
Malam semakin larut, akhirnya Raka menyuruh Aira untuk segera tidur ke dalam kamar. Sedangkan dengan Raka, ia lebih memilih tidur di luar kamar dengan beralaskan kasur lantai.
Keesokan paginya, perlahan Raka mengerjapkan matanya. Ia pun bangkit dari tidurnya karena melihat hari sudah mulai terang.
Tiba-tiba Aira datang dari arah dapur dengan secangkir teh hangat di tangannya.
"Raka, kamu udah bangun," ucap Aira
"Iya, kamu udah lama bangunnya?" tanya Raka
"Udah, cepetan sana kamu cuci muka. Ini aku buatin teh hangat." kata Aira lalu meletakan teh itu di atas meja bundar yang terbuat dari kayu.
"Ya udah, aku ke kamar mandi. Sekalian mau langsung mandi dulu, habis itu aku mau ke kantor," ucap Raka lalu bangkit menuju kamar mandi.
Namun saat ia sampai di dapur ia menghentikan langkahnya.
"Menggoda sekali makanan ini," ucapnya sambil mendekat kearah meja makan yang ada makanan tersusun rapi di atasnya "Kalau gitu nanti aja mandinya, aku makan dulu." sambung Raka, dengan tidak sabaran ia mengisi penuh piringnya dengan nasi dan juga berbagai macam lauk.
Aira yang sedang duduk di kursi rotan yang ada di ruang tamu mendengar ada suara yang berasal dari dapur itu pun langsung segera beranjak dari duduknya menuju meja makan. Dia takut jika makanan yang sudah ia sajikan di acak-acak oleh kucing.
Saat Aira sampai di dapur, yang ia lihat di meja makan bukan kucing berkaki empat melainkan kucing besar yang sedang duduk dan makan dengan sangat lahap.
Melihat hal itu, Aira pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Katanya mandi kok malah sarapan gak ngajak-ngajak," ucap Aira yang sudah berdiri di belakang Raka.
Seketika Raka teringat akan Aira yang menunggunya di ruang tamu. Perlahan ia meletakan sendoknya dan membalikan tubuhnya ke arah Aira dan kini mereka pun berhadapan.
"Maaf," ucap Raka "Habisnya saat lihat makanan ini aku langsung lapar." sambungnya.
Aira yang melihat wajah Raka yang menurutnya lucu itu pun langsung terkikik geli.
"Kamu makan udah cuci muka belum?" tanya Aira dan Raka hanya menggeleng.
"Ihh jorok banget," ucap Aira "Ya udah lanjutin makannya, Aku sengaja masak banyak buat kamu sarapan sebelum berangkat ke kantor." sambungnya.
Raka pun melanjutkan makannya, setelah makan ia pun segera menuju kamar mandi.
Tak lama setelah itu.
"Aira, aku ke kantor dulu ya. Oiya! Aku mau, nanti kamu bikinin aku makan siang terus anter ke kantor. Ini alamat kantornya." kata Raka sambil memberikan alamat kantornya pada Aira.
Aira pun mengaguk dan setelah itu Aira mencium punggung tangan Raka, lalu Raka berangkat ke kantor sedangkan Aira masuk ke dalam kontrakan untuk melakukan pekerjaannya membuat kue.
***
__ADS_1
"Tante Rina, Intan mau gadis kampungan itu pergi dari hidup Raka. Yang harus jadi istri Raka itu kan Intan bukan gadis kampungan itu." kata Intan merajuk.
"Intan tenang aja, tante punya rencana yang bagus untuk membuat dia pergi dari hidup Raka." timbal mama Rina.
"Apa tante?" tanya Intan lalu mama Rina membisikin rencananya di telinga Intan.
"Ide bagus tante, dengan begitu gadis kampung itu akan menjauh dari Raka!" sahut Intan dengan seringai liciknya.
Setelah itu Intan pun pergi menuju anak cabang perusahan WIRYAWAN Group yang di pimpin oleh Raka. Dengan anggunnya dia berjalan memasuki kantor itu.
"Raka nya ada?" tanya Intan
Sedangkan Aira sedang berjalan di depan gerbang kantor itu dan menuju lobi dengan rantang makanan yang ia bawa.
"Maaf pak, pak Raka nya ada?" tanya Aira yang kebetulan ada Intan di sampingnya.
Resepsionis itu pun bingung melihat dua wanita yang ada di hadapannya. Sama-sama menanyakan bosnya.
"Mbak berdua ini siapa?" tanya resepsionis itu yang juga tidak mengenali Intan apa lagi Aira karena ia baru beberapa hari ini bekerja di perusahaan Raka.
"Saya calon istrinya!" sahut Intan dengan cepat.
Resepsionis itu melihat penampilan Intan lalu membandingkannya dengan Aira.
"Kalau mbak yang satu ini siapa?" tanyanya lagi sambil menunjuk Aira.
Bukannya percaya, resepsionis itu malah menertawakan Aira. Kebetulan sudah waktu jam makan siang, jadi banyak orang di bagian lobi kantor itu yang mendengar ucapan Aira. Mereka pun mengejek Aira habis-habisan dan hal ini malah menjadi kesempatan Intan untuk mempermalukan Aira di depan umum.
"Mbak ini ngimpinya ketinggian," ucap karyawan A
"Iya, mana mungkin perempuan kaya dia tunangan CEO perusahaan ini!" sahut karyawan B
"Dia ini cuman ngaku-ngaku, kalian tahu gak calon istri Raka itu saya," ucap Intan dengan angkuhnya. "Lebih baik usir aja perempuan ini dari sini." sambung Intan menghasut para karyawan kantor.
"Ya udah, ayo kita usir dia." timbal karyawan lain.
Saat mereka hendak menarik paksa Aira untuk keluar dari lobi itu, tiba-tiba ada suara yang meneriaki mereka.
"Hey.. Hentikan! Apa yang kalian lakukan pada calon istri saya?" bentak Raka dengan geram.
Semua karyawan terkejut mendengar ucapan Raka yang mengatakan bahwa Aira adalah calon istrinya.
Dengan cepat Intan mendekati Raka lalu memegang bahu Raka, namun dengan cepat Raka menepisnya.
"Jangan coba-coba sentuh aku dengan tangan kotormu!" Kata Raka dengan intonasi tinggi.
__ADS_1
"Raka, kamu kok gitu sih sama aku? aku kan kesini pengen makan siang bareng kamu," ucap Intan dengan manja dan tak tahu malunya.
Raka pun mendekat pada Aira tanpa memperdulikan Intan dan seluruh karyawan yang ada disana.
"Sayang, kamu gak papa? Apa mereka nyakitin kamu?" tanya Raka sambil memeluk Aira yang matanya sudah berkaca-kaca sejak tadi.
"Enggak, aku gak papa." timbal Aira sambil menahan air matanya agar tidak jatuh. "Aku kesini bawa makanan yang kamu pinta," sambung Aira sambil mengangkat rantang makanan yang ia bawa.
"Kalian semua bubar," ucap Raka dengan tegas membuat karyawan yang mengolok-olok Aira menjadi ketakutan.
Setelah itu, Raka pun menggandeng Aira masuk kedalam kantor itu dan makan bersama di ruangan kebesaran Raka.
Intan yang melihat hal itu pun menjadi sangat kesal. Bukannya mempermalukan Aira malah justru dia yang menjadi malu.
"Awas kamu perempuan kampung! Aku bakal bikin perhitungan," ucap Intan yang menatap Aira berjalan bersama dengan Raka.
Intan tidak benar-benar pergi, ia menunggu di kantin yang berada di kantor itu. Saat ia melihat Aira keluar dari kantor itu ia pun segera mengikuti kemana Aira pergi.
Saat motor yang di tumpangi Aira berhenti di sebuah toko baju, Intan pun memberhentikan mobilnya dan menyusul Aira.
"Hey gadis kampung," panggil Intan
Aira pun menoleh ke arah Intan yang memanggilnya dengan sebutan gadis kampung itu.
"Mau apa lagi?" tanya Aira.
"Aku mau meringatin kamu ya! Jauhin Raka, karena Raka gak pantas nikah sama kamu. Kamu itu cuman perempuan kampung yang gak ada apa-apanya di banding aku," ucap Intan dengan percaya diri.
Semua pengunjung toko itu memperhatikan perdebatan Aira dan Intan.
"Aku bakal ninggalin Raka, kalau kamu bisa membuat Raka berpaling dari aku. Dan dia tergoda sama kamu!" tegas Aira, yang membuat semua pengunjung toko itu menatap kagum dengan ketegasan Aira.
"Hati-hati mbak, dijaga suaminya kalau entar beneran tergoda gimana? Secara kan sekarang jaman pelakor," ucap salah seorang Ibu-ibu.
"Saya percaya sama suami saya kok buk," ucap Aira dengan senyum mengejek pada Intan.
Karena merasa malu dengan hujatan para pengunjung toko itu, akhirnya Intan pergi meninggalkan Aira dengan perasaan kesal.
"Awas kamu perempuan kampung! Aku bakal bikin perhitungan sama kamu," ancam Intan sebelum ia pergi dari tempat itu.
Aira hanya tersenyum melihat kepergian Intan.
***Bersambung..!!
Jangan lupa tinggalkan jejak, Like coment hadiah dan juga tambah ke daftar Fav kalian.
__ADS_1
😘😘😘***
"