Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Telur Mata Kuda


__ADS_3

Keesokan Harinya.


Raka sudah mulai masuk Ke Kantor untuk mengurus perusahaan yang beberapa hari ini terbengkalai.


Aira sudah melarang Raka bekerja, namun Raka tetap kekeuh dengan ke inginannya.


Setiap Aira berbicara, Raka pasti membentaknya.


"Raka, kamu gak usah kerja dulu. Keadaan kamu belum pulih benar," kata Aira.


"Kamu gak usah ikut campur, dan gak usah perduli sama aku. Kamu urusin aja sendiri hidup kamu!" ketus Raka.


Aira terdiam, Ia tidak berbicara apa-apa lagi pada Raka.


"Minggir.. Aku mau mandi!" Raka sengaja menabrak bahu Aira agar Aira semakin tidak tahan.


Aira tersenyum tulus kearah Raka yang berlalu di hadapannya.


Raka segera masuk kedalam Kamar mandi. Ia menumpahkan tangisnya di sana, di pukulnya dadanya dengan sangat keras, berharap rasa sesak yang ia rasakan menghilang. Namun pukulan itu tidak menghilangkan rasa sakit dan sesak di dalam dada nya.


"Maafkan aku Aira, aku melakukan semua ini demi kebaikan mu, masa depan mu Sayang," kata Raka dengan berlinang air mata.


Setengah jam kemudian, Raka keluar dari Kamar mandi. Ia melihat pakaian kerjanya sudah ada di tepi ranjang, namun ia tak melihat ke beradaan Aira.


Dengan sengaja Raka mencari pakaian sendiri di dalam lemari, ia tidak ingin memakai pakaian pilihan istri nya.


Setelah selesai memakai pakaiannya. Ia segera menuruni anak tangga dan hendak berangkat ke Kantor.


"Sarapan dulu sayang," kata Aira.


"Aku sarapan di kantor saja," ucap Raka sambil berlalu pergi meninggalkan Aira di ruang makan.


Aira menghela nafas kasar menghadapi sikap putus asa Suaminya.


Setelah Raka berangkat ke Kantor, Aira segera bergegas hendak pergi ke Supermarket.


Sesampai nya ia di Supermarket. Ia memilah-milih bahan-bahan makanan yang menurutnya baik untuk di Konsumsi.


Ia membelikan semua bahan-bahan makanan kesukaan suaminya.


Setelah merasa cukup, ia segera menuju Kasir dengan keranjang belanjaan yang penuh.


Setelah membayar, Ia segera pulang.


Tanpa Aira sadari, diam-diam ada Seseorang yang mengikutinya.


Namun seseorang itu tidak berbuat macam-macam kepadanya.


Tak lama, Aira sampai di depan Rumah, ia segera membayar Taxi yang ia tumpangi. Setelah itu ia segera masuk kedalam Rumah.


Seseorang yang mengintai nya tersenyum tipis.


Orang itu adalah Briyan.


Briyan sengaja mengikuti Aira, ia ingin tahu dimana Aira dan Raka tinggal, ia akan menemui Aira di saat Raka lengah.

__ADS_1


"Aku sudah tidak sabar Aira," ucap Briyan dengan seringainya. "Aku menjadi semakin tergila-gila padamu. Apalagi di saat aku tahu, bahwa Raka adalah Pria yang tidak berguna dan itu tanda nya kau belum tersentuh oleh Pria tidak berguna itu!" sambungnya. Lalu ia pergi meninggalkan Rumah itu.


Malam harinya.


Jam sudah menunjukan pukul Sembilan malam. Namun Raka belum juga kembali.


Aira sudah mencoba menelponnya berkali-kali, namun Raka tidak menjawab telpon itu.


Tut tut tut 'Nomer yang anda tuju tidak menjawab, silahkan coba beberapa saat lagi," jawaban dari panggilan Aira.


Sudah berulang-ulang kali, namun jawaban yang ia terima selalu sama.


Aira mondar-mandir tak karuan, hingga akhirnya ia mengantuk dan tertidur di sofa yang ada di ruang Tamu.


Satu jam berlalu, kini Raka pulang dan memasuki Rumah itu dengan wajah lesu. Kelesuan nya bertambah ketika melihat istri yang sangat ia cintai meringkuk seperti Anak Kucing yang kedinginan tanpa Induk.


Perlahan ia mendekati istrinya, ia memandangi wajah teduh milik sang Istri.


"Maafkan aku.." lirihnya. Lalu di kecupnya dengan lembut kening Aira.


Setelah itu, ia membopong tubuh mungil Aira. Ia menaiki anak tangga dengan perlahan, takut Cinderella yang ia bopong terbangun.


Sampai lah ia di depan pintu Kamar. Namun saat ia hendak membuka pintu itu, ia kesulitan.


Hingga Cinderella yang ia bopong terbangun.


"Raka, kamu udah pulang," ucap Aira dengan suara serak khas Orang bangun tidur.


"Hmmm," Raka hanya ber hmm saja.


"Turunkan aku," kata Aira.


Aira tersenyum, lalu dengan segera tangannya meraih Handle pintu Kamar itu.


Saat sampai di dalam Kamar. Raka segera menurunkan tubuh Aira di atas ranjang.


"Tidurlah! Kau pasti lelah menunggu ku," ucap Raka masih dengan nada dinginnya.


"Tidak, aku akan siapkan air hangat dan baju ganti untuk mu," kata Aira, lalu beranjak dari Ranjang itu.


Dengan cekatan ia menyiapkan keperluan Suaminya.


Raka masuk kedalam Kamar mandi, Ia merenung dengan tubuh yang berendam di dalam bathup.


Tak terasa hampir satu jam Raka berada di dalam Kamar mandi. Membuat Aira yang menunggunya kembali tertidur.


Setelah merasa puas, ia membilas tubuhnya dan segera keluar dari Kamar mandi.


"Kasian kamu sayang," ucap Raka sambil berjalan menuju tepi Ranjang di mana Pakaianya di letakan oleh Aira.


Setelah selesai mengunakan pakaian nya, ia segera membenarkan posisi tidur sang Istri.


***


"Kamu mau makan yang mana Dion..!" Teriak Syakila yang kelelahan menuruti kemauan Bapak hamil itu.

__ADS_1


"Aku gak mau makan yang ini, ini dan yang ini," tunjuk Dion pada makanan yang tersusun rapi di atas meja.


"Terus kamu maunya apa?" tanya Syakila dengan mode kesalnya.


"Mau.. Mau telur goreng mata Kuda, tapi kuningnya pas di tengah-tengah," kata Dion yang membuat mata Syakila membulat sempurna.


"Mana ada telur mata Kuda, adanya juga telur mata Sapi," geram Syakila, dengan cepat ia membuatkan telur mata Kuda yang diinginkan oleh Dion.


Gorengan pertama matang, Syakila segera memberikannya pada Dion. Namun Dion menggeleng.


Gorengan kedua, Dion masih menggeleng. Begitu juga gorengan ketiga dan ke Empat.


"Maunya yang mana?" bentak Syakila.


"Kan aku kan udah bilang, kuningnya tepat di tengah-tengah," ucap Dion dengan cemberut.


"Huhh.." Syakila menghela nafas dengan kasar. "Ini telor yang terakhir," sambungnya sambil memberikan satu butir telor mata sapi yang baru ia angkat dari penggorengan kepada Dion.


Mata Dion menelisik telur yang ada di dalam piringnya.


"Mau makan enggak?" tanya Syakila sambil mengarahkan spatula kepada Dion.


Dion diam, namun terlihat jelas bahwa ia menolak telur itu.


"Mau makan enggak?" bentak Syakila.


"Aku mau makan sama gula aja," ucap Dion sambil mendorong piring yang ada di hadapannya.


"Makan sekarang, aku udah capek goreng nya," kata Syakila.


"Aku gak mau makan telur," ucap Dion, namun langsung di pelototi oleh istrinya.


"Mau makan atau telor yang itu yang aku goreng!" Sorot tajam mata Syakila menuju dua telur yang diamankan oleh Dion di balik celananya.


"Je-je jangan," ucap Dion terbata. "Iya, aku makan telurnya sekarang, aku abisin dan aku gak bakal banyak mau lagi," sambung Dion dengan wajah takutnya.


Bagaimana tidak takut, tatapan Syakila saat itu sangat-sangat mengerikan. Bagaikan pendekar pencabut nyawa dari utara.😂😂😂


Jangan kan Dion, Othor pun takut dengan tatapan mata Syakila.


Dion memakan telur yang di goreng oleh Syakila, bahkan bukan hanya satu. Ia memakan hampir seluruh telur yang di goreng oleh Syakila secara paksa.


Syakila yang melihat hal itu menjadi kasihan.


"Udah kalo udah kenyang, jangan di paksain," ucap Syakila dengan lembut. "Maafin aku ya Mas," sambungnya sambil mengelap wajah Dion yang berantakan, seperti bayi yang baru belajar makan.


"Beneran..? Kamu gak marah lagi?" tanya Dion, dan Syakila menggeleng. "Aku janji gak akan banyak mau lagi," sambungnya dengan wajah sedih.


***Bersambung..!!


Hay kakak kakak Readers..!!


Yuk kasih othor dukungan, yang dapat vote hari senin nya sumbangkan pada karya remahan kerupuk melempem othor ini..!!


Yang ikhlas tapi ya, Author gak maksa kok..!!

__ADS_1


Buat part selanjutnya, kita bakal lihat kegilaan Briyan dan ketakutan terbesar Aira ya..!!


Happy reading...!!🤗🤗🤗


__ADS_2