
Raka dan Dion yang ada di sana membiarkan saja mama Rina yang tak sadarkan diri. Mereka berdua hanya melihat mama Rina yang sedang di angkat oleh mang Jajang dan kang Parmin.
Karena mereka berdua tidak berani membantah ucapan yang di lontarkan pak Bambang.
"Aku ingin membantu untuk mengangkat mama mu, tapi aku takut dengan papa mu yang sedang berubah menjadi sarung tarung / lakmana yang ada di film boboyboy😁" kata Dion berbisik pada Raka.
"Diam lah!" bentak Raka "Angap saja ini pelajaran untuk mama dan Intan." sambungnya.
"Kau tidak kasihan dengan mama mu?" tanya Dion.
"Tentu kasihan, tapi harus bagaimana? Orang yang berani berbuat harus berani menanggung akibat yang akan dia terima." kata Raka.
"Kau benar!" timbal Dion.
Ya,,!! Keluarga turun temurun dari papanya Raka yaitu pak Bambang adalah keluarga yang sangat di siplin. Mereka selalu menanam kan rasa tanggung, tidak memandang setatus sosial seseorang dan berperilaku baik terhadap sesama. Hal itu juga di tanamkan pak Bambang pada diri Raka. Namun entah apa yang terjadi pada mama Rina, dulu iya tidak pernah seperti ini. Dia adalah sosok seorang ibu yang baik dan penyayang, namun setelah mengenal Intan dan keluarganya. Seakan-akan sifat dan perilaku mama Rina berubah sembilan puluh derajat dari sifat aslinya.
Di dalam kamar pak Bambang. Dia masih tidak Hanis fikir kenapa istrinya bisa berbuat sejauh itu.
"Kenapa sekarang mama berubah? Ada apa sebenarnya dengan mama, pintu hatinya seakan tertutup untuk Aira hatinya menjadi sekeras batu," ucap pak Bambang pada dirinya sendiri.
Seminggu telah berlalu, kini Aira sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Karena iya di obati oleh psikiater terkenal.
Dan untuk mama Rina, iya tidak lagi menggangu Aira begitu juga dengan Intan yang masih berada di rumah itu. Karena mama Rina memohon pada Raka dan pak Bambang untuk membiarkan Intan tinggal bersama mama Rina, mama Rina berjanji bahwa mereka berdua tidak akan menggangu Aira lagi.
"Ih, semua ini menjadi penghambat segala rencana ku, kenapa susah sekali menyingkirkan perempuan kampung itu." omel Intan sambil mondar mandir di dalam kamar.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu di kamar yang di tempati Intan.
"Siapa lagi sih! Ganggu aja," ucap Intan dengan kesal.
Ceklek.!
"Eh, tante sini masuk tante duduk sama Intan." kata Intan bicara dengan di buat sehalus mungkin.
"Intan, temenin tante jalan-jalan ya. Tante jenuh di rumah terus," ucap mama Rina sambil menggenggam tangan Intan.
"Idih,,! Ni nenek peyot bikin kesel aja deh. Kalau bukan buat dapetin Raka dan aset berharga, ogah. banget deh aku ngurusin ni nenek peyot," omel Intan dalam hati.
"Iya tante, jam berapa mau berangkat jalan-jalannya?" tanya Intan.
"Nanti, jam 10 ya kita ke mall. Kita shoping tante mau beliin kamu baju." kata mama Rina dengan senang.
__ADS_1
"Ku pelorotin aja ni Atmnya si nenek peyot, lumayan dapat barang branded dari pada di sini jadi lumanyun😂" dalam hati Intan.
Sedangkan di dapur, Pagi ini Aira sedang membuat cake untuk Raka. Rencananya iya akan kekantor Raka siang ini.
"Ahh, akhirnya jadi juga," ucap Aira sambil mengelap keringatnya. "Raka pasti suka." sambungnya lagi.
"Wah, non Aira pintar sekali ya bikin kue." puji mbok Ani.
"Ah mbok, ini kue yang biasa Aira jual mbok. Sebelum Aira ikut mas Raka kesini Aira jualan ini di kontrakan," ucap Aira pada mbok Ani.
"Oo, non Aira ngontak di jakarta ini. Sama siapa non? Terus keluarga non di mana?" tanya mbok Ani yang ingin mengetahui tentang keluarga Aira.
"Iya mbok, Aira ngontrak sendirian itu juga cari kontrakannya sama Raka. Aira gak sengaja ke tabrak mobilnya Raka dan harus di rawat, di situlah Aira bisa dekat sama Raka." jelas Aira "Ibu dan Ayah Aira udah meninggal mbok, Aira tinggal di Lampung sama bibi adik dari alm Ayah dan dua saudari sepupu Aira. Aira kabur dari Lampung karena bibi mau nikahin Aira sama rentenir tua disana buat bayar hutang." sambung Aira.
Tak terasa kini jam sudah menunjukan pukul 11 siang, yang artinya sebentar lagi waktu jam makan siang.
Aira bergegas pergi dengan di antar mang Jajan ke perusahaan Raka.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Aira sampai di lobi kantor itu.
"Raka nya ada pak?" tanya Aira
"Ada non, silahkan masuk." ucap Resepsionis itu dengan ramah.
Tok tok tok.
"Masuk," ucap suara dari dalam.
"Sayang,,!" panggil Aira sembari melangkahkan kakinya mendekat pada Raka yang sedang menatap laptop yang ada di meja kerjanya.
Raka yang mendengar Aira memanggilnya langsung melepas kaca mata yang iya pakai. Lalu mendongakkan wajahnya pada Aira dan tersenyum manis.
"Aira, kamu bawa apa? Sini duduk," ucap Raka sambil menarik Aira duduk di pangkuannya.
"Aku bawa cake buat kamu." timbal Aira, dengan manja iya mengalungkan tangannya pada leher Raka. "Raka, a-ku," sambung Aira namun iya menghentikan ucapanya.
Raka pun mencium bibirnya sekilas "Apa kau mengingkannya Aira," ucap Raka sambil menatap dalam wajah Aira.
"Tidak Raka, aku hanya ingin makan siang tapi aku tadi cuman bawa cake." kata Aira, sungguh iya berbohong. Jujur saja iya ingin sesuatu yang lebih dari Raka. Sebagai Wanita normal pada umumnya Aira ingin sekali merasakan surga dunia yang harusnya di berikan oleh suaminya.
Raka menatap lekat netra Aira, iya tahu saat ini Aira mengingkan sesuatu yang lebih darinya.
Tanpa menunggu aba-aba, langsung saja Raka mencium dan me**mat bibir Aira dengan ganas.
__ADS_1
Hak itu membuat Aira terbawa gairah yang mengebu.
Dengan cepat Aira membuka dua kancing kemeja yang di kenakan Raka, Aira memberi tanda kepemilikannya di area dada dan leher Raka. Aira sangat menikmati sentuhan itu, walaupun Raka tidak memberikan expresi apa pun.
Tanpa Aira dan Raka sadar, Dion masuk dan melihat Aktivitas panas itu.
"Ehem," Dion berdehem dengan keras. Sontak membuat Raka dan Aira terkejut.
"Kalau mau berbuat mesum, pindah gih! Jangan disini, mata ku kan jadi ternoda." seloroh Dion.
Dengan wajah lesunya Aira masuk kedalam kamar yang ada di dalam ruangan kerja Raka.
"Maaf ya kak Dion," ucapnya sambil tersenyum kikuk lalu menuju kamar itu.
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Iya memikirkan Aira yang masuk kedalam kamar dengan wajah yang sangat lesu.
"Hey Ka, kok malah bengong sih?" tanya Dion sambil menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Raka.
"Apaan sih!" timbal Raka "Mana berkasnya?" tanya Raka.
"Ini," ucap Dion sambil menyerahkan berkas dokumen yang ada di tangannya.
Setelah menandatangi berkas itu, Raka beralih pada box makanan yang di bawa Aira, di bukanya box itu di hadapan Dion. Ternyata isi ketiga box makanan itu adalah tiga macam cake dengan berbeda Rasa.
"Wah, aku mau." tanpa izin dan tanpa pamit pada pemiliknya Dion langsung mencomot sepotong cake coklat lalu memasukan cake itu kedalam mulutnya. Sesaat kemudian ekspresi wajah Dion langsung berubah, matanya membulat sempurna. "Sumpah! Ini enak banget Ka, siapa yang bikin? Aira kah?" tanya Dion tak percaya.
"Iya, udah sana pergi!" usir Raka "Dan ini bawa, ingat Yon jangan suruh karyawan masuk keruanganku sebelum aku keluar." sambung Raka sambil memberikan satu box yang berisi tiga rasa cake itu pada Dion.
"Yes bos." timbal Dion lalu keluar dari tempat itu.
Sesampainya di luar, Raka mengatakan pada sekertaris Raka.
"Tuti, tolong jangan biarkan seseorang pun masuk kedalam ruangan bos besar ya. Dia lagi nga-nu sama istrinya," ucap Dion.
Tuti dan beberapa karyawan yang ada di sana pun mengangguk sambil tertawa mendengar ucapan Dion yang mengatakan CEO mereka sedang Nga-nu.
Setelah itu Dion kembali ke ruangannya.
Setelah kepergian Dion, Raka menyusul istrinya kedalam kamar. Saat dia masuk, ternyata istrinya sudah tertidur lelap.
Di pandangnya wajah istrinya itu dengan mata sayu. "Maafkan aku Aira, aku tidak bisa memberi mu ke bahagian seperti pria normal pada umumnya." lirih Raka.
Hati Aira teriris mendengar ucapan suaminya. Iya mendengar semuanya, karena Aira hanya pura-pura tidur saat mengetahui Raka masuk.
__ADS_1
Aira membuka matanya lalu menghambur kepelukan Raka.