
"Syakila gak habis fikir deh sama kalian," ucap Syakila sambil membanting koper uang itu lalu pergi lagi ke Kamarnya.
Setelah Syakila pergi, bu Wati dan Safira memungut uang yang berserakan di lantai akibat bantingan Koper yang di lakukan oleh Syakila.
"Tuh! Kan bu, apa kata Fira. Syakila pasti marah," gerutu Safira.
"Orang kamu sih! Pake keceplosan segala," kata bu Wati.
"Ih Bu, kan Fira gak sengaja." timbal Safira
Tak lama kemudian, Syakila kembali dengan koper pakaian dan tas ranselnya.
Bu Wati dan Safira terkejut melihatnya.
"Mau kemana kamu Kila?" tanya bu Wati.
"Mau pergi, kemana aja yang penting gak tinggal serumah sama iblis kayak Ibu dan kak Safira. Alm ayah pasti sedih banget di alam kuburnya ngeliat Istri dan juga Anak sulungnya berbuat jahat kayak gini." ketus Syakila dengan wajah dinginnya.
"Kok kamu ngomong gitu Kila?" tanya bu Wati "Selama ini kamu ikut makan lo dari hasil kerja ibu dan kakak kamu." sambung bu Wati.
"Asal ibu tahu ya! Aku gak pernah minta dan mau ibu kasih makan dari uang gak halal kayak gini!" bentak Syakila. "Buat kak Fira, berubah kak! Seharusnya kakak nasehatin ibu, bukanya ikut-ikutan." sambungnya
"Udah deh.. Kalau kamu gak suka sama apa yang aku dan Ibu lakuin. Mending diem! Gak usah ikut campur!" timbal Safira.
"Oke! Tugas aku buat nasehatin ibu sama kakak cukup sampai di sini, ingat ya kak, Bu, suatu saat kalian akan menerima hasil dari apa yang kalian lakukan saat ini!" tegas Syakila. "Kalau gitu, Kila pergi dulu." sambungnya.
Setelah itu, Syakila pergi dengan menyeret koper besarnya.
"Kemana aku harus pergi," ucap Syakila pada dirinya sendiri sambil membuka dompetnya "Tabungan ku tinggal 2,4 juta dan uang kes ku tinggal segini, kalau ke Jakarta emangnya cukup." sambungnya sambil memegang uang seratusan 7 lembar.
"Ah.. Masa bodo lah, yang penting aku bisa ketemu dan minta maaf sama Aira dan suami nya," ucap Syakila lagi, setelah itu dia menghubungi jasa Travel.
***
Siang ini, Aira sudah bersiap mengantarkan makanan untuk Raka ke kantor. Namun tiba-tiba matanya melihat mama Rina yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
"Mama," pekik Aira "Ma, bangun Ma," ucap Aira panik sambil mengguncang-guncang tubuh mama Rina.
"Mbok, mang Jajang, kang Parmin. Tolongin Aira," teriaknya.
Mbok Ani dan kang Parmin berlari mendekat pada suara Aira yang memanggil nama Mereka. Sedangkan mang Jajang, ia tidak mendengar karena ia berada di luar. Menunggu Aira yang hendak ke kantor Raka.
"Ya Allah Nyoya," ucap mbok Ani panik.
__ADS_1
"Nyonya kenapa Non?" tanya kang Parmin.
"Gak tahu kang, tadi Aira mau berangkat ke kantor Raka. Tapi Aira lihat mama tergeletak di sini." jelas Aira "Ayo kita angkat mama, kita bawa ke Rumah sakit," sambung Aira.
Dengan segera kang Parmin membopong tubuh mama Rina, sampainya di luar. Mang Jajang kebingungan.
"Loh, nyonya kenapa?" tanya mang Jajang.
"Ah.. Pake nanya lagi kamu! Cepet buka pintunya kita ke Rumah sakit sekarang," kata kang Parmin.
Dengan terburu-buru mang Jajang membuka pintu mobil itu, dan segera menacap Gas.
"Non, sebaiknya hubungi Bapak dan den Raka, biar kalau terjadi apa-apa sama Nyonya. Mereka gak nyalahin kita yang terlambat ngasih tahu," ucap kang Parmin.
"Iya kang, ini juga Aira lagi nyoba ngehubungin Raka." jelas Aira.
Telpon Aira pun tersambung dengan Raka.
"Hallo Aira? Kok kamu belum kesini?" tanya Raka setelah ia mengangkat telpon itu.
"Maaf Raka, tapi kamu harus kerumah sakit sekarang. Ini aku lagi di jalan sama kang Parmin dan mang Jajang. Tadi aku nemuin mama tergeletak pingsan." jelas Aira pada Raka.
"Apa!" pekik Raka "Ya udah aku kesana sekarang, tolong kamu hubungin papa ya," sambung Raka.
Setelah itu, kang Parmin bicara pada Aira.
"Non, Intan setan kemana ya? kok Nyonya pingsan dia gak ada," ucap kang Parmin heran.
"Tadi aku lihat, dia keluar sekitar jam sembilan!" sahut mang Jajan yang sedang menyetir.
"Biasanya dia di rumah terus ya, apa lagi kalau ada Raka," kata Aira.
"Iya, kang Parmin juga heran non. Dulu sebelum kenal sama Intan dan ibunya, nyonya tu baik banget bahkan sama kita-kita yang cuman jongosnya juga gak pernah dia beda-bedain sama statusnya dia yang kaya raya." cerita kang Parmin dan di angguki oleh mang Jajang.
"Masa sih kang?" tanya Aira tak percaya.
"Sumpah deh Non, kalau Non gak percaya tanya aja tu sama mang Jajang dan mbok Ani," ucap kang Parmin.
"Ho'oh Non, dia berubah semenjak ada Intan!" sahut mang Jajang.
"Kayak nya itu si Intan sama ibunya udah nyuci otaknya Nyonya deh," ucap kang Parmin "Kalau kang Parmin pikir-pikir ni, itu si Intan sama ibunya punya niat buruk sama keluarga tuan Bambang." sambung kang Parmin.
Karena asyik berghibah, tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Sakit.
__ADS_1
"Kok berhenti sih Jang?" tanya kang Parmin.
"Udah sampe Peak, keasikan ghibah sih! Makanya gak sadar kalau udah sampe," ucap mang Jajang.
"Ooh.. Iya-ya udah sampe. Hee," kata kang Parmin sambil nyengir kuda.
"Huh.. Dasar kang Parmin sama mang Jajang. Laki-laki suka ghibah," ucap Aira sambil membuka pintu mobil itu.
"Ye, non Aira. Non juga kan tadi ikut-ikutan ghibah." timbal kang Parmin.
"Udah-udah gak usah ribut, mending kita cepet bawa Nyonya kedalam biar cepet di rawat, nanti kalau Nyonya KO'IT kita lagi yang di salahin," kata mang Jajang lalu segera membopong mama Rina dengan di bantu oleh kang Parmin.
Dokter segera menangani mama Rina.
Tak lama kemudian Raka datang dengan tergesa-gesa dengan wajah panik. Dan belum lama Raka sampai, Papa Bambang pun sudah sampai juga di rumah sakit itu dan tak kalah paniknya dengan Raka.
"Apa yang terjadi Aira? Kenapa dengan mama kamu?" tanya pak Bambang.
"Gak tahu Pa, tadi Aira temuin mama pingsan di dekat sofa depan Tv." terang Aira "Dan sekarang mama lagi di tanganin sama Dokter di dalam," sambungnya.
"Lalu kemana Intan?" tanya Papa Bambang lagi "Biasanya kan dia selalu sama mama, tapi kok dalam keadaan seperti ini dia malah ngilang," sambung Papa Bambang.
"Aira gak tahu, tadi sih kata mang Jajang. Dia lihat Intan keluar," ucap Aira.
Dan tak lama kemudian, Dokter keluar dari Ruangan rawat mama Rina.
Semua orang yang ada di sana pun segera mendekati Dokter itu.
"Bagaimana keadaan pasien Dokter?" tanya Raka, Papa Bambang dan Aira serentak.
Dokter itu mengerutkan dahinya melihat kekompakan sekelompok orang yang ada di hadapannya.
***Bersambung..!!
Buat yang menanti kisah tentang penyakit Raka, mohon bersabar ya..!!
Nanti othor akan buka sedikit demi sedikit kisahnya..!!
Karena konflik yang sesungguhnya baru mau di mulai..!!
Jangan lupa jejaknya dan juga hadiahnya ya..!!
Biar othor tambah semangat untuk up..!!
__ADS_1
Happy reading..!! 😘😘😘***