Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Kembali lah padaku..!


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Di kantor Raka.


"Hallo," ucap Raka di seberang telpon.


"Ka, apakah kau dan istrimu punya waktu makan malam di tempat kami! Tapi bukan di Apartemen yang ku maksud waktu itu, melain kan di rumah utama," kata seseorang panjang lebar di seberang telpon.


"Hmm, kapan?" tanya Raka.


"Malam ini, itu juga jika kau tidak sibuk," kata orang di seberang telpon.


"Oh, baiklah! Akan aku usahakan."


Setelah itu panggilan di putus.


"Hmm, Aira pasti akan merasa iri dengan istri Aditia. Di umur istrinya yang masih muda sudah mengandung, sedangkan aku dan dia, sudah sampai saat ini belum juga di beri tuhan kepercayaan," ucap Raka pada dirinya sendiri.


"Ehemm," Suara deheman berasal dari suara Dion.


Raka menoleh ke sumber suara itu.


"Kenapa? Apa yang kamu fikirkan?" tanya Dion pada Raka, yang terlihat sedang berfikir keras.


"Aku dan Aira di undang makan malam sama Aditia," kata Raka.


"Lalu?"


"Aira pasti sedih saat melihat istri Aditia sudah hamil besar," kata Raka dengan wajah sedih.


"Hey, Brother! Tidak perlu sedih, semua butuh proses," Dion marangkul bahu sahabatnya itu.


Raka tersenyum kecut mendengar perkataan sahabatnya itu.


***


Sedangkan di kediaman Raka dan Aira.


Kini Aira sedang berguling-guling dengan wajah pucatnya di atas ranjang.


"Ya allah. kenapa lagi dengan pinggang dan perutku?" Aira terus berguling-guling sambil memegangi perutnya.


"Obat, iya! Di laci itu kan ada obat pereda nyeri," ucapnya lalu berjalan pelan ke arah laci lemari.

__ADS_1


Ia mengambil satu obat, lalu meneguknya dengan segelas air putih.


Beberapa saat kemudian. Pinggang dan perutnya sudah tidak seberapa nyeri lagi.


"Huh, syukurlah," ucapnya "Lebih baik aku mandi, hari sudah semakin siang.


Aira hanya sendirian di rumah itu, karena mama Rina dan Syakila sudah pulang ke kediaman mereka sejak dua minggu yang lalu.


"Yah.. Aku fikir aku sudah telat," ucap Aira dengan wajah yang kecewa.


"Aku dan Raka harus berusaha lebih keras lagi! Agar bayinya akan cepat tumbuh di rahim ku," ucapnya sambil mengelus perut datar nya.


Lalu ia segera memulai rutinitas nya mandi pagi, walaupun hari sudah tidak Pagi lagi.


Selesai mandi, ia segera berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, ia memandangi wajahnya sendiri di cermin.


Ia tersenyum saat tanda kepemilikan Raka sudah mulai hilang dari kulitnya lehernya.


"Aku sangat bahagia memiliki suami seperti mu, mas," kata Aira dengan senyum bahagia di bibirnya.


Di tempat lain.


"Pak, kita berhenti di cafe ujung sana ya. Saya belum sarapan sejak pagi," kata seseorang kepada supir nya.


"Iya tuan," kata supir itu patuh.


"Iya tuan, saya akan temani Tuan." timbal supir itu.


Sepuluh menit kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah cafe.


Dengan perlahan orang itu turun dari mobilnya. Wajah tampan itu nampak berkharisma walaupun kakinya masih belum sembuh dan kemana-kemana selalu di bantu oleh sebatang tongkat.


Yaa..! Ia lah Briyan, Briyan yang tampil baru dengan kelakuan baiknya dan meninggalkan kelakuan buruknya di masa lalu.


Dengan pelan, ia memasuki cafe itu di ikuti oleh sang Supir di belakangnya.


"Duduk di sana saja, tuan!" sang supir mengarahkan nya pada meja kosong yang sekitarnya belum ramai.


Briyan mengangguk, lalu melangkah pada meja dan kursi kosong yang di maksud.


Belum lama ia duduk, seorang pelayan datang menghampirinya.


"Silahkan, mau pesan apa mas?"

__ADS_1


Deg.. Suara itu! Jantung Briyan berpacu dengan cepat.


Perlahan Briyan mendongakkan wajahnya kepada suara itu, dan menyimpan ponsel yang ia pegang kedalam saku celananya.


"Kak Briyan," lirih Cindy tak percaya.


"Pak, kita gak jadi makan disini!" Briyan segera bangkit dari duduknya lalu pergi dari tempat itu dengan tergesa-gesa.


Setelah Briyan sampai di pintu cafe itu, Cindy sadar dari lamunannya. Ia segera berlari mengejar pria yang sudah bertahun-tahun ia tunggu-tunggu kedatangan nya.


"Kak Briyan.. Tunggu!" teriak Cindy tanpa memperdulikan pandangan para pengunjung cafe.


Briyan terus berjalan dengan cepat, namun karena kaki nya yang sudah cacat. Ia menjadi kalah cepat dengan Cindy yang mengejarnya.


"Kak, tunggu!" Cindy mencekal tangan Briyan yang sudah hendak memasuki mobilnya.


"Tunggu kak! Kenapa kakak pergi? Se tidak suka itukah kakak dengan ku?" tanya Cindy dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Maafkan aku Cindy, aku tidak pantas untuk mu! Kau lihat keadaan ku saat ini! Aku adalah pria bejat yang tidak pantas kau harap kan," kata Briyan sambil menundukkan kepalanya.


"Mana janji mu kak? Mana? Dulu kakak bilang akan kembali untuk anak kita! Tapi mana? Saat ini kita bertemu, kakak malah bilang seperti itu." air mata Cindy jatuh sudah.


"Sungguh Cindy, maafkan aku! Aku memang tidak pantas untuk mu, aku sudah hancur sekarang. Dan ku mohon carilah kebahagian mu, kau masih muda dan juga cantik. Tentu banyak pria yang suka padamu." Briyan semakin menunduk, ia tidak berani menatap wajah Cindy.


"Aku dan putra kita selalu menunggu mu kak, dalam sadar kami bahkan dalam mimpi kami sekalipun," ucap Cindy.


"Putra? Putra kita? Masih pantaskah dia menjadi putra pria bejat seperti ku? Putra pria cacat yang tidak tahu diri ini?" tanya Briyan yang matanya mulai merah dan memanas.


"Dia putra mu kak, putra kita! Ku mohon jangan tinggalkan aku dan dia lagi," ucap Cindy sambil meraih tangan kanan Briyan.


Briyan diam memaku, dalam hati ia berkata. "Mungkin inilah, awal kebahagiaan ku yang sesungguhnya,"


"Kak Briyan, tolong ikut dengan ku! Putra mu selalu menunggu mu setiap saat, dia ingin mempunyai ayah seperti teman-temannya. Aku tidak masalah jika kakak memang tidak pernah mencintai aku, tapi ku mohon. Berilah kebahagian untuk putra kita. Putra mu, darah daging mu kak," kata Cindy sambil menggenggam tangan Briyan dengan begitu erat.


"Apakah kau mau menjadi istri ku yang cacat ini?" tanya Briyan tiba-tiba, dan entah apa yang mendorongnya berbicara seperti itu.


"Aku mau!" timbal Cindy dengan cepat. "Bertahun-tahun aku menunggu mu datang kak, bertahun-tahun aku berharap kebahagian itu menghampiri hidupku yang selalu sendiri dan akhirnya kini kebagian itu datang, lalu untuk apa aku menolaknya," kata Cindy panjang lebar.


Briyan menarik tangan Cindy, dan memeluk wajah kusam dan tidak terawat wanita yang selama ini ia tinggalkan. Bahkan meninggalkan beban yang begitu berat pada gadis itu.


"Dimana putra kita?" tanya Briyan "Apakah dia tampan seperti ku?" tanya Briyan sambil mengelus pucuk kepala Cindy.


"Dia tampan, sangat tampan! Wajah nya seperti wajah mu," kata Cindy.

__ADS_1


Supir Briyan menangis haru, begitu juga orang yang ada di sekitar cafe itu.


Ada yang menangis dan juga ada yang tersenyum haru.


__ADS_2