Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Burung kakak tua


__ADS_3

Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali mama Rina datang ke kediaman anak nya, dengan di antar oleh mang Jajang.


"Mama,, Aira rindu!" Aira menghambur ke pelukan mama Rina.


"Mama juga rindu sayang, maaf, karena mama gak jengukin kamu lagi," kata mama Rina.


Kini mama Rina, sayang, benar-benar sayang kepada Aira. Bahkan ia lebih perhatian pada Aira ketimbang pada Raka, anak kandungnya sendiri.


Setelah melepas rindu di depan pintu utama itu, Aira mengajak mama mertuanya masuk kedalam rumah.


"Loh! Kapan mama datang?" tanya Raka yang menuruni anak tangga, tentu nya, dengan pakaian yang sudah rapi. Dan hendak berangkat kekantor.


"Tadi, mama kangen sama Aira!" Timbal mama Rina.


"Ya udah, yuk kita sarapan dulu ma," kata Raka, lalu berjalan menuju ruang makan.


"Kebetulan, mama sudah lama tidak makan masakan lezat buatan Aira," kata mama Rina.


Ia mengikuti Aira dan Raka menuju ruang makan, mama Rina makan dengan lahap. Ia begitu menikmati masakan Aira.


"Enak, papa pasti makan banyak kalo sayurnya kaya gini," kata mama Rina setelah makanannya habis.


Setelah sarapan itu selesai, Raka pun segera berangkat ke kantor.


Beberapa menit kemudian, Aira memanggil mama Rina yang sedang asik menonton sinetron pagi yang berlogo ikan terbang.


"Ma," panggil Aira yang baru datang dari arah dapur.


"Hmm, kenapa?" tanya mama Rina.


"Ma, Aira boleh minta pengetahuan gak?" Aira bertanya dengan sangat hati-hati.


"Pengetahuan apa? Sini duduk dekat mama," kata mama Rina.

__ADS_1


"Emm, berapa lama mama menunggu kehamilan setelah menikah sama papa?" tanya Aira sambil menundukan wajahnya.


"Kok kamu nanya gitu? Kamu dan Raka sudah pengen punya momongan?" tanya mama Rina.


"Iya ma, tapi sampe sekarang. Aira belum juga hamil," kata Aira dengan wajah sedih.


"Jangan sedih dong, lagian juga kan, Aira dan Raka bisa usaha lebih keras lagi," kata mama Rina sambil mengelus pundak anak menantunya.


"Mama gak kecewa sama Aira?" tanya Aira.


"Buat apa mama kecewa? Mama tahu, tuhan pasti udah nyiapin kebahagian buat kamu," kata mama Rina lagi. "Dan seharusnya, mama yang harus banyak-banyak terimakasih sama kamu, karena kamu, Raka menjadi pria yang sempurna." tambah mama Rina.


"Kalau seandainya, Aira Bener-bener gak bisa kasih mama cucu gimana?' tanya Aira lagi.


"Kalian kan bisa adopsi Anak!" sahut mama Rina dengan cepat.


Aira menangis haru mendengar perkataan mama mertuanya. Ia bahagia karena mama mertuanya sudah benar-benar menerimanya sebagai menantu bahkan sudah di perlakukan mama Rina dengan sangat baik, seperti anak kandungnya sendiri.


***


Jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi, namun Dion alias pak tua masih asyik bergelung dengan selimut.


Hal itu, membuat Syakila kesal. Bahkan kesal sangat kesal.


"Huuh.. Susah banget sih bangunnya! Makin hari kok makin malas!" oceh Syakila.


Dengan marah, Syakila masuk kedalam kamar mandi. Dan tak lama kemudian, ia keluar dengan membawa gayung berisi air dingin.


"Banjir.. Banjir.." teriak Dion dengan panik.


"Rasain!" Syakila menguyur wajah suaminya dengan segayung air yang ia bawa. Ia sudah tidak perduli lagi dengan kasur yang ikutan basah. "Ayo bangun! Mandi terus sarapan, setelah itu berangkat ke Kantor!" bentak Syakila dengan mata melolot seperti robot iklan jeruk peras yang matanya bulat seperti ingin keluar dari saranganya.


"Mas capek loh! Sepuluh menit lagi ya," pinta Dion, namun dengan cepat Syakila menarik telinganya. Seperti ibu-ibu yang memarahi anaknya akibat nakal.

__ADS_1


"Gak ada tawar menawar! Sekarang cepat mandi!" perintah Syakila pada suaminya.


"Aduh, sakit! Iya aku mandi sekarang,' ucap Dion, kepala Dion masih mengikuti arah telinganya yang di tarik oleh sang istri.


Syakila melepaskan jeweran itu, ia segera menuju lemari pakaian.


"Ini baju nya, aku mau kedapur! Lima belas menit lagi, kamu harus udah rapi dan siap sarapan di meja makan!" Syakila keluar dari kamar itu, meninggalkan Dion yang sedang cemberut di tepian ranjang dengan wajah basah.


"Kenapa sih! Kok aku di marahin terus? Kalo tahu kayak gini, aku gak mau nikah sama tu keong racun!" gerutu Dion.


"Ngomong apa tadi?" Tiba-tiba kepala Syakila menyembul dari balik pintu.


Hal itu membuat Dion sangat terkejut.


"Aku gak ngomong apa-apa, mungkin kamu salah denger!" kilah Dion.


"Aku denger loh! Kalo tadi kamu bilang, nyesel nikah sama keong racun!" Mata Syakila mendelik.


Dion yang melihat Banteng perempuan itu murka, segera berlari memasuki kamar mandi dan tak lupa mengunci pintu itu.


"Dasar pak tua gak tahu diri! Untung aku mau jadi istrinya, kalau aku gak mau! Kan dia bakalan jomlo sampe sekarang, dan itu di burung kakak tua bakal gak berguna sampe sekarang!" Omel Syakila. "Ehh, tapi ngomong-ngomong! Obatnya pak tua manjur juga, buktinya baru beberapa kali main, aku udah keracunan burung kakak tua," sambung Syakila sambil senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


"Ya allah, maafkan hamba mu ini yang mempunyai otak gesrek dan mesum," ucap Syakila sambil mengelus Dadanya.


Setelah itu, Syakila benar-benar menuju meja makan. Ia menata masakannya diatas meja.


"Sayang, pakein sepatunya!" Dion keluar dari kamar masih dengan keadaan berantakan.


"Ya tuhan!" teriak Syakila. "Sini, kenapa sih! Makin hari kelakuan mas makin aneh tau ga!"


"Maaf!" hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Dion.


Syakila segera mengisi piring untuk suaminya, dengan berbagai lauk dan pauk.

__ADS_1


"Ini, habiskan!" perintah Syakila, "


__ADS_2