya pada Raka.


"Sabarlah Dion, kau tahu kenapa tuhan mempertemukan mu dengan kedua setan itu disini?" tanya Raka pada Dion.


Dion hanya menggeleng tidak mengerti maksud Raka.


"Itu karena tuhan ingin menunjukan pada mu kalau wanita jalang itu memang tak pantas untuk mu," ucap Raka "Dan Briyan memang tak pantas menjadi bagian dari hidup mu." sambung Raka.


"Aku kecewa Raka, aku tidak meyangka Briyan bisa melakukan hal itu pada ku," ucap Raka.


Singkat cerita. Dua bulan setelah kejadian itu, Cindy datang ke kediaman keluarga Dion.


Ia menangis tersedu-sedu di depan ibu dan juga ayah Dion.


"Maafkan Cindy Om, Tante," ucap Cindy yang masih menangis dan tertunduk di hadapan orang tua Dion.


"Kamu gak bersalah pada om dan tante Cindy, kesalahan mu ada pada Dion." kata ibunya Dion.


Tiba-tiba Dion memasuki Rumah itu.


"Ada apa Bu?" tanya Dion.


Mendengar suara Dion, Cindy bangkit dan berlari lalu memeluk Dion.


"Lepaskan Cindy, apa yang kau lakukan?" tanya Dion sambil melepaskan pelukan Cindy.


"Maafkan aku Dion, saat ini aku tengah mengandung. Aku meminta Briyan menikahi ku tapi dia malah meninggalkan ku," ucap Cindy dengan terisak.


"Aku tidak mau tahu, itu urusan mu dengan Briyan. Malam itu sudah aku katakan bukan! Kamu dan Briyan bukan siapa-siapa lagi dalam hidupku!" tegas Dion. "Kamu tahu! Ini karma untuk mu, karma yang nyata," ucap Dion lalu berjalan menjauhi Cindy.


"Ibu, Ayah. Tolong urus wanita ini, aku tidak ingin lagi melihatnya," ucap Dion pada orang tuanya, setelah itu dia pergi menuju kamarnya.


Flashback off.


***Bersambung..!!


Jadilah pembaca yang baik, tinggalkan jejak ya kasih Vote juga boleh..!!


Happy reading..!! 😘😘😘***

__ADS_1


__ADS_2