
"Mudah-mudahan Aira benar-benar hamil," ucap Raka pada dirinya sendiri.
Dua puluh menit kemudian, Raka sampai di depan apotek yang lumayan jauh dari kediaman pak Bambang.
"Aihh, kenapa belum buka?" tanya nya dengan kesal pada dirinya sendiri.
"Pak..!" panggil Raka. "Masih lama gak bukanya?" tanya nya pada bapak-bapak yang hendak berangkat ke masjid untuk menjalankan ibadah shalat subuh.
"Lumayan, jam setengah enam baru buka." timbal salah seorang bapak itu.
"Jadi aku harus menunggu satu jam setengah lagi! Tapi tidak apa-apa. Demi kau dan si buah hati, terpaksa aku harus begini!" Lagi-lagi tingkah Raka membuat bapak-bapak itu mengerutkan dahi.
"Ada-ada aja mas ini!" heran bapak yang menimbali pertanyaan Raka sebelumnya.
"Anu loh pak, saya tu mau beli lepek," kata Raka asal cerocos tanpa memikirkan perkataannya terlebih dahulu.
"Lepek apaan, Mas?" tanya bapak-bapak itu serempak.
"Itu loh pak! Buat tes kehamilan, masa gitu aja gak tahu!" ceplos Raka.
"Itu tespeck Mas, bukan lepek!" sahut salah satu dari bapak-bapak itu.
"O, jadi saya salah ya pak! Maklum, saya orangnya pelupa. Ingat saya tadi ya lepek," kata Raka.
Dan, pembicaraan konyol itu terhenti karena suara azan berkumandang.
"Ayo kita shalat dulu, sudah ada panggilan," kata bapak yang paling tua antara mereka.
"Saya ikut!" sahut Raka, ia segera kembali ke mobilnya dan mengambil peci hitam miliknya, yang memang selalu di bawa kemana-mana.
"Kuy lah, ayo!" Raka pun mengikuti bapak-bapak itu menuju masjid.
Tak terasa, shalat subuh telah selesai di laksanakan. Setelah berdoa dengan khusuk Raka pun kembali ke Apotek.
Namun sampainya ia di depan Apotek, ternyata Apotek itu belum juga buka.
"Kenapa lama sekali! Author beneran gesrek dah, gak tahu apa kalau menunggu itu sakitπ€§," gerutu Raka.
Karena merasa bosan, ia pun masuk kedalam mobilnya. Dan menyandarkan tubuhnya di jok mobil itu, tak lama kemudian. Ia pun tertidur dengan pulas di pagi hari itu.
Satu jam kemudian, keadaan apotek itu sudah ramai pengunjung.
Raka terbangun dari tidurnya, karena kaca mobilnya di ketuk-ketuk oleh seseorang.
"Ehh, ada apa pak?" tanya Raka kepada seorang Security yang mengetuk kaca mobilnya.
"Mobil Mas menggangu penglihatan dan kenyamanan Apotek ini!" tegur Security itu.
"Aduh! Saya lupa," Raka membuka pintu mobilnya tanpa aba-aba hingga membuat Security itu terjungkal.
"Kurang ajar!" maki security itu pada Raka, namun Raka tidak menghiraukan sama sekali. Ia langsung saja masuk kedalam Apotek.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Raka kembali ke mobilnya. Tentunya dengan bungkusan di tangan kirinya.
Saat ia hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba tangannya di cekal oleh Security yang terjungkal tadi.
"Enak saja main pergi gitu aja! Ini obati dulu pinggang saya yang keseleo karena ulah kamu!" Security itu memegangi pinggang nya yang terasa sakit dan nyeri.
"Loh! Menangnya kapan saya bikin pinggang pak Simon sakit?" tanya Raka sambil menunjuk nama yang tertera di baju security itu.
"Kapan kapan? Dasar pikun! Gila!" maki security itu "Tadi, disini!" sambungnya.
"Tadi! Di sini! Kok bisa!" heran Raka.
"Banyak yang lihat, kalo gak percaya tanya saja sama mereka!" tunjuk pak Simon pada orang-orang yang ada di sekitar tempat itu.
"Ya sudah lah! Saya harus ganti berapa?" tanya Raka.
"Saya tidak minta banyak, cukup untuk saya urut jadilah! Yang penting nanti malam saya bisa tempur lagi sama istri saya," kata pak Simon.
"Bapak tua-tua masih gatel aja," ucap Raka.
"Gini-gini anak saya ada tujuh!" sahut pak Simon cepat.
"Segini, cukup!" kata Raka sambil menyerahkan beberapa uang kertas yang gambarnya pak Soekarno-hatta memakai kopiah.
"Ini banyak, tapi karena kamu ngasih saya segini! Dengan senang hati saya terima!" Pak Simon langsung meyambar uang itu.
Singkat cerita, kita balik lagi ke kediaman pak Bambang. Karena kalo mau nyeritain pak Simon dan Raka gak akan ada habisnya.
Yang pasti, dia kurus tinggi dan giginya pada ompong. Seperti pak Tile yang ada di film warkop DKI π€
Dua puluh menit kemudian. Raka sampai di kediaman pak Bambang.
Pemandangan yang ia lihat saat memasuki rumah itu adalah, di mana istrinya sedang menangis dengan di temani sepiring pecel.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Raka dengan lembut.
"Mas kok ninggalin aku sendirian?" tanya Aira dengan wajah sedihnya.
"Mas beli sesuatu untuk kamu!" Raka menyerahkan bungkusan yang ia bawa.
"Apa ini?" tanya Aira.
"Nanti buka nya, sekarang makan dulu pecelnya," kata Raka, lalu ia mengambil alih piring pecel yang ada di pangkuan istrinya.
Aira memakan pecel itu dengan sangat lahap. Hingga suapan demi suapan pun habis dan isi piring itu ludes tak bersisa.
"Oiya, mama dan papa mana?" tanya Raka. Pasalnya ia tak melihat keberadaan mama dan papanya.
"Belum bangun!" sahut mbok Ani "Kalau hari minggu, bapak dan ibu bangunnya siang," sambung mbok Ani.
"Sejak kapan mereka bangun siang, mbok?" tanya Raka keheranan.
__ADS_1
"Sejak pulang dari rumah kalian waktu itu!" sahut mbok Ani, namun ia masih tetap fokus pada alat tempurnya alias peralatan dapur.
"Mbok! Ini alat gimana pakai nya?" tanya Raka pada mbok Ani, perihal tespeck yang ia beli.
"Haduh..! Katanya CEO masa pake alat begituan aja gak bisa!" ketus mbok Ani.
"Kan Raka CEO mbok, bukan Dokter!" timbal Raka sambil memonyongkan bibirnya.
"Den Raka bisa baca?" tanya mbok Ani.
"Bisa!" timbal Raka dengan serius.
"Makanya di baca! Itukan ada petunjuk nya," kesal mbok Ani.
"Kalian bicarain apaan sih? Kok aku di cuekin," kata Aira sambil menatap mbok Ani dan Raka bergantian.
"Gak bicarain apa-apa! Yuk kita keatas, Mas males liat muka mbok Ani. Bawaannya mau E'ek," kata Raka, Namum dengan cepat ia pergi dari sana.
Ia takut mbok Ani akan mengamuk jika mendengar ucapan joroknya.
Dan benar saja, mbok Ani yang mendengar langsung melempar Raka menggunakan talenan alas untuk memotong sayuran.
"Ampun mbok..!" teriak Raka, ia berlari secepat kilat dari tempat itu.
Sampai di dalam kamar mereka, Raka segera membuka bungkusan yang ia bawa. Ia membaca step cara pemakaian alat tersebut.
Setelah itu, ia segera menyuruh Aira menggunakannya.
"Jadi mas nyuruh aku gunain alat ini," kata Aira dan di angguki oleh Raka. "Tau gitu gak perlu repot-repot buat baca! Aku tahu cara pakeknya, waktu itu kan aku udah pernah tes," sambung Aira sambil menatap lekat wajah suaminya.
"Tapi kan waktu itu beda! Kamu cek sendiri, lah ini kita cek sama-sama," kata Raka.
Aira tersenyum, ia pun segera mengajak suaminya menuju kamar mandi dan menggunakan alat kehamilan itu.
Jantungnya berdegup kencang, begitupun dengan Raka. Mereka berdua sama-sama di landa rasa takut kecewa dan penasaran.
Setelah menggunakan alat itu, Aira segera menarik suaminya keluar dari kamar mandi. Dan meninggalkan alat kehamilan itu di samping wastafel.
"Kenapa keluar?" tanya Raka pada Aira.
"Aku takut! Nanti aja kita liat lagi, tunggu setengah jam ya," kata Aira.
Setengah jam kemudian, Aira dan Raka mengambil alat kehamilan itu. Mereka melihatnya bersama-sama.
Mata Aira berkaca-kaca saat melihat hasil dari alat itu.
"Sayang.." panggil Raka dengan lirih.
***Bersambung..!!
AWAS BANYAK TYPO πββοΈπββοΈπββοΈ***
__ADS_1