Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Sambutan Camer


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali Raka datang ke kontrakan Aira, ia ingin mengatakan pada Aira bahwa malam nanti ia akan membawa Aira untuk bertemu kedua Orang tuanya.


"Aira.. Malam nanti aku akan mengajak mu untuk menemui kedua orang tua ku. Kita akan meminta restu pada mama dan papa," ucap Raka pada Aira dengan sungguh-sungguh.


"Aku takut Raka! Aku takut saat orang tua mu melihat ku, mereka tidak merestui hubungan kita." timbal Aira dengan wajah sendu.


"Kamu gak usah khawatir dan takut. Kita hanya perlu mencoba meminta restu, bila di restui kita menikah dan jika tidak kita pun akan tetap menikah," ucap Raka dengan penuh keyakinan dan kepastian sambil menggenggam erat tangan Aira.


"Tidak bisa begitu Raka, mereka orang tua mu. Pilihan mereka yang terbaik." kata Aira


"Baik bagi mereka belum tentu baik untuk ku, Aira. Kebahagian ku adalah bersama mu. Aku tidak perduli walaupun dunia menentang hubungan kita." kata Raka sambil mencium tangan Aira dengan lembut "Lihat aku.. Apa pun yang terjadi kita akan tetap bersama! Karena kau lah wanita satu-satunya yang mau menerima ku apa adanya dan juga ku cintai." sambung Raka.


Mata Aira berkaca-kaca mendengar ucapan Raka, ia pun langsung memeluk Raka dengan sangat erat dan menangis di dalam pelukan itu.


"Aku mencintaimu Raka," ucap Aira di sela-sela tangisnya. "Aku juga mencintaimu." timbal Raka.


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kini tibalah saatnya Raka membawa Aira untuk bertemu kedua orang tuanya.


"Ayo Aira," ajak Raka


"Tapi aku takut." timbal Aira sambil keluar dari rumah kontrakannya menuju mobil Raka.


"Aku akan selalu bersama mu, percayalah!" kata Raka mencoba untuk menghilangkan keraguan di hati Aira.


Mereka berdua pun segera masuk kedalam mobil, setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit. Akhirnya sampailah mereka di kediaman orang tua Raka, namun tiba-tiba mata Raka menyipit saat melihat ada sebuah mobil yang sangat ia kenal terparkir di halaman rumah itu.


"Dia lagi!" guman Raka


Aira mendengar yang di katakan oleh Raka walaupun pelan, "Ada apa Raka? apanya yang dia lagi?" tanya Aira.


"Tidak apa-apa, ayo kita masuk." ajak Raka, lalu menggenggam erat tangan Aira.


Dengan perasaan campur aduk, akhirnya Aira masuk kedalam rumah megah itu dengan tangan yang bergenggaman dengan tangan Raka.


Sampai lah mereka di ruang keluarga, tampak di rungangan itu ada mama, papa Raka dan juga Intan.


Intan yang melihat kedatangan Raka pun langsung bangkit dari duduknya dan berniat ingin memeluk Raka, namun dengan cepat Raka menepis dan menghempaskan Intan.

__ADS_1


"Au, sakit Raka. Kenapa kamu mendorong aku?" protes Intan. "Dan siapa wanita ini?" Pandangan Intan beralih pada Aira yang berada di samping Raka.


"Bukan urususan mu!" ketus Raka.


Papa dan mama Raka, melihat wanita yang di bawa Raka. Lalu mereka pun saling lempar pandang.


"Siapa wanita itu Raka? kenapa penampilannya urakan sekali?" tanya mama Rina dengan ketus "Ayo sayang, sini sama tante," ucap mama Rina sambil mengangkat Intan yang terduduk di lantai akibat hempasan Raka.


"Aku membawa nya untuk mengenalkan pada mama dan papa, bahwa dia adalah calon istriku." kata Raka menjelaskan pada kedua orang tuanya.


Pak Bambang selaku papa Raka pun langsung tersenyum, mendengar putranya akan menikah. Tapi tidak dengan mama Rina dan juga Intan.


"Papa senang Raka, akhirnya kamu menemukan wanita yang akan kamu pilih menjadi istrimu," ucap pak Bambang dengan tersenyum


"Terimakasih pa, Raka senang papa mau merestui hubungan kami." timbal Raka dengan senyum bahagianya.


"Apa-apaan ini Raka.. Mama gak setuju. Dia tidak pantas untuk kamu, Intan jauh lebih baik dari pada wanita udik itu!" ketus mama Rina sambil menunjuk wajah Intan.


Aira yang mendengar ucapan mama Rina pun menjadi semakin mempererat genggamannya pada Raka.


"Ra-ka a-ku takut," lirih Aira dengan terbata.


"Katakan kamu mau apa mendekati putra saya? Uang saya akan berikan asalkan kamu meninggalkan putra saya," ucap mama Rina sambil mendekati Raka dan Aira.


"Mama, kenapa mama bicara seperti itu!? Raka berhak menentukan pilihannya," ucap pak Bambang dengan nada tinggi.


"Alah, papa gak usah ikut-ikutan ya. Ini urusan mama, mama tahu mana yang terbaik untuk Raka putra kita satu-satunya!" sahut mama Rina tak kalah lantang nya.


"Iya om, Intan jauh lebih baik dari pada wanita itu. Dia gak pantas untuk Raka, Raka itu harus jadi suami Intan." kata Intan dengan manjanya.


"Masalahnya aku yang enggak mau sama kamu!" ketus Raka


Perlahan Aira melepas genggaman tangan Raka, dengan mengeluarkan keberaniannya. Ia pun berbicara kepada mama Rina.


"Saya tidak butuh uang, saya mencintai Raka saya tidak mau berpisah dengan Raka. Maafkan saya tante," ucap Aira dengan tegas.


Namun tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Aira.


Plakk "Cinta kamu bilang, cinta kamu tidak pantas kamu berikan sama anak saya. Lihat siapa diri kamu!" tunjuk mama Rina pada diri Aira yang berpenampilan kampungan menurut mama Rina dan Intan.

__ADS_1


"Ma, sudah cukup." kata pak Bambang.


Aira pun memegangi pipi kanannya yang memerah akibat tamparan itu.


"Sayang, sakit ya? setelah ini kita akan obati pipi kamu," ucap Raka lalu ia mengelus pipi Aira di depan papa mama nya dan juga Intan.


Intan semakin mendongkol melihat hal itu


"Tante gimana dong, Intan mau nya Raka nikah sama Intan tante bukan sama Wanita itu." kata Intan merengek dengan manja.


"Raka.. Pokoknya mama gak mau tahu. Kamu harus menikah dengan Intan bukan dengan dia!" tunjuk mama Rina pada Aira. "Mama tidak akan pernah merestui kamu dengan Wanita kampung itu." sambung mama Rina.


"Mama dengar baik-baik, dengan ataupun tanpa restu mama, Raka akan tetap menikah dengan Aira!" sahut Raka "Dan ingat kamu Intan, sampai kapan pun aku gak akan pernah bersikap baik sama kamu." sambung Raka.


"Kamu keterlaluan Raka," ucap mama Rina


"Yang menyukai Intan kan mama, mama saja yang nikah sama dia!" ketus Raka lalu ia menggenggam tangan Aira dan meninggalkan rumah itu.


Namun sebelum pergi, ia dan Aira pun berpamitan pada pak Bambang.


"Pa, Raka pergi dulu. Kayaknya Raka gak pulang malam ini dan besok," ucap Raka pada pak Bambang.


"Pergilah nak, hati-hati! Papa merestui kalian." timbal pak Bambang.


"Terimakasih atas kemurahan hati bapak," ucap Aira dengan lembut sambil mencium punggung tangan pak Bambang.


Pak Bambang pun tersenyum melihat ketulusan Aira.


Setelah itu Raka dan Aira pun pergi kembali menuju kontrakan Aira.


Tak lama mereka pun sampai, Raka pun langsung masuk kedalam kontrakan Aira lalu ia mengambil es batu dan juga kain, segera ia mengompres sudut bibir Aira yang berdarah dan membiru akibat tamparan keras mama Rina.


"Maafkan mama ya sayang, kalau dia tahu aku Pria yang tidak normal. Dia pasti akan meminta maaf dan berterimakasih sama kamu," ucap Raka sambil mengobati bibir Aira.


"Husst..!" Aira menempelkan jari telunjuknya ke bibir Raka "Jangan bilang kaya gitu, orang lain tidak perlu tahu hal ini." sambung Aira.


Raka sangat senang mendengar ucapan Aira. Baginya tidak ada yang lebih berharga dari Aira, wanita yang begitu tulus dan tidak memandang fisik seseorang. Jika dia kenal dengan wanita lain seperti Intan dan wanita-wanita yang sudah di temuinya, mungkin setelah tahu keadaannya wanita itu akan mencemooh dan pergi meninggalkannya. Tapi tidak dengan Aira wanita itu sangat berbeda dengan kebanyakan wanita yang ada di luar sana yang hanya menentingkan uang dan juga nafsu sex semata.


Bersambung..!!

__ADS_1


__ADS_2