
Sore hari itu, Di kediaman pak Bambang di sibukan dengan kegiatan memasak mama Rina, Aira dan mbok Ani.
"Ma, udah pas belum rasanya?" tanya Aira sambil menyodorkan sesendok kuah sayur capcai pada mama Rina.
"Hmm, enak! Mama Rasa udah pas," kata mama Rina sambil merem melek merasakan kuah dari sayur itu.
"Udah sore, sayang. Lebih baik kamu mandi dulu," kata mama Rina pada Aira "Lagian perempuan hamil gak baik mandi malam," sambungnya
"Aira selesai in ini dulu ya, Ma." timbal Aira.
Aira menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu, setelah itu ia menuju lantai atas untuk melaksanan kan ritual mandi sore nya.
Saat ia masuk kedalam kamar, ia melihat suaminya sedang tertidur pulas. Aira pun mendekati suaminya, di elus nya dengan lembut wajah suaminya itu.
"Aku masih gak percaya kalo aku punya suami tampan dan baik seperti kamu mas," ucap Aira dengan pelan. "Aku kayak menang lotre bisa dapatin kamu, udah tampan, baik, penyayang gak neko-neko, plus kaya pula!" sambungnya dengan serius.
Bahkan ia tidak menyadari bahwa suaminya sudah bangun dan ikut memandang wajah Aira yang sedang sangat serius.
"Hm, jadi kamu samaain aku ama lotre ya!" tiba-tiba Raka berbicara sambil memajukan wajahnya pada wajah sang istri.
"Ehh, aku tercyduk!" Aira berniat pergi dari samping ranjang kamar itu.
Namun sebelum ia pergi, Raka lebih dulu menarik tangan nya. Hingga ia terjerambab ke atas tubuh Raka.
"Kamu nakal ya!"
"Enggak, aku tadi gak sengaja, aku juga gak nyamain kamu ama lotre kok!" kilah Aira.
"Tapi aku denger sendiri tadi! Aku belum tuli loh!" sahut Raka sambil menaik-turunkan alisnya.
"Heee," cengir Aira.
"Jadi kamu udah ngakuin kalo aku tampan dan baik?" tanya Raka "Tapi kenapa ngomongnya diem-diem begitu? Gak ngomong langsung?" tanya Raka, ia sengaja ingin menggoda istrinya itu.
"Hee, udah ah! Aku mau mandi," ucap Aira "Ayo lepas," Aira mencoba melepaskan tubuhnya dari dekapan sang suami.
"Biar gini dulu sebentar, aku masih pengen peluk kamu dan anak kita," lirih Raka di telinga Aira.
"Kamu manja," ucap Aira.
"Manja sama istri sendiri emang gak boleh? Emang ada larangan nya?" tanya Raka.
"Gak ada, tapi masalahnya! Aku mau mandi, hari udah sore," kata Aira.
Mendengar ucapan istrinya, Raka pun melepaskan dekapannya.
__ADS_1
Aira segera menuju kamar mandi, ia pun segera melaksanakan ritual mandinya.
Sepuluh menit kemudian, Aira keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di tubuhnya.
Ia tidak menyadari jika suaminya sedang memandangnya dengan tatapan aneh.
"Sayang," Raka mengekori Aira yang menuju lemari pakaian.
"Kenapa sih!" protes Aira, ia merasa risih dengan kelakuan suaminya.
"Aku mau ini," tanpa aba-aba Raka memeluk istrinya dari belakang, lalu mencium pundak sang istri.
"Raka! Ini udah sore loh!" protes Aira, sekarang ia mengerti apa yang di inginkan suaminya.
"Sebentar aja," ucap Raka dengan nafas berat.
"Enggak, aku gak mau mandi lagi! Ini udah sore, dan sebentar lagi magrib," kata Aira.
Bukannya mendengarkan perkataan istrinya, Raka malah membopong tubuh Aira seperti karung beras menuju ranjang.
"Raka! Kok kamu gak ngerti sih!" protes Aira.
"Aku janji gak akan lama! Cuman sebentar, lagian tongkat mak lampir udah gak tahan."timbal Raka.
Tangan nakalnya sibuk menarik handuk yang di kenakan sang istri.
Hampir setengah jam Raka menggempur tubuh Aira, Aira hanya bisa pasrah menerima serangan itu. Ia sama sekali tidak menikmati permainan Raka saat ini, kesal! Tentu kesal, karena waktu shalat magrib sudah hampir datang. Namun karena suaminya, ia harus mengulang mandinya.
Ia segera beranjak dari ranjang itu tanpa menghiraukan suaminya, bibirnya maju satu centi meter dari aslinya.
Raka yang melihat reaksi dan expresi istrinya menjadi gemas, ingin menunggani istrinya lagi. Namun ia melirik jam, ia lihat jam sudah menunjukan pukul setengah enam. Raka pun mengurungkan niatnya.
"Mau di bantuin mandinya?" tawar Raka.
"Aku bisa sendiri!" sahut Aira dengan mode garangnya.
"Kalo marah begitu! Kamu bikin aku makin pengen," ucap Raka sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Kamu jahat! Aku gak suka sama kamu!" Aira menunjuk wajah suaminya, setelah itu ia masuk kedalam kamar mandi.
"Aku makin cinta! Nanti malam siap-siap, kita bakal main lagi," ucap Raka setengah berteriak.
Setelah istrinya menuju kamar mandi, Raka bangkit dan segera memakai celana boxernya. Ia menyiapkan pakaian untuk sang istri. Agar setelah mandi, Aira bisa segera memakai pakaian.
"Ini aja deh, Aira kan sering pakai pakaian ini," ucapnya sambil memegang piyama berwarna biru muda.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, Aira keluar dari kamar mandi. Raka meyambut istrinya dengan senyuman. Namun yang di sambut masih dalam mode galak.
"Ini bajunya," ucap Raka sambil menyodorkan stelan baju pada Aira.
Tanpa berterimakasih, Aira langsung menyambar baju piyama itu.
"Udah dong marahnya," bujuk Raka "Mas nangis ni," sambungnya.
"Kamu gak sayang sama aku," ucap Aira.
"Siapa bilang?" tanya Raka.
"Aku lah! Kalo sayang, gak mungkin gangguin aku terus! Sampe-sampe aku mandi 2x," kata Aira.
"Hm, itu karena aku sayang ama kamu! Kamu candu buat mas, makanya mas jadi pengen terus," kata Raka sambil membantu istrinya memakaikan piyama tersebut.
"Itu bukan cinta, tapi mesum!" sahut Aira. "Udah sana mandi! Bentar lagi magrib," sambung Aira sambil mendorong tubuh suaminya.
"Iya, aku mandi! Tapi nanti malam setelah acara keluarga, kita main kuda-kudaan lagi ya," kata Raka sambil berjalan ke kamar mandi.
Setelah melaksanakan shalat magrib berjamaah, Aira dan Raka turun kelantai bawah.
Raka langsung menuju ruang tengah, ia duduk dan mengobrol bersama sang papa. Yaitu pak Bambang.
Sedangkan Aira, ia menuju dapur untuk membantu mama Rina dan mbok Ani untuk menata semua masakan yang telah mereka buat sore tadi ke atas meja makan.
"Ma, kira-kira Syakila datang enggak ya?" tanya Aira, ia ragu bahwa Syakila akan datang dengan keadaannya yang tengah hamil besar.
"Kalau dia sehat, dia pasti datang. Mama yakin itu!" timbal Mama Rina.
"Udah, kamu duduk di sini!" mama Rina menepuk salah satu kursi di samping nya. "Biar mama dan mbok Ani yang beresin semuanya. Orang yang lagi hamil muda, gak boleh capek-capek," sambung mama Rina.
"Iya non, non harus hati-hati. Dan gak boleh sering-sering main anu!" sahut mbok Ani.
"Anu apa mbok?" tanya Aira yang tidak nyambung.
"Bikin anak!" celetuk mama Rina.
Setelah itu, mbok Ani dan mama Rina tertawa terbahak-bahak. Sedangan kan Aira, wajahnya menjadi merah merona.
Ia malu sekali dengan perkataan absurd mama mertua nya dan mbok Ani.
***Bersambung..!!
Mohon maaf, up semakin lama. Othor lagi sibuk sesibuk sibuknya🙂
__ADS_1
Awas banyak typo***