
Ia mengeryitkan dahinya, kala melihat sepasang penganting paruh baya yang sedang tertawa cekikikan di ruang tengah rumah itu.
"Ayah, ibu! Katanya minap?" tanya Dion yang mendekat kearah sofa ruang tamu itu.
Bu Yanti dan pak Budi menoleh ke arah suara Dion.
"Gak jadi." timbal pak Budi dan bu Yanti bersamaan.
"Oiya, karena kamu udah keluar kamar. Ni bawa masuk pakaian kamu dan menantu ibu," kekeh bu Yanti sambil melemparan pakaian Dion dan Syakila. "Ini makanan buat kamu dan Syakila, ibu tahu pasti kamu gak akan beri Syakila kesempatan," sambung bu Yanti.
Hal itu membuat Dion menjadi kikuk, karena tertangakap basah.
"Hee, ibu tahu aja." timbal Dion sambil menerima bungkusan makanan itu dari tangan ibu nya.
"Kalau main jangan kasar-kasar kayak ayah mu Yon! Kasian Syakila," ucap bu Yanti sambil melirik suaminya.
"Loh loh! Kok bawa-bawa ayah sih? Gitu-gitu juga ibu sering minta nambah!" sahut pak Budi kala mendengar namanya di bawa-bawa.
"Kan bener kata ibu, kalok ayah selalu main kasar," kata bu Yanti.
"Udah ah, Dion mau masuk kamar lagi! Dari pada dengerin pasangan tua yang masih mesum seperti ibu dan ayah!" seru Dion lalu kembali ke kamarnya.
"Yok bu, kita main enjot-enjotan! Masa kita kalah sama yang muda, siapa tahu di saat kita yang sudah berumur ini usaha. Dion bakal bisa punya adik," kata pak Budi, lalu tanpa aba-aba menggendong tubuh kurus istrinya menuju kamar.
Di dalam kamar.
Syakila mengerjakan matanya perlahan, lalu ia menarik membuka selimut yang menutupi tubuh polosnya. Saat ia meyingkap selimut itu, tampak noda merah di seprai putih penutup kasur ranjang kamar itu.
"Auhh," pekik Syakila saat ingin beranjak dari ranjang.
"Sayang, kamu sudah bangun," Dion mempercepat langkahnya menuju ranjang.
"Sakit," lirih Syakila.
"Kamu mau kemana? Biar aku antar," kata Dion.
"Mau ke kamar mandi, aku mau pipis dan mandi. Tapi ininya perih," ucap Syakila sambil menunjuk bagian bawahnya.
Tanpa berkata apapun, Dion segera membopong tubuh Syakila menuju kamar mandi.
"Kamu keluar!" usir Syakila saat Dion sudah mendudukan tubuhnya di bathtup.
"Kenapa? Kata kamu sakit, biar aku bantu," ucap Dion.
"Aku malu, lagian aku bisa sendiri," kata Syakila.
"Udah ah, gak usah bantah. Kalau kamu gak mau aku mandiin, nanti malah goa nya aku masukin lagi nih!" ancam Dion.
Syakila memajukan bibirnya, "Ya udah deh, tapi jangan macam-macam lagi ya. Aku capek dan lapar," ucap Syakila.
Setelah memandikan Syakila selama kurang lebih dua puluh menit, Dion kembali membopong tubuh Syakila menuju ranjang.
__ADS_1
"Tunggu sini, gak usah gerak. Biar aku yang ambilin baju tidur kamu," ucap Dion.
Syakila mengangguk. Dion memilihkan piyama panjang untuk di kenakan Syakila, saat Dion memakaikan piyama itu. Yang di pakaikan tidak mau diam.
"Keong, diam!" Dion memaksa Syakila untuk diam.
"Itu, aku ngambil itu," ucap Syakila.
Dion melirik sesuatu yang di tunjuk oleh Syakila, ia tersenyum melihat tingkah istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Kamu lapar?" tanya Dion sambil fokus memakaikan baju Syakila.
"He'em, aku lapar dan capek pula." timbal Syakila.
"Harusnya yang capek itu aku keong!"
"Kok bisa kamu?" tanya Syakila sambil menyodorkan kaki nya ke lubang celana yang di pegang oleh Dion.
"Kan yang mompa aku, bukan kamu. Kamu cuman enak-enakan di bawah." timbal Dion.
"Ihh, kamu! Aku juga capek tahu! Mana sakit juga," Syakila memajukan bibirnya.
Dion terkekeh mendengar ucapan istrinya. "Tapi enak kan?" Dion menaik turunkan alisnya.
"Nah! Udah, mau sisiran dulu apa langsung makan?" tanya Dion.
"Sisiran lah, tapi sisirin," pinta Syakila dengan manja.
Dengan telaten dan hati-hati Dion menyisir rambut panjang istrinya.
"Kol piring sama sendoknya cuman satu?" tanya Syakila.
"Barengan, biar aku yang suapin kamu. Kamu kan capek, aku gak mau kamu sakit," ucap Dion dengan penuh perhatian. "Aku juga pengen, benih kecebong kita cepat tumbuh di dalam sini," sambung Dion.
"Emang kamu udah pengen punya anak?" tanya Syakila.
"Lalu apa kamu juga gak pengen?" tanya balik Dion.
"Pengen, tapi aku maunya nanti harus cowok. Biar ganteng kayak papanya," ucap Syakila sambil mencubit gemas pipi Dion.
Dion meletakan piring yang ia pegang ke atas ranjang.
Lalu ia memeluk tubuh Syakila dengan erat.
"Perlu kamu tahu sayang, mau dia lelaki atau pun perempuan. Dia tetap anak kita," bisik Dion "Anak kita yang sah yang di beri oleh tuhan untuk kita," sambungnya.
Seminggu kemudian.
Kini Dion mulai bekerja lagi dengan Raka di kantor.
Mereka belum sempat pindah rumah, karena ibu dan ayah Dion mengingkan mereka tinggal di rumah mereka lebih lama lagi.
__ADS_1
***
Di kediaman pak Bambang.
Setelah Raka berangkat ke kantor, Aira kembali menuju kamarnya dan segera bergegas mandi.
Di lantai bawah rumah itu.
"Intan, temenin tante ke mall yuk?" ajak mama Rina.
"Duh tante, kali ini Intan beberan gak bisa deh! Intan udah ada janji di luar," ucap Intan menolak ajakan mama Rina.
"Ya udah, tante berangkat sendiri aja," kata mama Rina.
Setengah jam kemudian, mama Rina berangkat ke mall dengan di antar oleh mang Jajang.
Selepas kepergian mama Rina.
"Ini kesempatan ku untuk menghabisi Aira.," Intan menyeringai, setelah itu ia pergi menuju kamarnya.
Ia mengambil karung yang entahal ada apa di dalamnya.
"Mati kamu sekarang Aira," ucap Intan sambil menuju kamar Raka dan Aira.
Sesampainya di depan kamar Aira, ia mengintip apakah ada Aira atau tidak.
"Aman! Kayaknya dia lagi di kamar mandi," ucap Intan.
Sedangkan Aira, ia sedang berendam air hangat di bathtup menggunakan sabun beraroma rose kesukaannya.
Dengan bersenadung merdu ia menggosok tangan dan kakinya. Tanpa ia sadari bahaya sedang menunggunya.
Setelah merasa puas berendam, akhirnya Aira membilas busa sabun yang
melekat di tubuhnya.
"Hmmm, segarnya," ucap Aira sambil mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk, setelah itu ia meraih rok dan baju kaosnya yang tergantung di dalam kamar mandi itu.
Setelah memakai pakaiannya, ia membuka pintu kamar mandi dan menuju kursi yang ada di depan meja riasnya. Saat ia hendak duduk tiba-tiba matanya membulat dan tubuhnya bergetar. Ingin berteriak pun suaranya terasa tercekat di tenggorokan.
"Jangan bergerak Aira, jangan! Jika kau bergerak maka kau akan mati. Dan jika kau mati maka Raka akan terpuruk dan hancur," ucap Aira dalam hati.
Wajahnya pucat dan tubuhnya berkeringat dingin.
Di luar kamar itu.
"Mampus, sebentar lagi kamu bakalan mati," ucap Intan dengan seringai liciknya.
***Bersambung..!!
See you next up ya..!!
__ADS_1
Happy reading..!!
Jangan lupa, beri author dukungan sebanyak-banyaknya. 😘😘😘***