
Safira berdiri di pinggir Jalan yang tidak jauh dari Apartemen Dion dan Syakila. Berharap sebuah Taxi berhenti di hadapan nya.
Tiba-tiba saja, sebuah Mobil hitam berhenti tepat di sampingnya.
"Oei.. Kasian deh loh!" teriak seseorang sambil menurunkan kaca mobilnya.
Safira tidak mengindahkan teriakan orang yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Ia malah berjalan menyusuri jalanan untuk menghindari Orang tersebut.
"Hey.. Nona malang! Mau kemana kau?" teriak orag itu lagi.
"Bukan urusan Mu!" sahut Safira "Lebih baik sana pergi! Tak usah mengikuti langkah ku!" sambungnya dengan acuh.
"Siapa juga yang mengikuti mu, aku ingin pulang," kata Orang menyebalkan itu yang tak lain adalah Asisten Vino.
"Dasar pria menjengkelkan!" gerutu Safira yang terus berjalan dan di ikuti oleh Mobil yang di kendarai Asisten Vino.
Saat sampai jalan yang berlubang dan terdapat air di lubang jalan itu. Asisten Vino melajukan mobil nya dengan meninggikan kecepatannya.
Byur.. Air Kubangan jalan itu mengenai tubuh Safira.
"Ya tuhan.. Semoga orang yang men'Dzalimi aku terkena karma mu," ucap Safira dengan suara yang sedikit di tahan.
"Bwahahaaaa.. Kapok! Bye bye Nona malang," ucap Asisten Vino terbahak sambil menacap gas mobilnya.
Safira kesal, ia tidak habis fikir sebenarnya terbuat dari apa Hati pria yang menyebalkan itu. Sehingga tidak punya perasaan sedikit pun terhadap seorang wanita.
"Aku sumpahin kamu dapat sial setelah ini!" maki Safira sambil mengelap bajunya yang basah.
Tak lama kemudian, Safira menghentikan tukang Ojek yang lewat. Ia pun pulang di antarkan tukang Ojek tersebut.
Kekesalan nya bilang saat melihat Mobil yang di kendarai Asisten Vino mengalami kemogokan di tempat yang cukup sepi dan jauh dari bengkel.
"Hahaha.. Kasian deh, akhirnya Bapak dapat balasan juga," tawa Safira pecah saat melihat Asisten Vino sedang mengutak-atik mesin Mobilnya di pinggir jalan.
"Da.. Da.." Safira melambaikan tangannya kepada Asisten Vino. Asisten Vino hanya diam saja, tidak berniat membalas perbuatan Safira.
__ADS_1
***
Saat ini Raka sedang berada di Kantor dan duduk di kursi kebesaran nya. Saat ia sedang sibuk dengan Laptop dan berkas yang menumpuk, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Hallo.." sapa nya kepada sang penelpon.
"Hallo Raka.. Aku sudah berada di Bandara, bisakah jemput aku. Aku belum mengenal daerah mu ini," ucap sang penelpon.
"Hmm.. Baiklah, akan ku jemput sebentar lagi. Kau tunggulah dulu disana." kata Raka lalu mematikan sambungan telpon itu.
Raka segera menutup Laptop nya dan menyusun kembali berkas-berkas yang ada di meja kerja nya. Ia pun bergegas meninggalkan kantornya.
"Pak Raka mau kemana?" tanya Tuti sang sekertaris Gesrek.
"Saya ada urusan di luar.. Tolong kalau ada yang mencari, katakan saya sedang tidak bisa di ganggu." kata Raka kepada Sekertaris Tuti.
"Tapi bagaimana kalau Bu Aira yang kemari, bukan kah sebentar lagi jam makan siang?" tanya Sekertaris Tuti.
"Hmm.. Bagaimana ya?" Raka nampak bingung harus bagaimana. "Begini saja, kamu katakan sama dia, suruh pulang saja. Karena saya pulang sore dan kalau dia tanya lagi, kamu jawab saja kalau saya sedang temu Client dan tidak bisa di ganggu." sambung Raka dengan senyum yang sedikit di paksakan.
Raka pun segera meninggalkan Tuti yang memandangnya dengan perasaan heran.
'Aneh.. Seperti nya ada yang sedang di sembunyikan oleh si Bos.. Tapi biarlah, itukan urusan dia,' batin Sekertaris Tuti.
Dan benar saja, setengah jam kemudian Aira datang dengan rantang makanan di tangannya.
"Mbak Tuti.. Raka mana?" tanya Aira yang keluar dari ruangan Raka, ia nampak bingung karena tidak melihat keberadaan Suaminya.
"Pak Raka sedang tidak berada di Kantor Bu!" timbal Sekertaris Tuti.
"Dia kemana? Kok gak biasanya dia pergi tanpa ngabarin aku," ucap Aira.
"Dia sedang temu Client penting Bu, kata Pak Raka sebelum pergi. Ibu tidak usah menunggu karena Pak Raka pulang sore hari," jelas Sekertaris Tuti.
"Ya Udah.. Saya mau istirahat dulu di dalam," kata Aira lalu kembali masuk kedalam ruangan Raka.
__ADS_1
Satu jam.. Dua jam.. Dan akhirnya Aira tertidur di kamar yang ada di ruangan itu.
"Emm.. Aku ketiduran, Raka belum juga balik," Aira membuka matanya dengan perlahan. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh Ruangan, namun ia tak melihat sosok suaminya.
"Udah jam setengah empat.. Kok Raka belum balik sih!" gerutu Aira sambil melihat jam di Ponselnya.
Ia pun mencoba menghubungi Suaminya. Aktif namun tidak di angkat, ia pun mencoba menghubungi nomer itu lagi. Namun nomer yang semula aktif kini sudah tidak aktif.
'Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service arya, cobalah beberapa saat lagi!'
"Raka kamu kemana? Kenapa ponsel kamu di matiin, sebenarnya kamu keluar sama siapa?" lirih Aira. Fikiran nya menjadi kacau, ia mulai berfikir yang bukan-bukan dan tidak-tidak tentang suaminya.
"Kamu beneran temu Client penting atau sama perempuan lain," ucap nya dengan mata berkaca-kaca.
Cengeng.. Mungkin bawaan Ibu hamil, karena mood Ibu hamil suka naik turun tiba-tiba.
Aira pun berjalan keluar dari ruangan Raka dan membawa rantang makanan yang masih utuh itu.
"Bu.. Apa ibu baik-baik saja?" tanya Sekertaris Tuti yang masih berada di kantor itu.
"Saya baik-baik aja Mbak.. Saya mau pulang," ucap Aira sambil mengelap air matanya yang menetes.
Dengan hati sakit dan perut kosong Aira kembali ke Rumah, berharap suaminya sudah berada di Rumah.
Sedangkan di sebuah Restoran, Raka dan seseorang sedang makan dengan lahap nya.
"Makanan di sini enak-enak.. Ku rasa aku akan betah berada di sini," ucap seseorang sambil menyatap makanannya dengan lahap.
"Habiskan lah, jika masih kurang. Kita akan pesan lagi," kata Raka. "Aku malah akan sangat senang dan bahagia jika kau mau menetap di sini," sambung Raka dengan wajah bahagia.
"Terimakasih, kau memang yang terbaik," ucap Orang itu sambil tertawa senang.
**Bersambung..
Yuk.. Dukungan Karya remahan kerupuk Author ini dengan jejak dan sedikit poin kalian, dan yang masih punya vote mingguan sedekah kan pada Raka dan Airaš¤ Agar Author makin semangat untuk update**.
__ADS_1