Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Perang dunia dua.


__ADS_3

"Iya-iya, percaya yang punya kamar," ucap Dion sambil tersenyum manis.


"Sana, kamu pulang! Aku gak mau pulang!" Usir Syakila pada suaminya.


"Ihhh, masa aku pulang sendirian?" Dion langsung memajukan bibirnya. "Aku tidur di sini juga lah. Emangnya kamu mau, suami kamu yang tampan ini di gaet kunci," sambung Dion.


"Apaan kunci?" tanya Syakila, Aira dan Raka serempempak.


Lain hal nya dengan Safira, walaupun ia juga penasaran dengan Kunci yang di maksud Dion. Namun Ia tetap memilih diam, tak bersuara sama sekali.


"Kuntilanak cantik, ckckck." Kekeh Dion sambil berlari mengejar Syakila yang berjalan menaiki anak tangga itu.


"Dasar alay!" Sahut Aira.


Tanpa sadar, Safira pun tertawa. Namun dengan cepat ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Gak usah di tahan ketawanya, di sini gak ada larangan ketawa," kata Raka.


Setelah berbicara demikian, Raka menarik tangan Aira menuju anak tangga.


"Apaan sih narik-narik!" protes Aira.


"Ayuk kita tidur, udah malam. Aku gak mau kamu dan bayi kita kelelahan," ucap Raka sambil mengedip-ngedip kan sebelah matanya.


"Dasar modus!" celetuk Aira. "Hm, kak Fira istirahat juga ya. Kakak bisa tidur di kamar tadi, besok pagi-pagi sekali. Kakak akan kembali ke Lampung bersama mas Raka dan juga kak Dion," Aira beralih berbicara pada Safira yang berada di belakangnya.


"Iya, terimakasih Aira, Tuan," ucap Safira pada Aira dan juga Raka.


"Gak perlu sungkan, kak. Kita kan saudara, dan jak Fira udah Aira anggap seperti kakak kandung bagi Aira," jelas Aira.


"Udah dong sayang, ngobrolnya. Ayo kita istirahat," ucap Raka. "Hoam," Raka pura-pura menguap.


"Udah sana, kasian suami kamu udah ngantuk," kata Safira yang tidak enak hati kepada Raka.


Ia fikir, Raka dan yang lainnya pasti sangat terganggu dengan kehadirannya.


"Tuh kan! Dia aja tau kalau aku ngantuk. Masa kamu gak paham juga," ucap Raka sambil tersenyum yang dibuat semanis mungkin.


"Ya udah ayo," Aira segera berjalan lebih dulu menaiki anak tangga. Namun dengan cepat Raka mengikutinya.


Tiba-tiba saja, Aira di buat terkejut dengan aksi Raka.


Bagaimana tidak, Raka tiba-tiba menggendong tubuhnya.


"Aaaa... Raka.." teriak Aira yang terkejut.

__ADS_1


"Lopeee you sayang.." teriak Raka sambil berlari dengan Aira yang berada di dalam gendongannya.


"Nanti jatuh!" protes Aira sambil mengeratkan pegangannya pada leher sang suami.


"Gak akan, asal kamu diam dan pegangan dengan erat. Kayak si Dul megang ke empat balon nya dengan erat karena takut meletus, hahaha," seloroh Raka.


"Raka.. Kamu nakal," ucap Aira sambil tertawa-tawa.


Safira yang berada di lantai bawah tersenyum tulus melihat kebahagian sepasang sejoli yang ada di depan matanya itu.


"Ya tuhan, andai sejak awal aku berada di jalan mu. Mungkin aku akan di sayangi dan di cintai oleh adik-adik ku," ucap Safira sambil memandangi Raka dan Aira yang telah sampai di lantai atas rumah megah itu.


"Terimakasih Aira, hati mu memang tulus. Maafkan aku yang sudah selalu meng zholimi mu," ucapnya lagi.


Setelah itu, Safira tidak langsung tidur. Melainkan membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor bekas mereka makan malam sebelumnya.


Di lantai atas di kamar yang di huni Dion dan Syakila.


"Aku gak mau ya, mas. Kamu dekat-dekat sama kak Fira, dia itu jahat," ucap Syakila memperingati suaminya.


"Keong, semua manusia itu kan berhak di beri kesempatan." timbal Dion.


"Sekali jahat tetap jahat!"


"Ya enggak lah, amit-amit deh!" Syakila mengelus-elus perutnya sambil komat kamit seperti mbah dukun membaca mantra.


"Nah! Kalau gak mau, berenti dong benci sama Safira. Kata orang tua ya, benci sama orang di saat mengandung itu gak boleh loh. Terlebih lagi, mereka itu ibu dan saudara kandung kamu sendiri. Nanti nular sama anak kita kelakuan mereka," kata Dion sambil menunjuk perut istrinya dan bergidik ngeri.


"Ihh, kamu nakut-nakutin aku deh." Syakila merapatkan duduknya pada sang suami.


"Jadi hilangin lah rasa benci kamu ke Safira, gak perlu kamu hilangkan semua. Tapi cobalah sedikit-sedikit," kata Dion lagi. "Aku yakin, kamu pasti bisa. Demi aku, kamu dan anak kita." tambah Dion sambil memegang perut istrinya dengan lembut.


"Aku coba deh! Tapi aku gak janji ya," ucap Syakila.


Sedangkan di kamar lain, tepatnya kamar yang di huni Aira dan Raka sedang terjadi perang dunia kedua.


"Hahahaha," tawa Raka menggema memenuhi se isi kamar mereka. "Uuudah, ampun! Aku gak tahan lagi," ucap Raka sambil terengah-engah.


"Beneran?" tanya Aira sambil terus menggelitikki perut suaminya.


"Iya, iya aku beneran," ucap Raka masih sambil tertawa-tawa.


"Aku berhenti, tapi janji kamu gak akan jahil lagi," kata Aira.


"Iya aku janji,"

__ADS_1


Aira segera menghentikan aksi menggelitikki perut suaminya itu.


"Hah huh huhh," Berulang kali Raka menghembuskan nafas kelegaannya.


Namun setelah bernafas lega, bukannya berhenti. Ia malah mengungkung tubuh istrinya.


"Kena sekarang! Aku gak bakal ngelepasin kamu lagi, hahaha," ucap Raka sambil tertawa penuh kemenangan.


"Kamu curang, tadi kan udah janji!" protes Aira.


"Kan aku cuman janji, gak sumpah. Haha,"


"Jambu, janji busuk! Aku gak akan percaya lagi," ucap Aira dengan mode ngambek nya.


"Aku gak perduli! Aku cuman pengen jenguk baby ku malam ini." kata Raka dengan seringai licik nya.


"Ihh, tadi kan kita cuman main-main. Kenapa sekarang malah minta anu sih!" protes Aira lagi.


"Itukan tadi, sekarang situasinya sudah berbeda," ucap Raka sambil tersenyum genit.


"Dasar mesum, tukang tipu! Tadi aja di bawah bilangnya ngantuk, sampe kamar matanya jalang lagi." gerutu Aira.


"Hahaha, kamu tambah bikin yes kalo lagi ngomel-ngomel kayak gini," kata Raka. "Sebentar aja kok, boleh ya sayang," pinta Raka kemudian dengan wajah memelas.


Aira melihat wajah suaminya, "Ya udah deh. Tapi pelan dan sebentar aja ya," kata Aira dengan terpaksa.


"Yes, dapat lampu hijau. Berarti bakal makin yes keadaannya," ucap Raka kegirangan.


Setelah mendapat lampu hijau dari istrinya. Raka segera melancarkan aksinya, dengan cepat ia menanggalkan pakaian yang ia kenakan dan juga pakaian istrinya.


"Aku mulai ya," bisik Raka dengan lembut.


"Pelan-pelan ya, kasian bayi kita," kata Aira.


"Aku sumpah deh, bakal pelan-pelan dan main lembut." timbal Raka.


Raka segera memulai aksi panas tersebut dengan penuh kasih dan cinta, dan akhirnya terjadi lah perang dunia dua yang sesungguhnya di ranjang berukuran king size nan empuk itu.


***BERSAMBUNG!


MAAF SUDAH LAMA TIDAK UPDATE, INSYAALLAH SETELAH INI OTHOR AKAN USAHAKAN UNTUK RAJIN UPDATE🙂***


TINGGALKAN JEJAK YA, BERI AUTHOR DUKUNGAN SEBANYAK-BANYAKNYA🤭


AWAS BANYAK TYPO🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️

__ADS_1


__ADS_2