
"Sayang jangan nangis, aku tahu aku salah! Aku minta maaf ya, aku cinta sama kamu dan aku janji aku akan berjuang dan gak akan putus asa," kata Raka, ia tahu bahwa saat ini istrinya sedang menangis.
Dua hari telah berlalu.
Aira masih mendiamkan Raka, bukan karena ia tidak mencintai atau mulai bosan dengan keadaan suaminya yang tidak sempurna. Justru niatnya ingin membuat suaminya bangkit dari keterpurukan yang di pendam oleh suaminya itu.
"Sayang! Nanti kita keluar ya, kita jalan-jalan, kamu mau kan!" ajak Raka penuh harap.
Namun Aira tidak menggubris ucapan suaminya. Ia tetap cuek sambil menuruni anak tangga.
"Sayang, ayo dong ngomong! Jangan diemin aku kayak gini, kan aku kemaren cuman ngomong kalo seandainya aku gak sembuh. Bukan gak bakal sembuh," ucap Raka mengikuti langkah Aira.
Aira berhenti dan menatap tajam suaminya.
"Cuman,! kamu bilang!" bentak Aira "Kamu bilang cuman, aku lelah Raka, aku lelah! Seakan-akan kamu gak punya niatan untuk sembuh. Aku lelah berusaha dan berjuang sendirian, atau selama ini kamu emang gak bener-bener serius sama hubungan kita," sambung Aira panjang lebar.
"Aku serius sama kamu sayang, aku cinta sungguh cinta sama kamu. Dan sekarang aku harus apa? Bahkan tanpa kamu tahu, selama ini aku udah usaha," ucap Raka. "Ayo ikut aku, aku bakal tunjukin semua buktinya sama kamu." imbuh Raka lalu menarik tangan Aira dengan paksa menaiki anak tangga itu lagi.
Tak jauh dari tangga itu.
"Wah! Kayaknya ini kesempatan ku buat dapetin Raka, hubungan mereka saat ini lagi gak baik-baik aja," ucap Intan yang berada di belakang tangga itu.
"Aku harus cari cara gimana caranya nyingkirin Aira secepatnya," Intan menyeringai, dan tiba-tiba terlintas ide jahat di dalam benaknya.
"Iya, itu dia. Aku bakal ketempat itu." tambah Intan.
Namun tiba-tiba, ia di kejutkan dengan tepukan tangan di pundaknya.
"Astaga!" pekiknya.
"Intan! Kamu ngapain berdiri di sini, kayak orang kaget lagi," kata mama Rina yang ada di belakang Intan.
"Ya ampun tante! Intan kira siapa," ucap Intan.
"Kamu ngapain disini? Tante tanya kok malah gak di jawab," tanya mama Rina lagi.
"A-nu tante, Intan lagi nyari anting-anting Intan yang jatuh,"
"Terus, udah ketemu?" tanya mama Rina lagi.
"Belum tan, tapi perasaan emang jatuh sekitar sini, soalnya tadi waktu sarapan masih ada," jelas Intan.
__ADS_1
"Ya sudah, tante bantu cari," kata mama Rina "Nanti kalau gak ketemu kita beli aja yang baru ya," sambungnya.
"Iya tan." timbal Intan.
Mama Rina dan Intan pun mencari anting-anting yang hilang.
Ya,,! Memang sebelumnya Intan sedang mencari sebelah Anting-anting nya yang hilang, dan di yakini terjatuh di sekitar area tangga itu. Namun tiba-tiba ia mendengar pertengkaran Raka dan Aira. Dan ia segera menyudahi mencari anting-anting nya.
Di dalam kamar Raka dan Aira.
"Kamu lihat Aira! Coba lihat!" teriak Raka, sambil mengacak-acak kertas dan bungkusan obat yang sangat banyak.
"Aku sudah berjuang Aira, sudah! Tapi semua sia-sia, aku laki-laki yang tidak berguna!" teriak Raka.
Mata Aira berkaca-kaca saat mendengar perkataan Raka. Ia tidak menyangka, bahwa ia telah melukai hati suaminya dua hari ini.
"Raka, maafin aku," lirihnya sambil mendekati Raka.
"Cukup Aira! Stop! Jangan mendekat," ucap Raka. Aira pun menghentikan langkahnya.
"Raka, aku minta maaf! Aku gak tahu, tolong maafin aku," tangis Aira.
"Biar kamu tahu semuanya Aira, aku udah konsultasi ke beberapa Dokter. Dan kamu tahu apa kata mereka! Mereka bilang ini lah itu lah, aku semakin pusing Aira, aku lelah. Dan aku gak tega lihat kamu selalu menderita setiap malam, hati ku sangat sakit." Raka menitipkan Air matanya. "Aku sangat mencintai kamu, aku tahu kamu terluka saat kamu bilang AKU GAK PAPA RAKA, KITA COBA BESOK LAGI YA! Aku sangat tahu sayang, aku udah selalu mencoba dan mencoba tapi selalu gagal, Hahaha aku memang gak berguna," sambung Raka dengan tertawa miris.
"Aku tahu kamu juga sangat mencintai dan menyayangi aku Aira, aku juga tahu kalau kamu marah cuman buat aku semangat lagi. Tapi aku gak mau kasih kamu harapan yabg besar jika nanti nya kamu bakal lebih kecewa lagi,"
Tubuh Raka merosot kelantai, air mata nya mengalir. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Sedangkan Aira, ia juga menangis sesegukan.
Perlahan ia mendekati tubuh Raka yang sudah terduduk lemas di lantai.
"Maafkan aku sayang, ku mohon bangkit lah! Aku gak punya niatan buat nyakitin perasaan kamu. Aku minta maaf udah ngancurin pertahanan kamu yang seperti tegak dan kokoh padahal sebenarnya kamu rapuh, tolong maafin aku," Aira memeluk tubuh suaminya yang lemah. Mereka menangis berdua di dalam kamar itu.
"Aira, Jangan paksain perasaan kamu buat lelaki yang gak berguna kayak aku. Jika nanti datang orang yang bisa buat kamu nyaman, aku Ikhlas," lirih Raka.
"Husst," Aira melepas pelukan itu dan meletakan jari telunjuk nya di bibir Raka. "Jangan ulangin omongan itu, aku akan lebih terluka lagi Raka. Sampai kapan pun cinta ini gak akan pernah terkikis oleh oleh apapun," sambung Aira.
"Terimakasih, terimakasih Aira. Kamu udah mau mencintai aku dengan tulus," lirih Raka lagi. Ia menghapus air mata yang mengalir di pipi istrinya.
"Jangan buang air mata ini, air mata kamu sungguh berharga sayang," sambung Raka.
"Kamu bilang air mata ku berharga, lalu apa ini? Apakah air mata seorang lelaki tidak berharga?" Aira juga menghapus sisa air mata suaminya.
__ADS_1
Mereka berdua tersenyum, lalu berpelukan lagi.
"Kenapa kamu bilang air mata ku berharga?" tanya Aira sambil memeluk tubuh Raka dengan erat.
"Kan kalo air matanya terus keluar nanti bisa jadi mutiara, bukankah akan berharga? Dan kalo orang lain tahu istri Rakanda Wiryawan punya air mata mutiara terus kamu di culik gimana?" kekeh Raka "Nanti gak ada lagi dong yang nemenin CEO Impoten yang tampan ini!" imbuh Raka.
"Raka! Kamu ya, kok ada-ada aja sih! Aku kan bukan putri duyung kaya di film lee men ho oppa," Aira memajukan bibirnya karena kesal mendengar ucapan suaminya yang tidak masuk akal.
"Lee men ho oppa? Siapa?" tanya Raka yang tidak pernah mendengar nama itu.
"Itu lo artis korea yang ganteng, yang main film The legends of blue sea. Masa kamu gak tahu!" kata Aira.
"Mana aku tahu artis begituan, tapi gantengan aku kan dari dia," Raka menaik turun kan alisnya.
"Iya lah, gantengan suami Aira. Aira kirana gitu lo." timbal Aira.
Setelah itu mereka terkekeh, Ya,,! Itu lah mereka berdua, setelah menangis mereka tertawa kembali.
Sejenak mereka dapat melupakan masalah yang mereka hadapi.
Dan untungnya kamar itu kedap suara, jadi tidak ada yang mendengar apapun yang du ucapkan da lakukan mereka berdua.
***Bersambung..!!
Maafkan othor ya πππ terkadang realita memang tak sesuai dengan expektasi. Tapi author akan mencoba memberikan yang terbaik untuk kalian.
Masalah Raka Adalah CEO dan kenapa Raka gak gunain uangnya buat berobat, aoutor kasih tahu! Uang bukan lah segala nya, dan gak semua jalan hidup bisa Dengan mudah di lalui dengan ada nya uang.πππ
Jangan bosan ya baca karya author yang acak-acakan ini, setelah ini akan ada konflik antara Intan dan keluarga Raka. Tapi tidak lupa kita simak dulu kekonyolan Syakila dan Dion di MP mereka yaπ€π€π€
Happy readingπππ
See you next upπ€π€π€***
Mampir juga di karya kakak-kakaj online othor ya..!!
1
2
__ADS_1