
Pria itu hanya menyipitkan matanya saat melihat wanita jadi-jadian itu ada di hadapannya.
"Ngapain kamu disini?" tanya pria itu yang tak lain adalah Dion
"Apa urusannya sama kamu!" ketus Safira
Dion beralih pada Raka dan Aira.
"Ka, siapa dua wanita ini?" tanya Dion "Dan mau apa mereka kesini? Jangan-jangan Uang dan surat perjanjian ini untuk dua setan betina ini." sambung Dion sambil menunjuk wajah dua wanita setan yang ada di hadapannya.
"Mereka adalah bibi dan sepupu Aira." timbal Raka dengan malas.
"Wanita seperti mereka berdua tidak pantas jadi keluarga Aira," ucap Dion sambil berjalan menuju meja kerja Raka.
"Pantas gak pantas itulah kenyataannya!" sahut Safira sambil mengikuti langkah Dion "Mana uangnya? Kami mau lihat uang itu asli atau palsu!" sambung Safira sambil mendekati koper hitam yang baru saja di ketakan oleh Dion ke atas meja di hadapan Raka.
Raka pun segera membuka koper itu, dan tampaklah gepokan uang berwarna merah di dalam koper itu.
Mata Safira dan bu Wati membuat dan mulut mereka terbuka sempurna.
"Wah! Ini semua beneran uang bu," ucap Safira
"Iya ini beneran," kata bu Wati dan hendak menyentuh uang itu.
Dengan cepat Raka menepis tangan bu Wati "Jangan sentuh uang ini, sebelum kertas ini kalian tandatangani!" sahut Raka sambil menunjuk map yang di bawa Dion.
Bu Wati dan Safira mengambil map yang ada di tangan Dion, mereka membaca isi dari perjanjian itu.
Isi perjanjian itu adalah, mereka tidak boleh mengusik Aira lagi atau seluruh hal yang berhubungan dengan Aira, jika mereka melanggar maka mereka akan di penjara dalam kurun waktu yang lama.
Safira menghempaskan map dan kertas itu dengan kasar.
"Perjanjian apa itu? Aku tidak mau tanda tangan," ucap Safira
"Kalau tidak mau tanda tangan, gampang! Aku tinggal telpon polisi saat ini juga. Atas kasus penganiayaan dan pemerasan," kata Raka dengan menyeringai.
Bu Wati dan Safira nampak berfikir, dan akhirnya mereka berdua menandatangani kertas itu.
"Sudah, berikan uang itu," ucap Safira sambil meletakan kertas itu dengan kesal.
__ADS_1
"Silahkan ambil uang ini, tapi ingat! Karma itu pasti ada," ucap Dion angkat bicara.
"Karma karma karma! Tahu apa kamu tentang karma?" tanya bu Wati
"Saya tidak bisa menjelaskan apa itu karma? Tapi saya yakin suatu saat nanti kalian akan menemukannya dan tahu apa itu karma," kata Dion lagi.
"Cuih, peduli setan!" ketus Safira
"Ya sudah, uang sudah ada di tangan kalian. Silahkan pergi dari sini dan jangan pernah kembali," ucap Raka sambil menunjuk tangannya kearah pintu.
Bu Wati dan Safira hendak keluar dari ruangan itu dengan berlenggak lenggok. Namun saat kami mereka sudah hampir menginjak batas pintu itu, Raka meneriaki mereka.
"Hey..! Semoga uangnya bermanfaat, kalian tahu apa nama uang itu?" tanya Raka dengan suara lantang.
Bu Wita dan Safira pun menggeleng.
Raka dan Dion terkekeh sedangkan Aira hanya diam saja sejak tadi.
"Uang setan di makan jin," ucap Raka dan Dion bersamaan.
Hal itu tentu membuat bu Wati dan Safira semakin kesal, dengan cepat kedua wanita setan itu keluar dari ruangan Raka dan meninggalkan perusahaan itu.
"Raka, kenapa kamu kasih mereka uang sebanyak itu?" tanya Aira
"Sudahlah, lagian hanya 300 juta. Uang itu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan Kamu." timbal Raka sambil mencubit hidung Aira.
"Sakit Raka," rengek Aira sambil memegangi hidungnya.
"Lagian uang itu tidak akan berkah Aira!" sahut Dion "Seperti yang kami katakan tadi, Uang setan di makan Jin. Tidak akan lama uang itu akan habis, karena tidak mereka gunakan dengan baik lain dengan kita yang mendapatkannya dengan susah. Mengeluarkan tetes keringat jadi kita akan berfikir keras untuk menggunakannya." jelas Dion
Aira pun mengangguk, mendengar penjelasaan Dion.
***
Di tempat lain
"Aira, Aira, Aira! Kenapa dengan ku, pertemuan ku dengan Aira membuatku tidak bisa melupakan wajahnya. Hati ku selalu bergemuruh saat melihatnya, kenapa dia begitu istimewa tidak seperti wanita lain. Biasanya wanita akan luluh bila aku dekati tapi kenapa dia tidak?" kata Briyan sambil membanting barang-barang yang ada di kamarnya.
"Kau membuat ku gila Aira!" suara Briyan memenuhi seisi ruangan.
__ADS_1
"Aku harus menemuinya, setidaknya dengan melihat wajahnya bisa membuat hati ku sedikit tenang," ucapnya lalu iya mengambil kunci mobilnya setelah itu dia pergi menuju rumah Raka yang letaknya memang agak jauh dari kediamannya.
Setelah menempuh perjalanan satu jam, akhirnya Briyan sampai di kediaman pak Bambang.
Briyan menekan bel rumah itu.
Ning nong.
Akhirnya mbok Ani membuka pintu itu, iya terkejut melihat kehadiran Briyan.
"Loh, den Briyan?" tanya mbok Ani
"Mbok, Raka sama Aira nya ada?" tanya Briyan
"Mereka berdua sedang jalan-jalan, mungkin sebentar lagi pulang," ucap mbok Ani jujur "Silahkan masuk dulu den Briyan," sambung mbok Ani mempersilahkan Briyan masuk.
"Kira-kira jam berapa mereka pulang ya mbok?" tanya Briyan
"Gak tahu den, tapi biasanya gak lama lagi kok." timbal mbok Ani "Kalau gitu, mbok bikin minum dulu ya den," sambungnya.
Tak lama kemudian mobil Raka tiba, Briyan yang mendengar suara deruan mobil itu segera keluar dari rumah itu hanya sekedar untuk melihat Aira.
Iya tersenyum titip saat melihat Aira turun dari mobil itu bersama Raka.
"Kapan aku bisa jalan berdua dengan mu Aira?" bukan Briyan.
Aira dan Raka memasuki rumah itu. Aira sangat terkejut saat Briyan menyambutnya bahkan berani meyentuh tangannya.
"Hay Aira, lama tidak bertemu," ucap Briyan sambil memegang tangan kiri Aira lalu menciumnya.
Dengan cepat Aira menarik tangannya.
"Briyan, kau!" kata Raka dengan wajah memerah.
***Bersambung..!!
Jangan lupa yang dapat Vote hari seninnnya, sumbangin kesini ya..!!
Maaf up nya lama, othor lagi kurang enak badan..!!
__ADS_1
Happy reading..!! 😘😘😘***