
Dengan cepat Aira menarik tangannya.
"Briyan, kau!" kata Raka dengan wajah memerah.
"Jangan emosi, aku kesini hanya sebentar,' ucap Briyan dengan santai.
"Katakan apa mau mu Briyan? Jika kau ingin mendekati istri ku. Jangan harap kau bisa melakukannya karena istri ku tidak sama dengan wanita yang pernah kau temui." tegas Raka pada Briyan.
Aira semakin mempererat pegangan tangannya pada Raka.
"Sebaiknya kau pergi keatas dulu sayang," ucap Raka pada Aira.
Aira pun mengangguk, dan segera berlari menaiki anak tangga.
Briyan tersenyum miring melihat Aira yang berlari itu.
"Aku jadi semakin penasaran dengan istrimu," ucap Briyan pada Raka.
"Apa mau mu Briyan?" teriak Raka sambil menarik kerah kemeja yang di kenakan Briyan.
"Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya penasaran terhadap istri mu!" timbal Briyan dengan santainya.
"Jangan pernah ganggu istri ku, karena dia bukan Cindy yang bisa kau perdaya," kata Raka
"Kita lihat saja nanti," ucap Briyan dengan menyunggingkan senyuman di bibirnya.
Hal itu membuat Raka semakin terbakar emosi.
"Kau dengar Briyan, kau dengarkan aku. Aku akan melepaskan Aira jika memang dia memilih pergi dengan pria yang baik, tapi tidak dengan dirimu. Kau dengar itu!" teriak Raka lalu menghempaskan tubuh Briyan ke lantai dengan sekuat tenaga.
"Hahaha," tawa Briyan menggema di rumah mewah itu "Aku akan pastikan bahwa Aira akan menjadi milikku, hanya milik Briyan! Dan ku pastikan dia akan meninggalkan mu." sambung Briyan.
Mama Rina dan Intan segera berlari kearah keributan yang terjadi.
"Raka! Ada apa ini?" tanya mama Rina terkejut.
"Kalian semua penghuni rumah ini dengar! Jangan biarkan bajingan ini masuk dan menginjakan kakinya di rumah ini lagi!" teriak Raka dengan sangat kencang.
Briyan bangkit dari lantai itu, namun belum sempat iya berdiri dengan tegap. Raka membogem wajahnya.
Bukk,,! "Jangan dekati Aira lagi," ucap Raka
__ADS_1
"Hahaha, kau tidak bisa mengaturku! Ini cinta Raka, cinta mampu melakukan dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya," ucap Briyan sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
Raka menjadi bertambah geram.
"Bajingan kau," Bukk,,! bogem mentah mendarat lagi di wajah Briyan "Ini bukan cinta, cinta tidak menyakiti Briyan,,! Ini semua hanya obsesi mu yang terlalu tinggi," ucap Raka "Harusnya kau fikirkan Cindy dan juga anak mu. Dimana otak mu." sambung Raka
"Ada apa ini?" tanya pak Bambang yang baru saja pulang.
Raka mundur perlahan menjauhi Briyan yang tersenyum mengejek kepadanya.
"Gak ada apa-apa om!" sahut Briyan cepat "Briyan pamit pulang dulu, om, tante." sambungnya. Lalu iya pergi dari rumah itu sambil mendorong sedikit tubuh Raka.
"Aku pulang dulu," ucap Briyan lirih di telinga Raka "Ingat! Aku pasti akan mendapatkan istri mu," sambungnya dengan senyum mengejek.
Setelah kepergian Briyan, pak Bambang bertanya kepada semua orang yang ada di ruangan itu.
"Ada apa sebenarnya ini?" tanya pak Bambang, namun tidak ada yang berani menjawab. "Ada apa sebenarnya? Dan kenapa wajah Briyan memar seperti itu?" bentak pak Bambang hingga membuat semua orang yang ada di ruangan itu terperanjat kaget.
"Mbok Ani! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya pak Bambang pada mbok Ani yang sedang menunduk takut itu. "Jawab mbok, atau mbok saya pecat!" sambung pak Bambang.
Mbok Ani semakin menunduk dan meremas jemarinya. "Anu tuan, tadi den Briyan datang ingin menemui non Aira, tapi tadi non Aira sama den Raka lagi gak di rumah. Dan den Briyan nungguin setelah den Raka dan non Aira pulang den Briyan mendekati non Aira lalu mencium tangan non Aira, non Aira jadi ketakutan dan den Raka menyuruh non Aira masuk kamar. Setelah itu den Raka dan den Briyan adu mulut. Kata den Briyan dia akan merebut non Aira dari den Raka." jelas mbok Ani panjang lebar dengan berkeringat dingin.
"Anak itu! Masih tidak berubah juga," ucap pak Bambang.
Mama Rina hanya diam saja, dia tidak berkomentar apa-apa dengan kejadian ini. Namun di dalam hatinya sangat bersyukur bila Aira pergi dari rumah itu.
"Mudah-mudahan itu si Aira beneran cepat pergi dari rumah ini," ucap mama Rina dalam hati.
Sedangkan dengan Intan, Iya memutar bola matanya dengan malas. "Apa sih? Kelebihan tu perempuan kampung, kok malah di perebutkan sama Raka dan Briyan." omel Intan dalam hati.
Keesokan harinya.
"Sayang, aku berangkat dulu ya," ucap Raka lalu mencium kening Aira
"Iya, kamu hati-hati jangan ngebut," kata Aira lalu mencium punggung tangan Raka "Oiya, nanti aku kesana ya. Bawain makan siang buat kamu." sambungnya.
"Iya, aku tunggu. Aku gak akan makan siang sebelum kamu datang," kata Raka lalu berjalan dan memasuki mobilnya.
***
Di tempat lain.
__ADS_1
Kini bu Wati dan Safira baru saja tiba di kediaman mereka yang ada di Lampung.
"Hahaha, uang kita banyak bu," ucap Safira sambil membuka koper uang itu.
"Iya, sekarang kita gak perlu capek-capek kerja," kata bu Wati sambil meyentuh uang-uang itu.
"Oiya bu, sebaiknya kita bayar dulu rentenir tua bangka itu. Agar dia gak ganggu kita lagi," ucap Safira.
"Iya kamu benar, hutang kita kan cuman 100 juta sedangkan uang kita ada 300 juta belum di tambah isi tabungan yanf kita punya." timbal bu Wati dengan girang.
"Aku pengen beli motor baru deh bu," ucap Safira.
"Tentu, kamu boleh beli motor baru sayang. Biar temen-temen kamu gak ngehina kamu dan motor butut kamu itu," kata bu Wati sambil menujuk motor vario yang ada di pojok ruangan itu.
"Tapi, kalau Syakila tahu gimana bu?" tanya Safira.
Bu Wati pun ikut memikirkan kemarahan Syakila kepada dirinya dan Safira jika Syakila tahu mereka meminta uang pada Aira.
"Ahh, masalah itu kita fikirkan nanti saja. Syakila juga tidak akan tahu masalah ini kalau kita gak ngomong ke dia," kata bu Wati sambil menganyunkan tangannya ke udara.
Tapi tiba-tiba saja Syakila datang dan langsung meyambar koper yang ada di atas meja ruang tamu itu.
"Uang dari mana ini?" tanya Syakila dengan sorot mata tajam.
"Uang dari suami Aira!" ceplos Safira
"Safira, kamu ini kenapa sih gak bisa jaga rahasia," kata bu Wati dengan nada kesal.
"Heehee, maaf bu. Refleks," ucap Safira.
"Jadi kalian dari jakarta dan minta uang sebanyak ini sama suami Aira?" bentak Syakila "Ibu sama kak Fira gak mikir ya! Kalian berdua itu udah jahat sama Aira, kalian gak takut kena Azab apa?" sambung Syakila
"Eleh Syakila, Azab azab azab. Itu Asistennya suami Aira bilangnya Karma karma karma, peduli amat ama Azab dan karma yang penting sekarang itu hidup mewah, uang uang dan uang kalau kita banyak uang hidup kita bakalan bahagia." timbal bu Wati
"Syakila gak habis fikir deh sama kalian," ucap Syakila sambil membanting koper uang itu lalu pergi lagi ke kamarnya.
***Bersambung..!!
Maafπππ up nya lama, othor masih banyak kerjaan di dunia nyata.
Jangan lupa jejaknya ya..!! dan juga kasih hadiahπππ
__ADS_1
Happy reading***..!!