Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Bakso Pinggir Jalan


__ADS_3

Dion masuk kedalam ruangan Raka.


Raka terkejut karena Dion tiba-tiba membanting berkas yang ada di tangannya ke meja kerja Raka.


"Yon, kamu kenapa sih? Kok kayak lagi kesel banget?" tanya Raka di tengah-tengah keterkejutan nya.


"Ngapain dia kesini Ka?" bukanya menjawab pertanyaan Raka justru Dion balik bertanya.


"Dia, dia Briyan maksud kamu," ucap Raka.


"Iya siapa lagi kalau bukan bajingan keparat itu!" kata Dion sambil menunjuk ke arah pintu.


Aira yang baru saja keluar dari dalam kamar yang ada diruangan kerja Raka itu pun heran melihat raut wajah Dion yang berbeda.


"Sayang, kak Dion kenapa? Kok mukanya kayak gitu?" tanya Aira.


"Ohh.. Itu Dion lagi kesel sama Briyan. Biasa lah Briyan suka bikin orang naik darah," ucap Raka.


"Aira, aku mau peringatin kamu. Tolong jangan dekat-dekat sama Briyan, dia itu berbahaya," ucap Dion pada Aira.


"Berbahaya maksud kak Dion?" tanya Aira.


"Udah, yang pasti kamu harus waspada. Jangan terlalu percaya sama dia." jelas Dion.


Raka tersenyum melihat Dion yang menghawatirkan hubungannya dan Aira.


Tak terasa hari sudah sore, sudah waktunya para Karyawan yang bekerja di perusahan itu pulang.


Hanya Karyawan yang lembur saja yang masih berada di Kantor itu.


Kini Raka dan Aira pun sedang bersiap untuk pulang.


"Raka ayo.." ajak Aira sambil menarik-narik tangan Raka keluar dari dalam life.


"Sabar dong.. Nanti kita jatuh. Lagian malu di lihat sama Karyawan." kata Raka sambil mengikuti langkah Aira. "Memangnya mau ngapain kok buru-buru banget?" sambung Raka.


"Aku lapar, kita makan dulu ya," ucap Aira.


"Kamu mau makan apa?" tanya Raka


"Kita makan Bakso aja ya, aku mau makan Bakso yang ada di pinggir jalan sana." kata Aira sambil mengarahkan jari telunjuknya.


Karyawan yang masih berada di kantor itu tersenyum melihat tingkah Aira yang tidak ada jaim-jaimnya sama sekali.


Raka geleng-geleng kepala masih dengan mengikuti kemana langkah Aira.


Tak lama berhenti lah mereka di gerobak bakso yang berada di pinggir jalan.

__ADS_1


"Mang, baksonya dua mangkok ya. Yang satunya pedes," ucap Aira pada penjual bakso itu.


Tak lama kemudian pesanan mereka siap.


"Ini Neng baksonya," ucap pedagang bakso itu sambil membawa nampan yang berisi dua mangkuk Bakso.


"Makasih Mang!" sahut Aira.


Dengan tidak sabaran Aira segera meniup-niup Bakso itu dan melahapnya.


"Aira, makannya pelan-pelan," ucap Raka


"Ayo makan punya kamu Raka, ini enak banget." kata Aira dengan mulut penuh dengan pentol Bakso.


Dengan ragu Raka memasukan pentol Bakso ke dalam mulutnya. Matanya membulat sempurna saat mengunyah pentol Bakso itu.


"Sumpah Aira ini enak sekali.." ucapnya dengan wajah berbinar.


Saat mereka berdua sedang menikmati Bakso itu tiba-tiba saja ada Dua orang yang menghentikan Motor mereka di depan Gerobak Bakso itu.


"Kang, bakso nya dua kayak biasa," ucap Pria yang turun dari motornya bersama seorang Wanita.


"Iya, sipp." kata tukang Bakso.


"Loh, Pak Raka kok makan di pinggir jalan." tunjuk Wanita teman pria yang sedang memesan Bakso.


"Kamu suka makan Bakso disini," ucap Raka pada Wanita itu.


Tanto mendekat pada Raka dan Aira.


"Pak Raka, Bapak kenapa makan disini?" tanya Tanto "Saya gak nyangka CEO kayak Bapak mau makan di pinggir jalan." sambung Tanto Ke heranan.


"Saya juga tadi ragu, tapi istri saya meyakinkan saya. Dan ternyata makanan yang namanya Bakso ini sungguh luar biasa." timbal Raka sambil mengunyah Bakso miliknya.


Pesanan Bakso Tanto dan Wina datang.


Karena tidak enak pada Raka dan Aira mereka berdua pun menjauh dari Raka untuk mencari tempat duduk.


Aira yang melihat dua Orang itu hendak pergi segera memanggilnya.


"Kalian berdua mau kemana?" panggil Aira.


"Eh.. Ibu, kami mau duduk di bawah pohon sana saja," ucap Wina


"Kenapa?" tanya Aira.


"Gak papa Bu, kami tidak enak dengan Ibu dan Pak Raka," jawab Wina.

__ADS_1


"Sudah, duduk saja disini. Makan bareng kami," ucap Aira, Tanto dan Wina saling pandang mendengar ucapan Aira.


"Sudah, gak papa gak usah sungkan sama saya. Di Kantor memang saya Bos kalian tapi ini kan sudah di luar jam Kantor, jadi biasa saja!" sahut Raka.


Tanto dan Wina pun mendudukan bokong mereka di depan Raka dan Aira.


Setelah selesai meyantap Bakso itu, Raka dan Aira pulang.


Baru saja mereka sampai, sudah di buat kesal oleh Intan.


Dubrak,,!!Suara Intan menjatuhkan koper besar yang ia bawa.


"Tante, Intan udah bawa banyak pakaian Intan ni," Intan berteriak memanggil Mama Rina.


"Eh.. Sayang. Kamu sudah datang, ayo Tante antar ke Kamar yang akan kamu tempati," ucap Mama Rina sambil membantu Intan membawa barang-barangnya.


Aira yang melihat hal itu diam saja, sedangkan Raka langsung menghentikan langkah Mamanya dan juga Intan.


"Kenapa Intan membawa pakaianya Kemari?" tanya Raka dengan wajah datarnya.


"Intan akan tinggal disini!" sahut Mama Rina.


"Siapa yang mengizinkan?" tanya Raka lagi.


"Mama dong, siapa lagi? Masa Mama harus minta persetujuan kamu dan Aira." timbal Mama Rina.


"Iya Raka, aku akan tinggal disini buat nemenin Tante Rina. Secara kan aku itu calon menantu idaman sayang sama calon mertua gak kayak wanita kampungan itu, gak tahu sopan santun masa Mama Rina lagi bersih-bersih halaman di gangguin bukannya di bantuin," ucap Intan tak tahu malunya. "Dan perlu kamu tahu! Gara-gara dia juga ni aku sama tante Rina di sengat lebah." sambung Intan memutar balikkan fakta padahal Raka mengetahui semua perbuatan mereka pada Aira.


Dengan penuh kekesalan Raka mengangkat tangannya ingin menampar wajah Intan. Namun segera di cegah oleh Aira.


"Udah Raka, biarin aja dia tinggal disini," ucap Aira sambil memegang tangan Raka.


Raka yang mendengar ucapan Aira langsung menjadi tenang.


"Ya udah.. Ayo kita ke Kamar aja. Aku capek mau mandi dan langsung istirahat," ucap Raka.


Setelah itu Ia dan Aira menuju Kamar mereka.


Di dalam Kamar yang di tempati Intan, kini dua wanita itu sedang menyusun rencana untuk men nyakiti Aira. Bahkan mereka ingin menghabisi Aira jika tidak berhasil mengusir Aira dari Rumah itu dan pergi meninggakan Raka.


"Jadi gimana Intan?" tanya Mama Rina.


"Tante tenang aja, kita buat dia benci sama Raka. Secara kan banyak tu Perempuan yang suka sama Raka, kita suruh aja tu Perempuan buat deketin Raka Tante. Agar Aira kampungan itu cemburu dan gak tahan terus minta cerai deh sama Raka," jelas Intan.


"Ide bagus, tapi siapa Perempuan yang mau bantu kita?" tanya Mama Rina lagi.


"Ada uang kerjaan gampang Tante," ucap Intan dengan senyum liciknya.

__ADS_1


Kedua wanita iblis itu tertawa senang dengan rencana yang akan mereka lakukan.


Bersambung..!!


__ADS_2