
Keesokan harinya.
Dion menjadi pendiam dan tidak banyak bicara, sejak Syakila memarahinya semalam.
Syakila bangun lebih dulu, ia pergi ke Kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu ia pergi menuju dapur.
Sedangkan Dion yang masih bergelung selimut, terbangun dan langsung meraih ponselnya yang ada di atas nakas.
Ia menghidupkan ponselnya, dan membuka instagram miliknya. Air liur nya serasa ingin keluar kala ia melihat gambar sambal ati ampela yang ada di layar ponselnya.
Hatinya menginginkan makanan itu, namun ia tidak mungkin mengatakan nya kepada Syakila. Ia merasa takut kala mengingat wajah Syakila yang menurutnya benar-benar menakutkan saat marah.
"Aihh.. Kenapa sambal ini menggoda sekali," gumannya sambil berguling-guling di atas ranjang.
"Kemana aku harus mencarinya? Aku mau," ucap nya. "Jika aku pesan Online, pasti Syakila akan tahu! Dan dia akan kembali marah karena aku menginginkan sesuatu lagi." sambungnya.
Dion terus berguling-guling seperti Anak kecil yang sedang bermain. Seketika saja ia mendapatkan ide.
"Ibu.. Ya ibu. Aku akan kesana dan akan meminta ibu membuatkan nya," ucap nya dengan senyum mengembang.
"Sayang.." panggil Syakila yang membuat Dion terkejut. "Mandi dulu, udah itu kita sarapan," imbuh Syakila.
Dengan cepat Dion beranjak dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi. Namun ia lupa mematikan ponsel nya.
"Huhh.. Kebiasaan! Habis main ponsel gak di matiin." omel Syakila.
"Apa ini? Mas Dion lihat makanan, apa dia pengen makan ini?" Syakila mengerutkan dahinya saat melihat layar ponsel Suaminya yang menyala.
Beberapa hari ini, Dion tidak lagi mengalami mual. Namun ia menjadi pemilih. Yaa.. Seperti tadi malam, Syakila menjadi kesal di buatnya karena terus mengingkan ini dan itu, hingga akhirnya pilihan nya jatuh pada telur mata sapi. Namun lagi-lagi Syakila menjadi semakin kesal karena selalu salah.
"Loh! Kamu mau ke kantor Mas?" tanya Syakila.
Dion hanya mengangguk, ia menjadi pendiam tidak banyak bicara.
"Ya udah, yuk sarapan dulu. Aku udah bikin nasi goreng buat kamu," ucap Syakila sambil menyodorkan sepiring nasi goreng pada suaminya. "Maaf ya sayang, bahan makanannya habis, jadi kita makan ini dulu. Entar siang aku belanja deh," sambung Syakila.
Namun lagi-lagi Dion hanya menganguk.
Syakila mengernyitkan dahi. Ia merasa ada yang aneh dengan suaminya.
Dion tidak langsung memakan makanannya, Ia memandang nasi goreng itu lalu beralih pada Syakila yang berdiri di seberang meja makan tepat di hadapannya.
"Kenapa Mas? Kamu gak mau makan nasi goreng? Atau kamu pengen sesuatu Mas?" tanya Syakila sambil mendekati suaminya.
"Enggak! Aku gak pengen apa-apa." timbal Dion, lalu ia menyuapkan sesendok nasi goreng itu dan menelan nya secara paksa.
Tak ingin membuat istrinya marah, dengan cepat dan terpaksa ia menghabiskan nasi goreng itu.
Syakila terus memandangi wajah suaminya. "Kenapa Mas Dion? Kenapa dia berubah, apakah aku salah?" tanya Syakila dalam hati.
"Mas, kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku ya? Biasanya kamu cerewet kok sekarang diem!" kata Syakila.
Dion meneguk segelas air putih yang ada di dekatnya. "Aku gak papa, ya udah aku ke kantor dulu ya," kata Dion setelah meneguk air putih itu.
Dion segera menghidupkan mesin mobilnya, lalu pergi meninggalkan Apartemen.
Ia berangkat ke perusahaan Raka, niatnya nanti, dia akan pulang awal. Dan ingin pergi ke rumah ayah dan Ibunya.
Tak lama Kemudian, Ia sampai di Perusahaan Raka.
__ADS_1
Sebelum ia masuk ke Perusahaan itu, ia memilih memakai masker terlebih dahulu. Ia tidak mau hidungnya mencium bau-bau aneh yang akan membuat perutnya bergejolak.
Semua karyawan membungkukan badan ketika Dion memasuki lobi perusahaan itu. Karena mereka semua tahu bahwa Dion adalah salah satu orang penting di perusahaan.
"Wihh.. Temen nganu masuk lagi ni!" kata Tuti yang melihat kedatangan Dion "Gimana? Udah enakan?" tanya nya kemudian.
"Udah mendingan." timbal Dion "Raka ada?" tanya Dion.
"Ada, semua karyawan belum pada datang tadi pagi. Dia udah sampe," ucap Tuti.
Dion segera masuk tanpa permisi terlebih dahulu kedalam ruangan Raka.
"Ehh.. Kamu kok udah masuk? Cuti kamu kan masih lama," kata Raka pada Dion yang hendak mendudukkan bokongnya di sofa.
"Aku capek dan bosan di Rumah. Lagi pula keadaan ku sudah jauh lebih baik." timbal Dion.
"Ka..!" panggil Dion.
"Hmmm.. Kenapa?" Raka mengalihkan pandangannya dari Laptop kepada Dion.
"Aku pengen ini!" ucap Dion pelan sambil menujukan gambar di ponselnya.
"Ke Rumah," kata Raka.
"Kok ke Rumah!" seru Dion.
"Iya, di rumah tadi Aira masak itu. Tapi aku gak sarapan padahal aku pengen makan masakan dia." Raka menunduk sedih.
"Aku kesana ya, aku pengen makan. Di rumah aku di marahin terus sama Syakila, sungguh wanita mengerikan," ucap Dion dengan bergidik ngeri kala mengingat kemarahan istrinya.
"Terserah!" ketus Raka lalu melanjutkan Pekerjaan nya.
Dengan wajah riang, Dion keluar dari ruangan Raka.
"Iya, mau ke rumah Raka nemuin istrinya." timbal Dion.
"Mau ngapain?" tanya tuti.
"Aku pengen nganu di Rumah Raka." timbal Dion sambil nyengir Kuda.
"Huhh.. Dasar! Buat apa kesini kalo pergi lagi," gerutu Tuti.
Setengah jam kemudian.
Dion sampai di depan kediaman Raka dan Aira.
Ia membuyikan bel berkali-kali.
Dan Krekkk.!!
Aira membuka pintu.
"Ehh.. Kak Dion! Sama siapa? Kila mana?" tanya nya pada Dion.
"Aku sendiri, hee.." ucap Dion lalu nyengir. "Aku kesini di suruh Raka, katanya kamu tadi masak ini," sambung Dion sambil memperlihatkan gambar yang ia inginkan.
"Oo.. Kak Dion pengen makan itu. Ayo masuk," ucap Aira.
Dion langsung masuk mengekori Aira menuju dapur.
__ADS_1
Aira mengeluarkan semua isi lemari makan itu.
Mata Dion berbinar saat melihat sambal Ati Ampela yang ia inginkan.
Dengan cepat ia mengisi piringnya dengan nasi yang penuh dan di beri banyak sambal di atasnya.
"Aira, aku mau cuci tangan aja ya makannya," ucapnya sambil melepaskan jas yang ia pakai.
Aira tersenyum, lalu ia mengambikan Dion mangkuk yang berisikan air untuk Dion cuci tangan.
"Terimakasih Aira, kamu memang terbaik. Gak kayak Kila, dia marahin aku terus di Rumah. Bikin aku takut dan akhirnya tadi pagi aku makan nasi goreng karena terpaksa takut di marahin dia," kata Dion menceritakan semuanya pada Aira.
Aira menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya.
"Dasar Kila, aku harus kasih dia pelajaran," omel Aira dalam hati.
Satu jam kemudian.
Dion kembali lagi ke kantor.
Setelah kepergian Dion, Aira menelpon Syakila, dan memarahi nya habis-habisan.
"Hallo Kila," ucap Aira.
"Kenapa Ai? Tumben telpon?" tanya Syakila.
"Tumben tumben, kamu apain kak Dion? Kok dia cerita sama aku, kalo kamu marahin Dia. Sampe-sampe dia ngabisin paksa makanan yang kamu buat karena takut." Aira memarahi Syakila.
"Loh! Mas Dion kesana? Katanya tadi ke Kantor," kata Syakila.
"Iya, tadi dia ke Kantor. Terus Raka suruh dia kesini karena dia pengen makan sambel Ati Ampela, untungnya aku bikin itu tadi pagi. Harusnya kamu bersyukur kamu gak ngalamin ngidam dan justru kak Dion yang ngalamin, kamu gak kasihan sama Dia!?" Lagi-lagi Aira bicara dengan ketus.
"Maaf.. Aku gak bermaksud. Aku juga kan capek Ai, harus nurutin semua maunya Dia. Yang hamil kan aku masa aku juga yang harus repot." timbal Syakila tak mau di salahkan.
"Parah kamu ya, gak ngerti juga. Ngidam itu susah Kila! Coba kamu fikir, kalo kamu yang ngidam emang kamu sanggup gak makan dan gak minum, harus muntah-muntah dan pusing terus-terusan," kata Aira.
Akhirnya Syakila mengerti dan menyesal, ia tahu mengapa dari semalam Dion menjadi pendiam.
"Aku ngerti Ai, aku bakal minta maaf ama Mas Dion," ucap Syakila.
Setelah mendengar penyesalan Syakila, Aira mematikan sambungan telpon itu.
Sore harinya, Dion kembali ke Apartemen.
Ia langsung di sambut hangat oleh Syakila.
"Udah pulang Mas, kamu pasti capek," ucap Syakila sambil mengambil alih tas Kerja yang di bawa Dion.
"Aku enggak capek," kata Dion.
"Kamu pengen apa? Biar aku buatin," tawar Syakila.
"Aku gak pengen apa-apa kok." timbal Dion.
"Maafin aku udah ngomong kasar sama kamu, harusnya aku gak kayak gitu," Syakila memeluk erat tubuh suaminya.
"Kamu gak harus minta maaf, harusnya aku yang minta maaf karena udah bikin kamu repot terus dan sekarang aku janji aku gak bakal bikin kamu repot," kata Dion sambil membalas pelukan istrinya.
Tak lama kemudian, terdengar tangis Syakila yang berada di dekapan suaminya.
__ADS_1
Tubuhnya bergetar, ia menyesal telah memarahi Dion kemarin malam.
***Bersambung..!!