
"Maaf.. Tapi dengan berat hati saya harus mengatakan ini! Kaki Anda mengalami patah tulang, dan mungkin Anda akan berjalan pincang dalam waktu yang cukup lama." jelas dokter.
Orang itu diam memaku, mendengar penjelasan Dokter.
"Karma! Benarkah ini karma? Ternyata benar yang di katakan Dion, bahwa karma itu ada. Dan karma yang aku terima adalah karma nyata," Pria itu tersenyum kecut kala mengingat perbuatannya di masa lalu. Sedangkan dokter yang berdiri si sampingnya merasa heran.
Dan dokter itu memberanikan diri untuk bertanya.
"Anda tidak apa-apa Pak?" tanya Dokter itu, ia ingin memastikan pasiennya yang tengah tersenyum.
"Saya tidak apa-apa Dokter, saya masih waras. Anda tidak perlu khawatir." timbal orang itu, ia tahu bahwa Dokter itu menghawatirkan kejiwaan nya.
Ya.. Pria itu adalah Briyan. Briyan mengalami kecelakaan lalu lintas saat pulang dari kediaman Raka dan Aira malam itu.
Setelah mendengar perkataan Briyan, Dokter itu lega. Setelahnya Dokter itu permisi untuk pergi dari Ruang rawat Briyan setelah memeriksa kondisi Briyan.
"Kalau begitu saya permisi. Jangan berkecil hati, Karena kaki Anda ber kemungkinan akan sembuh seperti sediakala walaupun dalam jangka yang lama," ucap Dokter itu sambil menepuk bahu Briyan. Setelah nya dokter itu Benar-benar keluar dari Ruangan rawat Briyan.
Setelah kepergian Dokter itu, Briyan merenungi nasib nya. "Hahaha.. Nikmat apa lagi yang kau berikan pada ku?" ucapnya tertawa miris.
"Mungkin kah aku akan selamanya seperti ini? Andai aku tidak berbuat sesuka hati ku untuk menyakiti keluarga dan sahabat-sahabat ku. Mungkin dalam keadaan ku yang seperti ini, mereka akan perduli dan berada di sisiku," Briyan menangis, ia menyesal atas perbuatan yang ia lakukan di masa lalu.
"Aku akan berubah untuk menjadi orang yang lebih baik mulai saat ini, aku akan kembali mengelola perusahaan itu. Aku yakin aku pasti bisa, biarlah orang-orang mencemo'oh ku. Karena hal itu memang pantas aku dapatkan." Briyan bertekat untuk menjalankan perusahaannya yang sudah cukup lama ia titipkan pada Asistennya.
Sebulan telah berlalu.
Kini Briyan sudah mulai mengelola lagi perusahaannya dengan bantuan sang Asisten yang selama ini menggantikan posisinya saat ia tidak ada.
Banyak karyawan yang berbisik-bisik tentang kedatangan Ceo mereka yang kembali dalam keadaan memakai tongkat.
Ya..! Walaupun ia berjalan menggunakan bantuan tongkat di sebelah kakinya. Namun tidak mengurangi kharismanya sebagai pemimpin Diwangkara Grup.
"Selamat pagi bos," sapa seorang karyawan dengan wajah takutnya.
"Pagi!" Briyan tersenyum pada karyawan yang menyapanya.
Begitu juga dengan karyawan yang lainnya.
Setelah Briyan memasuki life, Karyawan-karyawan kantor itu bersorak gembira. Terutama kaum wanita.
"Busyett.. Gak salah tu tadi Ceo Arogant senyum sama kita?" tanya salah seorang karyawan pria yang di ketahui bernama Totong.
"Iya, ternyata senyum pak bos itu sangat indah. Kayak mau meleleh gue liatnya!" sahut Lala yang bertugas sebagai Resepsionis.
"Yang aku ketahuin nih! Ya, dulu nya Ceo kita itu Playboy tahu gak!" Karyawan lain yang bernama Didi ikut nimbrung.
"Ahh, masak! Gak percaya aku!" sahut Lala
"Lo kan karyawan baru di mari, sedangkan gue udah bertahun-tahun. Dia tu bakal ngegasak wanita mana aja yang menurutnya menggoda, yang bodynya aduhai gitu loh!" jelas Didi.
"Tapi aku heran, kenapa dia jadi makek tongkat gitu ya! Dan keningnya ada bekas luka-luka gitu?" heran Lulu.
"Denger-denger sih! Habis kecelakaan!" sahut Totong.
__ADS_1
"Ceo kita jadi berubah manis begitu, mungkin dapat hikmah atas kejadian musibah yang menimpanya," ucap karyawan lain.
Namun tiba-tiba.
"Ehem," deheman seseorang berhasil membuat para karyawan itu bungkam dan menjadi ketakutan.
"Ehh.. Bos!" ucap Totong.
"Saya bukan Bos kalian lagi, karena Bos yang sesungguhnya sudah kembali!" tegas Vino sang Asisten Briyan yang wajahnya tampan namun bersikap dingin sedingin salju itu.
"Iya pak." timbal karyawan itu bersamaan.
"Kembali bekerja, jangan nge-ghibah terus!" usir Asisten Vino.
Karyawan-karyawan itu segera membubarkan diri.
***
Sebulan yang lalu, Raka masih sering menghubungi Aira. Namun memasuki bulan kedua ini, Aira tidak pernah mendapatkan kabar lagi.
Hatinya mulai berfikir negative tentang suaminya yang berada di negara tetangga.
Berhari-hari Aira hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar. Ia menangis dan mencurahkan rindunya pada foto sang Suami.
"Di mana kamu sayang? Apa kamu udah nemuin pengganti aku disana? Makanya kamu gak pernah kirim kabar," Aira membelai wajah suaminya yang ada di dalam foto itu.
Sejenak Aira tertawa, dan sejenak lagi ia menangis.
Terlalu indah di lupakan..
Terlalu sedih di kenangkan..
Di saat aku jauh berjalan..
Dan kau, ku tinggalkan..
Betapa hati ku, bersedih..
Mengenang kasih dan sayang mu..
Setulus pesan mu, kepadaku..
Engkau kan menunggu..
*Andaikan kau, datang kembali..
Jawaban apa yang kan ku beri..
Adakah jalan yang kau temui..
Untuk kita, kemba-li lagi..
Bersinar lah bulan purnama..
__ADS_1
Seindah serta tulus cintanya..
Bersinarlah terus sampai nanti..
Lagu ini- ku akhiri*..
Dengan lagu itu yang menemani malam sunyi Aira.
Ia terus menangis di dalam kamarnya, berharap Raka akan segera kembali.
Diam-diam di luar kamar itu, Mama dan Papa mertuanya menyaksikan tangis Anak menantu mereka.
Mama Rina tak kuasa lagi menahan tangisnya, ia juga ikut merasakan sesak yang di rasakan oleh Aira.
"Kasihan Aira, Pa," ucap mama Rina kepada suaminya.
"Mau bagaimana lagi Ma, tidak ada yang bisa kita lakukan selain berdo'a. Agar Raka cepat kembali," kata pak Bambang sambil menarik mama Rina kedalam pelukannya.
"Sebaik nya kita masuk, dan kita hibur dia," ucap Mama Rina.
Dengan pelan, mama Rina dan Papa Bambang masuk kedalam kamar itu.
Keduanya duduk di sisi kanan dan kiri Aira.
"Sayang, jangan menangis seperti ini!" Mama Rina menghapus air mata Aira.
"Ma, kenapa Raka gak pernah ngehubungin Aira lagi? Apa dia udah punya pengganti Aira di sana?" Tangis Aira kembali pecah.
Mama Rina merengkuh tubuh yang bergetar itu kedalam pelukannya.
"Kamu yang sabar sayang, Raka tidak akan macam-macam di sana. Percayalah bahwa dia sedang berjuang untuk kamu," ucap mama Rina menenangkan Aira.
"Jika sampai Raka macam-macam, Papa yang akan turun tangan!" sahut pak Bambang sambil mengelus pucuk kepala Aira.
"Makasih ya Ma, Pa. Udah mau sayang sama Aira," ucap Aira sambil mendongak kan wajahnya kepada Papa Bambang.
"Hmm, sekarang kamu tidur ya! Sudah malam, nanti kamu sakit," ucap mama Rina.
Aira mengaguk lalu membaringkan tubuh nya. Dengan penuh kasih sayang mama Rina menyelimuti lalu menciumi kening anak menantu yang dulu sangat ia benci.
Kini mama Rina dan Papa Bambang memperlakukan Aira layaknya seorang anak kecil. Dengan sabar mereka membujuk serta merawat Aira.
Mereka sangat khawatir jika Aira akan sakit.
Karena terus-terusan memikirkan Raka, kini tubuh Aira nampak kurus. Terlihat dari pipinya yang dulu chaby dan tubuh nya yang berisi, kini pipi dan tubuh itu berubah menjadi sedikit agak kurus.
Bayangkan saja, jika Raka tidak kembali dalam jangka yang lebih lama. Kemungkinan othor bakal ganti visual Aira pakek foto jangkrik🤭🤭
Bersambung..!!
Happy reading😘
AWAS ADA TYPO🏃♀️🏃♀️🏃♀️***
__ADS_1