Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Siuman


__ADS_3

Aira yang mendengar ruangan B, menjadi panik.


"Raka..! Kak Dion. Itu ruangan Raka," tiba-tiba tubuh Aira ambruk, untungnya Dion berhasil menangkap tubuh mungil itu.


Syakila dan Dion menjadi bertambah panik dengan situasi saat ini.


Dion segera membawa tubuh Aira kedalam ruang rawat yang lain.


"Aira, bangun! Kamu harus kuat," kata Syakila. "Kamu harus yakin kalau Raka bakalan sadar," sambungnya.


Dokter lain memeriksa keadaan Aira.


"Bagaimana keadaan Adik saya Dokter?" tanya Syakila.


"Keadaan pasien saat ini sangat tertekan dan syok, hal itu yang membuat pasien tidak sadarkan diri. Tapi ibu tidak perlu khawatir, sebentar lagi pasien akan sadar," kata Dokter itu lalu pergi meninggalkan Syakila di dalam ruangan rawat itu bersama Aira yang tak sadarkan diri.


***


Jam sudah menunjukan pukul 01:23 dini hari.


"Mom, Intan capek! Berapa orang lagi yang harus Intan layani?" tanya Intan dengan wajah pucat pasi dan tubuh yang sudah lemah.


"Tidak banyak lagi, hanya dua orang yang tersisa," kata Momy Susi dengan santai sambil mengipaskan gepokan uang hasil dari pekerjaan Intan dari pagi hingga malam.


"Tidak bisakah besok Mom?" tawar Intan.


"Kamu fikir pak Abas dan Yanto mau menunggu lama!" bentak Momy Susi.


"Intan udah gak kuat Mom, badan Intan sakit semua. v4gina Intan terasa sakit sekali." keluh Intan.


"Kamu berani membantah saya!" bentak Momy Susi sambil menjambak rambut Intan.


"Ampun Mom, sakit!" rintih Intan dengan air mata yang menetes.


"Sekarang kamu bersih-bersih, sebentar lagi Pak Abas akan masuk ke Kamar ini. Mengerti!" momy Susi melepaskan jambakan nya dari rambut Intan.


Dan keluar dari kamar itu.


Setelah kepergian Momy Susi.


"Ya Tuhan.. Kenapa hidupku seperti ini! Ini kah karma yang harus aku tanggung atas perbuatan buruk yang aku lakukan? Apakah masih pantas jika aku meminta ampunan mu," isak tangis Intan memenuhi Kamar itu.


"Jika aku di beri ke Sempatan, aku ingin menjadi orang yang baik. Dan hidup di jalan mu, tidak akan kembali ke Rumah terkutuk seperti ini, Om Bambang, Tante Rina, Aira dan Raka. Jika nanti ada kesempatan untuk ku keluar dari sini, aku akan minta maaf kepada kalian semua," tambahnya.


Setelah itu, dengan tertatih-tatih ia menuju Kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Sekitar sepuluh menit, ia keluar dengan lilitan handuk di tubuhnya. Ia berjalan menuju lemari pakaian, sebelum ia memakai pakaian nya. Ia memandangi tubuhnya yang berwarna merah kebiruan tak ada celah kulit yang masih berwana putih sedikit pun di tubuhnya.


"Lihatlah tubuh mu Intan! Orang baik-baik pasti akan sangat jijik terhadap mu, kau adalah sampah masyarakat," ucapnya pada dirinya sendiri.


Bagaimana tidak merah kebiruan.


Sehari semalam, tubuhnya selalu di gagahi oleh 4-7 Orang.


Bayangkan saja, memiliki satu suami yang Agresif di ranjang saja sudah membuat istri kewalahan. Apalagi 4-7 tujuh pria mesum yang kurang belaian.


Dulu saat Momy Susi masih membutuhkan nya, Ia hanya melayani dua orang dalam sehari semalam. Itu juga dengan tarip yang mahal 50 juta satu orang. Jika dua orang, maka ia mendapatkan 100 juta dalam waktu singkat. Iya.. Itu adalah kalangan VIP.


Namun sekarang, se enaknya saja Momy Susi mengobralnya dengan harga 5-10 juta untuk satu pria, seperti pakaian cuci gudang, yang tadinya berharga fantastis sekarang hanya di jual Obralan.


Belum selesai Intan memakai pakaiannya, masuklah Pria bertubuh gendut dengan kepala botak di tengah tengah.


"Kau sudah siap sayang," kata Pria itu sambil berjalan mendekati Intan.


"Om, Intan sangat lelah," lirih Intan.


"Hahaha.. Qku tidak peduli sayang. Karena aku telah membayar mu," ucap Pria itu.


Dengan kasar Pria itu menarik lalu mendorong tubuh Intan ke atas ranjang.


Dengan ganas dan beringas, pria itu m3l*m4t bahkan mengg!g!t bagian-bagian tubuh Intan.


Intan hanya bisa menjerit dan menangis merasakan pedih dan sakit di bagian tubuhnya.


Intan menjerit sangat keras saat Pria tua botak itu menggigit lehernya hingga berdarah.


Sekuat tenaga Intan mendorong tubuh Pria tua itu.


"Hentikan Om, kenapa Om seperti Vampir!" teriak Intan.


"Berani kamu sama saya!" bentak pria tua itu.


Pria itu bangkit dan menghidupkan sebatang Rokok, lalu kembali lagi mendekati Intan yang menangis sambil memegangi lehernya yang berdarah.


Pria tua itu menarik tubuh Intan, lalu tanpa belas kasihan. Pria itu menusuk leher Intan yang terluka dengan api rokok yang ia pegang.


"Sakit Om," pekik Intan "Ampun!" tambahnya.


Setelah nya, pria tua itu membanting tubuh Intan ke lantai. Hingga membuat Intan jatuh tak berdaya di lantai itu.


"Dasar pelacur! Tidak berguna!" maki pria tua itu, lalu berjalan keluar meninggalkan Intan.

__ADS_1


Dubrak..


Pria itu membanting pintu Kamar Intan dengan kasar.


Setelah kepergian Pria itu, Intan menangis tersedu-sedu.


Tak lama kemudian, suara pintu itu di ketuk oleh seseorang.


"Pintu tidak di kunci!" sahut Intan dengan suara lemah.


"Nona," panggil seseorang yang baru masuk kedalam kamar itu. Yaitu Jhony. "Mereka melakukannya lagi!" Jhony mendekati tubuh Intan yang polos tanpa sehelai benang pun itu.


"Jhony, aku sudah tidak tahan!" Intan menghambur kepelukan Jhony.


"Nona harus bersabar, aku akan berusaha untuk mengeluarkan Nona dari tempat terkutuk ini," ucap Jhony sambil menuntun Intan ke atas ranjang. Lalu Jhony menutupi tubuh polos itu dengan selimut.


***


"Raka.." lirih Aira yang baru sadar dari pingsannya.


"Aira, kamu udah sadar!" "Dokter, Dokter. Adik saya sudah sadar," teriak Syakila.


"Kila, jam berapa sekarang? Dan mana Raka? Apa dia udah siuman?" tanya Aira sambil memegangi kepalanya.


"Kata Dion, Raka udah sadar setengah jam yang lalu. Tapi ke adaannya masih sangat lemah," jelas Syakila. "Sekarang udah jam dua dini hari, lebih baik kamu istirahat aja," sambung Syakila.


Bukannya istirahat Aira malah mencabut jarum infus yang terpasang, ia turun dari Ranjang pasien lalu berjalan menuju Ruangan rawat Raka.


"Aira, kamu jangan kemana-mana, kamu harus istrirahat!" Syakila mengikuti langkah Aira.


"Aira tolong dengerin aku!" teriak Syakila.


"Aku mau lihat keadaan Raka, Kila. Aku gak apa-apa kok," kata Aira meyakinkan Syakila.


Syakila hanya menghela nafas dengan kasar.


"Dasar keras kepala!" gerutu Syakila.


Aira berjalan perlahan menuju ruang rawat Raka. Ia segera masuk ke dalam ruangan itu.


Ia tersenyum melihat Suaminya yang bersandar di dinding ranjang pasien itu. Namun saat Raka melihat Aira datang, Raka langsung mengubah posisinya. Ia membelakangi Aira yang datang. Seolah tak ingin melihat Aira lagi.


***Bersambung..!!


Happy reading..!!😘

__ADS_1


__ADS_2