
"Akhirnya kamu sampai!" Sambut Raka di ruang tamu Rumah itu dengan expresi datarnya.
"Raka.." lirih Briyan.
"Ayah, Om itu siapa?" tanya Bian kepada sang Ayah.
"Itu Om yang nama nya Raka, Sayang!" sahut Cindy.
"Panggilkan istri ku!" perintah Raka pada Safira yang kebetulan sedang berada di Rumah itu.
Safira mengangguk, dan segera memanggil Aira yang berada di lantai atas.
Briyan diam mematung di tempatnya berdiri. Sedangkan Cindy nampak semakin ketakutan.
Tak lama kemudian, Aira turun dari lantai atas dengan gembira.
"Sayang.. Jangan lari, nanti jatuh!" teriak Raka pada Aira.
"Nanti dia pulang.." Timbal Aira sambil berlari kecil di anak tangga Rumah itu.
Briyan menatap wajah Aira yang cantik dengan lembut, jujur saja di hati nya masih menyimpan rasa untuk Aira. Namun kini ia sudah sadar akan siapa dirinya dan juga posisinya.
"Kak Bry.." Aira berlari dan memeluk erat tubuh Briyan. Seperti anak kecil yang baru saja bertemu Ibu nya.
Briyan terkejut dengan perlakuan Aira, begitupun dengan Cindy.
Briyan menatap Raka yang duduk tidak jauh dari nya. Melihat Briyan yang bingung, Raka pun mengaguk tanda agar Briyan membalas pelukan istrinya.
Briyan pun membalas pelukan Aira. Seakan Briyan lupa akan keberadaan istrinya.
"Ibu.. Tante itu kenapa peluk ayah Bian?" tanya Bian kepada Ibu nya.
"Kita lihat saja, Sayang. Jangan ribut," ucap Cindy kepada putranya.
"Tante itu gak akan ambil ayah Bian kan Bu?" tanya Bian lagi.
"Enggak, Tante itu cuman numpang peluk ayah Bian sebentar," kata Cindy. Ia takut putra nya akan menangis.
Briyan mendengar ucapan Istri dan Anak nya, dengan segera ia melerai pelukannya pada Aira.
"Kak Bry kok pakai tongkat?" tanya Aira tiba-tiba setelah melepas pelukannya.
"Hah.." Briyan hanya ber Hah. Ia bingung harus menjawab apa pada Aira.
"Iya.. Kok kak Bry pakai tongkat?" tanya Aira lagi.
"Oh.. Ini, aku habis jatuh." jawab Briyan.
"Duduk!" perintah Raka.
Mereka semua duduk di Sofa yang ada di ruang tamu itu. Melihat Briyan membawa serta Cindy, Aira pun langsung bertanya.
"Loh.. Kok temen nya Kila sama kak Bry?" tanya Aira.
"Mbak Aira, Aku istri nya kak Briyan." timbal Cindy.
Tak lama kemudian, datanglah Dion beserta Syakila ke Rumah itu.
__ADS_1
Suasana yang mulai menghangat antara Aira dan Cindy, kini menjadi tegang kembali setelah kehadiran Dion.
"Mau apa kamu ke sini lagi!?" teriak Dion dengan lantang.
Raka, Briyan dan semua yang ada di ruangan itu langsung berdiri saat mendengar suara teriakan Dion.
"A-aku.." Perkataan Briyan di potong oleh Aira.
"Ishh.. Kak Dion kok marah-marah sih!" kata Aira.
"Kamu diam!" bentak Dion pada Aira.
"Sayang.. Udah, kamu bisa bikin Aira nangis loh!" bisik Syakila pada suami nya.
Safira dan dua orang suruhan Raka hanya bisa menyimak tanpa tahu apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Briyan, aku nanya! Mau apa kamu kesini?" teriak Dion mengulangi pertanyaan nya.
"Aku yang suruh dia kesini!" sahut Raka, ia tidak ingin terjadi kekerasan di Rumah nya. Karena ia paham betul siapa Dion.
"Aku sengaja suruh dia kesini, Karena permintaan Aira. Udah dua hari Aira selalu nanyain Briyan," jelas Raka.
Emosi yang semula membuncah, kini mulai ber ansur-ansur redam.
"Tante.. Tante gak akan ambil ayah Bian kan?" tiba-tiba suara Bian menghentikan kegaduhan yang ada.
"Bian.." sapa Syakila pada Bian.
"Hay Tante.." timbal Bian.
"Tante, Bian tanya loh! Tante gak akan ambil ayah Bian kan?" tanya Bian yang kembali fokus pada Aira.
"Ah.. Syukurlah, Bian kira Ayah bakal pergi ninggalin Bian dan Ibu kayak dulu lagi," kata Bian sambil tersenyum manis.
Semua orang terdiam mendengar perkataan anak kecil yang ada di depan mereka.
"Hey Boy.. Sini sama Om Raka," ucap Raka pada Bian.
"Mau apa Om?" tanya Bian lalu turun dari Sofa samping Ibu nya dan berjalan mendekat pada Raka.
"Mau gak kalau tinggal sama Om dan Tante Aira di sini?" tawar Raka.
"Hmm.. Gimana ya Om? Kalo Bian pergi dari Rumah, kasian sama Ibu dan Ayah. Mereka pasti kesepian, apa lagi sekarang kaki Ayah sakit," kata Bian dengan polosnya.
Tak terasa, sudah cukup lama mereka berada di ruang tamu Rumah tersebut.
"Kak Bry.. Aira boleh minta sesuatu gak? tanya Aira.
"Apa?" tanya balik Briyan.
"Kak Bry pukul Orang itu dong!" pinta Aira sambil menunjuk salah satu Orang suruhan Raka.
"Hah.." pekik semua Orang bersamaan.
"Boleh kan Mas?" Aira menatap suaminya penuh harap.
"Kamu tanya sama Orang nya," kata Raka sambil menunjuk Orang suruhannya yang di ketahui bernama Herman.
__ADS_1
Aira berjalan mendekati Herman dan temannya. "Boleh ya Kak," pinta Aira sambil mengeluarkan senyum termanis nya.
Herman tidak menjawab, melainkan menyikut teman yang berada di samping nya.
"Sekali aja," ucap Aira.
"Boleh lah.." timbal Herman sambil meringis.
"Yes.." Aira kegirangan. "Sini kak Bry.." panggil Aira pada Briyan.
Briyan bangkit dari duduknya, dan berjalan pincang menggunakan tongkatnya mendekati Aira dan Herman.
"Kak Bry, pukul Kak Herman disini!" Aira menyentuh pipi Herman.
"Di sini!" Tunjuk Briyan dan di angguki oleh Aira.
"Jangan keras-keras." pinta Herman pada Briyan.
Briyan segera mengambil ancang- ancang untuk membogem wajah Herman.
Dan beberapa detik kemudian. Bukk..!
Herman membuka kedua matanya yang terpejam, "Alhamdulilah.." Syukur Herman, karena Briyan membogem wajahnya dengan pelan.
Aira merengut tidak terima, "Kenapa?" tanya Raka pada istrinya yang nampak tidak puas.
"Pukul nya beneran bukan bohongan!" protes Aira "Jadi ulang!" tambah nya.
"Kan sakit kalau beneran," kata Herman.
"Tapi aku mau nya beneran!" rajuk Aira.
"Ya udah ulang," ucap Herman dengan lunglai.
"Maaf ya.." kata Briyan meminta maaf sebelum benar-benar membogem wajah Herman.
Herman kembali memejamkan matanya dan Briyan pun segera membogem wajah hitam manis Herman dengan kencang.
Bukk.. "Au..!" pekik Herman setelah Briyan membogem wajahnya.
Nampaklah wajah hitam manis Herman di hiasi dengan warna biru dan sedikit warna merah sebagai pemanis di sudut bibirnya.
"Kalau begitu, coba dulu saat masa Ngidam. Aku minta istri baru, pasti di kabulkan," guman Dion yang di dengar semua Orang.
"Itu sih bukan ngidam, tapi kesempatan!" maki Raka, Syakila dan juga Cindy yang ikut angkat bicara.
"Makasih kak Herman," ucap Aira sambil mengelus pipi Herman yang memar dan berdarah.
"Sama-sama, kalau bukan bawaan orok. Gak sudi aku," gerutu Herman yang ikhlas walaupun tak Rela itu.
"Nah.. Sekarang giliran kamu Mas," ucap Aira. "Ayo kak Bry, pukul Mas Raka." sambung Aira.
Hal tersebut membuat semua orang tergelak, kecuali Raka dan Herman.
"Kenapa harus aku..!" teriak Raka dengan kencang.
"Hahaha..." tawa semua orang bersamaan.
__ADS_1
**Bersambung..!!
Stop bullying🚦**